KISAH2 MUALAF
Rahmat Purnomo mantan pendeta : Ujung Pencarian memperoleh Rahmat Islam
Friday, 14 September 2007 11:04 mualafindonesia
Ia
adalah seorang laki-laki keturunan, sang ayah Holandia dan ibu
Indonesia dari Kota Ambon yang terletak di pulau kecil di ujung timur
kepulauan Indonesia. Kristen adalah agama yang diwariskan keluarganya
dari bapak dan kakeknya. Kakeknya adalah seorang yang punya kedudukan
tinggi pada agama kristen yang bermadzhab protestan, bapaknya juga
demikian, namun ia bermadzhab Pantikosta. Sedangkan ibunya sebagai
pengajar injil untuk kaum wanita, adapun dia sendiri juga punya
kedudukan dan sebagai ketua bidang dakwah di sebuah Gereja Bethel Injil
Sabino.
Tidak terbetik dalam hatiku walau sedikit pun untuk
menjadi seorang muslim, sebab sejak kecil aku mendapatkan pelajaran
dari orang tuaku yang selalu mengatakan padaku bahwa Muhammad adalah
seorang laki-laki badui, tidak punya ilmu, tak dapat membaca dan
menulis.
Bahkan lebih dari itu, aku telah membaca buku Profesor
Doktor Ricolady, seorang nasrani dari Prancis bahwa Muhammad itu
seorang dajjal yang tinggal di tempat kesembilan dari neraka.
Demikianlah kedustaan itu dibuat untuk menjatuhkan pribadi Rasul
shallallahu ‘alaihi wa sallam, sejak itulah tertanam pada diriku
pemikiran salah yang mendorongku untuk menolak Islam dan menjadikannya
sebagai agama.
Pada suatu hari pimpinan gereja mengutusku untuk
berdakwah selama tiga hari tiga malam di Kecamatan Dairi, letaknya
cukup jauh dari ibu kota Medan yang terletak di sebelah selatan pulau
Sumatra Indonesia. Setelah selesai, aku hendak menemui penanggung jawab
gereja di tempat itu. Tiba-tiba seorang laki-laki muncul di hadapanku,
lalu bertanya dengan pertanyaan aneh, “Engkau telah mengatakan bahwa
Isa Al-Masih adalah tuhan, mana dalilmu tentang ketuhanannya?” Aku
menjawab, “Baik ada dalil ataupun tidak, perkara ini tidak penting
bagimu, jika kamu mau beriman berimanlah, jika tidak kufurlah.”
Namun,
ketika aku pulang ke rumah, suara laki-laki itu mengganggu pikiranku
dan selalu terngiang-ngiang di telingaku, mendorongku untuk melihat
Kitab Injil mencari jawaban yang benar dari pertanyaannya. Telah
diketahui bahwa di sana ada empat kitab Injil yang berbeda-beda, salah
satunya MATHIUS, yang lainnya MARKUS, yang ketiga LUKAS, dan yang
keempat YOHANNES, semuanya buatan manusia. Ini aneh sekali, aku
bertanya-tanya pada diriku, “Apakah Al Qur’an dengan nuskhoh yang
berbeda-beda juga buatan manusia?” Aku mendapatkan jawaban yang tak
bisa lari darinya yakni dengan pasti, “Bukan!”
Aku mempelajari
keempat Injil tersebut, lalu apa yang kudapatkan? Injil MATHIUS
berbicara apa tentang Al-Masih Isa ‘alaihis salam? Kami membaca di
dalamnya sebagai berikut, “Sesungguhnya Isa Al-Masih bernasab kepada
Ibrohim dan kepada Daud…” (1-1), lalu kalau begitu siapa Isa? Bukankah
ia anak manusia? Ya, kalau begitu dia manusia. Injil LUKAS berkata,
“Dialah yang merajai atas rumah Ya’kub untuk selama-lamanya.
Kerajaannya tidak akan berakhir.” (1-33). Dan Injil MARKUS berkata,
“Inilah silsilah yang menasabkan Isa Al Masih anak Allah.” (1). Dan
yang terakhir injil YOHANNES berbicara apa tentang Isa Al Masih? Ia
berkata, “Pada awalnya ia adalah kalimat, dan kalimat itu di sisi
Allah, maka kalimat itu adalah Allah.” (1:1). Makna dari nash ini dia
pada awalnya adalah Al-Masih dan Al-Masih di sisi Allah, maka Al-Masih
adalah Allah.
Aku bertanya pada diriku, “Berarti di sana ada
perbedaan yang jelas pada empat kitab ini seputar dzat Isa ‘alaihis
salam, apakah ia manusia ataukah anak Allah ataukah Raja ataukah Allah?
Hal itu telah menyulitkanku dan aku belum menemukan jawabannya. Di sini
aku ingin bertanya kepada teman-temanku orang-orang kristen, “Apakah
didapatkan dalam Al-Qur’an pertentangan antara satu ayat dengan yang
lainnya?” Pasti tidak! Kenapa? Karena Al-Qur’an datang dari sisi Allah
subhanahu wa ta’ala, adapun Injil-injil ini hanyalah buatan manusia.
Kalian tahu dan tidak ragu kalau Isa ‘alaihis salam sepanjang hidupnya
berdakwah kepada Allah di sana-sini, kita patut bertanya: apa landasan
awal yang dida’wahkan oleh Isa ‘alaihis salam?
Ini Injil MARKUS
berkata, “Seseorang datang dari Al Katbah, ia mendengar mereka
berbincang-bincang, ketika terlihat bahwa ia adalah (Al-Masih) mereka
menerimanya dengan baik, menanyainya tentang ayat wasiat pertama? Ia
menjawab sambil berjalan: Sesungguhnya wasiat yang pertama ialah
‘Dengarkan wahai Bani Israil! Rabb Tuhan kita adalah Rabb yang Esa.’”
(12: 28-29). Inilah pengakuan yang jelas dari Isa ‘alaihis salam, jadi
kalau Isa telah mengaku bahwa Allah adalah Tuhan yang Esa/Satu, maka
siapakah Isa kalau begitu? Jika Isa adalah Allah juga, maka takkan
pernah ada keesaan bagi Allah. Bukankah begitu?
Kemudian, aku
lanjutkan pencarianku dan aku temukan pada Injil YOHANNES nash-nash
yang menunjukkan doa dan ketundukan Isa Al-Masih ‘alaihis salam kepada
Allah subhanahu wa ta’ala. Aku bertanya pada diriku: Jika sekiranya Isa
adalah Allah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, lalu apakah ia
membutuhkan kepada ketundukan dan doa? Tentu tidak! Oleh karena itu,
Isa bukan tuhan tetapi dia adalah makhluk seperti kita. Simaklah
bersamaku doa yang terdapat dalam injil YOHANNES, inilah nash doanya:
“Inilah kehidupan yang abadi agar mengetahui bahwa Engkaulah Tuhan yang
hakiki, dan berjalanlah Al-Masih yang Engkau telah mengutusnya, aku
pekerjamu di bumi, amal yang Engkau telah berikan padaku ialah amalan
yang aku telah menyempurnakannya.” (17-3-4). Ini do’a yang panjang,
yang akhirnya berkata, “Wahai Rabbul Baar, sesungguhnya alam tidak
mengenalMu, adapun aku mengenalMu dan mereka telah mengetahui bahwa
Engkau telah mengutusku dan Engkau telah mengenalkan mereka akan namaMu
dan aku akan mengenalkan mereka agar pada mereka ada kecintaan seperti
Engkau telah mencintaiku.” (17-25-26).
Doa ini menggambarkan
pengakuan Isa ‘alaihis salam bahwa Allah Dialah Yang Maha Esa dan Isa
adalah utusan Allah yang diutus pada kaum tertentu, bukan pada seluruh
manusia, siapakah kaumnya itu? Kita baca dalam Injil MATHIUS (15:24) di
mana ia berkata, “Aku tidak diutus, melainkan pada kaum di rumah
Isra’il yang sasar.” Kalau demikian, jika kita gabungkan
pengakuan-pengakuannya ini dengan yang lainnya, sangat mungkin untuk
kita katakan bahwa, “Allah adalah Tuhan Yang Esa dan Isa adalah utusan
Allah kepada Bani Isroil.” Kemudian kulanjutkan pencarianku, maka aku
teringat saat aku sholat aku selalu membaca kalimat berikut: (Allah
Bapak, Allah Anak, Allah Roh Qudus, tiga dalam satu). Aku berkata pada
diriku: Perkara yang sangat aneh! Kalau kita bertanya pada siswa kelas
satu sekolah dasar “1 + 1 + 1 = 3 ?” Pasti akan menjawab “ya”.
Kemudian, jika kita katakan padanya, “Akan tetapi 3 juga = 1?” Tentu
dia takkan menyepakati hal itu, sebab di sana terdapat pertentangan
yang jelas pada apa yang kami ucapkan, karena Isa ‘alaihis salam
berkata dalam Injil seperti yang kami lihat bahwa Allah Esa tidak ada
serikat baginya.
Telah terjadi pertentangan kuat antara aqidah
yang menancap di jiwaku sejak kecil, yakni: tiga dalam satu, dengan apa
yang diakui Isa Al-Masih sendiri dalam kitab-kitab injil yang ada di
tengah-tengah kita sekarang bahwa sesungguhnya Allah itu satu tidak ada
serikat baginya. Mana dari keduanya yang paling benar? Belum ada
usahaku untuk mengikrarkannya waktu itu, namun yang benar dikatakan
bahwa sesungguhnya Allah itu Esa/satu. Kemudian, aku cari lagi dari
kitab injil dari awal, barangkali aku temukan apa yang kuinginkan.
Sungguh telah kutemukan dalam pencarianku nash berikut ini: “Ingatlah
wali-wali sejak dulu, karena sesungguhnya Aku adalah Allah, sedang yang
lainnya bukan tuhan dan tak ada yang menyerupaiku.” (46: 9).
Sungguh
perkara yang menakjubkan saat aku berpegang teguh dengan Islam, aku
mendapatkan dalam surat Al-Ikhlash firman Allah Ta’ala, “Dengan nama
Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Katakanlah Dialah Allah
Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung padaNya segala
sesuatu. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan tidak ada
seorangpun yang setara dengan Dia.” Ya, selama kalam itu adalah kalam
Allah, maka tidak akan berbeda di manapun didapatkannya. Inilah
pelajaran pertama pada agamaku masihiyyah yang dulu, dengan demikian
“tiga dalam satu” tidak ada keberadaannya dalam jiwaku.
Adapun
pelajaran kedua dalam agama masihiyyah bahwa di sana ada yang disebut
dengan warisan dosa atau kesalahan awal, maksudnya ialah bahwa dosa
yang diperbuat Adam ‘alaihis salam ketika memakan buah yang diharamkan
dari pohon yang berada di surga, pasti seluruh anak manusia akan
mewarisi dosa ini. Sekalipun janin yang berada dalam rahim ibu akan
menanggung dosa ini dan akan lahir dalam keadaan berdosa. Apakah ini
benar atau salah? Aku cari tentang kebenaran hal tersebut. Aku merujuk
pada Perjanjian Lama, di tengah pencarianku, aku menemukan pada
hizqiyal sebagai berikut, “Seorang anak tidak menanggung dari dosa
seorang bapak. Seorang bapak tidak menanggung dari dosa seorang anak …”
(hizqiyal: 18: 20-21).
Barangkali yang cocok untuk kami sebutkan
di sini apa yang dikatakan Al-Qur’anul Karim pada masalah ini, “Dan
seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain …” Dan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Anak Adam
dilahirkan dalam keadaan fitroh, kedua orang tuanyalah yang akan
menjadikannya Yahudi atau menjadikannya Nashrani atau menjadikannya
Majusi.” Inilah dia kaidah dalam Islam dan menyepakatinya apa yang
ada/datang dalam injil, lalu bagaimana bisa dikatakan bahwa kesalahan
Adam akan berpindah dari satu generasi ke generasi lainnya, dan bahwa
manusia dilahirkan dalam keadaan berdosa?
Aku melanjutkan
pencarianku tentang beberapa hal yang berkaitan dengan keyakinan, pada
suatu hari kuletakkan Injil dan Al-Quran di depanku, kutujukan
pertanyaan pada Injil, “Apa yang engkau ketahui tentang Muhammad?”
Jawabannya: tidak ada, karena nama Muhammad tidak terdapat dalam Injil.
Kemudian kutujukan pertanyaan berikutnya pada Isa seperti Al-Quran
telah bercerita tentangnya, “Wahai Isa ibnu Maryam, apa yang engkau
ketahui tentang Muhammad?” Jawabannya: sungguh Al Quran telah
menyebutkan perkara yang tidak ada keraguan sedikit pun bahwa seorang
Rasul yang pasti akan datang setelahku namanya adalah Ahmad. Allah
berfirman atas lisan Isa ‘alaihis salam, “Dan ingatlah ketika Isa putra
Maryam berkata: Hai bani Isroil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah
kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku yaitu Taurot dan
memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang
sesudahku yang namanya Ahmad (Muhammad), maka tatkala Rasul itu datang
kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata:
Ini adalah sihir yang nyata.” (QS Ash Shaff: 6). Lihatlah! Mana yang
benar?!
Di sana ada satu Injil, yakni Injil BARNABAS, berbeda
dengan empat Injil yang telah kusebutkan sebelumnya, namun sayang para
pemuka-pemuka agamanya (Nashrani) mengharamkan pengikutnya untuk
mentelaahnya. Tahukah kenapa? Yang paling benar ialah karena inilah
satu-satunya Injil yang memuat kabar gembira tentang Muhammad, di
dalamnya terdapat beberapa tambahan dan penyimpangan yang sangat,
seperti halnya tedapat pula kenyataan yang sesuai dengan apa yang ada
dalam Al Quran Al Karim. Dalam Injil Barnabas (Ishaah: 163), “Waktu itu
para murid bertanya kepada Al Masih: Wahai guru! Siapa yang akan datang
sesudahmu? Al Masih menjawab dengan senang dan gembira: Muhammad utusan
Allah pasti akan datang sesudahku bagaikan awan putih akan menaungi
orang-orang yang beriman seluruhnya.”
Kemudian, kubaca lagi ayat
lainnya dari Injil Barnabas yakni ucapannya pada (Ishaah: 72), “Waktu
itu seorang murid bertanya kepada Al-Masih: Wahai guru! Saat Muhammad
datang apa tanda-tandanya hingga kami mengenalnya? Al-Masih menjawab:
Muhammad tidak akan datang pada masa kita, tetapi akan datang setelah
seratus tahun kemudian ketika Injil diubah (direkayasa) dan orang-orang
yang beriman kala itu jumlah mereka tidak sampai tiga puluh orang, maka
ketika itu Allah subhanahu wa ta’ala akan mengutus penutup para Nabi
dan Rasul-rasul, yaitu Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam.”
Telah disebutkan berulang-ulang yang demikian itu dalam
Injil Barnabas, aku telah menghitungnya dan kudapatkan sebanyak empat
puluh lima ayat menyebutkan tentang Muhammad. Aku sebutkan dua ayat di
atas di antaranya sebagai satu bukti.
Setelah ini semua, aku
berazzam untuk keluar dari gereja dan tidak akan pernah pergi lagi
padanya, saat ini tidak ada di hadapanku, kecuali Islam. (Lihat kitab
‘Uluwul Himmah, karya Muhammad Ahmad Ismail Al-Muqoddim).
Para
pembaca rahimakumullah demikianlah Islam yang dibawa oleh Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rahmat bagi semesta alam,
menuntut kita selaku para pemeluknya untuk bersyukur. Allah berfirman,
“Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu, dan
Dia tidak meridhoi kekafiran bagi hamba-Nya, dan jika kamu bersyukur
niscaya Dia meridhoi kesyukuranmu itu, dan seorang yang berdosa tidak
akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada tuhanmulah kembalimu lalu
Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan sesungguhnya Dia
Maha Mengetahui apa yang tersimpan di (dada)mu.” (QS Az Zumar: 7).
Di sini ada beberapa hal yang perlu untuk kita perhatikan, wallahul haadi ila sabilir rosyad.
Pertama:
manusia itu satu umat, memeluk agama yang satu. Allah berfirman,
“Manusia dahulunya hanyalah satu umat kemudian mereka berselisih, kalau
tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulu,
pastilah telah diberi keputusan di antara mereka tentang apa yang
mereka perselisihkan itu.” (QS Yunus: 19).
Kedua: Islam adalah
agama tauhid. Allah berfirman, “Allah menyatakan bahwasanya tidak ada
Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan.
Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang
demikian itu) tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang
Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Sesungguhnya agama (yang diridhoi) di
sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah
diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka karena
kedengkian (yang ada) di antara mereka, barangsiapa yang kafir terhadap
ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisabnya. Kemudian
jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam) maka katakanlah:
Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang
yang mengikutiku. Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi
Al Kitab dan kepada orang-orang yang ummi, ‘Apakah kamu (mau) masuk
Islam?’ Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat
petunjuk, dan jika mereka berpaling maka kewajiban kamu hanyalah
menyampaikan (ayat-ayat Allah) dan Allah Maha Melihat akan
hamba-hamba-Nya.” (QS Ali Imron: 18-20).
Ketiga: Aqidah tauhid
adalah fitrah manusia. Allah berfirman, “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu
mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah
mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): Bukankah
Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab: Betul (Engkau Tuhan kami), kami
menjadi saksi. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat
kamu tidak mengatakan: Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang
yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan). Atau agar kamu tidak
mengatakan: Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan
Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang
(datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami
karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu.” (QS Al A’raaf:
172-173).
Keempat: Petunjuk Allah mutlak harus diikuti. Allah
berfirman, “… Katakanlah sesungguhnya petunjuk (yang harus diikuti)
ialah petunjuk Allah, dan (janganlah kamu percaya) bahwa akan diberikan
kepada seseorang seperti apa yang diberikan kepadamu, dan (jangan pula
kamu percaya) bahwa mereka akan mengalahkan hujjahmu di sisi Tuhanmu.
Katakanlah sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Allah memberikan
karunianya kepada siapa yang dikehendakinya. Dan Allah maha luas
karunianya lagi maha mengetahui.” (QS Ali Imron: 73).
Kelima:
Isa ‘alaihis salam adalah Nabi dan Rasul Allah. Allah berfirman, “Wahai
Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah
kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al
Masih Isa putra Maryam itu adalah utusan Allah dan (yang diciptakan
dengan kalimat-Nya) yang disampaikan-Nya kepada Maryam dan dengan
(tiupan roh) dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan
rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan, ‘(Tuhan itu) tiga’.
Berhentilah (dari ucapan itu). Itu lebih baik bagimu. Sesungguhnya
Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak. Segala
yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya, cukuplah Allah sebagai
pemelihara.” (QS An Nisaa: 171).
Walhamdulillahi robbil alamin.
Ditulis oleh Al Ustadz Abu Hamzah Al Atsari. Diambil dari Buletin
Al-Wala’ wal-Bara’(swaramuslim.net)
Last Updated ( Monday, 14 January 2008 09:53 )
Yahya Yopie dan Keluarganya, Mantan Pendeta Yang Memeluk Islam
Thursday, 14 June 2007 13:35 mualafindonesia
Warga
di kota Tolitoli di penghujung bulan Ramadan 1427 Hijriah belum lama
ini, dihebohkan dengan salah seorang pendeta bersama seluruh
keluarganya memeluk Islam. Di mana-mana santer dibicarakan soal Pendeta
Yahya Yopie Waloni dan keluarganya masuk Islam. Bahkan media internet
pun sudah mengakses kabar ini. Bagaimana aktivitas eks pendeta itu
setelah memeluk Islam. Berikut kisahnya:
PAGI menjelang siang hari
itu, nuansa Idul Fitri 1427 Hijriah masih terasa di Tolitoli. Hari itu
baru memasuki hari ke-9 lebaran. Kendati terik panas matahari masih
mengitari Tolitoli dan sekitarnya, tetapi denyut aktivitas warga tetap
seperti biasa.
Begitupun di sekitar Jalan Bangau, Kelurahan
Tuweley, Kelurahan Baru, Kabupaten Tolitoli. Aktivitas sehari-hari
warga berjalan seperti biasa. Kecuali di salah satu rumah kost di jalan
itu, pintunya tampak masih tertutup rapat. Di rumah kost inilah, Yahya
Yopie Waloni (36), bersama istrinya Lusiana (33) dan tiga orang anaknya
tinggal sementara.
“Pak Yahya bersama istrinya baru saja
keluar. Sebaiknya bapak tunggu saja di sini, sebelum banyak orang.
Karena kalau pak Yahya ada di sini banyak sekali tamunya. Nanti bapak
sulit ketemu beliau,” jelas ibu Ani, tetangga depan rumah Yahya kepada
Radar Sulteng.
Yahya bersama istrinya memeluk Islam secara sah
pada hari Rabu, 11 Oktober 2006 pukul 12.00 Wita melalui tuntunan
Komarudin Sofa, Sekretaris Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (NU)
Tolitoli. Hari itulah Yahya dengan tulus mengucapkan dua kalimat
syahadat.
Setelah memeluk Islam, nama Yahya Yopie Waloni
diganti dengan Muhammad Yahya, dan istrinya Lusiana diganti dengan
Mutmainnah. Begitupun ketiga anaknya. Putri tertuanya Silvana (8 tahun)
diganti dengan nama Nur Hidayah, Sarah (7 tahun) menjadi Siti Sarah,
dan putra bungsunya Zakaria (4 tahun) tetap menggunakan nama itu.
Mohammad
Yahya sebelum memeluk Islam, pernah menjabat Ketua Sekolah Tinggi
Theologia Calvinis di Sorong tahun 2000-2004. Saat itu juga ia sebagai
pendeta dengan status sebagai pelayan umum dan terdaftar pada Badan
Pengelola Am Sinode GKI di tanah Papua, Wilayah VI Sorong-Kaimana. Ia
menetap di Sorong sejak tahun 1997. Tahun 2004 ia kemudian pindah ke
Balikpapan. Di sana ia menjadi dosen di Universitas Balikpapan (Uniba)
sampai tahun 2006. Yahya menginjakkan kaki di kota Cengkeh, Tolitoli,
tanggal 16 Agustus 2006.
Sambil menunggu kedatangan Yahya, ibu
Ani mempersilakan Radar Sulteng masuk ke rumahnya. Sebagai tetangga,
Ibu Ani tahu banyak aktivitas yang terjadi rumah kontrakan Yahya. “Pak
Yahya pindah di sini kira-kira baru tiga minggu lalu. Sejak pindah, di
sini rame terus. Orang-orang bergantian datang. Ada yang datang dengan
keluarganya. Malah ada yang rombongan dengan truk dan Kijang pickup.
Karena rame sekali terpaksa dibuat sabua (tenda, red) dan drop kursi
dari kantor Lurah Tuweley,” cerita ibu Ani.
Hari pertama Yahya
pindah di Jalan Bangau itu, orang-orang berdatangan sambil membawa
sumbangan. Ada menyumbang belanga, kompor, kasur, televisi, Alquran,
gorden dan kursi. Mereka bersimpati karena Yahya sekeluarga saat pindah
dari tempat tinggal pertamanya hanya pakaian di badan. Rumah yang
mereka tempati sebelumnya di Tanah Abang, Kelurahan Panasakan adalah
fasilitas yang diperoleh atas bantuan gereja. Sehingga barang yang
bukan miliknya ia tanggalkan semuanya.
Tidak lama menunggu di
rumah Ibu Ani, datang dua orang ibu-ibu yang berpakaian dinas pegawai
negeri sipil. Keduanya juga mampir di rumah Ibu Ani. Salah satu dari
mereka adalah Hj Nurdiana, pegawai di Balitbang Diklat, Pemkab
Tolitoli. Ibu berjilbab ini ternyata guru mengaji. Dia adalah guru
mengaji yang khusus membimbing istri Yahya.
“Saya baru tiga
kali pertemuan dengan ibu Yahya. Supaya ibu Yahya mudah memahami huruf
hijjaiyah, saya menggunakan metode albarqy. Alhamdulillah sekarang
sedikit sudah bisa,” kata Nurdiana.
Menurutnya, dia tidak
kesulitan mengajari ibu Yahya. Malah, katanya, ibu Yahya cepat sekali
memahami huruf-huruf hijaiyah yang diajarkan. Karena itu dia
memperkirakan kemungkinan dalam waktu tidak lama ibu Yahya sudah bisa
lancar mengaji.
Hanya sekitar 20 menit menunggu di rumah ibu
Ani, bunyi kendaraan sepeda motor butut milik Yahya terdengar memasuki
halaman rumah kontrakannya. Radar Sulteng diterima dengan senang hati,
lalu dipersilakan duduk di sofa. Sementara Yahya memilih duduk di
lantai alas karpet. Badannya disandarkan ke kursi sofa. “Kita lebih
senang duduk di bawah sini,” tuturnya dengan logat kental Manado.
Cara
duduk Yahya, tampak tidak tenang. Sesekali ia membuka kedua
selangkangnya. Ternyata karena baru beberapa hari selesai disunat.
“Setelah tiga hari saya masuk Islam, saya langsung minta disunat di
rumah ini,” cerita Yahya, sesekali disertai canda.
Penataan
interior rumah kost Yahya tampak apik. Di dinding ruang tamu tampak
terpampang kaligrafi ayat kursi yang dibingkai dengan warna keemasan.
Di sisi lain, kaligrafi Allah-Muhammad juga terpampang. Di meja ruang
tamu terdapat dua buah Alquran lengkap terjemahannya. Di tengah meja
itu, juga masih ada tiga toples kue lebaran. “Rumah ini saya kontrak
sementara. Saya sudah bayar Rp2,5 juta,” rinci Yahya.
Di
tengah asiknya bercerita, istri Yahya, Mutmainnah menyuguhkan beberapa
cangkir teh panas. “Silakan diminum air panasnya,” kata ibu tiga anak
ini yang saat itu mengenakan jilbab cokelat.
Tidak lama
kemudian, dia masuk di salah satu kamar dan mengajak guru mengajinya Hj
Nurdiana bersama rekannya. Dari balik kamar itulah terdengar suara
Mutmainnah yang sedang mengeja satu per satu huruf hijaiyah. Terdengar
memang masih kaku, tetapi berulang-ulang satu per satu huruf-huruf
Alquran itu dilafalkannya.
Lain halnya dengan suaminya, Yahya.
Pria kelahiran Manado ini mengaku sudah bisa melafalkan beberapa ayat
setelah beberapa kali diajarkan mengaji oleh Komarudin Sofa. Selain
Komarudin, selama ini ia juga mendapat bimbingan dari ketua Majelis
Ulama Indonesia (MUI) Tolitoli, Yusuf Yamani. “Hanya lima menit saya
diajarkan. Saya langsung paham. Surat Fatihah saya sudah hafal,” ujar
Yahya.
Selain belajar mengaji dan menerima tamu, aktivitas
Yahya juga kerap menghadiri undangan di beberapa masjid. Tidak hanya
dalam kota, tetapi sampai ke desa-desa di Kabupaten Tolitoli. “Saya
ditemani beberapa orang. Ada juga dari Departemen Agama,” katanya.
Yahya
bersama istrinya memeluk Islam secara sah pada hari Rabu, 11 Oktober
2006 pukul 12.00 Wita melalui tuntunan Komarudin Sofa, sekretaris
Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (NU) Tolitoli. “Hari itu saya sudah
mengucapkan dua kalimat syahadat yang dituntun Pak Komarudin,” cerita
Yahya. Apa yang melatari sampai Yahya dan keluarganya memeluk Islam.
PAK
Yahya, begitu sapaan akrabnya. Pria kelahiran Manado tahun 1970 ini
lahir dari kalangan terdidik dan disiplin. Ayahnya seorang pensiunan
tentara. Sekarang menjabat anggota DPRD di salah satu kabupaten baru di
Sulawesi Utara. Sebagai putra bungsu dari tujuh bersaudara, Yahya saat
bujang termasuk salah seorang generasi yang nakal. “Saya tidak perlu
cerita masa lalu saya. Yang pasti saya juga dulu pernah nakal,”
tukasnya.
Lantaran kenakalannya itulah mungkin, sehingga
beberapa bagian badannya terdapat bekas tato. Di lengannya terdapat
bekas luka setrika untuk menghilangkan tatonya. “Ini dulu bekas tato.
Tapi semua sudah saya setrika,” katanya sambil menunjuk bekas-bekas
tatonya itu.
Postur tubuhnya memang tampak mendukung. Tinggi
dan tegap. Meski ia pernah nakal, tetapi pendidikan formalnya sampai ke
tingkat doktor. Ia menyandang gelar doktor teologi jurusan filsafat.
Saat ditemui, Yahya memperlihatkan ijazah asli yang dikeluarkan
Institut Theologia Oikumene Imanuel Manado tertanggal 10 Januari 2004.
Sehingga titel yang didapatnya pun akhirnya lengkap menjadi Dr Yahya
Yopie Waloni, S.TH, M.TH.
Sebelum menyatakan dirinya masuk
Islam, beberapa hari sebelumnya Yahya mengaku sempat bertemu dengan
seorang penjual ikan, di rumah lamanya, kompleks Tanah Abang, Kelurahan
Panasakan, Tolitoli. Pertemuannya dengan si penjual ikan berlangsung
tiga kali berturut-turut. Dan anehnya lagi, jam pertemuannya dengan si
penjual ikan itu, tidak pernah meleset dari pukul 09.45 Wita.
“Kepada
saya si penjual ikan itu mengaku namanya Sappo (dalam bahasa Bugis
artinya sepupu). Dia juga panggil saya Sappo. Tapi dia baik sekali
dengan saya,” cerita Yahya.
Setiap kali ketemu dengan si
penjual ikan itu, Yahya mengaku berdialog panjang soal Islam. Tapi
Yahya mengaku aneh, karena si penjual ikan yang mengaku tidak lulus
Sekolah Dasar (SD) tetapi begitu mahir dalam menceritakan soal Islam.
Pertemuan
ketiga kalinya, lanjut Yahya, si penjual ikan itu sudah tampak lelah.
“Karena saya lihat sudah lelah, saya bilang, buka puasa saja. Tapi si
penjual ikan itu tetap ngotot tidak mau buka puasanya,” cerita Yahya,
yang ditemui di rumah kontrakannya.
Sampai saat ini Yahya
mengaku tidak pernah lagi bertemu dengan penjual ikan itu. Si penjual
ikan mengaku dari dusun Doyan, desa Sandana (salah satu desa di sebelah
utara kota Tolitoli). Meski sudah beberapa orang yang mencarinya hingga
ke Doyan, dengan ciri-ciri yang dijelaskan Yahya, tapi si penjual ikan
itu tetap tidak ditemukan.
Sejak pertemuannya dengan si
penjual ikan itulah katanya, konflik internal keluarga Yahya dengan
istrinya meruncing. Istrinya, Lusiana (sekarang Mutmainnah, red), tetap
ngotot untuk tidak memeluk Islam. Ia tetap bertahan pada agama yang
dianut sebelumnya. “Malah saya dianggap sudah gila,” katanya.
Tidak
lama setelah itu, kata Yahya, tepatnya 17 Ramadan 1427 Hijriah atau
tanggal 10 Oktober sekitar pukul 23.00 Wita. Ia antara sadar dengan
tidak mengaku mimpi bertemu dengan seseorang yang berpakaian serba
putih, duduk di atas kursi. Sementara Yahya di lantai dengan posisi
duduk bersila dan berhadap-hadapan dengan seseorang yang berpakaian
serba putih itu. “Saya dialog dengan bapak itu. Namanya, katanya
Lailatulkadar,” ujar Yahya mengisahkan.
Setelah dari itu,
Yahya kemudian berada di satu tempat yang dia sendiri tidak pernah
melihat tempat itu sebelumnya. Di tempat itulah, Yahya menengadah ke
atas dan melihat ada pintu buka-tutup. Tidak lama berselang, dua
perempuan masuk ke dalam. Perempuan yang pertama masuk, tanpa hambatan
apa-apa. Namun perempuan yang kedua, tersengat api panas.
“Setelah
saya sadar dari mimpi itu, seluruh badan saya, mulai dari ujung kaki
sampai kepala berkeringat. Saya seperti orang yang kena malaria. Saya
sudah minum obat, tapi tidak ada perubahan. Tetap saja begitu,” cerita
Yahya.
Sekitar dua jam dari peristiwa itu, di sebelah kamar,
dia mendengar suara tangisan. Orang itu menangis terus seperti layaknya
anak kecil. Yahya yang masih dalam kondisi panas-dingin, menghampiri
suara tangisan itu. Ternyata, yang menangis itu adalah istrinya,
Mutmainnah.
“Saya kaget. Kenapa istri saya tiba-tiba menangis.
Saya tanya kenapa menangis. Dia tidak menjawab, malah langsung memeluk
saya,” tutur Yahya.
Ternyata tangisan istri Yahya itu
mengandung arti yang luar biasa. Ia menangis karena mimpi yang
diceritakan suaminya kepadanya, sama dengan apa yang dimimpikan
Mutmainnah. “Tadinya saya sudah hampir cerai dengan istri, karena dia
tetap bertahan pada agama yang ia anut. Tapi karena mimpi itulah, malah
akhirnya istri saya yang mengajak,” tandasnya.
Masuknya Yahya
ke agama Islam, menimbulkan banyak interpretasi. Menurut Yahya, ada
yang menyebut dirinya orang gila. Ada juga yang meragukannya, dan
mungkin masih banyak interpretasi lain lagi tentang dirinya. “Tapi
cukup saja sampai pada interpretasi, jangan lagi melebar ke yang lain,”
pungkasnya.*** dari http://www.radarsulteng.com/berita/index.asp?Berita=Utama&id=40935
Last Updated ( Friday, 18 January 2008 07:52 )
Willibrordus Romanus Lasiman : Apa Agama Yesus?
Saturday, 22 July 2006 22:00 mualafindonesia
Ketika
beragama Katolik, Lasiman bernama baptis Willibrordus, ditambah nama
baptis penguatan (kader) Romanus. Jadilah ia dikenal sebagai
Willibrordus Romanus Lasiman. Lasiman atau akrab dipanggil Pak Willi.
Kegelisahan demi kegelisahan menyerang keyakinannya. Akhirnya ia pun
berkelana dari Katolik ke Kristen Baptis, lalu pindah ke Kebatinan
Pangestu (Ngestu Tunggil), mendalami kitab Sasongko Jati, Sabdo Kudus,
dan lainnya. Ia juga terjun ke perdukunan dan menguasai berbagai kitab
primbon dan ajian. Tujuannya satu, mencari dan menemukan kebenaran
hakiki.
Ketika bertugas sebagai misionaris di Garut, Allah
mempertemukannya dengan prof Dr Anwar Musaddad, berdiskusi tentang
agama. Diskusi inilah yang menuntunnya pada Islam. Allah memberikan
hidayah ketika ia berusia 25 tahun. Lalu, Willi pulang ke Yogya dan
berdiskusi dengan Drs Muhammad Daim dari UGM. Akhirnya, 15 April 1980,
Willi berikrar dua kalimat syahadat, masuk dalam dekapan Islam dengan
nama Wahid Rasyid Lasiman. Sejak itu, Willi tekun mengkaji Islam di
pesantren. Dari pesantren inilah, Ia menjadi ustadz yang rajin
berdakwah dari kampung k kampung di Sleman, Yogyakarta, hingga pelosok
kampung di kaki Gunung Merapi.
Untuk memenuhi nafkah
keluarganya, Willi mengajar di sebuah SMP Negeri di kota Gudeg.
Sedangkan ilmu Kristologi yang dimilikinya sejak jadi misionaris,
membuatnya menjadi rujukan jamaah untuk bertanya tentang perbandingan
Islam dan Kristen. Ustadz Wahid alias pak Willi, adalah mubaligh
tangguh yang mahir dalam Kristologi.
Untuk memuluskan dakwahnya,
Willi menyusun buku-buku dan VCD untuk kalangan sendiri, berisi kisah
nyata perjalanan rohaninya. Hal ini membuat agama lain cemburu pada
dakwahnya yang agresif. Tabloid Sabda, media milik Katolik di Jakarta,
pernah menyorot Willi di rubrik utama dengan judul cover "Gereja
katolik Kembali Difitnah Mantan Misionaris Willibrordus Romanus Lasiman
(Ustadz Drs Wachid Rasyid Lasiman)".
Yang dimaksud Sabda adalah
uraian Pak Willi dalam buku Yesus Beragama Islam. Dalam bukunya itu,
Willi menyatakan, Yesus sebenarnya bukan beragama Kristen atau katolik,
melainkan seorang Muslim. Pemred Tabloid Sabda, Peter, menulis artikel
berjudul "Kok berani-beraninya Ustadz Wachid Rasyid Lasiman
Meng-Islamkan Yesus".
Kemarahan Peter dalam tulisannya ini,
tampak nyata. Sang Pemred ini menggunakan kata-kata kasar dengan
menyebut Willi sebagai orang "ngawur, konyol, naif, melancarkan fitnah
dan lainnya. Sementara, di akhir tulisan, Peter mengimbau pembacanya,
"Bagi umat Kristian, menghadapi fenomena seperti ini sebaiknya dengan
kepala dingin saja. Tidak usah emosi karena tidak ada manfaatnya sama
sekali."
Sementara itu, dalam menghakimi pendapat Willi, peter
menulis, "Kalaupun diperbolehkan menyebutkan Yesus itu agamanya Apa?
Maka tentu lebih masuk akal mengatakan Yesus beragama Katolik atau
Kristen daripada mengatakan Yesus beragama Islam. Tapi, Yesus
sesungguhnya bukan pengikut atau penganut agama Kristen Katolik atau
Kristen Protestan, melainkan dialah Kristus sang juru selamat manusia
dan dunia. Itulah iman orang Kristen," (hlm 4).
Jadi, apa agama
Yesus? pertanyaan ini sering menjadi bahan diskusi yang hangat dan
menarik. Jika dijawab Yesus adalah Tuhan dan Juru Selamat manusia, maka
dia tak perlu agama dan tak beragama. Maka, pernyataan ini bisa
dipahami bahwa Yesus tak beragama, artinya Yesus itu ateis. Menurut
Yossy Rorimpadel, dari Sekolah Tinggi Teologi "Apostolos", Yesus itu
beragama Yahudi. Lalu, mengapa pengikutnya tak beragama Yahudi?
Jika
Yesus beragama Katolik, mana dalilnya? kapan Yesus memproklamirkan
dirinya beragama Katolik? Jika dinyatakan, Yesus beragama Kristen
Protestan, lebih tidak masuk akal lagi, Sebab, Protestan lahir pada
abad ke-16, saat bergulirnya pergerakan Reformasi gereja yang dimotori
oleh Martin Luther dan John Calvin.
Pendeta Yosias Leindert
Lengkong dalam buku Bila Mereka Mengatakan Yesus Bukan Tuhan
menyebutkan, istilah "Kristen" muncul di Antiokhia pada 41 Masehi. Dan,
yang mengucapkan kata "Kristen" atau "Kristianos" bukan murid Yesus
atau orang terpercaya, tapi justru orang-orang luar (hlm.77). Pendapat
ini cukup beralasan, karena dalam Alkitab, Yesus tak pernah
bersinggungan dengan kata "Kristen".
Kata ini, muncul pertama
kali di Antiokhia setelah Yesus tidak ada. (Lihat Kisah Para Rasul
11:26). Jelaslah, Yesus tak beragama Kristen, baik Katolik maupun
Protestan. Riwayat penyebutan "Kristen" tidak mempunyai asal-usul dan
persetujuan dari Yesus. Label dan penamaan Kristen diberikan pada
pengikut (agama) Yesus, setelah bertahun-tahun Yesus tidak ada.
Tudingan
Peter bahwa Willi "meng-Islamkan" Yesus pun tidak tepat. Karena, yang
menyatakan Nabi Isa beragama Islam itu bukan Pak Willi alias Ustadz
Wachid, melainkan Allah SWT sendiri. Dalam al-Qur’an disebutkan,
satu-satunya agama yang diridhai Allah hanyalah ISlam (QS Ali Imran:
19,85,102). Karenanya, semua Nabi beragama Islam dan pengikutnya
disebut muslim (QS Ali Imran:84). Islam telah diajarkan oleh paran Nabi
terdahulu (QS al-Hajj:78). karena Isa Almasih adalah Nabi Allah, maka
dia dan pengikutnya (Hawariyyun) pub beragama Islam (QS al-Maidah:111,
Ali Imran :52).
Semua Nabi beragama dan berakidah sama, yakni
Islam. Perbedaan mereka hanya pada syariatnya (QS al-Hajj:67-68).
Rasulullah saw bersabda: "Aku adalah orang yang paling dekat dengan Isa
putra Maryam di dunia dan akhirat. Dan semua Nabi itu bersaudara karena
seketurunan, ibunya berlainan sedang agamanya satu (ummahatuhum syattaa
wa dinuhum wahid)," (HR Bukhari dari Abu Hurairah ra).
Islam tak
mengklaim sebagai agama baru yang dibawa Nabi muhammad ke Jazirah
Arabia, melainkan sebagai pengungkapan kembali dalam bentuknya yang
terakhir dari agama Allah SWT yang sesungguhnya, sebagaimana ia telah
diturunkan pada Adam dan Nabi-nabi berikutnya.
Satu-satunya
kitab suci di dunia yang mengungkapkan agama Yesus, hanya al-Qur’an.
Al-Qur’an menyebutkan, Nabi Isa sebagai Muslim, sedangkan Bibel tidak
menyebutkan Yesus beragama Kristen atau Yahudi. Kok, berani-beraninya
Peter menuduh Willi ngawur. Lalu, mengatakan lebih masuk akal, jika
Yesus beragama katolik atau Kristen daripada Yesus beragama Islam.
(sabili/al-islahonline.com)
Dari Pesantren ke Pesnatren : PP AL HAWAARIYYUN, Terapkan Diklat Sistem Paket
PONDOK
pesantren selama ini identik dengan tempat pendidikan agama Islam dan
para santri mondok di lingkungan pesantren. Di Ponpes Al Hawaariyyun,
kelaziman tersebut ternyata tidak terjadi. “Kami menerapkan pendidikan
kilat sistem paket. Peserta dikelompokkan dalam satu paket dan
pelajaran diberikan dengan metode singkat,” kata ustadz Drs H
Willibrordus Romanus Lasiman, pengasuh PP Al Hawaariyyun.
Tujuan
utama dari pesantren ini adalah membentuk sikap dan wawasan dasar
tentang Islam, serta menanamkan ajaran agar santri tidak terpengaruh
untuk masuk ajaran agama lain. Misi tersebut sebenarnya sangat berat.
Rasanya tidak mungkin diberikan dalam waktu singkat. Namun, karena
ustadz Willi sebelum menganut Islam dan kemudian mendirikan pesantren
adalah penganut agama lain, sehingga dia mempunyai strategi penguatan
aqidah Islam yang praktis dan efektif.
“Cukup dengan pertemuan
intensif selama sepuluh jam, saya bisa meyakinkan dan menguatkan
kepercayaan santri akan kebenaran ajaran Islam. Tetapi, tidak sedikit
santri kurang puas hanya bertatap muka sepuluh jam. Sehingga, rata-rata
proses diklat berlangsung tiga hari,” tambah Willi yang setelah
menganut Islam bernama H Wakhid Rosyid Lasiman ini.
Selama
diklat, rombongan santri tinggal di komplek pesantren yang terletak di
dusun Cakran Wukirsari Cangkringan Sleman. Jumlah peserta per paket
sangat variatif. Dua santri pun dilayani. Tapi, rata-rata tiga puluh
orang. Tingkat usia dan pendidikan tidak menjadi soal. Kebanyakan,
santri diklat berasal dari luar daerah, seperti Magelang, Surabaya,
Bogor dan Jakarta.
Justru santri dari lingkungan sekitar
pesantren jumlahnya minim. Mungkin, mereka belum terbiasa dengan sistem
pendidikan kilat. Namun bukan berarti masyarakat sekitar tidak peduli
dengan keberadaan Al Hawaariyyun. “Setiap kami menyelenggarakan
kegiatan, masyarakat selalu berpartisipasi. Termasuk ketika membangun
gedung pesantren,” katanya lagi.
Beberapa santri Al Hawaariyyun
merupakan penganut Islam baru. Ini barangkali dilatarbelakangi
perjalanan sang ustadz yang sebelumnya non muslim.
Tidak ada
semacam standar biaya diklat. Santri diminta untuk menghitung, apa saja
yang menjadi kebutuhannya selama diklat. Misalnya kebutuhan konsumsi.
Mereka boleh memasak sendiri atau menyerahkan ke pengelola pesantren.
Lalu jika santri ada kelebihan dana, boleh berinfak untuk membantu
membayar rekening listrik. “Tidak ada ketentuan untuk honorarium
ustadz,” aku guru SMP 15 Yogya ini.
Biaya operasional pondok
termasuk pembangunan gedung, sebagian besar diambilkan dari hasil
penjualan buku karya Willi. Setelah masuk Islam, ia berhasil
menerbitkan empat buku. Juga, sebagian gaji Willi dan isterinya sebagai
pegawai negeri serta uang transpor yang diperoleh jika berceramah ke
luar kota, disumbangkan untuk mendanai operasionalisasi pesantren.
Pesantren
ini didirikan sekitar tahun 1987. Berarti tujuh tahun setelah Willi
mendalami Islam dan sempat nyantri ke beberapa kiai dan PP Jaga Satru,
Cirebon asuhan KH Ayib Muhammad. Selain menyelenggarakan diklat, Al
Hawwariyyun juga mengkoordinir penyaluran zakat dan hewan kurban di
wilayah Kaki Merapi. Juga, mengkoordinir kegiatan 15 Taman Pendidikan
Al Qur’an.
Metode pendidikannya dengan ceramah, diskusi dan
latihan memecahkan masalah melalui metode taktis dan praktis. Selama
pertemuan, dibiasakan metode dialogis.
Jumlah santri peserta
diklat telah mencapai angka ribuan orang. Selain menyelenggarakan
pendidikan di lingkungan pondok, pesantren ini juga sering menggelar
diklat di luar pondok. Bahkan ke luar kota, seperti Bogor dan Jakarta.
“Tidak sedikit pula sekelompok masyarakat mengundang kami datang ke
rumah salah satu peserta dan proses diklat dilangsungkan di sana,”
tambahnya.
Willi mengaku, sebelum menganut Islam, dia seorang
petualang agama. Pernah dibaptis, beberapa kali mengikuti aliran
kepercayaan serta nyantrik ke dukun untuk meguru ilmu kanuragan sudah
tidak terhitung. “Dari petualangan itu, saya hanya mendapat kehampaan.
Tidak ada ketenangan, bahkan yang ada hanya rasa cemas dan takut. Tapi,
setelah mendalami Islam, hidup ini jadi tenang dan indah!”
tuturnya.(Daryanto) http://www.minggupagi.com/article.php?sid=568 sumber http://www.swaramuslim.net .
Last Updated ( Friday, 18 January 2008 09:50 )
Liem Tjeng Lie : Mengembalikan Keranda ke Masjid
Tuesday, 20 June 2006 22:16 mualafindonesia
Saya
adalah seorang muallaf dan istri sayapun juga seorang muallaf, sebelum
kami mendapatkan Hidayah masuk ke dalam agama Islam. kami adalah
seorang aktivis gereja Katholik, saya dan istri adalah Ketua Mudika
(Muda-Mudi Katholik) di wilayah tempat tinggal kami. Kami dipertemukan
disaat kami mendapat tugas dalam pembuatan kandang Natal di Gereja.
Pergantian
agama saya dari Katholik menjadi Islam cukup melalui pertimbangan yang
cukup lama +/- 4 tahun dari tahun 1994-1998. Awal perkenalan saya
dengan Islam adalah ketika saya mengembalikan keranda Kakak ipar saya
ke Masjid dan setelah itu mengikut tahlilan untuk mendoakan almarhum
kakak ipar saya (nb: kakak ipar saya juga muallaf, satu-satunya anggota
keluarga istri saya yang masuk Islam karena pernikahannya dengan
seorang gadis Minang)
Ketika tahlilan hari terakhir, ustadz
yang memimpin doa saat itu menyampaikan sedikit wejangan dan mendoakan
agar suatu saat kelak ada keluarga dari almarhum yang akan mengikuti
jejak almarhum untuk menjadi muslim, untuk membantu mendoakan almarhum.
Kata-kata yang diucapkan oleh Pak ustadz, menggetarkan hati saya
seolah-olah kata-kata itu ditujukan ke saya, walaupun saat itu hadir
anggota keluarga lain yang non muslim.
Singkat cerita,
ketertarikan dan keinginan saya untuk mempelajari agama Islam semakin
hari semakin bertambah, dan saya sering kali bermimpi tentang Islam dan
menjadi muslim dalam mimpi. Betapa indahnya menjadi seorang muslim
walaupun hanya dalam mimpi.
Suatu hari saya utarakan keinginan
saya untuk masuk Islam dengan istri saya tapi istri saya malah bertanya
" kamu mau menikah lagi apa ? ", saya jelaskan bahwa keinginan saya
untuk masuk islam bukan karena ingin menikah lagi, tapi karena gejolak
hati yang terus mencari agama yang benar, karena saya merasakan agama
katholik yang saya yakini saat itu, sudah tidak dapat menentramkan jiwa
saya.
Karena istri percaya akan alasan yang saya berikan
akhirnya ia berkata " ok kalau mau masuk Islam nanti saja tunggu
anak-anak sudah besar jadi tunggu pensiun dan tinggal di kampung, kalau
dikucilkan keluarga sudah tidak masalah lagi ".
Saya tidak patah
semangat dan saya terus berdoa agar Allah SWT menggerakan hati istri
saya dan memberikan istri saya hidayah agar mau masuk kedalam agama
Islam, agama yang paling sempurna dan di ridhoi oleh Allah SWT,
Walaupun saya belum menjadi muslim (ketika itu), tapi setiap akhir dari
doa saya selalu mengucakan salah satu dari ayat Yaasin yang jika
dilafaskan berbunyi "Innama amaruhu idza araadha syaian ayakaulalahu
kun fa ya kun" jika Allah SWT berkehendak terjadi maka terjadilah,
tidak ada yang mustahil di hadapan Allah SWT. (mohon maaf jika salah
dalam penulisan lafas dan arti harafiah salah satu ayat Yaasin di atas )
Suatu
hari istri saya membaca majalah mingguan "Bintang", di salah satu
cerita dalam majalah itu ada sebuah kisah kembalinya artis Gito Rolies
ke dalam Islam setelah berpuasa Nabi daud. Istri saya lalu menyampaikan
kepada saya mengenai kisah ini, dan mengatakan : " Coba kamu puasa Nabi
Daud, kali-kali saja saya bisa terpanggil juga menjadi muslimah", lalu
saya tanya: "Puasa Nabi Daud seperti apa sih ?" istri lalu menerangkan
bahwa puasa Nabi Daud ialah puasa yang dilakukan secara berselang,
sehari puasa, sehari tidak, dan seterusnya.
Dan karena tekad
saya untuk masuk Islam harus bersama dengan istri (karena saya pernah
membaca kalau salah satu dari pasangan hidup kita tidak seiman, maka
bila berhubungan, hukumnya adalah zinah), maka akhirnya dengan tekad
yang bulat itu, saya lakukan puasa Nabi Daud selama 1 bulan penuh.
Alhamdulillah
1 bulan setelah saya lakukan Puasa Nabi Daud, hati istri saya pun
tergerak untuk mulai mempelajari Islam. Ada kejadian yang merubah
pikiran istri saya, setelah saya lakukan puasa Nabi Daud, yaitu, ketika
istri melakukan doa rosario di malam hari (pkl 02.00), sejenak
terlintas dalam pikirannya betapa teduhnya ia melakukan doa secara
Islam dengan menggunakan mukenah.Dan keesokan paginya istri saya
langsung menceritakan kejadian malam itu dan mengatakan kepada saya
untuk segera mencari tempat untuk belajar bagi warga keturunan Cina
yang ingin masuk Islam. Saya sudah memiliki data tempat-tempat warga
keturunan yang ingin masuk Islam.
Akhirnya saya dan istri
berkunjung ke Yayasan Haji Karim Oei di Jl Lautze Pasar Baru.
Alhamdulillah saya dipertemukan dengan Bp H. Syarif Tanudjaya (sekarang
Sekjen PITI dan pimpinan pengajian MUSTIKA).
Ada satu
statemen dari Bp Syarif yang semakin menggugah hati istri saya untuk
segera bersahadat, yaitu ketika istri saya mengatakan " saya mau masuk
islam tapi saya mau belajar dulu" dengan bijaksana Pak Syarif
mengatakan " Proses belajar di Islam itu tidak pernah akan habis,
bahkan kita berkewajiban untuk terus belajar hingga kita ke liang
lahat, kalau diwaktu anda belajar dan anda belum menjadi Islam,
alangkah sayangnya jika kita meninggal dalam keadaan belum memeluk
agama Islam" . Alhamdulillah, satu minggu setelah pertemuan itu (1
April 1998) akhirnya kamipun bersahadat di Masjid Lautze.
Betapa
besarnya Rahmat dan Hidayah yang diberikan Allah SWT kepada kami
sekeluarga, tak dapat kami membalas seluruh Rahmat Berkat dan Hidayah
yang telah Engkau limpahkan bagi kami sekeluarga. Saya dan istri ingin
sekali mengabdikan diri ini untuk kemaslahatan umat dan syiar tentang
agama Islam yang sangat Mulia dan indah ini dan memuat aturan yang
sangat lengkap bagi kehidupan manusia baik di dunia maupun kehidupan di
akhirat.
Kepindahan saya ke dalam agama Islam ini, bukan berarti
saya menghapus seluruh pemahaman agama saya yang lama (Katholik),
tetapi kepindahan ini merupakan kenaikan tingkat pemahaman dari agama
yang lalu, dan merupakan penyempurnaan, dan meluruskan ajaran Nabi Isa
yang telah di putar balikan oleh pengikutNya.
Semoga kisah
singkat saya ini dapat membuka mata hati bagi calon mualaf yang sedang
menunggu dan untuk menerima Hidayah Allah SWT, dan jika ada hal yang
masih ingin ditanyakan dan ingin tukar pikiran saya bersedia untuk
membantu dan bisa hubungi saya pada alamat e-mail ini, atau Hp
xxxx-xxx-xxxx atau ; 021-xxx-xxxxx Wassalammualaikum wr. wb., Moh
Haryanto Masin (Liem Tjeng Lie).
Seperti yang diutarakan Bpk Moh
Haryanto Masin di Milis mualafindonesia, jika anda berminat berdiskusi
dengan beliau dan rekan-rekan lainnya yg turut membantu calon mualaf
dan mualaf silahkan bergabung dalam milis
mualafindonesia@yahoogroups.comatau hubungi kami di Mualaf Center
Online untuk mendapatkan email dan nomor HP Bpk. Moh. Haryanto Masin. (
www.mualaf.com )
Last Updated ( Saturday, 19 January 2008 10:40 )
Okto Rahmat Tobing : Menemukan Istri sedang Shalat
Wednesday, 08 March 2006 01:40 mualafindonesia
Nama
saya Okto Rahmat Tobing, lahir di Tanjung Pinang, Riau, dari keluarga
Kristen Protestan. Ayah saya salah satu pengurus gereja di HKBP Tanjung
Pinang atau lebih dikenal dengan Situa HKBP Sebagai keluarga yang
fanatik terhadap agama, saya diharuskan aktif mengikuti kegiatan gereja.
Sebenamya,
lingkungan tempat kami tinggal, mayoritas beragama Islam. Tetapi
sepengetahuan saya, agama Islam yang mereka anut sebagian besar hanya
Islam abangan. Mereka banyak juga yang ikut Natalan, tidak shalat,
mabuk-mabukan, bahkan berjudi. Memang, toleransi beragamanya cukup
tinggi. Saya sendiri suka mengikuti kegiatan tarawih di bulan Ramadhan
bersama teman-teman. Menginjak remaja, saya mulai risih dengan semua
itu. Apalagi bila mendengar suara azan yang membisingkan telinga.
Hijrah Ke Jakarta
Tamat
SMA, saya hijrah ke Jakarta, melanjutkan studi ke perguruan tinggi.
Saya memutuskan kuliah di Universitas Kristen Indonesia (UKI) dan
tinggal bersama kakak yang juga seorang aktivis gereja. Saya suka
sekali kuliah di kampus tersebut, bahkan aktif mengikuti kegiatan
kampus. Salah satu kegiatannya adalah lomnba dayung yang diadakan
Universitas Islam Indonesia (UII) di Yogyakarta. Saya termasuk
kontingen yang mewakili kampus UKI, di kota gudeg itu, saya berkenalan
dengan gadis beragama Islam dan selanjutnya kami berpacaran.
Setelah
kami sama-sama lulus kuliah, saya dan si dia memutuskan tinggal dan
mengadu nasib di Jakarta. Niat itu kesampaian, Saya mendapatkan
pekerjaan di sebuah perusahaan swasta.
Setelah mantap secara
ekonomi, saya memberanikan diri datang ke rumah pacar saya itu dan
menjelaskan ke orang tuanya mengenai hubungan kami. Tetapi, apa yang
saya harapkan sirna setelah orang tuanya mengetahui saya beragama
Kristen. la menolak hubungan kami, kecuali bila saya bersedia masuk
Islam.
Sejak itu, kami selalu sembunyi-sembunyi menjalin
hubungan. Saya sebagai seorang Kristen yang fanatik, ketika itu berniat
mengkristenkan pacar saya itu. Berbagai upaya saya lakukan untuk
meyakinkan si dia. Ternyata tidak sia-sia. Pacar saya itu pun akhirnya
bersedia masuk Kristen.
Saya terus mengajaknya ke gereja untuk
mempelajari agama Kristen (Bibel) lebih jauh, dan selanjutnya ia
dibaptis di HKBP Bekasi. Setelah itu, karni melangsungkan pernikahan di
Gereja HKBP Rawamangun dengan pesta adat tanpa restu kedua orang tuanya.
Menemukan Istri Shalat
Setelah
enam bulan menikah, tanpa sengaja saya menemukan istri saya sedang
melaksanakan shalat. Saya waktu itu sangat marah. Tetapi kemarahan itu
saya pendam saja. Saya ingin sekali mengadukan masalah ini kepada kakak
saya. Tetapi biarlah saya selesaikan sendiri. Entah dari mana asalnya,
kakak saya akhirnya mengetahui masalah ini. Saya dipanggil (disidang)
untuk menjelaskan perihal istri saya yang melakukan shalat dan status
saya yang masih Kristen.
Sebagai seorang yang berpendidikan dan
demokratis, saya mengizinkan istri menjalankan shalat. Hingga suatu
ketika, saya diajak istri untuk menemui seseorang di kawasan Tebet.
Ternyata orang tersebut adalah seorang mualaf, bernama Dr. Bambang
Sukamto (baca kisah mualaf Dr Bambang Sukamto ini )
Di rumah itu
juga, saya bertemu dengan K.H. Abdullah Wasian, seorang kristolog dan
Bapak Abraham David Mendey, mantan pendeta. (baca kisah mualaf Bpk.
Abraham David Mendey ini di website ini, Saya sempat berargumentasi
dengannya. Di antaranya mengenai ayat-ayat Bibel (Alkitab) yang
janggal. Juga mengenai Nabi Muhammad yang sebenarnya ada di dalam
Alkitab, yaitu yang tertera dalam Perjanjian Lama 18:18 yang berbunyi,
"Secrang nabi akan dibangkitkan di antara saudara saudara mereka
seperti engkau ini, apakah engkau menaruh firmanku pada mulutnya ia
akan mengatakan kepada mereka segala yang kuperintahkan. "
Jadi,
di Perjanjian Lama itu ada disebutkan tentang Nabi Muhammad. Tetapi
ayat tersebut tak pernah diakui oleh orang-orang Kristen. Lalu, saya
juga diberi kaset video tentang perjuangan Nabi Muhammad SAW. Walaupun
dengan bahasa Arab, tetapi saya menyukainya.
Saya mulai
membandingkan penyebaran agama Kristen dengan Islam yang sangat
berbeda. Dalam film tersebut, sosok Nabi Muhammad tidak divisualkan
(digambarkan). Itu karena Nabi Muhammad adalah sosok yang suci dan
agung. Di film tersebut saya juga menyaksikan bagaimana perjuangan kaum
muslimin serta siksaan-siksaan yang mereka terima dalam mempertahankan
agama Allah.
Sejak itu, saya semakin tertarik mempelajari Islam
lebih jauh. Lalu, saya menernui K.H. Abdullah Wasian Ia menjelaskan
bahwa Yesus (Isa Almasih) itu penyebar Islam, dan sampai sekarang
beliau tidak mati serta tidak disalib. Karena, menurutnya, rasul itu
tidak ada yang mati sengsara. Saya mencoba merenungi perkataannya.
Saya
terus berdiskusi dengan kristolog ini hingga saya yakin betel bahwa
Islam adalah agama yang benar, dan selanjutnya saya menyatakan diri
masuk agama Islam. Maka pada tanggal 5 Juli 1994, saya mengucapkan
ikrar dua kalimat syahadat bersama istri yang pernah saya kristenkan
(murtadkan) di Masjid Al-Ittihad, Tebet, Jakarta Selatan, disaksikan
oleh jamaah shalat dhuha.
Selanjutnya, untuk memantapkan
keislaman, khususnya ibadah shalat, saya dibimbing langsung oleh istri
saya. Sedangkan masalah tauhid, saya dibimbing oleh seorang mualaf yang
sekarang menjadi dai dan Ketua Yayasan Pendidikan Mualaf, Drs. H.
Syamsul Arifin Nababan. Alhamdulillah, kini, saya dipercaya menjadi
pengurus Masjid At-Taubah di lingkungan tempat kami tinggal.
Last Updated ( Saturday, 19 January 2008 16:52 )
Dr. Antonius S Kumanireng : Apakah Yesus datang utk menebus dosa-dosa manusia ?
Friday, 03 March 2006 22:10 mualafindonesia
Nama
saya Antonius Sina Kumanireng, kerap disapa Anton Sina. Saya anak kedua
dari lima bersaudara yang lahir di tengah-tengah keluarga penganut
Kristen Katolik yang masih sangat ketat mengamalkan ajaran agama. Ayah
saya, Kumanireng, salah seorang pastor sekaligus anggota DPRD Tk. II
Kab. Ende, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Tempat kelahiran saya
mayoritas penduduknya beragama Kristen, termasuk seluruh keluarga saya.
Sejak
kecil, saya telah dipersiapkan menjadi calon pendeta yang diharapkan
menjadi penyebar agama di kampung halaman. Karena itu, saya pun sejak
kecil bekerja sebagai tukang pukul lonceng gereja. Meskipun ayah saya
terbilang penganut Kristen yang ketat, namun sejak kecil saya sering
memberontak terhadap keluarga dan para pastor.
Saya kerap
melemparkan pertanyaan kepada para pendeta, meskipun mereka sering
memberikan jawaban yang tidak memuaskan. Dan kekecewaan itu, saya terus
mencari kebenaran lewat gereja. Suatu ketika saya ikut kebaktian di
gereja. Tba-tiba hati saya yang gundah menjadi tenang. Tapi, ketika
keluar dari gereja hati saya kembali bimbang dan kacau. Bahkan,
menyebabkan saya bertengkar dengan saudara saya di rumah. Maklum,
keluarga saya termasuk keluarga yang kacau.
Saya sendiri tak
paham betul, apa sesungguhnya yang menyebabkan keluarga saya
berantakan. Padahal, tiap hari keluar-masuk gereja. Saya sendiri bahkan
terlibat minum-minuman keras. Hati saya terus bertambah kacau.
Akhirnya, saya mencari kebenaran di luar rumah.
Suatu ketika,
saya ditawari pastor untuk belajar ke Roma, Italia, atas beasiswa dari
Belanda. Saya menolak tawaran itu dengan alasan ingin belajar di negeri
sendiri. Saya terus mencari kebenaran karena keluarga saya telah
berantakan. Saya membuka Alkitab Injil, lalu saya temukan Matius
26:20-25 yang berbunyi, "Yesus datang untuk menebus dosa-dosa manusia. "
Saya
terus membaca dan mengkaji, kesimpulan saya bahwa Yesus sendiri tak mau
mati menebus dosa manusia. Sementara itu, saya terus mengkaji ayat-ayat
Injil yang selalu menimbulkan pertentangan antara ayat satu dan
lainnya. Berkat ketekunan mempelajari sejarah dan pergaulan saya dengan
teman teman muslim serta setiap akan memakan babi saya muntah, maka
saya bertambah yakin untuk tidak makan daging babi.
Masuk Islam
Semua
itu rupanya petunjuk langsung dan Allah agar saya segera kembali ke
agama yang sejati. Saya masuk Islam, dan kemudian saya ganti nama
menjadi Abdul Salam. Semua keluarga termasuk ayah tak setuju, bahkan
menjauhi saya.
Saya terus belajar tentang Islam. Saya pun
mempelajari tasawuf. Akhirya, cita-cita saya terwujud mempelajari
tasawuf setelah saya masuk Perguruan Isbatulyah yang mengajarkan kepada
saya soal syariat dan makrifat Islam. Orang yang paling berjasa
terhadap diri saya dalam mempelajari Islam adalah almarhum Usman
Effendi Nitiprajitna. Saya terus mempelajari ilmu kebatinan dari guru
saya itu.
Alhamdulillah, saya telah menjadi seorang muslim,
kendati saya disingkirkan dari seluruh keluarga. Alhasil, saya menanti
seluruh keluarga saya agar mau terbuka dan bertanya kepada saya mengapa
saya memilih masuk agama Islam. Namun, sampai kind, tak ada yang mau
menemui saya.
Saya siap menjelaskan semuanya. Saya bangga masuk
Islam karena Islam mengajarkan umatnya untuk tolong menolong. Meskipun
istri saya masih tetap beragama Kristen, namun saya tetap melaksanakan
shalat. Antara tahun 1970-1973, saya mendapat beasiswa untuk belajar ke
Universitas Yokohama Jepang. Alhamdulillah, ke yakinan saya justru
semakin kokoh setelah saya bergaul dengan orang-orang Jepang. Padahal,
dulunya, saya termasuk peminum berat alkohol. Tapi, sesudah menjadi
muslim, saya pun meninggalkan kebiasaan buruk itu.
Setelah
berhasil menyelesaikan studi di Jepang dengan gelar doktor kimia, saya
mendapat tawaran kerja dari ITB dan beberapa perusahaan besar di Tanah
Air. Namun, saya lebih senang memilih Universitas Hasanuddin Makassar,
karena PTN itulah yang pertama kali menawarkan aku mengajar.
Bersyukur
Oh
ya, saya mempunyai tiga orang anak. Namanya Yuliana, Elizabeth, dan
Isa. Saya memberikan kebebasan kepada anak-anak saya untuk memilih
agama yang mereka anggap paling benar. Anak saya yang bungsu berkata
kepada saya, ia tak akan masuk Islam apa pun yang terjadi. Setelah
melewati waktu cukup panjang dalam memberikan pemahaman yang benar
tentang Islam, akhirnya Yuliana dan Elizabeth mau mengikuti jejak saya,
masuk Islam.
Saya bangga dan bersyukur kepada Allah Walaupun
saya tak pernah memaksa anak-anak masuk Islam, tapi karena kesadaran
sendiri, mereka akhirnya masuk Islam. Si bungsu yang keras dan benci
terhadap agama Islam pun tiba-tiba berubah sikap dan mau masuk Islam.
Alangkah bahagianya had saya. Semua anak-anak saya telah memilih jalan
yang benar.
Semangat beragama dan kecintaan saya kepada Islam
bertambah dalam. Apalagi berkat bantuan Prof-Dr. H. Nasir Nessa yang
memberikan kesempatan kepada saya menunaikan ibadah haji. Berbagai
kemudahan saya dapatkan di Tanah Suci. Antara lain, saya dapat dengan
mudah mencium Hajar Aswad. Tak lupa, saya pun mendoakan seluruh
keluarga saya agar dibukakan pintu hatinya menerima kebenaran Islam.
Kecewa
Setelah
bertahun tahun melakukan pendalaman terhadap Islam, akhirnya-saya
menemukan kebenaran yang hakiki (sejati) itu di dalam Islam. Namun,
saya sempat kecewa setelah masuk Islam. Saya melihat umat Islam
menganut agamanya semata-mata karena faktor keturunan, sehingga wujud
pengamalannya masih minus. Islam semata-mata hanya simbol, tanpa
diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Saya benar-benar kecewa dan tak
menyangka kalau umat Islam ternyata masih banyak yang tidak memahami
ajaran agamanya secara benar.
Kekecewaan itu muncul, barangkali
lantaran saya yang mualaf ini terlalu berharap banyak dari umat Islam.
Ternyata, semua harapan itu sirna. Banyak umat Islam tak menghargai
agamanya. Padahal, saya sebelum masuk Islam bertahun-tahun mengembara,
berguru dari satu tempat ke tempat lain, demi membuktikan kebenaran
yang ada di dalam Islam. Mengapa umat Islam sendiri tak bangga terhadap
agamanya? Bukankah Islam agama suci? tapi akhirnya saya sadar bahwa itu
semua kembali kepada pribadi masing-masing, yang jelek hanya sebagian
kecil, masih banyak pribadi-pribadi ummat Islam yang patut dicontoh dan
jadi panutan karena pada dasarnya Islam adalah agama yang Suci dan
hakiki.
Akhirnya saya benar-benar bersyukur betapa nikmatnya
hidup dalam panji Islam yang penuh rahmat dan hidayah Allah SWT. Saya
pun bersyukur karena setiap menjelang Lebaran, saya bersama tiga orang
anak saya bersama-sama melakukan shalat Idul Fitri di Lapangan
Karebosi, Makassar. Padahal, sebelum mereka masuk Islam, saya terkadang
merasa sunyi, karena merayakan Hari Raya suci ini seorang diri.
Kini,
saya mengabdi di Universitas Hasanuddin Makassar sebagai dosen yang
tiap hari bergaul di tengah mahasiswa dan sesekali berdialog tentang
Islam. Saya bangga dapat mengabdi di sebuah almamater yang sangat
menghargai pendapat orang lain.
Oleh Bachtiar AK dan
Silahuddin B/Albaz dari Buku "Saya memilih Islam" Penyusun Abdul Baqir
Zein, Penerbit Gema Insani Press website : http://www.gemainsani.co.id/ oleh Mualaf Online Center (MCOL) http://www.mualaf.com
Last Updated ( Saturday, 19 January 2008 17:03 )
Bernard Nababan : Ragu pada isi Alkitab
Thursday, 02 February 2006 23:19 mualafindonesia
Pengantar
: Menjadi seorang pendeta adalah harapan kedua orang tuanya. Namun,
kehendak Allah SWT mengantarkan Bernard Nababan pada kebenaran Islam.
Bahkan, ia akhirnya menjadi juru dakwah dalam agama Islam.
Saya
lahir di Tebing Tinggi, Sumatra Utara, 10 November 1966. Saya anak ke-3
dari tujuh bersaudara. Kedua orang tua memberi saya nama Bernard
Nababan. Ayah saya adalah seorang pendeta Gereja HKBP (Huria Kristen
Batak Protestan) di Sumatra Utara. Sedangkan, ibu seorang pemandu
lagu-lagu rohani di gereja. Sejak kecil kami mendapat bimbingan dan
ajaran-ajaran kristiani. Orang tua saya sangat berharap salah seorang
dari kami harus menjadi seorang pendeta. Sayalah salah satu dari
harapan mereka.
Kemudian, saya disekolahkan di lingkungan yang
khusus mendidik para calon pendeta, seperti Sekolah Pendidikan Guru
Agama (PGA) Kristen. Lalu berlanjut pada Sekolah Tinggi Teologi (STT)
Nomensen, yaitu sekolah untuk calon pendeta di Medan. Di kampus STT ini
saya mendapat pendidikan penuh. Saya wajib mengikuti kegiatan seminari.
Kemudian, saya diangkat menjadi Evangelist atau penginjil selama tiga
tahun enam bulan pada Gereja HKBP Sebagai calon pendeta dan penginjil
pada Sekolah Tinggi Teologi, saya bersama beberapa teman wajib
mengadakan kegiatan di luar sekolah, seperti KKN (Kulah Kerja Nyata).
Tahun
1989 saya diutus bersama beberapa teman untuk berkunjung ke suatu
wilayah. Tujuan kegiatan ini, selain untuk memberi bantuan sosial
kepada masyarakat, khususnya masyarakat muslim, juga untuk menyebarkan
ajaran Injil. Dua prioritas inilah yang menjadi tujuan kami berkunjung
ke perkampungan muslim. Memang, sebagai penginjil kami diwajiban untuk
itu. Sebab, agama kami (Kristen) sangat menaruh perhatian dan
mengajarkan rasa kasih terhadap sesamanya.
Berdialog
Dalam
kegiatan ini saya sangat optimis. Namun, sebelum misi berjalan, saya
bersama teman-teman harus berhadapan dulu dengan para pemuka kampung.
Mereka menanyakan maksud kedatangan kami. Kami menjawab dengan terus
terang. Keterusterangan kami ini oleh mereka (tokoh masyarakat) dijawab
dengan ajakan berdialog. Kami diajak ke rumah tokoh masyarakat itu. Di
sana kami mulai berdialog seputar kegiatan tersebut. Tokoh masyarakat
itu mengakui, tujuan kegiatan kami tersebut sangat baik. Namun, ia
mengingatkan agar jangan dimanfaatkan untuk menyebarkan agama. Mereka
pada prinsipnya siap dibantu, tapi tidak untuk pindah agama.
Agama
Kristen, masih menurut tokoh masyarakat itu, hanya diutus untuk Bani
Israel (orang Israel) bukan untuk warga di sini, Kami hanya diam.
Akhirnya, tokoh masyarakat itu mulai membuka beberapa kitab suci agama
yang kami miliki, dari berbagai versi. Satu per satu kelemahan Alkitab
ia uraikan. la juga membahas buku Dialog Islam-Kristen antara K.H.
Baharudin Mudhari di Madura dengan seorang pendeta.
Dialog
antara kami dan tokoh masyarakat tersebut kemudian terhenti setelah
terdengar azan magrib. Kemudian, kami kembali ke asrama sebelum
kegiatan itu berlangsung sukses. Dialog dengan tokoh masyarakat
tersebut terus membekas dalam pikiran saya. Lalu, saya pun membaca buku
Dialog Islam Kristen tersebut sampai 12 kali ulang. Lama-kelamaan buku
itu menpengaruhi pikiran saya. Saya mulai jarang praktek mengajar
selama tiga hari berturut-turut. Akhirnya, saya ditegur oleh pendeta.
Pendeta itu rupanya tahu saya berdialog dengan seseorang yang mengerti
Alkitab. "Masa’ kamu kalah sama orang yang hanya tahu kelemahan
Alkitab. Padahal kamu telah belajar selama 3,5 tahun. Dan kamu juga
pernah mengikuti kuliah seminari," katanya dengan nada menantang dan
sinis.
Kabur dari Asrama
Sejak peristiwa itu, saya jadi
lebih banyak merenungkan kelemahan-kelemahan Alkitab. Benar juga apa
yang dikatakan tokoh masyarakat itu tentang kelemahan kitab suci umat
Kristen ini. Akhirnya saya putuskan untuk berhenti menjadi calon
pendeta. Saya harus meninggalkan asrama. Dan pada tengah malam, dengan
tekad yang bulat saya lari meninggalkan asrama. Saya tak tahu harus ke
mana. Jika pulang ke rumah, pasti saya disuruh balik ke asrama, dan
tentu akan diinterogasi panjang lebar.
Kemudian saya pergi naik
kendaraan, entah ke mana. Dalam pelarian itu saya berkenalan dengan
seorang muslim yang berasal dari Pulau Jawa. Saya terangkan kepergian
saya dan posisi saya yang dalam bahaya. Oleh orang itu, saya dibawa ke
kota Jember, Jawa Timur. Di sana saya tinggal selama satu tahun. Saya
dianggap seperti saudaranya sendiri. Saya bekerja membantu mereka.
Kerja apa saja. Dalam pelarian itu, saya sudah tidak lagi menjalankan
ajaran agama yang saya anut. Rasanya, saya kehilangan pegangan hidup.
Selama
tinggal di rumah orang muslim tersebut, saya merasa tenteram. Saya
sangat kagum padanya. Ia tidak pemah mengajak, apalagi membujuk saya
untuk memeluk agamanya. la sangat menghargai kebebasan beragama. Dari
sinilah saya mulai tertarik pada ajaran Islam. Saya mulai bertanya
tentang Islam kepadanya. Olehnya saya diajak untuk bertanya lebih jauh
kepada para ulama. Saya diajak ke rumah seorang pimpinan Pondok
Pesantren Rhoudhotul ‘Ulum, yaitu K.H. Khotib Umar.
Kepada
beliau saya utarakan keinginan untuk mengetahui lebih jauh tentang
ajaran Islam. Dan, saya jelaskan perihal agama dan kegiatan saya. Tak
lupa pula saya jelaskan tentang keraguan saya pada isi Alkitab yang
selama ini saya imam sebagai kitab suci, karena terdapat kontradiksi
pada ayat-ayatnya. Setelah saya jelaskan kelemahan Alkitab secara
panjang lebar, K.H. Khotib Umar tampak sangat terharu. Secara spontan
beliau merangkul saya sambil berkata, "Anda adalah orang yang
beruntung, karena Allah telah memberi pengetahuan pada Anda, sehingga
Anda tahu bahwa Alkitab itu banyak kelemahannya."
Setelah itu
beliau mengatakan, jika ingin mempelajari agama Islam secara utuh, itu
memakan waktu lama. Sebab, ajaran Islam itu sangat luas cakupannya.
Tapi yang terpenting, menurut beliau adalah dasar-dasar keimanan agama
Islam, yang terangkum dalam rukun iman.
Masuk Islam
Dari
uraian K.H. Khotib Umar tersebut saya melihat ada perbedaan yang sangat
jauh antara agama Islam dan Kristen yang saya anut. Dalam agama
Kristen, saya mengenal ada tiga Tuhan (dogma trinitas), yaitu Tuhan
Bapak, Tuhan Anak, dan Roh Kudus. Agama Kristen tidak mempercayai
kerasulan Muhammad SAW, Bahkan, mereka menuduhnya tukang kawin. Mereka
juga hanya percaya kepada tiga kitab suci, Taurat, Zabur, dan Injil.
Ajaran
Kristen tidak mempercayai adanya siksa kubur, karena mereka
berkeyakinan setiap orang Kristen pasti masuk surga. Yang terpenting
bagi mereka adalah tentang penyaliban Yesus, yang pada hakekatnya Yesus
disalib untuk menebus dosa manusia di dunia.
Penjelasan K.H.
Khotib Umar ini sangat menyentuh hati saya. Penjelasan itu terus saya
renungkan. Batin saya berkata, penjelasaan itu sangat cocok dengan hati
nurani saya. Lalu, kembali saya bandingkan dengan agama Kristen.
Ternyata agama Islam jauh lebih rasional (masuk di akal) daripada agama
Kristen yang selama ini saya anut. Oleh karena itu saya berminat untuk
memeluk agama Islam.
Keesokan harinya, saya pergi lagi ke rumah
KH. Khotib Umar untuk menyatakan niat masuk Islam. Beliau terkejut
dengan pernyataan saya yang sangat cepat. Beliau bertanya, "Apakah
sudah dipikirkan masak-masak?" "Sudah," suara saya meyakinkan dan
menyatakan diribahwa hati saya sudab mantap.
Lalu beliau
membimbing saya untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Sebelum ikrar
saya ucapkan, beliau memberikan penjelasan dan nasehat. Di antaranya,
"Sebenarnya saat ini Anda bukan masuk agama Islam, melainkan kembali
kepada Islam. Karena dahulu pun Anda dilahirkan dalam keadaan Islam.
Lingkunganmulah yang menyesatkan kamu. Jadi, pada hakikatnya Islam
adalah fitrah bagi setiap individu manusia. Artinya, keislaman manusia
itu adalah sunnatullah, ketentuan Allah. Dan, menjauhi Islam itu
merupakan tindakan irrasional. Kembali kepada Islam berarti kembali
kepada fitrahnya," ujar beliau panjang lebar. Saya amat terharu. Tanpa
terasa air mata meleleh dari kedua mata saya.
Sehari setelah
berikrar, saya pun dikhitan. Nama saya diganti menjadi Syamsul Arifin
Nababan. Saya kemudian mendalami ajaran Islam kepada K.H. Khotib Umar
dan menjadi santrinya. Setelah belajar beberapa tahun di pondok
pesantren, saya amat rindu pada keluarga. Saya diizinkan pulang.
Bahkan, beliau membekali uang Rp 10.000 untuk pulang ke Sumatra Utara.
Dengan
bekal itu saya akhirnya berhasil sampai ke rumah orang tua. Dalam
perjalanan, banyak kisah yang menarik yang menunjukkan kekuasaan Allah.
Sampai di rumah, ibu, kakak, dan semua adik saya tidak lagi mengenali
saya, karena saya mengenakan baju gamis dan bersorban. Lalu, saya
terangkan bahwa saya adalah Bernard Nababan yang dulu kabur dari rumah.
Saya jelaskan pula agama yang kini saya anut. Ibu saya amat kaget dan
shock. Kakak-kakak saya amat marah. Akhirnya saya diusir dari rumah.
Usiran
merekalah yang membuat saya tegar. Saya kemudian pergi ke beberapa kota
untuk berdakwah. Alhamdulillah, dakwah-dakwah saya mendapat sambutan
dari saudaraudara kaum muslimin. Akhirnya saya terdampar di kota
Jakarta. Aktivitas dakwah saya makin berkembang. Untuk mendalami
ajaran-ajaran agama, saya pun aktif belajar di Ma’had al-Ulum
al-Islamiyah wal abiyah atau UPIA Jakarta.
Last Updated ( Saturday, 19 January 2008 16:57 )
Gold Fret : Mendengar Bacaan Al-Qur’an
Thursday, 29 December 2005 07:20 mualafindonesia
AYAH
saya seorang pastor atau pendeta dalam agama Kristen Katolik. Beliau
mengajarkan Alkitab (Injil) pada saya sejak saya masih kecil dengan
harapan agar saya menjadi penerus cita-citanya di kemudian hari. Saya
belajar Alkitab pasal demi pasal dan ayat demi ayat dengan seksama.
Berkat bimbingannya, saya betul-betul memahami kandungan dan tafsiran
Alkitab. Sejak saya berumur empat belas tahun, saya diberi kepercayaan
berceramah di gereja pada setiap hari Minggu dan hari-hari keagamaan
Kristen lainnya.
Setelah saya banyak membaca Alkitab, banyak
saya dapatkan kejanggalan-kejanggalan di dalamnya. Dalam Alkitab,
antara pasal satu dan pasal lainnya banyak terjadi pertentangan, dan
banyak ajaran gereja yang bertentangan dengan isi Alkitab.
Misalnya,
Yohanes pasal 10 ayat 30, menerangkan bahwa Allah dan Yesus (Isa)
bersatu, yaitu, "Aku dan Bapa adalah satu." Sedangkan, pada Matius
pasal 27 ayat 46 menjelaskan bahwa Yesus dan Allah berpisah, yaitu,
"Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring, ‘Eli, Eli,
lama sabakhtani?"’ Artinya, "Tuhanku, Tuhanku, mengapa Engkau
meninggalkan aku?"
Dalam ajaran gereja, seorang bayi yang lahir
akan membawa dosa warisan dari Nabi Adam dan 1bu Hawa. Juga, bayi yang
mati sebelum dibaptis tidak akan masuk surga. Ajaran ini bertentangan
dengan Alkitab Yehezkiel pasal 18 ayat 20 dan Matius pasal 19 ayat 14
menerangkan bahwa manusia hanya menanggung dosanya sendiri, tidak
menanggung dosa orang lain. Bayi yang meninggal sebelum dibaptis akan
masuk surga, karena anak tidak akan turut menanggung kesalahan ayahnya
dan ayah tidak akan turut menanggung kesalahan anaknya. Orang yang
benar akan menerima berkat kebenarannya, dan orang yang fasik akan
menanggung akibat kefasikannya.
Sementara, pada Matius 19 ayat
14 Yesus berkata, "Biarlah anak-anak itu, jangan menghalang-halangi
mereka datang padaku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang
mempunyai Kerajaan Surga."
Dengan semua itu saya merasa
bimbang. Injil mana yang harus saya ikuti, sedangkan semuanya kitab
suci? Dan apakah ajaran gereja yang harus saya ikuti, sedangkan
ajarannya bertentangan dengan Alkitab ?
Saya ragu dengan
keautentikan Alkitab, karena kalau Injil yang ada sekarang ini asli,
tidak mungkin satu sama lain saling bertentangan. Saya juga ragu dengan
kebenaran ajaran gereja karena kalau ajaran gereja itu benar, tidak
mungkin bertentangan dengan kitab sucinya.
Karena mendapatkan
kejanggalan dalam Alkitab dan pertentangan ajaran gereja dengan kitab
sucinya, saya menjadi enggan membaca Injil dan buku buku agama
(Kristen), karena saya yakin tidak akan mendapat kebenaran dalam
Kristen.
Mendengar Bacaan Al-Qur’an
Pada suatu hari saya
berjalan di dekat masjid. Tiba-tiba saya gemetar dan tidak bisa
berjalan disebabkan mendengar suara dari dalam masjid. Setelah saya
pulang ke rumah, saya bertanya pada teman-teman tentang suara yang saya
dengar itu. Tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang tahu tentang
suara itu.
Setelah keesokan harinya saya bertanya pada teman
sekolah yang beragama Islam, dia menjelaskanbahwa "suara" yang saya
dengar di dalam masjid adalah suara orang membaca A1-Qur’an. Kemudian
saya bertanya, "Apa sih, Al-Qur’an itu?" Dia menjawab, "Al-Quran itu
kitab suci umat Islam." Kemudian saya meminta Al-Qur’an padanya. Tetapi
dia tidak memberikan dengan alasan saya tidak punya wudhu.
Setelah
saya pulang dari sekolah, saya langsung mencari orang yang beragama
Islam untuk meminjam A1-Qur’an. Akhirnya saya berjumpa dengan orang
Islam yang bernama Abdullah. Ia keturunan Arab. Lalu saya pinjam
Al-Qur’an padanya dan saya jelaskan padanya bahwa saya beragama Katolik
dan ingin mempelajari Al-Qur’an. Dengan senang hati ia meminjamkan saya
terjemahan Al-Qur’an dan riwayat hidup Nabi Muhammad saw..
Saya
baca Al-Qur’an ayat demi ayat dan surat demi surat. Saya pahami kalimat
demi kalimat dengan seksama. Akhirnya saya berkesimpulan, hanya
Al-Qur’anlah satu-satunya kitab suci yang asli dan hanya Islamlah
satu-satunya agama yang benar.
Al-Qur’an membahas persoalan
ketuhanan dengan tuntas, bahasanya mudah dipaharni, dan argumentasinya
rasional. Di samping itu, Al-Qur’an juga membahas tentang Nabi Isa
(Yesus) sejak sebelum dikandung, dalamn kandungan, waktu dilahirkan,
masa kanak-kanak dan remaja, mukjizatnya, dan kedudukannya sebagai
Rasul Allah, bukan anak Allah.
Sejak mendapatkan kebenaran
Islam, saya mempunyai keinginan yang kuat untuk memeluk agama Islam.
Singkat cerita, kemudian saya datang menjumpai Abdullah dan saga
jelaskan keinginan saga padanya.
la menyambut hasrat saya itu
dengan hati ikhlas, dan ia membimbing saya membaca dua kalimat
syahadat. Setelah menjadi seorang muslim, nama saya diganti menjadi
Dzulfikri. Kemudian saya belajar pada Abdullah tentang hal-hal yang
diwajibkan dan yang dilarang dalam Islam.
Setelah itu saya
mondok di sebuah pesantren. Di situ saya belajar agama selama satu
tahun. Kemudian saya pindah ke kota Malang, Jawa Timur. Di kota ini
saya terus menuntut ilmu agama sambil kuliah
Last Updated ( Thursday, 24 January 2008 01:42 )
WS Rendra : air zamzam pun rasanya seperti Minuman Chevas Regal
Wednesday, 30 November 2005 07:51 mualafindonesia
Memperingati 7 Dasawarsa WS Rendra: 7 November 1935
Pengantar
: Kamis malam, 8 November 1991, TIM (Taman Ismail Marzuki) kembali
berguncang. Tetapi, itu bukan karena ulah Rendra yang biasa membaca
puisi "panas" yang sarat dengan kritik sosial. Persoalannya justru
timbal karena pihak berwajib (Polda Metro Jaya) tidak mengizinkan sang
Penyair kondang ini rnembacakan dua buah puisinya yang berjudul Demi
Orang-orang Rangkas Bitung dan Doa Seorang Pemuda Rangkas Bitung di
Rotterdam.
Apa sebabnya sehingga dua judul puisi itu tidak boleh
dibacakan, memang belum jelas. Barangkali karena dua puisi tersebut
dikhawatirkap akan membuat keresahan di masyarakat. Tetapi, masyarakat
mana yang diresahkan oleh puisi Rendra tersebut? Wallahu a’lam.
Malam
itu, sedianya saya hendak membacakan delapan judul puisi. Namun, pihak
yang berwajib hanya mengizinkan enam judul puisi. Karena larangan
terhadap dua puisi tersebut, meskipun izin pertunjukkan diberikan, saya
menolak berpentas. Waktu itu saya katakan, lebih baik tidak membacakan
puisi sama sekali. Inilah sikap perlawanan saya.
Melalui dua
puisi itu, saya hanya ingin bertanya, apakah rakyat Indonesia sudah
mendapatkan hak hukum. Ini ‘kan pertanyaan wajar, toh? Tidak menyalahi
hukum akal sehat. Juga tidak menyalahi undang-undang. Kalau rakyat
tidak mempunyai hak hukum untuk menghadapi adipati-adipati yang baru,
apa itu namanya bangsa merdeka? Kalau bangsa Anda tidak mempunvai hak
hukum, apakah dapat disebut sebagai bangsa yang merdeka?
Dengan
pelarangan ini, sekarang yang terlintas di pikiran saya adalah betulkah
kenyataan yang mengatakan bahwa negara kita memang sudah merdeka,
tetapi bangsa Indonesia belum merdeka? Nurani kita belum merdeka atau
dimerdekakan.
Hijrah Keyakinan
Saya memang telah memilih
jalan hidup saya sebagai seniman. Sejak muda, saya telah
malang-melintang di dunia teater. Bahkan, kemudian sava dikenal-sebagai
"dedengkot" Bengkel Teater sewaktu masih tinggal di Yogyakarta. Melalui
Bengkel Teater inilah saya telah mendapatkan segalanya: popularitas,
istri, dan juga materi. Bahkan tidak tanggung-tanggung, dalam
kemiskinan sebagai seniman pada waktu itu, saya dapat memboyong seorang
putri Keraton Prabuningratan, BRA Sitoresmi Prabuningrat, yang kemudian
menjadi istri saya yang kedua.
Tetapi justru, melalui perkawinan
dengan putri keraton inilah, akhirnya saya menyatakan diri sebagai
seorang muslim. Sebelumnya saya beragama Katolik. Meskipun dalam
rentang waktu yang cukup panjang-setelah memperoleh 4 orang
anak–perkawinan saya kandas. Tetapi, keyakinan saya sebagai seorang
muslim tetap terjaga.
Bahkan, setelah perkawinan dengan istri
yang ketiga, Ken Zuraida, saya semakin rajin beribadah dan mendekatkan
diri kepada Allah SWT. Dan bukan suatu kebetulan, jika saya kemudian
bergabung bersama Setiawan Djodi dan Iwan Falls dalam grup Swami dan
Kantata Takwa.
Bagi saya, puisi bukan hanya sekadar ungkapan
perasaan seorang seniman. Tetapi lebih dari itu, puisi merupakan sikap
perlawanan saya kepada setiap bentuk kezaliman dan ketidakadilan. Dan,
itulah manifestasi dari amar ma’ruf nahi munkar seperti yang selalu
diperintahkan Allah di dalam Al-Qur’an.
Sebagai penyair, saya
berusaha konsisten dengan sikap saya. Bagi saga, menjadi penyair pada
hakikatnya menjadi cermin hati nurani dan kemanusiaan. Penyair itu
bukan buku yang dapat dibakar atau dilarang, bukan juga benteng yang
bisa dihancur leburkan. Ia adalah hati nurani yang tidak dapat
disamaratakan dengan tanah. Mereka memang dapat dikalahkan, tetapi
tidak dapat disamaratakan dengan tanah begitu saja.
Pergi Haji
Meskipun
sudah menjadi orang Islam, tetapi saya masih suka meminum minuman
keras. Seenaknya saja saya katakan bahwa tidak ada masalah dengan hal
itu. Waktu itu, saga selalu katakan, kalau saya membaca
bismillahirrahmanirrahim, maka minuman keras menjadi air.
Ketika
naik haji, apa saja yang saya tenggak terasa seperti minuman keras
merek Chevas Regal. Minum di sini, minum di sana, rasanya seperti
minuman keras. Bahkan, air zamzam pun rasanya seperti Chevas Regal,
sampai saya bersendawa, seperti orang yang selesai meminum minuman
keras.
Lirih, saya memohon. "Aduh, ya Allah, saya ini sudah
memohon ampun. Ampun, ampun, ampun, ya Allah." Saya betul-betul merasa
takut, kecut, malu, dan juga marah, sehingga saya ingin berteriak,
"Bagaimana, sih? Apa maksud-Mu? Jangan permalukan saya, dong!" Saya
baru merasakan air lagi dalam penerbangan dari Jedah ke Amsterdam.
Alhamdulillah! Saya betul-betul bersyukur. Setelah ini, saya tidak akan
meminum minuman keras lagi. oleh Mualaf Online Center http://www.mualaf.com
Tujuh Dasawarsa Sang Burung Merak
Jakarta
- Senin (28/11) semua kursi di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail
Marzuki, Jakarta, penuh terisi. Meski panggung hanya didominasi satu
warna, hitam, gairah pengunjung tetap terasa. Ya, malam itu merupakan
malam penghormatan bagi sang pemilik usia, sastrawan besar Indonesia,
Willibrordus Surendra Broto Rendra atau Rendra, yang telah menginjak
usia ke-70.
Tujuh puluh tahun memang bukanlah sebuah rentang
usia yang pendek. Apalagi bila sang pemilik usia adalah orang besar
seperti Rendra yang mengisi hidupnya untuk mewarnai kehidupan banyak
orang.
Tak ada kue ulang tahun mewah, apalagi pesta yang
ingar-bingar malam itu. Namun, orang-orang yang pernah disentuh
hidupnya oleh pemimpin Bengkel Teater ini berusaha merangkai acara
istimewa bagi budayawan kelahiran 7 November 1935 yang kerap dijuluki
si Burung Merak tersebut.
Tak pelak, pembacaan karya-karya
monumental sang maestro menjadi sebuah hidangan nikmat bagi para
pengagum, sahabat, dan keluarga dekatnya. Karya-karya yang dipilih
merupakan cermin pemikiran kritis serta pergolakan panjang batin Rendra
selama 50 tahun lebih perjalanan kesastraannya.
Dipandu oleh
aktor kawakan yang juga jebolan Bengkel teater, Adi Kurdi, acara dibuka
dengan pembacaan puisi Nyanyian Orang Urakan yang dibawakan oleh Ketua
Umum Dewan Kesenian Jakarta, Ratna Sarumpaet.
Kemudian sebuah
cerita pendek Gaya Herjan karya Rendra ditampilkan oleh aktor dan
penyair Jose Risal Manua. Dengan gayanya yang khas, Jose mampu
menampilkan kepekaan Rendra terhadap kehidupan manusia sehari-hari
seperti yang ia tunjukkan pada cerpen tersebut.
Sementara itu,
kegelisahan Rendra pada kehidupan politik rezim Orde Baru yang ia
tuangkan dalam Panembahan Roso ditampilkan secara apik oleh Butet
Kertaradjasa. Ia membawakan monolog dari sekelumit bagian karya
tersebut. Monolog yang ia bawakan tak berdiri sendiri, tapi bersanding
dengan pembacaan dramatic reading oleh Amak Baldjun, Syu’bah Asa,
Chaerul Umam, dan Jose Rizal Manua, para alumni Bengkel teater.
Esai
bertajuk Keseimbangan yang dibawakan Adi Kurdi dan sebuah cerpen yang
dibuat pada 1956 berjudul Ia Punya Leher yang Indah dibacakan oleh
pemimpin Teater Koma, N. Riantiarno, pun mengakhiri keseluruhan acara
malam itu. Namun, interpretasi baru Putu Wijaya pada cerpen lama
Rendra, Wascha Ah Wascha, menjadi puncak acara malam itu. Gelak tawa
pengunjung tak henti-hentinya mewarnai pembacaan Putu yang nyleneh.
Selamat ulang tahun, Mas Willi. (Koran tempo / Sita)
Rendra
dimata N. Riantiarno (Pendiri Teater Koma) : Rendra, Dia memang pernah
dikalahkan oleh kekuasaan yang otoriter, tapi, kemudian, ternyata
dialah sang pemenang.
Pertama kali saya bertemu langsung dengan
W.S. Rendra pada April 1968. Dia baru pulang dari Amerika Serikat dan
membawa oleh-oleh yang bagi aktivis teater Indonesia boleh dibilang
asing. Geger tentu saja. Goenawan Mohamad menyebutnya teater minikata.
Itulah latihan-latihan dasar teater yang memang minim kata, nyaris
hanya terdiri atas gerak dan bunyi.
Waktu itu saya mahasiswa
Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) dan anggota Teater Populer.
Teguh Karya, guru kami, ikut pentas teater minikata. Belakangan, Rendra
mengakui, Teguh Karya adalah dramawan yang berhasil mempengaruhinya
sehingga dia semakin bergiat dalam dunia teater.
Baca Puisi di
UnibrawPentas teater minikata digelar di Jakarta pada April 1968.
Nomor-nomor yang disajikan, Bip Bop, Piip, Di Manakah Kau Saudaraku,
Rambate-Rate-Rata, dan Vignet Katakana, sangat memukau. Rendra menjadi
bintang yang menawan. Begitu juga Putu Wijaya, Chaerul Umam, Amak
Baldjun, dan Syubah Asa.
Beberapa hari kemudian, Rendra berkenan
mengunjungi Teater Populer. Grup kami sering dicap sebagai teater
borjuis, mungkin karena kami berlatih di Hotel Indonesia. Padahal kami
sama miskin dengan seniman-seniman teater lain. Makan siang terpaksa
bantingan. Dan jatah kami hanya sebuah bacang ketan isi daging sapi.
Minumnya air putih, langsung dari keran wastafel hotel.
Dalam
pertemuan pada 1968 itu, Rendra mengajak kami melatih gerak kalbu atau
gerak indah. Intinya, dengan mengambil tema tertentu, tubuh bergerak
karena dorongan jiwa. Gerak bisa distimulasi oleh suara musik atau bisa
juga oleh suara jiwa kita sendiri. Sama sekali tak ada pola gerak.
Seluruh gerak terjadi secara spontan. Tapi konsentrasi harus penuh dan
hati jujur. Itulah metode latihan tubuh dan jiwa yang ternyata sangat
efektif bagi aktor.
Setelah pementasan Bip Bop, Rendra pulang ke
Yogyakarta dan berkiprah bersama Bengkel Teater. Tapi teaternya
kemudian dicap oleh penguasa, yang mulai cemas, sebagai kegiatan
berbobot politik dan membahayakan stabilitas nasional.
Sebelum
ke Amerika Serikat, pada 1963, Rendra berhasil mementaskan karya Eugene
Ionesco, The Chair, yang dia sadur menjadi Kereta Kencana. Dia juga
menggelar Odiphus karya Sophocles. Yang menarik, setelah Bip Bop,
Rendra kembali mementaskan teater yang bersumber dari naskah. Dia
menggelar Isteri Yahudi, Informan, dan Mencari Keadilan, terjemahan
karya Bertolt Brecht. Dan dia menggelar sandiwara yang sarat teks pula,
antara lain pentas ulang Oidipus, Hamlet karya Shakespeare dan Menunggu
Godot karya Samuel Becket.
Bentuk pementasan Bengkel Teater baru
mengalami perubahan yang signifikan ketika Kasidah Barzanzi, Macbeth,
Dunia Azwar, dan Lysistrata digelar. Warna lokal jadi bungkus utama
pergelarannya. Dan kekentalan "warna lokal" semakin memancarkan daya
tariknya ketika Rendra mementaskan karya-karya sendiri: Mastodon dan
Burung Kondor, Perjuangan Suku Naga, Sekda, Panembahan Reso, dan
Selamatan Anak Cucu Sulaiman. Ketika Hamlet dan Kasidah Barzanzi
dipentaskan ulang, bentuknya pun mengalami perubahan yang lebih kental
dengan warna lokal, meski siratan isi lakon tetap sama.
Dalam
Perjuangan Suku Naga, Sekda, dan Panembahan Reso, bentuk teater rakyat,
ketoprak, dikemas sebagai stilisasi yang sangat berhasil. Segera saja
Rendra menjadi ikon. Living-legend dan trendsetter yang berhasil
memberi daya hidup bagi dunia teater (dan puisi). Lewat kiprah Rendra,
teater menjadi lebih prestisius, "berharga", dan milik masyarakat luas.
Teater (dan puisi) juga mulai diperhatikan kaum politikus, malah
dianggap memiliki potensi yang bisa mempengaruhi timbulnya pemikiran
baru dalam kebijakan politik bernegara. Ini perkembangan yang menarik
dan penting. Dan kepada Rendra, saya berguru.
Dalam penulisan,
saya berguru kepada Asrul Sani, Arifin C. Noer, dan Goenawan Mohamad.
Guru teater saya adalah Teguh Karya dan Rendra. Memang saya belajar
langsung kepada Teguh Karya, yang mengajari cara mempertahankan daya
kreatif dalam kehidupan yang semakin kompetitif. Saya memetik dasar
pelajaran manajemen kehidupan kreatif dari dia. Tapi cara bagaimana
membangkitkan daya hidup serta mempertahankan stamina dalam gejolak
arus zaman serta menyiasati kemusykilan politik kebudayaan dalam
pemerintahan yang otoriter, secara tak langsung, saya banyak menyerap
dari Rendra.
Pelarangan pentas Teater Koma Suksesi dan Opera
Kecoa, juga pelarangan pentas puisi Rendra, mendorong para seniman
pergi ke DPR RI untuk memprotes pada 1991. Dalam hearing di ruang
sidang pleno DPR RI, para seniman bergiliran bicara. Dan Rendra membaca
puisi dengan sangat-sangat bagus. Indah. Memukau. Itulah pembacaan
puisi terbagus yang pernah saya saksikan.
Rendra kini 70 tahun
(lahir di Solo, 7 November 1935). Berbagai tindakan bermakna dan
inspiratif telah dia lakukan. Dia pernah dipaksa hidup dalam
kemiskinan, terlunta, tanpa uang, seakan tidak memiliki masa depan
pula. Tapi daya hidupnya tak pernah padam. Dia memang pernah dikalahkan
oleh kekuasaan yang otoriter, tapi, kemudian, ternyata dialah sang
pemenang.
Rendra, seniman besar. Milik Indonesia. Permata mulia.
Pikiran-pikirannya tajam. Dia selalu mengungkap apa yang dirasa, tanpa
jengah, tanpa rasa takut. Dengan sikap seperti itu pula dia dicekal dan
dipenjara. Tapi dia tak pernah jera. Rendra adalah empu yang mumpuni.
Hingga kini dia terus memberi kontribusi atas berbagai pikiran yang
bernas. Kita seharusnya bersyukur memiliki dia. (Koran Tempo).
Data WS Rendra
Nama : WILLIBRORDUS SURENDRA BROTO RENDRA
Lahir : Solo, Jawa Tengah, 7 November 1935
Agama : Islam
Pendidikan :
-SMA St. Josef, Solo
-Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada
-American Academy of Dramatic Arts, New York, AS (1967)
Karir :
-Pendiri/Pemimpin
dan sekaligus sebagai sutradara, penulis skenario dan pemain Bengkel
Teater, Yogya (1967 — sekarang) Sebagai penulis puisi dan drama, ia
menghasilkan antara lain: -Sekda
-Perjuangan Suku Naga (drama)
-Ballada orang-orang tercinta (1957)
-Blues untuk Bonnie (1970)
-Potret Pembangunan dalam Puisi (1980) (kumpulan puisi)
-Pamphleten van een Dichter, Holland, 1979
-State of Emergency, Australia (1980) Naskah-naskah pentasnya: Bip-bop
-Oedipus Rex
-Khasidah Barzanji
-Perang Troya tidak akan Meletus
Kegiatan Lain :
-Pemain Film. Memperoleh Hadiah Puisi dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (1957)
-Anugerah Seni dari Departemen P dan K (1969)
-Hadiah Seni dari Akademi Jakarta (1975)
Alamat Rumah :
Jalan Mangga, Perumnas Depok I, Bogor
Last Updated ( Monday, 14 January 2008 11:00 )
SUMBER : www.mualaf.com