03.15.09

PENGUMUMAN : LINK TERBARU DARI SERANGAN BALIK UNTUK INDONESIA.FAITHFREEDOM.ORG / serbuiff …. MARI GABUNG DISINI …. http://serbuiff.forumotion.com/

Posted in PENGUMUMAN : LINK TERBARU DARI SERANGAN BALIK UNTUK IND tagged at 1:27 am by pipin234

PENGUMUMAN :

LINK TERBARU DARI
SERANGAN BALIK UNTUK INDONESIA.FAITHFREEDOM.ORG / serbuiff
…. MARI GABUNG DISINI …. http://serbuiff.forumotion.com/

UNTUK DAFTAR CLICK DI SINI : http://serbuiff.forumotion.com/profile.forum?mode=register&agreed=true

KUMPULAN TOPIK BISA DILIHAT DISINI http://serbuiff.forumotion.com/your-first-forum-f1/

JIKA ADA PERTANYAAN ATAU SESUATU YG KURANG JELAS….LIHAT DISINI …. CLICK AJA INI… http://serbuiff.forumotion.com/faq.htm

ATAU KIRIM EMAIL KE: serbuiff@gmail.com

10.08.08

“Konsep Jihad Bukanlah Perang” oleh Dr. Tariq Ramadan

Posted in "Konsep Jihad Bukanlah Perang" tagged at 1:36 am by pipin234

SEOLAH sedang mengajar di depan kelas, itulah gaya Doktor
Tariq Ramadan ketika berbicara kepada wartawan Tempo. Dengan
gaya bicara yang tenang tetapi tegas, ia bertutur tentang
pandangan dan kritiknya terhadap Islam. Persis seperti
sedang berbicara kepada mahasiswanya, ia sesekali “meledak”
saat menyinggung ketertindasan muslim di berbagai belahan
dunia. Gaya serupa menyertai dia saat berdiskusi di forum
intelektual di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta sepanjang
pekan lalu.

Lahir di Swiss, 42 tahun silam, Tariq memang sosok yang
unik. Dialah cucu Hassan al-Banna, orang Mesir pendiri
Ikhwanul Muslimin yang kerap disebut sebagai organisasi
pelopor Islam fundamentalis. Pada 1928, sang kakek aktif
menggalang kekuatan Islam untuk memerangi kolonial. Kini,
cucunya yang melanjutkan perjuangan, namun dengan cara yang
sama sekali berbeda.

Sarjana filsafat (dengan tesis tentang Nietzsche) dan
Sastra Prancis ini meraih gelar Doktor dalam bidang Studi
Islam di University of Geneva. Saat ini, Tariq mengajar di
dua universitas bergengsi di Eropa, Genevan College dan
University of Fribourg. Ia berperan aktif dalam diskusi
tentang Islam di Eropa dan berbagai negara lain. Di saat
hubungan Islam dan Barat sedang morat-marit, Tariq tampil
sebagai jembatan. Melalui buku-bukunya, antara lain To Be
European Muslim (2000), Islam, the West, and the Challenge
of Modernity (2002) dan The Future of Islam in Europe
(2003), ia berbicara kepada dunia.

Ia tidak setuju dengan orang Islam yang mengisolasi diri.
Ia juga menolak orang Islam yang melebur dalam kehidupan
bangsa Eropa sehingga meninggalkan identitas keislamannya.
Karenanya, ia meluncurkan konsep Jalan Tengah: menjadi
muslim sejati sekaligus orang Eropa. Karena pandangannya
inilah ia terpilih sebagai salah satu inovator oleh majalah
Time edisi khusus awal 2000.

Jumat pekan lalu, ayah tiga anak yang fasih berbahasa
Prancis, Inggris, dan Arab ini menerima Andari Karina Anom
dan Qaris Tajudin dari Tempo di sebuah rumah mungil bergaya
Eropa di Bona Indah Garden, Lebak Bulus, Jakarta Selatan.
Berikut petikannya.


Menurut Anda, apa sebenarnya problem utama hubungan Islam
dengan Barat?

Problem utama umat Islam di Eropa karena mereka belum
terintegrasi sepenuhnya dengan masyarakat. Bagi orang Barat,
hanya ada dua kelompok Islam: moderat dan fundamentalis.
Pemahaman yang buruk dan representasi buruk kalangan Islam
tertentu mengakibatkan orang Barat menerapkan hukum secara
bias dengan standar ganda. Karena itu, seorang muslim harus
paham dengan baik tentang agamanya dan bisa beradaptasi
dengan lingkungan tempat kita tinggal. Dengan begitu, Islam
menjadi kontekstual. Sebagai muslim, kita tak hanya dituntut
memahami agama kita, tapi juga negara, hukum dan masyarakat
di tempat kita tinggal.

Anda menyebut orang Islam kerap disudutkan, misalnya
dalam hal apa?

Ada kesalahpahaman dalam memandang Islam sehingga
orang-orang Islam banyak yang menjadi korban.

Orang-orang menyerang dan menyalahkan Islam. Karenanya
harus ada gerakan dari kalangan muslim untuk menjelaskan
kesalahpahaman ini. Kita ada dalam situasi ini karena ada
orang-orang yang tak menyukai Islam dan menyalahkan Islam.
Kita harus mencegah upaya penyudutan ini dengan menjadi
bagian dari sistem, menjadi warga negara yang aktif dalam
masyarakat.

Bagaimana menerapkan budaya suatu negara tanpa kehilangan
nilai keislaman?

Dalam Islam, kita harus memajukan pendidikan yang setara
untuk laki-laki dan perempuan. Jika kita melihat di suatu
negara, ada perbedaan antara lelaki dan perempuan, maka itu
bukan Islam, tapi budaya negara tertentu, misalnya Maroko
dan Turki. Sebagai muslim, kita harus membedakan antara
budaya dan agama.

Selain itu, juga harus tahu lebih banyak dan terlibat
aktif di masyarakatnya. Bukan sekadar menerima segala
sesuatu, tapi juga aktif menuntut hak. Ini yang disebut
Revolusi Diam (Silence Revolution). Muslim di Barat sekarang
lebih sadar apa yang harus dilakukan untuk mengubah situasi
ini.

Itu sebabnya Anda menawarkan konsep Jalan Tengah, yaitu
tetap menjadi muslim dan menjadi warga negara yang baik?

Yang saya maksud sebagai Jalan Ketiga adalah in between,
tetap menjadi muslim yang baik, sekaligus warga negara Eropa
yang baik. Saya menolak muslim mengisolasi diri, tapi saya
juga menolak muslim melebur dalam kehidupan negaranya
sehingga menghilangkan identitas kemusliman. Ini adalah
tradisi reformis, bukan modernis, karena sebenarnya konsep
ini sudah cukup tua, setua agama Islam sendiri. Banyak
kalangan di Barat yang sejak lama mengatakan muslim tak
mungkin bisa dipersatukan. Namun, sekarang kita membuktikan
bahwa muslim bisa bersatu padu.

Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbanyak
sangat terpengaruh pemikiran Barat yang menyudutkan Islam.
Bagaimana menurut Anda?

Umat Islam di Indonesia memiliki masalah besar.

Ditinjau dari jumlah, Indonesia adalah negara dengan
penduduk muslim terbanyak. Namun, saya tidak yakin kalau
muslim di Indonesia adalah muslim by heart.

Mungkin hanya sebatas simbol dan identitas formal.

Kalangan Islam di Indonesia bahkan berani baku hantam
hanya untuk menunjukkan Anda muslim, tapi cuma di permukaan,
tidak dalam pengertian yang mendalam.

Dalam hal ini, Jalan Tengah apa?

Yang harus dilakukan di level akar rumput adalah
pendidikan populer. Islam membutuhkan orang-orang untuk
menjelaskan apa sebenarnya Islam, apa esensinya, sehingga
bisa menerangi hati kaum muslim di tempatnya berada. Hal-hal
seperti ini ada di masyarakat bukan di universitas. Saya
kira, banyak kalangan Islam di Indonesia yang mempraktekkan
agama secara formal dan hanya di permukaan. Orang-orang
Islam di Indonesia terlalu terpengaruh budaya Barat sehingga
kadang-kadang tak tahu siapa kita dan ke mana kita berpihak.
Kedua, Indonesia seharusnya memperkuat organisasi Islam yang
bekerja di level akar rumput, membantu orang-orang di
masyarakat dan memberi pemahaman yang dalam tentang
Islam.

Gerakan Islam yang populer itu misalnya apa?

Di Indonesia, tiap Jumat banyak orang datang ke masjid
untuk salat Jumat. Mereka menyadari pentingnya ibadah itu,
namun kadang-kadang mereka tak memahami Islam secara
mendalam. Karena itu, harus ada pendidikan Islam bagi
masyarakat supaya kalangan muslim sendiri memahami agamanya,
mengerti arti muamalat dan aktif menjalankan prinsip-prinsip
itu. Sebab, meski Anda tinggal di negara berpenduduk muslim
terbesar, Anda hidup di masyarakat yang multiagama. Kita
harus membantu orang memahami Islam secara betul. Banyak
kalangan di Indonesia yang menggunakan Islam sebagai senjata
politik.

Majalah Time bulan lalu menurunkan laporan utama tentang
misionaris yang berusaha mengkristenkan orang Islam. Menurut
Anda, bagaimana problem ini di Indonesia?

Ini bukan hanya problem di Indonesia, tapi juga di
Afrika. Orang-orang Kristen menyiarkan agama mereka dan
sebagian kalangan muslim bereaksi dengan berlebihan, padahal
mereka sendiri tak memahami Islam secara mendalam. Jika Anda
tak mau muslim berpindah ke Kristen, solusinya adalah kita
harus menjelaskan pada sesama muslim apa sebetulnya agama
Islam. Anda tak bisa memaksa mereka menjadi Islam, tapi Anda
harus menjelaskan kepada mereka apa sebetulnya Islam. Jika
pendidikan Islam terhadap kalangan muslim sendiri buruk,
maka orang Kristen memiliki lahan terbuka untuk beraksi. Dan
ini bukan kesalahan mereka.

Bagaimana dengan konsep jihad?

Jihad adalah konsep dengan banyak aspek. Untuk memahami
jihad, kita harus kembali ke diri sendiri.

Dalam diri kita ada godaan untuk melakukan kekerasan,
kemarahan, atau pertengkaran. Itu adalah nafsu-nafsu alami
manusia. Kita bisa melakukan kekerasan, tapi dengan
kesadaran penuh kita dapat mengontrol dorongan-dorongan
jahat itu…. Konsep jihad bukanlah perang, melainkan
perdamaian. Kalau kita bawa ke tingkat kolektif, sama saja.
Jihad bukanlah perang suci. Terminologi perang suci datang
dari Perang Salib Kristen. Bagi kita sekarang, jihad berarti
usaha untuk melawan. Ketika ada penindasan terhadap umat
Islam secara tidak adil, kita punya hak untuk melawan.

Itulah jihad. Bukan perang melawan Yahudi, Amerika, atau
Barat.

Berarti jihad mengandung konsep perlawanan?

Ya, namun konsep perlawanan yang ada sekarang sama sekali
salah. Banyak intelektual muslim yang menggunakan istilah
perang suci untuk menjelaskan jihad. Banyak muslim yang
menggunakan konsep jihad secara salah. Jihad adalah konsep
perlawanan dengan cara damai. Namun, mesti diingat, tak akan
ada perlawanan tanpa keadilan. Tak ada perdamaian tanpa
keadilan. Misalnya, saya mencuri sepeda Anda. Dua hari
kemudian saya mengaku mengambil sepeda Anda dan saya ingin
berdamai. Tentu saja Anda akan bilang, kembalikan dulu
sepeda saya baru kita bicara soal perdamaian. Hal inilah
yang dialami Palestina.

Pandangan negatif terhadap Islam kian menggila pasca-11
September dan bom Bali di Indonesia.

Bagaimana Anda memandang soal ini?

Perang melawan teroris adalah perang yang sulit
dijelaskan. Soalnya, tidak ada definisi resmi soal teroris
di lembaga internasional seperti PBB, NATO, dan lain-lain.
Itu sebabnya teroris sulit dijelaskan, apalagi ditumpas. Dan
yang jadi korban adalah orang Islam. Padahal, jika definisi
teroris adalah membunuh orang tak bersalah, maka kita harus
memerangi segala jenis teroris, termasuk terorisme negara.
Memang, kita tahu banyak kelompok muslim yang menyatakan
jihad berarti sah untuk memerangi Yahudi atau Amerika. Itu
tidak benar. Kita harus melawan pemikiran yang tak ada
hubungannya dengan ajaran Islam.

Artinya, orang Islam harus melakukan reformasi
besar-besaran untuk mengubah pandangan negatif itu?

Betul. Namun pertanyaannya, reformasi seperti apa?

Banyak saudara-saudara kita yang mempromosikan Islam
tanpa mengetahui Islam sebenarnya. Mereka mengajarkan bahwa
kita tak perlu salat, cukup berhubungan dengan Allah 24 jam
sehari. Ini bukan reformasi, tapi penghancuran. Jika ada
yang melakukan itu, mereka bukan reformis, tapi penghancur
Islam.

Bagaimana dengan konsep negara Islam. Apakah memang itu
suatu tujuan bagi gerakan-gerakan Islam di dunia, termasuk
Indonesia?

Yang sebetulnya dibutuhkan bukan negara Islam sebagai
sebuah negara yang melaksanakan prinsip-prinsip keadilan,
kesetaraan dan alternation (pergantian kepemimpinan yang
baik). Kita tidak punya model negara Islam karena kita
tinggal dalam masyarakat yang kompleks secara sosial,
politik, dan budaya. Namanya boleh apa saja, yang penting
negara itu menjalankan prinsip-prinsip universal seperti
yang saya kemukakan tadi. Kita jangan terobsesi oleh nama,
tapi praktek-prakteknya.

Source:
http://www.tempo.co.id/harian/wawancara/waw-TariqRamadan01.html


10.04.08

BIBEL, QUR-AN, dan Sains Modern oleh Bucaille

Posted in BIBEL, QUR-AN, dan Sains Modern oleh Buchaille tagged , , , at 11:52 pm by pipin234

BIBEL, QUR-AN, dan Sains Modern

Indeks Islam | Indeks Bucaille | Indeks Artikel | Tentang Penulis


ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

BIBEL, QUR-AN, dan Sains Modern Dr. Maurice Bucaille Judul Asli: La Bible Le Coran Et La Science Alih bahasa: Prof. Dr. H.M. Rasyidi Penerbit Bulan Bintang, 1979 Kramat Kwitang I/8 Jakarta
Indeks Islam | Indeks Bucaille | Indeks Artikel | Tentang Penulis

ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team

09.29.08

TAFSIR IBN KATHIR SURAH NO 112 AL IKHLASS

Posted in TAFSIR IBN KATHIR SURAH NO 112 AL IKHLASS tagged at 12:50 am by pipin234

» Tafsir Ibn Kathir

TAFSIR IBN KATHIR SURAH NO 112 AL IKHLASS

The Reason for the Revelation of this Surah and its Virtues

Imam Ahmad recorded from Ubayy bin Ka`b that the idolators said to the Prophet , “O Muhammad! Tell us the lineage of your Lord.” So Allah revealed

[قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ - اللَّهُ الصَّمَدُ - لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ - وَلَمْ يَكُنْ لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ ]

(Say: “He is Allah, One. Allah He begets not, nor was He begotten. And there is non comparable to Him.”) Similar was recorded by At-Tirmidhi and Ibn Jarir and they added in their narration that he said,

[الصَّمَدُ]

“(As-Samad) is One Who does not give birth, nor was He born, because there is nothing that is born except that it will die, and there is nothing that dies except that it leaves behind inheritance, and indeed Allah does not die and He does not leave behind any inheritance.

[وَلَمْ يَكُنْ لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ ]

(And there is none comparable to Him.) This means that there is none similar to Him, none equal to Him and there is nothing at all like Him.” Ibn Abi Hatim also recorded it and At-Tirmidhi mentioned it as a Mursal narration. Then At-Tirmidhi said, “And this is the most correct.”

A Hadith on its Virtues

Al-Bukhari reported from `Amrah bint `Abdur-Rahman, who used to stay in the apartment of `A’ishah, the wife of the Prophet , that `A’ishah said, “The Prophet sent a man as the commander of a war expedition and he used to lead his companions in prayer with recitation (of the Qur’an). And he would complete his recitation with the recitation of `Say: He is Allah, One.’ So when they returned they mentioned that to the Prophet and he said,

«سَلُوهُ لِأَيِّ شَيْءٍ يَصْنَعُ ذَلِكَ؟»

(Ask him why does he do that.) So they asked him and he said, `Because it is the description of Ar-Rahman and I love to recite it. So the Prophet said,

«أَخْبِرُوهُ أَنَّ اللهَ تَعَالَى يُحِبُّه»

(Inform him that Allah the Most High loves him.)” This is how Al-Bukhari recorded this Hadith in his Book of Tawhid. Muslim and An-Nasa’i also recorded it. In his Book of Salah, Al-Bukhari recorded that Anas said, “A man from the Ansar used to lead the people in prayer in the Masjid of Quba’. Whenever he began a Surah in the recitation of the prayer that he was leading them, he would start by reciting `Say: He is Allah, One’ until he completed the entire Surah. Then he would recite another Surah along with it (after it). And used to do this in every Rak`ah. So his companions spoke to him about this saying; `Verily, you begin the prayer with this Surah. Then you think that it is not sufficient for you unless you recite another Surah as well. So you should either recite it or leave it and recite another Surah instead.’ The man replied, `I will not leave it off. If you want me to continue leading you (in prayer), I will do this; and if you all do not like it, I will leave you (i.e., I will stop leading you).’ They used to consider him to be of the best of them to lead them in prayer and they did not want anyone else to lead them other than him. So, when the Prophet came they informed him of this information and he said,

«يَا فُلَانُ، مَا يَمْنَعُكَ أَنْ تَفْعَلَ مَا يَأْمُرُكَ بِهِ أَصْحَابُكَ، وَمَا حَمَلَكَ عَلَى لُزُوم هَذِهِ السُّورَةِ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ؟»

(O so-and-so! What prevents you from doing what your companions are commanding you to do, and what makes you adhere to the recitation of this Surah in every Rak`ah) The man said, `Verily, I love it.’ The Prophet replied,

«حُبُّكَ إِيَّاهَا أَدْخَلَكَ الْجَنَّة»

(Your love of it will cause you to enter Paradise.) This was recorded by Al-Bukhari, with a disconnected chain, but in a manner indicating his approval.

A Hadith that mentions this Surah is equivalent to a Third of the Qur’an

Al-Bukhari recorded from Abu Sa`id that a man heard another man reciting

[قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ]

(Say: “He is Allah, One.”) and he was repeating over and over. So when morning came, the man went to the Prophet and mentioned that to him, and it was as though he was belittling it. The Prophet said,

«وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآن»

(By He in Whose Hand is my soul, verily it is equivalent to a third of the Qur’an.) Abu Dawud and An-Nasa’i also recorded it. Another Hadith Al-Bukhari recorded from Abu Sa`id, may Allah be pleased with him, that the Messenger of Allah said to his Companions,

«أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَقْرَأَ ثُلُثَ الْقُرْآنِ فِي لَيْلَةٍ؟»

(Is one of you not able to recite a third of the Qur’an in a single night) This was something that was difficult for them and they said, “Which of us is able to do that, O Messenger of Allah” So he replied,

«اللهُ الْوَاحِدُ الصَّمَدُ ثُلُثُ الْقُرْآن»

(”Allah is the One, As-Samad” is a third of the Qur’an.) Al-Bukhari was alone in recording this Hadith.

Another Hadith that its Recitation necessitates Admission into Paradise

Imam Malik bin Anas recorded from `Ubayd bin Hunayn that he heard Abu Hurayrah saying, “I went out with the Prophet and he heard a man reciting `Say: He is Allah, the One.’ So the Messenger of Allah said,

«وَجَبَت»

(It is obligatory.) I asked, `What is obligatory’ He replied,

«الْجَنَّة»

(Paradise.)” At-Tirmidhi and An-Nasa’i also recorded it by way of Malik, and At-Tirmidhi said, “Hasan Sahih Gharib. We do not know of it except as a narration of Malik.” The Hadith in which the Prophet said,

«حُبُّكَ إِيَّاهَا أَدْخَلَكَ الْجَنَّة»

(Your love of it will cause you to enter Paradise.) has already been mentioned.

A Hadith about repeating this Surah

`Abdullah bin Imam Ahmad recorded from Mu`adh bin `Abdullah bin Khubayb, who reported that his father said, “We became thirsty and it had become dark while we were waiting for the Messenger of Allah to lead us in prayer. Then, when he came out he took me by my hand and said,

«قُل»

(Say.) Then he was silent. Then he said again,

«قُل»

(Say.) So I said, `What should I say’ He said,

[قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ]

وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ حِينَ تُمْسِي وَحِينَ تُصْبِحُ ثَلَاثًا، تَكْفِكَ كُلَّ يَوْمٍ مَرَّتَيْن»

(Say: “He is Allah, One,” and the two Surahs of Refuge (Al-Falaq and An-Nas) when you enter upon the evening and the morning three times (each). They will be sufficient for you two times every day.)” This Hadith was also recorded by Abu Dawud, At-Tirmidhi and An-Nasa’i. At-Tirmidhi said, “Hasan Sahih Gharib.” An-Nasa’i also recorded through another chain of narrators with the wording,

«يَكْفِكَ كُلَّ شَيْء»

(They will suffice you against everything.)

Another Hadith about supplicating with it by Allah’s Names

In his Book of Tafsir, An-Nasa’i recorded from `Abdullah bin Buraydah, who reported from his father that he entered the Masjid with the Messenger of Allah , and there was a man praying and supplicating saying, “O Allah! Verily, I ask you by my testifying that there is no God worthy of worship except You. You are the One, the Self-Sufficient Sustainer of all, Who does not give birth, nor were You born, and there is none comparable to Him.” The Prophet said,

«وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ سَأَلَهُ بِاسْمِهِ الْأَعْظَم، الَّذِي إِذَ

A Hadith about seeking a Cure by these Surahs

Al-Bukhari recorded from `A’ishah that whenever the Prophet would go to bed every night, he would put his palms together and blow into them. Then he would recite into them (his palms), `Say: He is Allah, One’, `Say: I seek refuge with the Lord of Al-Falaq’, and `Say: I seek refuge with the Lord of mankind.’ Then he would wipe whatever he was able to of his body with them (his palms). He would begin wiping his head and face with them and the front part of his body. He would do this (wiping his body) three times. The Sunan compilers also recorded this same Hadith.

[بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـنِ الرَّحِيمِ ]

In the Name of Allah, the Most Gracious, the Most Merciful.

[قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ - اللَّهُ الصَّمَدُ - لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ - وَلَمْ يَكُنْ لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ ]

(1. Say: “He is Allah, One.”) (2. “Allah As-Samad.”) (3. “He begets not, nor was He begotten.”) (4. “And there is none comparable to Him.”) The reason for the revelation of this Surah has already been mentioned. `Ikrimah said, “When the Jews said, `We worship `Uzayr, the son of Allah,’ and the Christians said, `We worship the Messiah (`Isa), the son of Allah,’ and the Zoroastrians said, `We worship the sun and the moon,’ and the idolators said, `We worship idols,’ Allah revealed to His Messenger ,

[قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ]

(Say: “He is Allah, One.”) meaning, He is the One, the Singular, Who has no peer, no assistant, no rival, no equal and none comparable to Him. This word (Al-Ahad) cannot be used for anyone in affirmation except Allah the Mighty and Majestic, because He is perfect in all of His attributes and actions. Concerning His saying,

[اللَّهُ الصَّمَدُ ]

(Allah As-Samad.) `Ikrimah reported that Ibn `Abbas said, “This means the One Who all of the creation depends upon for their needs and their requests.” `Ali bin Abi Talhah reported from Ibn `Abbas, “He is the Master Who is perfect in His sovereignty, the Most Noble Who is perfect in His nobility, the Most Magnificent Who is perfect in His magnificence, the Most Forbearing Who is perfect in His forbearance, the All-Knowing Who is perfect in His knowledge, and the Most Wise Who is perfect in His wisdom. He is the One Who is perfect in all aspects of nobility and authority. He is Allah, glory be unto Him. These attributes are not befitting anyone other than Him. He has no coequal and nothing is like Him. Glory be to Allah, the One, the Irresistible.” Al-A`mash reported from Shaqiq, who said that Abu Wa’il said,

[الصَّمَدُ]

(As-Samad.) is the Master Whose control is complete.”

Allah is Above having Children and procreating

Then Allah says,

[لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ - وَلَمْ يَكُنْ لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ ]

(He begets not, nor was He begotten. And there is none comparable to Him.) meaning, He does not have any child, parent or spouse. Mujahid said,

[وَلَمْ يَكُنْ لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ ]

(And there is none comparable to Him.) “This means He does not have a spouse.” This is as Allah says,

[بَدِيعُ السَّمَـوَتِ وَالاٌّرْضِ أَنَّى يَكُونُ لَهُ وَلَدٌ وَلَمْ تَكُنْ لَّهُ صَـحِبَةٌ وَخَلَقَ كُلَّ شَىْءٍ]

(He is the Originator of the heavens and the earth. How can He have children when He has no wife He created all things.) (6:101) meaning, He owns everything and He created everything. So how can He have a peer among His creatures who can be equal to Him, or a relative who can resemble Him Glorified, Exalted and far removed is Allah from such a thing. Allah says,

[وَقَالُواْ اتَّخَذَ الرَّحْمَـنُ وَلَداً - لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئاً إِدّاً - تَكَادُ السَّمَـوَتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنشَقُّ الاٌّرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدّاً - أَن دَعَوْا لِلرَّحْمَـنِ وَلَداً - وَمَا يَنبَغِى لِلرَّحْمَـنِ أَن يَتَّخِذَ وَلَداً - إِن كُلُّ مَن فِى السَّمَـوَتِ وَالاٌّرْضِ إِلاَّ آتِى الرَّحْمَـنِ عَبْداً - لَّقَدْ أَحْصَـهُمْ وَعَدَّهُمْ عَدّاً - وَكُلُّهُمْ ءَاتِيهِ يَوْمَ الْقِيَـمَةِ فَرْداً ]

(And they say: Ar-Rahman has begotten a son. Indeed you have brought forth (said) a terrible evil thing. Whereby the heavens are almost torn, and the earth is split asunder, and the mountains fall in ruins, that they ascribe a son to Ar-Rahman. But it is not suitable for Ar-Rahman that He should beget a son. There is none in the heavens and the earth but comes unto Ar-Rahman as a slave. Verily, He knows each one of them, and has counted them a full counting. And all of them will come to Him alone on the Day of Resurrection.) (19:88-95) And Allah says,

[وَقَالُواْ اتَّخَذَ الرَّحْمَـنُ وَلَداً سُبْحَانَهُ بَلْ عِبَادٌ مُّكْرَمُونَ - لاَ يَسْبِقُونَهُ بِالْقَوْلِ وَهُمْ بِأَمْرِهِ يَعْمَلُونَ ]

(And they say: “Ar-Rahman has begotten a son. Glory to Him! They are but honored servants. They speak not until He has spoken, and they act on His command.) (21:26-27) Allah also says,

[وَجَعَلُواْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجِنَّةِ نَسَباً وَلَقَدْ عَلِمَتِ الجِنَّةُ إِنَّهُمْ لَمُحْضَرُونَ ]

سُبْحَـنَ اللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ-]

(And they have invented a kinship between Him and the Jinn, but the Jinn know well that they have indeed to appear before Him. Glorified is Allah! (He is free) from what they attribute unto Him!) (37:158-159) In Sahih Al-Bukhari, it is recorded (that that the Prophet said),

«لَا أَحَدَ أَصْبَرُ عَلَى أَذًى سَمِعَهُ مِنَ اللهِ، يَجْعَلُونَ لَهُ وَلَدًا، وَهُوَ يَرْزُقُهُمْ وَيُعَافِيهِم»

(There is no one more patient with something harmful that he hears than Allah. They attribute a son to Him, while it is He Who gives them sustenance and cures them.) Al-Bukhari also recorded from Abu Hurayrah that the Prophet said,

«قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: كَذَّبَنِي ابْنُ آدَمَ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ، وَشَتَمَنِي وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ، فَأَمَّا تَكْذِيبُهُ إِيَّايَ فَقَوْلُهُ: لَنْ يُعِيدَنِي كَمَا بَدَأَنِي، وَلَيْسَ أَوَّلُ الْخَلْقِ بِأَهْوَنَ عَلَيَّ مِنْ إِعَادَتِهِ، وَأَمَّا شَتْمُهُ إِيَّايَ فَقَوْلُهُ: اتَّخَذَ اللهُ وَلَدًا، وَأَنَا الْأَحَدُ الصَّمَدُ، لَمْ أَلِدْ وَلَمْ أُولَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لِي كُفُوًا أَحَد»

(Allah the Mighty and Majestic says, “The Son of Adam denies Me and he has no right to do so, and he abuses Me and he has no right to do so. In reference to his denial of Me, it is his saying: `He (Allah) will never re-create me like He created me before.’ But the re-creation of him is easier than his original creation. As for his cursing Me, it is his saying: `Allah has taken a son.’ But I am the One, the Self-Sufficient Master. I do not give birth, nor was I born, and there is none comparable to Me.”) This is the end of the Tafsir of Surat Al-Ikhlas, and all praise and blessings are due to Allah.

Yahudi Bani Qoinuqa’ dan Yahudi Bani Quraidzah

Posted in Yahudi Bani Qoinuqa' dan Yahudi Bani Quraidzah tagged at 12:13 am by pipin234

Yahudi Bani Qoinuqa’

Pada saat itu ummat tengah menghadapi pengepungan kaum Quraish di luar Madinah. Nabi Muhammad memandang suku Yahudi menjadi sebuah resiko keamanan. Jika bala tentara Mekkah hendak berkemah di selatan Madinah, yang merupakan wilayah dua suku paling berpengaruh, para tentara Yahudi dapat dengan mudah bergabung dengan Quraisy, yang mereka anggap sebagai sekutu. Jika Quraisy menyerang kota dari utara, yang merupakan pilihan terbaik mereka, suku Yahudi dapat menyerang Muslim dari belakang sehingga mereka benar-benar terkepung. Nabi Muhammad menyadari bahwa dia harus menghentikan pertikaian ini. Orang Yahudi yang telah beralih ke Islam memberinya informasi bahwa Bani Qoinuqa’, suku terkecil di antara mereka, adalah yang paling keras terhadap ummat. Sebelum hijrah mereka merupakan sekutu Ibnu Ubbay dan setelah perang Badar mereka memutuskan perjanjian mereka dengan Nabi Muhammad dan menghidupkan kembali persekutuan lama untuk membesarkan oposisi dan menyingkirkan Nabi. Wilayah mereka lebih dekat ke pusat “kota” Madinah. Tak seperti dua suku lainnya, mereka bukan petani melainkan pandai besi dan tukang kayu. Segera setelah Badar dan pembelotan Ka”ab ke Mekkah, Nabi Muhammad mengunjungi mereka di wilayah mereka dan mendesak mereka agar menerimanya sebagai nabi demi tradisi agama mereka yang sama. Yahudi suku Qoinuqa’ mendengarkan dakam keheningan dan menjawab bahwa mereka tak bermaksud tinggal dalam ummat: “Oh Nabi Muhammad, tampaknya engkau berpikir bahwa kami adalah orang-orangmu. Jangan menipu diri sendiri karena engkau telah berperang di Badar tanpa sedikit pun pengetahuan tentang perang dan memenangkannya; karena demi Tuhan jika kami memerangimu, akan kau lihat bahwa kami adalah laki-laki sejati!” Setelah ancaman ini, Nabi Muhammad menarik diri dan menunggu perkembangan.

Beberapa hari kemudian terjadi sebuah insiden di pasar Qoinuqa’. Salah seorang pandai besi Yahudi mengganggu seorang perempuan Muslim yang tengah berdagang di sana. Dengan diam-diam dia mengaitkan ujung rok bawah perempuan itu di bagian belakang ke bagian atas pakainnya, sehingga ketia berdiri, sebagian tubuh bagian bawah perempuan itu akan terekspos. Perasaan terpendam antara ummat Muslim dan Yahudi Qoinuqa’ agaknya sudah begitu memuncak, sehingga ketika salah seorang Anshar melompat ke arah pandai besi itu dengan teriakan kemarahan, langsung terjadi perkelahian mengerikan antara kedua kelompok, menewaskan seorang Muslim dan seorang Yahudi. Dengan demikian jumlah korban seimbang. Nabi Muhammad dipanggil, dalam kapasitasnya sebagai hakim perselisihan, untuk mengembalikan perdamaian. Namun kaum Yahudi menolak arbitrasinya, membuat barikade ke benteng mereka, dan menyeru pada sekutu Arab untuk membantu mereka. Qoinuqa’ memiliki sekitar 700 orang siap tempur. Jika sekutu Arab mereka menjawab panggilan itu sambil membawa kekuatan mereka untuk berhadapan dengan Nabi Muhammad, mereka akan sulit dikalahkan. Ibnu Ubbay sangat bersemangat untuk menolong Qoinuqa’ dan berkonsultasi dengan sekutu mereka yang lain, Ubadah bin Shamit. Namun Ubadah adalah adalah seorang Muslim yang taat dan dia menunjukkan bahwa persekutuan lamanya dengan ummat Yahudi telah dibatalkan begitu mereka menandatangani perjanjian dengan Nabi Muhammad. Ubnu Ubbay menyadari bahwa dia tak sanggup membantu karena sebagian orang Arab tetap berdiri kukuh di belakang Nabi. Qoinuqa’ berharap memimpin pemberontakan melawan Nabi Muhammad dan para sahabat Muhajirin, namun malahan, mereka terkepung oleh suku-suku Arab yang ada di Madinah. Selama dua minggu mereka menunggu Ibnu Ubbay melaksanakan janjinya, namun akhirnya mereka terpaksa menyerah tanpa syarat.

Seketika itu juga Ibnu Ubbay mendatangi Nabi Muhammad dan memohon agar Nabi memperlakukan mereka dengan baik. Ketika Nabi tidak menjawab, Ubbay menarik kerah bajunya. Nabi Muhammad menjadi sangat marah. Ibnu Ubbay tetap pada pendiriannya : bagaimana dia dapat meninggalkan sahabat ­sahabat lamanya, yang telah sering membantunya di masa lalu? dia tahu bahwa Nabi Muhammad berhak, sesuai konvensi Arab, untuk menghabisi seluruh suku, namun Nabi Muhammad membiarkan orang-orang Qainuqa’ hidup dengan catatan mereka harus meninggalkan oase. Ibnu Ubbay diminta untuk menemani mereka keluar Madinah. Begitu mereka mengerti bahwa Ibnu Ubbay tak lagi memiliki kekuatan untuk menolong mereka, Qainuqa’ siap meninggalkan tempat tinggalnya. Berikut ini ungkapan Karen Amstrong tentang hubungan Nabi dengan kaum Yahudi di Madinah:

“Sangat sulit bagi orang Barat menanggapi hubungan Nabi Muhammad dengan kaum Yahudi di Madinah, karena hal ini mengangkat terlalu banyak hal memalukan dari masa lalu kita sendiri. Namun perjuangan Nabi Muhammad menghadapi tiga suku utama Yahudi di oase amat berbeda dengan kebencian rasial dan agama yang menyerang ummat Kristen Eropa selama hampir seribu tahun. Terror irasional yang dirasakan ummat Kristen menemukan ekspresi finalnya dalam perang salib secular Hitler terhadap Yahudi. Nabi Muhammad tak memiliki fantasi dan hal menakutkan itu. Dia tak memiliki kehendak untuk menjadikan Madinah sebagai Judenrein. Perselisihannya dengan Qainuqa’ murni politis dan tak pernah diteruskan pada klan-klan kecil Yahudi di Madinah yang tetap setia pada Perjanjian dan hidup bersama kaum Muslim dalam damai”.

Yahudi Bani Quraidzah

Pada bulan Maret 627, orang-orang Mekah dan para sekutu mereka sedang menuju Madinah dengan tentara beranggotakan 10.000 orang. Sedang Rasulullah hanya berhasil mengumpulkan 3.000 orang dari Madinah dan para sekutu Badui. Maka tak mungkin memaksakan diri menghadapi mereka seperti yang pernah dilakukan dalam perang Uhud. Semua kaum Muslim memberikade diri ke dalam “kota” Madinah tak sulit dipertahankan. Kota ini dikelilingi jurang curam dan batu-batuan vulkanis di tiga sisi. Relatif lebih mudah untukmelewati jalan daripada berlari melalui wilayah sulit ini menuju oase. Dari sisi utaralah pertahanan Madinah paling lemah dan Rasulullah menemukan cara untuk hal ini. Setelah mereka berhasil mengumpulkan hasil panen dari wilayah luar kota, sehingga tentara penyerbu tak akan mendapatkan makanan bagi ternak mereka. Kemudian seluruh penduduk ummat membangun parit besar di sekeliling wilayah utara oase. Selama kurang lebih satu bulan, parit tersebut dapat dipertahankan dalam serangkaian huru-hara. Kemudian beberapa orang Badui terbujuk untuk meninggalkan atau mencampakkan kaum Quraisy, dan seluruh pasukan akhirnya mulai putus asa. Kaum Quraisy hanya bisa secara difensif menunggu gerakan-gerakan Muhammad.

Satu suku Yahudi di Madinah yang masih menolak Islam dan kepemimpinan Rasulullah, Banu Quraidzah, yang tetap netral selama masa pertahanan parit, tetapi setelah dibujuk oleh orang Quraisy, mereka mendukung pasukan koalisi tersebut dan memasukkan mereka ke dalam kota. Tetapi kaum Quraisy sendiri mulai kepayahan. Dan sulit untuk mempertahankan pengepungan karena mereka tak memiliki cadangan pangan, ‘manusia dan kuda-kuda kelaparan. Semangat mereka mulai patah ketika cuaca tiba-tiba berubah, dan kaum Quraisy  meninggalkan tempat pengepungan. Kemudian Rasulullah  menyerang Banu Quraidzah, tetapi tidak mengizinkan mereka untuk pergi dalam pengasingan seperti Banu Nadlir, dan menyuruh mereka menyerah tanpa sarat. Dalam adat Arab, ketika tawanan-tawanan musuh ditangkap, wanita-wanita dan anak-anak dijadikan hamba, tetapi laki-laki dewasanya dibunuh atau ditahan sebagai tebusan, Karena mereka tidak handal sebagai budak. Kini Rasulullah tidak mengizinkan tebusan dan menyuruh laki-laki, sekitar enam ratus orang, dibunuh.

Mungkin sulit bagi kita untuk tidak menghubungkan kisah ini dengan kekajaman Nazi. Kisah ini memang akhirnya menjauhkan orang banyak dari Nabi Muhammad untuk selamanya. Namun terpelajar Barat seperti Maxime Rodinson dan W Montgomery Watt berpendapat, tidak benar menghakimi kejadian itu dengan standar abad ke-20. ini adalah masyarakat yang amat primitif jauh lebih primitif daripada masyarakat Yahudi dimana Yesus pernah hidup dan menyebarkan gospel ,:pengampunan dan cinta kasih kira-kira 600 tahun sebelumnya. Pada tahap ini bangsa Arab tak memiliki konsep hukum alam Yang universal, yang sulit -mungkin mustahil - bagi orang-orang kecuali ada sedikit tata tertib, seperti yang diberlakukan oleh kerajaan besar di dunia kuno. Pada masa Nabi Muhammad, Madinah mungkin lebih seperti Jerussalem di masa Raja Dawud. Dawud merupakan pembasmi besar musuh-musuh Tuhan, dan pada suatu peristiwa menghabisi 200 kaum Palestina, memotong kemaluan mereka, dan mengirimkan potongan menjijikkan itu ke raja mereka. Banyak Mazmur yang mengisahkan Dawud pada kenyataannya disusun berabad-abad kemudian - sebagian bahkan pada tahun 550 S.M. - namun mereka masih menggambarkan dalam rincian yang mengerikan kejadian­kejadian mencekam yang ingin dilakukan bangsa Israel kepada musuh-musuh mereka. Pada awal abad ke-7, seorang kepala suku Arab tak dapat diharapkan memberikan pengampunan pada pengkhianat seperti Quraizhah.

Ummat Muslim berhasil lolos dari pemusnahan dan emosi masih terasa tinggi. Quraizhah nyaris menghancurkan Madinah. Jika Nabi Muhammad mengizinkan mereka pergi, suatu ketika mereka akan membesarkan posisi Yahudi di Khaibar dan mengorganisisr serangan baru ke Madinah. Lain kali, Muslim mungkin tidak beruntung dan perjuangan berdarah untuk bertahan akan terus terjadi, dengan lebih banyak kematian dan penderitaan. Hukuman mati itu mengesankan para musuh Nabi Muhammad. Tak seorangpun terkejut oleh eksekusi itu, dan kaum Quraizhah sendiri telah menerimanya. Hukuman mati itu mengirim pesan suram bagi kaum Yahudi di Khaibar. Para suku Arab mencatat bahwa Nabi Muhammad tak takut akan pembalasan dendam dari kawan atau sekutu Quraizhah atas kematian dalam pertupahan darah itu. Itu merupakan symbol kekuatan luar biasa Nabi Muhammad yang dicapainya setelah pengepungan. Dia telah menjadi pemimpin kelompok paling berpengaruh di Arab.

Pembantaian Quraizhah ini mengingatkan kondisi gawat Arab selama hidup Nabi Muhammad. Tentu kita merasa benar untuk mengutuknya, namun itu bukan sebuah kejahatan besar seperti bila terjadi di masa sekarang. Nabi Muhammad tidak bekerja dalam kerajaan yang memberlakukan tata tertib secara meluas, atau dengan salah satu tradisi agama yang mapan. Dia tak memiliki sesuatu seperti Sepuluh Perintah Tuhan (meskipun Musa memerintahkan bangsa Israel untuk membantai seluruh populasi Kana’an sesaat setelah dia berkata kepada mereka: “Kalian tidak boleh membunuh.”). yang dimiliki Nabi Muhammad hanya moral kesukuan lama, yang membolehkan cara ini untuk mempertahankan kelompok. Masalahnya adalah kenyataan bahwa kemenangan Nabi Muhammad telah menjadikannya pemimpin paling berpengaruh di Arabia. Dia adalah kepala kelompok yang tidak dibentuk berdasarkan kesukuan konvensional. Dia telah melebihi tribalisme (kesukuan) dan berada di tanah tak bertuan antara dua tahap perkembangan social yang penting.

Namun penting dicatat bahwa awal tragis ini tidak secara permanen mewarnai sikap Muslim terhadap Yahudi. Ketika kaum Muslim telah membangun kerajaan mereka sendiri dan perlahan­lahan membangun Hukum Suci yang berisikan etika yang lebih canggih dan lebih manusiawi, mereka akan membangun suatu system toleransi yang telah lama berlaku di bagian-bagian beradab di Timur Tengah. Di bagian Oikumene, berbagai kelompok agama telah hidup berdampingan. Anti-Semit merupakan perbuatan Kristenitas Barat, bukan Islam. Kita harus ingat itu jika kita tergoda untuk melakukan generalisasi tentang insiden mengerikan di Madinah ini. Bahkan pada masa Nabi Muhammad sendiri, beberapa kelompok Yahudi kecil tetap tinggal di Madinah setelah tahun 627 dan diizinkan hidup dengan damai tanpa balas dendam lebih jauh. Tampak bahwa bagian kedua dari Perjanjian Madinah, yang berhubungan denga populasi Yahudi di pemukiman, disusun setelah masa ini. Di kerajaan Islam, ummat Yahudi dan Kristen mendapatkan kebebasan beragama. Kaum Yahudi tinggal di sana dalam damai sampai terbentuknya Negara Israel pada abad kita sekarang. Kaum Yahudi di kerajaan Islam tidak mengalami penderitaan Seperti kaum Yahudi di kerajaan Kristen. Mitos anti-Semit di Eropa diperkenalkan ke Timur Tengah pada akhir abad yang lalu oleh para misionaris Kristen dan biasanya dicemooh oleh masyarakat setempat.

Di Barat, Nabi Muhammad sering ditampilkan sebagai panglima perang, yang mendesakkan Islam kepada dunia yang enggan menerimanya dengan kekuatan militer. Namun kenyataannya sungguh berbeda. Nabi Muhammad berperang untuk mempertahankan nyawanya, sambil mengembangkan sebuah teologi peperangan demi keadilan menurut Al Quran, dan tidak pernah memaksa siapa pun untuk berpindah ke agamanya. Al Quran pun dengan tegas menyatakan bahwa “tak ada paksaan dalam beragama.” Di dalam Al Quran perang dipandang sebagai sesuatu yang mesti dijauhi: satu-satunya perang yang diizinkan adalah perang untuk mempertahankan diri. Kadangkala perang diperlukan untuk menegakkan nilai­nilai yang pantas, sebagaimana orang Kristen meyakini tentang perlunya perang melawan Hitler.

Al Quran mengajarkan bahwa perang selalu buruk sekali. Kaum Muslim dilarang memulai kekerasan, karena satu-satunya perang yang dibolehkan adalah berperang karena membela diri. Namun sekali mereka berada dalam perang, kaum Muslim harus bertempur dengan komitmen mutlak agar perang berakhir sesegera mungkin. Jika musuh telah mengajukan gencatan senjata atau menunjukkan arah ke perdamaian, muslim diperintahkan oleh al-Quran untuk mengakhiri kekerasannya segera, sejauh syarat-syarat perdamaiannya tidak melanggar moral dan kehormatan. Namun al Quran juga berempati dengan menganggap tugas sakral untuk membawa konflik bersenjata ke penyelesaian secepatnya dan menghadapi musuh dengan gagah. Segala tindakan ragu-ragu yang dapat membuat konfliknya berlarut-larut tanpa batas waktu jelas harus dihindari.

Tujuan setiap perang haruslah untuk mengembalikan perdamaian dan harmoni secepat mungkin. Mungkin berdiri bulu roma kita melihat pemandangan mengerikan di pasar Madinah di bulan Mei 627 itu. Namun ada pembelaan bahwa itu, secara murni politis, adalah keputusan tepat. Kejadian itu merupakah akhir kekejaman sejenis, menandai permulaan dari akhir fase terburuk jihad. Nabi Muhammad telah mengalahkan salah satu tentara Arab terbesar yang pernah dipersatukan melawan musuh tunggal di Perang parit. Beliau telah menggagalkan oposisi dari tiga suku Yahudi paling berpengaruh dan menunjukkan bahwa beliau tak akan membiarkan pengkhianatan lebih lanjut atau perencanaan melawan ummat. Beliau telah membuktikan bahwa beliau kini adalah manusia paling berpengaruh di Arabia, yang telah membawa dengan cepat akhir yang pasti dari konflik berdarah yang dapat berlanjut bertahun-tahun.

Fathu Makkah

Di dalam perjanjian Hudaibiya antara lain sudah menentukan, bahwa barang siapa yang ingin masuk ke dalam persekutuan dengan Nabi Muhammad boleh saja, dan barangsiapa ingin masuk ke dalam persekutuan dengan pihak Quraisy juga boleh. Ketika itu Khuza’a masuk bersekutu dengan konfederasi Nabi Muhammad sedang Banu Bakr dengan pihak Quraisy Sebenarnya antara Khuza’a dengan Banu Bakr ini sudah lama timbul permusuhan yang baru reda setelah ada perjanjian Hudaibiya, masing-masing kabilah menggabungkan diri dengan pihak yang mengadakan perdamaian itu.

Pada akhir tahun, orang Mekkah melanggar perjanjian dengan menyerang Banu Khuza’a pada malam hari di wilayah mereka sendiri dalam serangan mendadak. Tampaknya sebagian orang Quraisy membantu dan bersekongkol dengan mereka dalam serangan ini. Mereka memberi senjata pada Bakr dan konon Shafwan bahkan ikut ambil bagian dalam pertempuran. Khuza’ah langsung membalas dendam dan terjadi pertempuran antara dua suku ini diwilayah suci Mekkah, sehingga Khuza’ah memohon bantuan pada Nabi Muhammad dan dia setuju datang membantu. Jadi bukan Nabi Muhammad yang telah melanggar perjanjian tersebut sebagaimana yang dituduhkan oleh Dr. Robert Morey.19

Inilah titik balik selanjutnya, Nabi Muhammad berparade ke Mekkah dengan pasukan berkekuatan 10.000 orang. Berhadapan dengan kekuatan sangat besar tersebut, sebagai seorang pragmatis dan menyadari apa yang akan terjadi, suku Quraisy mengaku kalah, membuka pintu gerbang kota, dan Nabi Muhammad mengambil alih Mekkah tanpa setetes darah pun yang tumpah. Dia menghancurkan patung-patung di seputar Ka’bah, mempersembahkan tempat itu hanya untuk Allah, Tuhan Yang Esa, dan mengubur upacara pemujaan berhala dan menggantinya dengan ibadah haji sesuai ajaran Islam. Tidak ada seorang pun suku Quraisy yang dipaksa masuk Islam. Ketika Nabi Muhammad wafat pada tahun 632, hampir semua suku Arab telah bergabung dengan umat Islam dalam konfederasi atau telah masuk Islam. Karena anggota umat tidak boleh saling menyerang, maka lingkaran mengerikan dari perang suku, dan saling balas dendam telah berakhir. Seorang diri Nabi Muhammad telah membawa perdamaian di Arab yang terpecah­belah oleh perang.

Kehidupan dan jasa Nabi Muhammad akan mempengaruhi pandangan spiritual, politik, dan etika umat Islam untuk selamanya. Mereka mengekspresikan pengalaman “keselamatan” Islam, yang tidak akan tercapai dengan penebusan “dosa bawaan” yang dilakukan Adam dan hak memasuki kehidupan abadi, tetapi akan tercapai dengan prestasi masyarakat dalam melaksanakan perintah Tuhan. Ini tidak hanya menyelamatkan umat Islam dari neraka politik dan social yang ada di Arab pra ­Islam, tetapi juga memberi mereka konteks yang membuat mereka lebih mudah berserah diri sepenuh hati kepada Tuhan. Nabi Muhammad menjadi contoh mendasar dari penyerahan diri yang sempurnya kepada Tuhan, dan Muslim berusaha menyesuaikan kehidupan social dan spiritual mereka dengan standar tersebut. Nabi Muhammad tidak pernah dimuliakan sebagai figur Tuhan, tetapi dia dianggap sebagai Manusia Sempurna. Penyerahan dirinya kepada Tuhan sangat menyeluruh sehingga dia bisa mengubah masyarakat dan memungkinkan bangsa Arab hidup berdampingan dengan damai. Dalam etimologi, kata Islam berhubungan dengan salam (perdamaian), dan Islam memang menawarkan kesatuan dan kerukunan.

Nabi dan Harta

Suatu hari, orang Quraisy memutuskan untuk mencoba sebuah cara baru dan mengirimkan Utbah bin Rabi’ah dari klan Abdi Syams untuk melakukan kesepakatan dengan Nabi Muhammad: kalau dia berjanji untuk diam, mereka akan memberinya apa saja yang dia inginkan: uang, jabatan -bahkan kemungkinan menjadi raja. Jika ini benar, ini tanda keputusasaan mereka: uang hampir merupakan nilai suci bagi kebanyakan orang Quraisy dan mereka telah membangun ketidaksukaan pada otoritas utama dan lembaga semacam raja. Nabi Muhammad menunggu sampai Utbah selesai berbicara, kemudian dia berkata: “sekarang, dengarkan aku.” Utbah duduk, tangannya dibelakang punggung, dan badannya condong ke depan, mendengarkan dengan seksama ketika Nabi Muhammad mulai mengutip Surat 41, yang menggambarkan tentang pembatas yang diletakkan oleh sebagian kaum Quraisy di hati mereka untuk mencegah masuknya pesan Ilahi ke dalam jiwa mereka. Setelah dia kembali pada teman-temannya di Majelis, mereka seketika melihat bahwa dia telah mengalami suatu pengalaman yang sangat mempengaruhinya. Utbah kesulitan untuk menjelaskan apa yang terjadi padanya, ketika dia mendengarkan keindahan wahyu. Dia hanya dapat mengatakan hal-hal yang tidak seperti kelihatannya. Akhirnya Utbah mengingatkan orang Quraisy: “Terimalah nasihatku dan lakukan apa yang kulakukan, dan jangan ganggu pria ini, karena, demi Tuhan, wahyu yang baru kudengarkan akan menyebar ke luar negeri.20

Apabila benar memang Rasulullah tamak akan harta sebagaimana yang dituduhkan Dr. Robert Morey21 maka tidak perlu beliau bersusah payah dikejar-kejar orang kafir Quraisy sehingga hijrah ke luar Mekkah. Karena beliau adalah seorang pedagang yang secara materi telah tercukupi, dan dari penawaran Utbah di atas tidak perlu nabi bersusah payah membacakan ayat suci al Quran bila memang beliau tamak akan harta.

NOTES

12. Munawar Cholil, hal 58 juz II

13. Ibnu Ishak, dalam Karen Amstrong, Muhammad sang Nabi, hal 186.

14. Karen Amstrong, Ibid., hal 190

15. Karen Amstrong, Ibid., hal 194

16. Munawar Cholil, sejarah nabi, hal 109

17. Karen Amstrong, a short History, hal 17

18. Karen Amstrong, Muhammad sang Nabi, Op. cit., hal 240­

241

19. Robert Morey, op. cit., hal : 92

20. Karen Amstrong, Muhammad sang Nabi, Op. cit., hal 166

21. Robert Morey, hal 93

sumber : buku islam dihujat karangan irene handono

09.28.08

APPENDIX (INDEKS BIBLE)

Posted in Religion tagged , , , at 11:31 pm by pipin234

APPENDIX
(INDEKS BIBLE)

 

APPENDIX

 
 

INDEKS AL-KITAB
 

Kitab agama ini adalah milik umat Kristiani, dikenal dengan sebutan Alkitab atau Bibel (Inggris : Bible, Jerman : Bijbel), terdiri dari dua bagian kitab, yaitu Kitab Perjanjian Lama (PL) dan Kitab Perjanjian Baru (PB). Di dalam Perjanjian Lama Tuhan pernah berfirman bahwa orang-orang Israel itu sangat durhaka dan hobi merubah-rubah kitab suci (baca : Kitab Mikha 3:1- 12 dan Ulangan 31:27). Akibatnya, kitab suci ini menjadi bercampur-baur antara kebenaran ilahi dan kesalahan-kesalahan manusiwai yang ditulis oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Maka Alkitab tidak boleh dibaca dengan doktrin yang harus diterima apa adanya bahwa Alkitab itu pasti baik dan benar, karena Tuhan telah mengaruniakan akal budi kepada setiap manusia. Akal budi inilah yang mendatangkan karunia (Amsal 13:15). Tanpa akal budi mengakibatkan kebodohan dan kebinasaan (Amsal 10:21). Gunakanlah akal untuk menguji dan menyaring Alkitab antara ayat-ayat firman Tuhan dan ayat-ayat buatan manusia. Sesuai dengan perintah berikut :”Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik” (I Tesalonika 5: 21).

 

AYAT-AYAT ILLAHI

 

Tuhan itu Esa (monotheisme), bukan Trinitas

 

1.       Tauhid Nabi Musa (Ulangan 4: 35, Ulangan 6: 4, Ulangan 32: 39).

2.       Tauhid Nabi Daud (II Samuel 7: 22, Mazmur 86: 8).

3.       Tauhid Nabi Sulaiman (I Raja-raja 8: 23).

4.       Tauhid Nabi Yesaya (Yesaya 43: 10-11, Yesaya 44: 6,Yesaya 45: 5-6, Yesaya 46: 9).

5.       Tauhid Yesus (Markus 12: 29, Yohanes 5: 30, Yohanes 17: 3).

 

Yesus bukan Tuhan dan tidak sama dengan Tuhan

 

1.       Yesus lebih kecil daripada Tuhan (Yohanes 10: 29).

2.       Tuhan lebih besar dari pada Yesus (Yohanes 14: 28).

3.       Yesus duduk di sebelah kanan Tuhan (Markus 16: 19, Roma 8: 4).

4.       Yesus berdiri di sebelah kanan Tuhan (Kisah Para Rasu17:

5.       Allah tahu kapan datangnya kiamat, sedang Yesus tidak tahu (Matius 24: 36).

6.       Yesus bersyukur kepada Tuhan (Matius 11: 25, Lukas 10:21).

7.       Yesus berteriak memanggil Tuhan (Matius 27: 46, Markus 15: 34).

8.       Yesus menyerahkan nyawanya kepada Tuhan (Lukas 23: 44-46, Yohanes 19: 30).

9.       Yesus disetir oleh Tuhan (Yohanes 5: 30).

 

Yesus adalah utusan Tuhan (Rasul Allah)

 

Dalil: Markus 9: 37, Yohanes 5: 24, 30, 7: 29, 33, 8: 16,18, 26, 9: 4, 10: 36, 11: 42, 13: 20, 16: 5, 17: 3, 8, 23, 25.

 

Tidak ada dosa waris dan Penebusan dosa

 

Para nabi Allah tidak ada yang mengajarkan Dosa Waris dan Penebusan Dosa. Risalah Allah yang dibawa oleh semua nabi-Nya itu pada hakekatnya sam saja, yaitu Tauhid dan amal shalih. Semua nabi menekankan adanya tanggung jawab individu atas segala perbuatan setiap manusia (Yehezkiel 18: 20, Ulangan 24: 16, Matius 16: 27, Yeremia 31: 29-30, II Tawarikh 25: 4).

 

Nubuat akan datangnya seorang nabi akhir setelah Yesus

 

Dalam Alkitab masih dapat ditemukan nubuat-nubuat para nabi yang memberikan sinyalemen akan datangnya seorang nabi terakhir yang menutup keberadaan para nabi sebelumnya. Keberadaan nabi terakhir yang pamungkas ini sangat penting artinya untuk kesempurnaan ajaran Tuhan kepada manusia di muka bumi.

Namun, nubuat itu disampaikan dalam bentuk sandi-sandi bahasa yang dapat dipahami dengan penafsiran yang membutuhkan pemikiran akal yang tinggi.

 

Ayat-ayat yang dimaksud adalah :

1.        Ulangan 18: 18-20, tentang nabi diluar bani Israel dengan ciri-ciri: nabi seperti musa, tidak mati terbunuh dan semua perkatannya terjadi.

2.        Habakuk 3: 3 jo. Ulangan 33; 1-3, tentang nabi yang berhasil menegakkan syariat agama di tanah Arab.

3.        Yesaya 29: 12, nabi yang tidak bisa membaca.

4.        Yesaya 41: 1-4, nabi yang bisa perang, punya keturunan dan sudah lama ditunggu-tunggu oleh bangsa yang tertindas sebagai pembebas dan penyelamat dari penindasan kaum yang zalim.

5.        Yesaya 42: 1-4, nabi yang menegakkan hukum kepada bangsa-bangsa lain dan tidak pernah berteriak dengan suara nyaring.

6.        Yeremia 28: 9, tentang nabi yang membawa damai.

7.        Kejadian 49: 1, 10 dan Matius 21: 42-43, nabi tersebut keturunan nabi Ismail.

8.        Yohanes 1: 19-25, datangnya setelah zaman Yahya dan Yesus.

9.        Yohanes 16: 7-15, nabi yang mendapat julukan “Penolong yang lain” dengan ciri-ciri: manusia biasa, memiliki gelar `penghibur’ dan `al-amin/orang benar jujur terpercaya’, tidak berkata-kata dari dirinya sendiri dan memuliakan nabi Isa dengan alaihisalam.

10.     Dan lain-lain.

AYAT-AYAT BUATAN MANUSIA

 

Ayat-ayat Porno (cabul)

1.        Yehezkiel 23: 1-21, ayat-ayat jorok tentang seksual. Diceritakan di dalamnya penyimpangan seksual yang sangat berbahay bagi perkembangan psikologis bila dibaca oleh anak-anak di bawah umur. Ada kalimat-kalimat yang sangat cabul dengan menyebut buah dada, buah zakar, menjamah-jamah, memegang-megang, birahi, dan lain­lain.

2.        Yehezkiel 16: 22-38, ayat porno yang bugil-bugil. “….Waktu engkau telanjang bugil sambil menendang­nendang dengan kakimu….(ay. 22). “….. dan menjual kecatikanmu menjadi kekejian dengan meregangkan kedua pahamu bagi setiap orang yang lewat, sehingga persundalanmu bertambah-tambah” (ay. 25. “Engkau bersundal dengan orang Mesir, tetanggamu, si aurat besar itu…..”(ay. 26). “engkau bersundal juga dengan orang Asyur, oleh karena engkau belum merasa puas ya, engkau bersundal dengan mereka, tetapi masih belum puas” (ay. 28) . “Betapa besar hawa nafsumu itu, demikianlah firman Tuhan ALLAH” (ay. 30). “….engkau yang memberi hadiah umpan kepada semua yang mecintai engkau sebagai bujukan, supaya mereka dari sekitarmu datang kepadamu untuk bersundal” (ay. 33). “….. Aku akan menyingkap auratmu di hadapan mereka, sehingga mereka melihat seluruh kemaluanmu: (ay. 37).

3.        Ulangan 23: 1-2, Tuhan menyebut “Buah Pelir”.

4.        Hosa 3: 1, nabi Hosea disuruh Tuhan untuk mencintai perempuan yang suka bersundal (pelacur) dan berzinah. Jika benar bahwa Tuhan pernah menyuruh nabi-Nya untuk mencintai pelacur, semua laki-laki akan rebutan menjadi nabi. Dan, semua wanita akan rebutan untuk menjadi pelacur, supaya dicintai oleh nabi Allah.

5.        Kidung agung 4: 1-7, puisi rayuan yang memuji kecantikan dengan menyebut buah dada dan susu.

6.        Kejadian 38: 8-9, kisah asal-usul onani (masturbasi) oleh leluhur Yesus.

7.        Kidung Agung 7: 6-13. Puisi Kenikmatan Cinta yang memuji kecantikan dan cinta yang memakai kata-kata seksual, yakni keindahan buah dada dan keinginan untuk memegang-megang buah dada. “Sosok tubuhmu seumpama pohon korma dan buah dada gugusannya. Aku ingin memanjat pohon korma itu dan memegang gugusan­gugusannya. Kiranya buah dadamu seperti gugusan anggur.

Pelecehan Alkitab (Bibel) kepada Tuhan

1.        Tuhan menyesal dan pilu hati? (Kejadian 6: 5-6, Keluaran 32: 14).

2.        Tuhan mengah-mengah, megap-megap, dan mengerang seperti perempuan yang melahirkan? (Yesaya 42: 13).

3.        Roh Tuhan melayang-layang (terapung-apung) di atas permukaan air? (Kejadian 1: 1-2).

4.        Tuhan jorok, menyuruh makan tahi? (Yehezkiel4: 12-15).

5.        Tuhan kelihatan alas kaki-Nya? (Kleuaran 24: 10).

6.        Tuhan merasa jenuh/jemu/bosan? (Yeremia 15: 6).

7.        Tuhan petak umpet dengan Adam? ( Kejadian 3: 8-10).

8.        Tuhan besanan dengan manusia? (Kejadian 6: 2).

9.        Tuhan kalah dalam duel melawan Yakub? (Kejadian 32: 28).

10.     Tuhan bersiul memanggil manusia? (Zakharia 10: 8).

11.     Tuhan bersuit? (Yesaya 7: 18, Yesaya 5: 26).

12.     Tuhan menengking? (Yeremia 25: 30).

13.     Tuhan lelah kepayahan dan kecapaian? (Keluaran 31: 17).

14.      Tuhan menyuruh mencintai pelacur? (Hosea 3: 1).

15.     Tuhan kelihatan punggungnya-Nya? (Keluaran 33: 23).

Pelecahan Alkitab (Bibel) kepada Para Nabi Allah

1.        Nabi Nuh mabuk-mabukan sampai teler dan telanjang bugil (Kejadian 9: 18-27).

2.        Nabi Luth menghamili kedua putri kandungnya sendiri dalam dua malam secara bergiliran (Kejadian 19: 30-38). Heboh… ! ! ! Skandal seks ayah dan anak kandung oleh nabi??

3.        Nabi Daud melakukan slandal seks dengan Batsyeba, istri anak buahnya sendiri. Setelah Batsyeba mengandung suaminya dibunuh oleh Daud, kemudian Batsyeba dinikahi Daud diboyong ke istana (II Samuel 11: 2-27).

4.        Ketika sudah tua, Nabi Daud tidur dengan perawan yang masih muda (I Raja-raja 1: 1-3).

5.        Nabi Yakub bekerja sama dengan ibu kandungnya untuk membohongi dan menipu ayah kandungnya, supaya Israel diberkati (Kejadian 27: 1-46).

6.        Yehuda (putra Nabi Yakub) menghamili menantunya sendiri (Kejadian 38: 13-19). Skandal seksa ayah dan menantu dalam kitab suci !?

7.        Absalom (putra Nabi Daud) memperkosa gundik ayahnya sendiri (II Samuel 16: 21-23). Perselingkuhan anak dengan ibu (gundik ayah) dalam Kitab Suci?!

8.        Amnon (putra Daud) memperkosa saudara perempuannya (II Samuel 13: 7-14). Incest antara anak nabi dengan saudaranya sendiri ?!?

9.        Ruben (putra tertua Nabi Yakub) melakukan hubungan seks dengan Bilha, gundik ayahnya (Kejadian 35:22). Gundik ayah diperkosa anaknya sendiri ?!?

10.     Nabi Sulaiman (Salomo) tidak taat kepada Tuhan karena lebih mencintai 700 istri dan menyimpan 300 gundik (I Raja-raja 11:3).Mustahil ada nabi yang rakus wanita…..

11.     Nabi Harun membuat dan menyembah patung emas (Keluaran 32: 2-4).

12.     Nabi Isa (Yesus) orang bodoh, idiot, dan emosional. Pada waktu bukan musim buah ara, Yesus mengutuk pohon ara yang tidak berbuah (Markus 11: 12-14; bandingkan: Yohanes 2: 4 dan Yohanes 7: 8-10).

Catatan : Nama-nama pezinah tersebut ada dalam silsilah Yesus (Matius 1: 1-17 dan Lukas 3: 23-38).

 

Ayat-ayat yang tidak masuk akal (irasional)

1.        Anak lebih tua 2 tahun daripada ayahnya.
II Tawarikh 21: 5, 20, Yoram berusia 32 tahun pada waktu jadi raja dan memerintah Yerusalem selama 8 tahun lalu meninggal (pada usia 40 tahun). II Tawarikh 22: 1-2, Setelah Yoram meninggal, dia digantikan Aharia, anaknya pada usia 42 tahun. Jadi, Ahazia lebih tua 2 tahun daripada ayahnya.

2.        Usia 11 tahun sudah tidak punya anak.
Jadi, dalam usia 11 tahun Ahaz sudah punya anak ??!! Ahas berumur 20 tahun ketika naik dan memerintah kerajaan selama 16 tahun
(II Raja-raja 16: 2). Sepeninggal Ahas, tahta kerajaan diganti oleh Hizkia, anaknya (II Raja­raja 16: 20). Hizkia berusia 25 tahun waktu naik tahta menjadi raja (II Raja-raja 18: 2).

3.        Tuhan salah hitung.
Kejadian 46: 8-15, disebutkan daftar nama-nama bani Israel yang datang ke Mesir berjumlah 34 nama. Padahal pada ayat 15 disebutkan. Jadi seluruhnya, laki-laki dan perempuan, berjumlah 33 jiwa”. Pakai Tuhan tidak pandai          berhitung ??

Ayat-ayat yang mustahil dipraktekan

1.        Hukum Sabat.
Hari Sabat (Sabtu) adalah hari Tuhan yang harus dikuduskan. Pada hari itu setiap orang dilarang bekerja, dilarang memasang api di rumah (lampu, kompor, dan lain-lain) karena Sabat adalah hari perhentian penuh. Orang yang bekerja pada hari Sabtu harus dihukunm mati
(Keluaran 20: 8-11, 31: 15, 35: 2-3). Ayat ini mustahil dipraktekan di jaman modern. Siapa yang sanggup mengamalkan ? Siapa yang mau dibunuh apabila melanggar hukum Sabat ?

2.        Bunuh orang kafir dan musyrik !! (Ulangan 13: 6-9).
Ayat ini memerintahkan kewajiban membunuh orang yang mengajak menyembah tuhan selain Allah. Ayat ini tidak bisa diterapkan. Buktinya umat Yahudi dan Kristen tidak pernah membunuh umat Hindu, Budha, Kong Hu Chu, dan lain-lain.

3.        Dilarang memakai pakaian yang dibuat dari pada dua jenis bahan (Imamat 19: 19).
Bila ayat ini diamalkan, maka manusia akan kembali kepada jaman primitif, ketinggalan jaman, ketinggalan gaya dan tidak modernis.

4.        Cungkil mata yang menyesatkan orang untuk berbuat dosa (Matius 5: 29).
Secara Letterlijk maupun Figuurlijk, ayat ini mustahil dipakai. Bila diterapkan, maka banyak orang Kristen menjadi buta.

5.        Potong kaki dan tangan orang yang menyesatkan ke arah dosa (Matiusl8:8-9).
Secara Letterlijk maupun Figuurlijk, ayat ini mustahi dipakai. Bila diterapkan, maka banyak orang kristen menjadi pincang dan buntung.

6.        Dilarang melawan penjahat (Matius 5: 39-44).
Ayat ini mustahil dipraktekkan di masyarakat manapun. Bila ajaran ini diterapkan, maka menghancurkan tatanan sosial dan keamanan masyarakat. Apa jadinya di masyarakat apabila suatu kejahatan tidak dilawan ? Tidak melawan kejahatan berarti mendukung kejahatan. Bila kejahatan tidak dilawan, berarti mendukung kejahatan. Bila kejahatan tidak dilawan, maka kriminalitas akan meningkat dan subur berkembang.

7.        Kasihilah musuhmu (Lukas 6: 27-29).
Ajaran ini sangat menguntungkan penjajah.

8.        Dilarang membawa perbekalan, dilarang membawa dua helai baju dan dilarang membawa kasur dalam perjalanan (Matius 10: 9-10).
Kenyataannya, umat Kristen sendiri tak ada yang bisa mengamalkan ayat ini.

Ayat-ayat takhayul (mistis)

 

Simson (Inggris: Samson) adalah utusan Tuhan yang sakti mandraguna selama rambutnya tidak dicukur. (Hakim-hakim 16: 1-22).

Diceritakan dalam kitab Hakim-hakim 16: 1-22 bahwa Samson adalah utusan Tuhan yang sakti mandraguna. Dia bisa mencabut kedua daun pintu gerbang kota beserta kedua tiang dan semua palangnya, lalu semuanya diletakkan di atas kedua bahunya dan dipindahkan ke puncak gunung (ay 3). Tapi sayangnya dia jatuh cinta kepada seorang pelacur (wanita sundal) yang bernama Delila. Mala Delila disewa oleh raja Filistin dengan bayaran 1100 uang perak untuk mencari rahasia Samson (ay. 5).

Di atas pangkuan pelacur Delila, akhirnya Samson tergoda rayuan dan bujukan sehingga membuka rahasia kesaktiannya. Bahwa selama rambut kepalanya tidak dicukur, maka seluruh kekuatannya akan musnah dan dia menjadi orang lemah (ay. 17). Maka setelah nabi Samson tertidur di atas pangkuan pelacur Delila, rambutny dicukur. Lalu musnahlah seluruh kesaktiaan dan kekuatan Samson. (ay. 19). Kemudian kedua mata Samson dicungkil sehingga jadilah Samson buta mata akibat rahsia kesaktiannya dicukur (ay. 21).

Cerita ini adalah cerita takhayul (mistik) yang biasanya berkembang di masyarakat primitif.

 

Ayat-ayat Diskrimatif

 

Perbuatan riba (rente) dilarang dilakukan kepada Israel, tapi boleh dilakukan kepada non Israel (Ulangan 23: 19-20). Ayat ini jelas buatan orang Yahudi, sebab tidak mungkin Tuhan berlaku diskriminatif dengan melarang mengambil bunga uang kepada bangsa Yahudi, sementara mengambil bunga kepada orang selain Yahudi diperbolehkan. Dan sangat bertentangan dengan kitab Keluaran 22: 25: `Jika engkau meminjamkan uang kepada salah seorang umat-Ku, orang miskin dinataramu, maka janganlah engkau berlaku sebagai penagih hutang terhadap dia: janganlah kamu bebankan bunga kepadanya”.

 

Ayat-ayat Ramalan Bibel yang meleset tak terpenuhi

1.        Ramalan Paulus tentang kedatangan Yesus (I Tesalonika 4: 16-17). Dalam ayat ini Paulus meramalkan bahwa setelah kebangkitan Yesus dari kubur, dia dan seluruh pengikutnya yang masih hidup itu akan diangkat bersama-sama dengan Yesus dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Ramalan ini tidak terpenuhi bukan Yesus yang menjemput Paulus, tapi pedang kaisar Nero yang memenggal leher Paulus di Roma tahun 64 M. Ramalan Paulus ini tidak akan terjadi, meski dia diberi waktu 2000 tahun lagi untuk menunggu kegenapan nubuatnya.

2.        Ramalan kedatangan Yesus (Matius 10:23, 16:28, Markus 9:1 dan Lukas 9:27). Yesus menubuatkan bahwa dia dan kerajaan Allah akan datang sebelum para muridnya selesai mengunjungi kota­ kota Israel. Ramalan ini meleset jauh, sebab sampai saat ini Yesus belum juga turun datang kembali ke dunia. Padahal para murid Yesus sudah mati semua 2000 tahun yang lalu.

3.        Hak keturunan Abraham (Kejadian 21: 12). Dalam ayat ini Tuhan menubuatkan bahwa yang disebut keturunan Abraham adalah berasal dari Ishak. Nubuat ini meleset jauh besar, Sebab dalam I Tawarikh 1: 28-30 Ismail juga disebut sebagai anak keturunan Abraham.

4.        Ramalan Tuhan Meleset (Yeremia 34: 4-5). Dalam ayat Tuhan berfirman bahwa Zedekia, raja Yehuda tidak akan mati oleh pedang, melaikan akan mati dengan damai. Nubuat ini meleset jauh, dalam kitab Yeremia 52: 10­11 diceritakan bahwa pada dalam akhir hayatnya Zedekia tewas ditangan raja Babel. Sebelum meninggal, mata Zedekia dibutakan, lalu dibelenggu dengan rantai tembaga. Kemudian ditaruh dalam rumah hukuman sampai meninggal.

5.        Nubuat Tuhan tidak terjadi (Yeremia 36: 30). Dalam kitab Yeremia 36: 30 Tuhan berfirman bahwa keturunan Yoyakim tidak ada yang naik tahta kerajaan Daud. Nubuat ini ternyata meleset. Diceritakan dalam kitab II Raja­raja 24: 6 bahwa sepeninggal Yoyakim, yang naik tahta menggantikannya adalah Yoyakin, anaknya.

AYAT-AYAT KONTRADIKSI

 

Kontradiksi Perjanjian Lama

1.        Siapakah anak Daud yang kedua ?
a.Kileab
(II Samuel3: 2-3).
b.Daniel
(I Tawarikh 3: 1)

2.        Di Yerusalem, Daud mengambil beberapa gundik atau tidak ?
a. Ya! Daud mengambil beberapa gundik dan istrei
(II Samuel 5: 13-16).
b. Tidak ! Daud hanya mengambil beberapa isteri saja
(I Tawarikh 14: 3-7).

3.        Berapa anak-anak Daud dari gundik di Yerusalem ?
a. 11 orang
(Samuel 5: 13-16).
b.13 orang
(Itawarikh 14 3-7).

4.        Di Kota mana Daud mengambil tembaga ?
a. Betah dan Berotai
(II Samuel 8: 8).
b.Tibhat dan dari Kun
(I Tawarikh 18: 8)

5.        Siapa anak Tou yang diutus untuk mengucapkan selamat kepada Daud ?
a. Yoram
(II Samuel8: 10).
b. Hadoram
(I Tawarikh 18: 9-10)

6.        Dari orang bangsa saja Daud mengambil perak dan emas untuk Tuhan ?
a. Aram
(II Samuel8: 11-12).
b. Edom
(I Tawarikh 18: 14-16).

7.        Siapakah panitera (sekretaris) Daud ?
a. Seraya
(II Samuel8: 15-17).
b. Sausa
(I Tawarikh 18: 14-16).

8.        Berapakah tentara berkuda tawanan Daud ?
a. 1.700 orang
(II Samuel8: 4).
b. 7.000 orang
(I Tawarikh 18: 4).

9.        Berapa ekor kuda kereta yang dinuh Daud ?
a. 700 ekor
(II Samuel 10: 18).
b. 7.000 ekor
(I Tawarikh 19: 18).

10.     Yang dibunuh Daud, pasukan berkuda atau pasukan jalan kaki ?
a. 40.000 pasukan berkuda
(II Samuel 10: 8).
b. 40.000 pasukan berjalan kaki
(I Tawarikh 19: 18).

11.     Siapakah panglima musuh yang tewas di tangan Daud ?
a. Sobakh
(II Samuel 10: 18).
b. Sofakh
(I Tawarikh 19: 18).

12.     Daud memerangi Israel atas hasutan Tuhan atau atas bujukan iblis ?
a. Tuhan murka lalu menghasut Daud
(II Samue124:1).
b. Setan bangkit lalu membujuk Daud
(I Tawarikh 21:1)

13.     Siapakah kepala Triwira pengiring Yahudi ?
a. Isyabaal, orang Hakhmoni
(II Samue123: 8).
b. Yasobam bin Hakhmoni
(I Tawarikh 11: 11).

14.     Kepala Triwira Daud membunuh berapa orang ?
a. 800 orang
(II Samuel 23: 8).
b. 300 orang
(I Tawarikh 11: 11).

15.     Berapakah angkatan perag Daud dari orang Israel ?
a. 800 orang
(II Samuel 24: 9).
b. 1.100.000 orang
(I Tawarikh 21: 5).

16.     Berapakah angkatan perang Daud dari orang Yehuda ?
a. 500.000 orang
(II Samue124: 9).
b. 470.000 orang
(I Tawarikh 21: 5).

17.     Berapakah kandang kuda milik Salomo (Sulaiman ) ?
a. 40.000 kandang
(I Raja-raja 4: 26).
b. 4.000 kandang
(II Tawarikh 2: 2).

18.     Berapa mandor pengawas kerajaan Salomo (Sulaiaman)?
a. 3.300 mandor
%2

07.01.08

RUANG DEBAT

Posted in Uncategorized at 1:31 am by pipin234

RUANG DEBAT CLICK : http://www.a-free-guestbook.com/guestbook.php?username=serbuiff

06.10.08

GUSTBOOK SERBUIFF 2

Posted in Religion at 11:13 pm by pipin234

GUSTBOOK SERBUIFF 2 ….CLICK : http://www.a-free-guestbook.com/guestbook.php?username=serbuiff

     Sign guestbook   

» Previous messages

>  Page 2
Page 1

11. serbuiff - 2008-06-11 05:57:37
9. aibnu - 2008-06-10 10;41;25

Ass….

Jelas antek-antek Faithfreedom menyusup didalam AKKBB ;

Bukti ;

1. Aliansi Bhineka Tunggal Ika adalah kelompok yang pernah menggerakan
kalangan lesbian, homo, para pelacur dan penyanyi dangdut untuk
menyampaikan sikap penolakan terhadap Rancangan Undang-undang (RUU)
Anti Pornografi dan Pornoaksi (APP).
(berbagai sumber/www.hidayatullah.com]…..WAH INI SIH GROMBOLAN GEMBONG BIANG MAKSIAT NIH..

2. PSK & Warga Banyuwangi Demo FPI Jun 8, ’08 9;27 PM

by adm2i2h for everyone (vidio)……..BIANG MAKSIAT MENGUNDANG MURKA ALLAH…..

3.“Misi utama kita bukanlah menjadikan kaum Muslimin beralih agama
menjadi orang Kristen atau Yahudi, tapi cukuplah dengan menjauhkan
mereka dari Islam… Kita jadikan mereka sebagai generasi muda Islam yang
jauh dari Islam, malas bekerja keras, suka berfoya-foya,senang dengan
segala kemaksiatan, memburu kenikmatan hidup, dan orientasi hidupnya
semata untuk memuaskan hawa nafsunya…”

(Pidato Samuel Zwemmer, tokoh Yahudi, dalam Konferensi
Missi Zionis di Yerusalem, 1935) …………..WAH PARAH AMAT NIH MISI
ZWEMMER

10. serbuiff - 2008-06-11 05:51:34
8. akuzugabiza - 2008-06-10 10;15;59

Ass…..

What is DAAI-TV do ?, info please !…….ANE KAGA NGARTI APE YG ENTE KATAKAN /YG ENTE MAKSUD…

Wass…

document.write(’<a href=”mailto:’);document.write(’<a href=”http://aibnu.multiply.com’);9. aibnu - 2008-06-10 10:41:25
Ass….

Jelas antek-antek Faithfreedom menyusup didalam AKKBB ;

Bukti ;

1. Aliansi Bhineka Tunggal Ika adalah kelompok yang pernah menggerakan
kalangan lesbian, homo, para pelacur dan penyanyi dangdut untuk
menyampaikan sikap penolakan terhadap Rancangan Undang-undang (RUU)
Anti Pornografi dan Pornoaksi (APP).
(berbagai sumber/www.hidayatullah.com]

2.  PSK & Warga Banyuwangi Demo FPI Jun 8, ’08 9;27 PM

by adm2i2h for everyone (vidio)

3.“Misi utama kita bukanlah menjadikan kaum Muslimin beralih agama
menjadi orang Kristen atau Yahudi, tapi cukuplah dengan menjauhkan
mereka dari Islam… Kita jadikan mereka sebagai generasi muda Islam yang
jauh dari Islam, malas bekerja keras, suka berfoya-foya,senang dengan
segala kemaksiatan, memburu kenikmatan hidup, dan orientasi hidupnya
semata untuk memuaskan hawa nafsunya…”

(Pidato Samuel Zwemmer, tokoh Yahudi, dalam Konferensi Missi Zionis di Yerusalem, 1935)

 

document.write(’<a href=”mailto:’);document.write(’<a href=”http://akuzugabiza.multiply.com’);8. akuzugabiza - 2008-06-10 10:15:59
Ass…..

What is DAAI-TV do ?, info please !

Wass…

7. SERBUIFF - 2008-06-10 08:49:59
SOANG"DONGO"SOANG
BILANG KAGA ADE TUHAN, CEPRAT"PULUNG"CEPROT NGGAK TAHU SIAPE NAMA
TUHANNYE,…..DUA GEMBONG IFF INI MENURUT ANE GUOBLOKNYE LUAR
BIASE……. SEDANGKAN SI DEWA"to2i2h"PENGECUT NYEBUTIN AGAMA AJE KAGA
BERANI + PUNYA SENJATA MAU "DELEEEETE"….GEMBONG IFF INI PENGECUTNYE
LUAAAR BIASE…

6. - 2008-06-10 08:16:03
sikat sampai ke akar2nya gembong2 iff   

5. serbuiff - 2008-06-09 06:47:21
orang2 berbondong2 masuk islam….gembong iff pade nagis bombay

4. serbuiff - 2008-06-09 04:43:23
APABILA SESEORANG TELAH DI KUNCI MATA HATINYA OLEH ALLAH MAKA  DIA TIDAK AKAN DAPAT MELIHAT KEBENARAN ISLAM.

3. serbuiff - 2008-06-09 04:12:33
GEMBONG
IFF SIANG MALAM MENJELEKKAN2 ISLAM TAPI FAKTANYA JUSTRU ORANG2DI EROPA,
AMERIKA, AFRIKA DLL MASUK ISLAM …….KASIHAN ……PASTI KESEL BANGET
TUH HATI MEREKA ……..

document.write(’<a href=”mailto:’);document.write(’<a href=”http://erzal.wordpress.com’);2. serbuiff - 2008-06-09 03:32:48
DARI
DULU SUDAH ANE KATAKAN DAN KEBUKTI SENJATA ANDALAN GEMBONG IFF ADALAH
DELEEEETE………..CUMA SEGITU TUH KEMAMPUANNYE……HE,HE,HE,

     Sign guestbook    Page 1 >

» Previous messages

>  Page 2
Page 1

Webmasters, Click here to get a free guestbook!
   

  Please report if this guestbook contains illegal or offensive content. 

 

03.08.08

arsip

Posted in Religion at 5:56 am by pipin234

agamaislam wrote on Feb 9, edited on Feb 9
kevinaritonang
kevinaritonang wrote today at 1:25 AM
Waktu
itu ada pertanyaan saya yang belum dijawab, jawabannya udh ada? Anda
janji lho mau jawab. Ini kata anda,"tentang Dajjal sekarang belum bisa
saya jelaskan, nanti akan saya jelaskan jika informasinya sudah
lengkap." Kayaknya sudah cukup lama, pasti udah ketemu jawabannya.
Dan
ini pertanyaan saya waktu itu: Apakah benar di akhir jaman yang akan
menghadapi Dajjal adalah Nabi Isa? Teman saya orang pesantren bilang
seperti itu soalnya. Dan dimanakah Nabi Muhammad pada waktu itu terjadi?
Saya
tidak ngetes, saya mau tahu apa sebenarnya yang terdapat di Quran anda
mengenai hal ini. Just to remind you because I still waiting for the
answer. Thx…………………….terimakasih sebelumnya,mohon maaf
saya baru bisa jawab sekarang :

1. Tanda2 kiamat memang dengan munculnya dajjal.

Nabi bersabda : 6756. Dari Abu Hurairah, bahwa sesungguhnya Rasulullah
saw. Bersabda: "tidaklah hari kiamat tiba sehingga dua golongan besar
(pasukan Ali dan pasukan Mu`awiyah) berperang, dimana terjadi
pembunuhan (korban) besar diantara keduanya, sedang seruan keduanya
adalah satu (yaitu Islam). Dan (kiamat itu tidak datang) sehingga
dibangkitkan dajjal-dajjal para pendusta yang mendekati (jumlah) tiga
puluh orang dimana semuanya menyatakan dirinya sebagai utusan Allah.
Dan (kiamat itu tidak datang) sehingga ilmu di cabut, banyak terjadi
gempa bumi, waktu berdekatan, fitnah-fitnah bermunculan dan banyak
pembunuhan. Dan sehingga harta melimpah pada kamu harta itu membanjir
hingga menyusahkan pemilik harta itu, siapakah yang akan menerima
shadakahnya, dan sehingga ia menawarkan hartanya itu maka orang yang
ditawari mengatakan, "aku tidak membutuhkan harta itu", dan sehingga
manusia berlomba menjulangkan bangunan; dan sehingga orang laki-laki
lewat pada kubur orang laki-laki maka ia berkata, "Duhai a kiranya aku
berada ditempatnya (jadi mayit)", dan sehingga matahari muncul dari
barat. Maka apabila matahari muncul (dari barat) dan orang-orang
melihatnya maka mereka beriman semuanya; maka itulah masa tidaklah
bermanfaat iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum itu, atau
dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Dan pastilah
kiamat itutiba sedang dua orang laki-laki membentangkan pakaiannya
didepannya (supaya dibeli) maka keduanya tidak jadi mengadakan jual
beli pula keduanya tidak melipatnya; pastilah kiamat itu datang sedang
orang laki-laki bertandang pada air susu untanya maka dia tidak
meminumnya; pastilah kiamat itu datang sedang ia memperbaiki telaganya
maka ia tidak memberi minum darinya; dan pastilah kiamat itu terjadi
sedang ia sungguh telah mengangkat suapan makannya kemulutnya maka ia
tidak memakannya".
(HR: Bukhari)

2. Tentang nabi isa saya hanya menemukan hadist sebagai berikut :

6651.
Dari Abdullah Ibn Umar ra., bahwa sesungguhnya Rasulullah saw.
bersabda: "Aku bermimpi tadi malam di sisi Ka`bah, maka aku aku melihat
seorang laki-laki berkulit sawo matang, sebagai yang paling bagus dari
kulit sawo matang orang laki-laki yang pernah kamu lihat, berambut
panjang (melewati cuping telinga), sebagai yang paling yang bagus dari
panjangnya rambut yang pernah kamu lihat, sungguh dia menyisirnya
sedangkan ia menetes (dari kepala), dalam keadaannya dipapah pada dua
orang laki-laki –atau pada pundak dua orang laki-laki– sedang thawaf
di Baitullah, Ka`bah. Maka aku bertanya, "Siapakah itu?" Maka dikatakan
(kepadaku bahawa dia adalah) "Al-Masih (Isa) Ibnu Maryam". Dan
tiba-tiba aku (bertemu) dengan seorang laki-laki yang berambut
keriting, sangat keriting rambutnya, mata yang kanan buta, matanya itu
seperti buah anggur yang menonjol. Maka aku bertanya, "Siapakah itu?".
Maka dikatakan (kepadaku bahwa dia adalah) "Al-Masih Dajjal".
(HR: Bukhari)

3.
Tentang dimana nabi muhammad ketika itu tidak ada keterangan yg jelas
dari link hadist saya,. yg jelas menurut saya nabi muhaamad ketika itu
tetap masih di alam barzah

4. Tidak ada  ayat Al Quran yg menjelasakan tentang dajjal

5.
Kesimpulan : menurut saya kecil kemungkinan kebenaran pendapat teman
anda tersebut karena melihat minimnya sabda Nabi tentang masalah
tersebut

ceprotceprot wrote on Feb 9
Kalo memang hadits itu tidak ada, lalu mengapa kok sampai difatwakan dan kemudian heboh, cek link ini http://news.bbc.co.uk/1/hi/world/middle_east/6681511.stm

Hadist itu dari sahih muslim lho, Coba cek lagi link ini http://www.usc.edu/dept/MSA/fundamentals/hadithsunnah/muslim/008.smt.html

Tuhanku
adalah yang menciptakan dunia ini dan semakin aku berpikir, maka
Tuhanku bukan Allah Swt yg ada di Qur’an seperti yang aku yakini
dulunya, karena sete;ah aku cari2 info ternyata Allah SWT hanya hasil
rekayasa seseorang. Masak Allah SWT membagi bagi harta rampasan…?
Yang membagi bagi harta jarahan itu manusia, bukan Tuhan. Apa perlu aku
kasih ayatnya..?

Dari jawaban2 yang kamu berikan dalam diskusi
dengan netter2 lainnya, kamu cuman bisa copy paste dan tidak pernah
menggunakan otak untuk berpikir.

Lebih baik tidak bertuhan bila harus menyembah Tuhan yang tidak punya power sama sekali dan ngurusi perkawinan nabinya saja.

kevinaritonang wrote on Feb 9
Waktu
itu ada pertanyaan saya yang belum dijawab, jawabannya udh ada? Anda
janji lho mau jawab. Ini kata anda,"tentang Dajjal sekarang belum bisa
saya jelaskan, nanti akan saya jelaskan jika informasinya sudah
lengkap." Kayaknya sudah cukup lama, pasti udah ketemu jawabannya.
Dan
ini pertanyaan saya waktu itu: Apakah benar di akhir jaman yang akan
menghadapi Dajjal adalah Nabi Isa? Teman saya orang pesantren bilang
seperti itu soalnya. Dan dimanakah Nabi Muhammad pada waktu itu
terjadi?
Saya tidak ngetes, saya mau tahu apa sebenarnya yang
terdapat di Quran anda mengenai hal ini. Just to remind you because I
still waiting for the answer. Thx

agamaislam wrote on Feb 8
ceprotceprot
ceprotceprot wrote today at 9:20 AM
hadis
tentang susu menyusui tidak ada di link kamu, bukan berarti hadis tsb
tidak ada kan..?……………..memang hadist tersebut TIDAK ADA OM
…..lihat : http://hadith.al-islam.com/bayan/SrchRslt.asp?l=Ind&strFormAlert=Masukkan+kalimat+yang+dicar.&strFormAlert2=Tentukan+tema+cari&strSpecialAlert=Tidak+boleh+memasukkan+tanda+khusus&Image.x=0&Image.y=0&SearchText=susu.
……… penerbit situs bukan sembarangan : Kerajaan Arab Saudi
Kementerian Urusan Keislaman, Wakaf, Dakwah dan
Penyuluhan………hadist yg anda pungut itu tidak jelas asal usulnya
dan tidakmungkin nabi bersabda seperti itu. Banyak orientalis yg
menerjemahkan hadist dengan tujuan menjelek2 dan merusak citra islam +
memberikan interpretasi yg salah tentang hadist ……… mirip dg
watak yg suka memungngut hadist2 yg palsu dan kaga
jelasjuntrungnya…….kok hadist2 nabi yg lain yang hebat2 kok kaga
anda otak atik ?

Bayangkan Ibu kamu disedot susunya sama
laki-laki lain hanya untuk membuat laki laki tsb menjadi muhrimnya,
apakah bapak kamu tidak ngamuk…?…….yah dari situ kan anda bisa
melihat dan jika anda waras , jelas hadist itu tidak mungkin dan tidak
masuk akal jika diucapkan oleh nabi muhammmad……..wong nabi muhammad
sendiri sudah bersabda jangan berdua2 dg lain jenis yg ketiganya adalah
syaitan.

itulah salah satu "KEINDAHAN" islam…bisa menyedot
susu siapa saja…………disitulah letak keindahan ketolollan anda
dalam menilai apakah hadis itu memang dari nabi muhammad atau bukan.
Saya yakin 100 % anda memang bisa menyedot susu siapa saja………..

dari
pernyataan 2 anda saya menilai anda bukan beragama islam dan dulunya
juga anda bukan beragama islam………..kenapa pertanyaan saya tidak
anda jawab :siapa tuhan anda,apa pegangan kitab suci anda , bagaimana
cara anda beribadah ? kok 2 kali saya tanya tidak dijawab ?

 

ceprotceprot wrote on Feb 8
hadis tentang susu menyusui tidak ada di link kamu, bukan berarti hadis tsb tidak ada kan..?

Bayangkan
Ibu kamu disedot susunya sama laki-laki lain hanya untuk membuat laki
laki tsb menjadi muhrimnya, apakah bapak kamu tidak ngamuk…?

itulah salah satu "KEINDAHAN" islam…bisa menyedot susu siapa saja..

agamaislam wrote on Feb 7
ceprotceprot
ceprotceprot wrote today at 9:38 AM
Aku menemukan hadist ini,

http://www.usc.edu/dept/MSA/fundamentals/hadithsunnah/muslim/008.smt.h tml

Book 008, Number 3427:
Umm
Salama said to ‘A’isha (Allah be pleased with her): A young boy who is
at the threshold of puberty comes to you. I, however, do not like that
he should come to me, whereupon ‘A’isha (Allah be pleased with her)
said: Don’t you see in Allah’s Messenger (may peace be upon him) a
model for you? She also said: The wife of Abu Hudhaifa said: Messenger
of Allah, Salim comes to me and now he is a (grown-up) person, and
there is something that (rankles) in the mind of Abu Hudhaifa about
him, whereupon Allah’s Messenger (may peace be upon him) said: Suckle
him (so that he may become your foster-child), and thus he may be able
to come to you (freely).

Terjemahan:
Umm Salam berkata pada
Aisha: Seorang anak muda menjelang akil balik datang padamu. Namun aku
tidak suka dia datang padaku. Mendengar itu Aisha berkata: Tidakkah kau
mencontoh pada rasul Allah? Lalu dia berkata: Istri Abu Hudhaifa
bekata, "Rasul Allah, Salim datang padaku dan dia sekarang seorang
lelaki dewasa, dan ada sesuatu yang mengganggu pikiran Abu Hudhaifa
tentang dia." Mendengar itu rasul Allah berkata, "Susuilah dia (supaya
dia menjadi anak angkatmu) dan karena itu dia bisa bebas
mengunjungimu………………………..hadist ini tidak diketemukan
dalam link saya……………

dan lucunya Perintah menyusui tsb difatwakan, please check this link
http://news.bbc.co.uk/1/hi/world/middle_east/6681511.stm

luar biasa..!!! konyol
ceprotceprot
ceprotceprot wrote on Feb 6
kamu
mengatakan tidak ada ancaman bagi yang mau murtad dan tidak ada paksaan
dalam agama islam, lalu hadits ini memerintahkan apa..?

http://www.muslimaccess.com/sunnah/hadeeth/bukhari/052.html
Sahih Bukhari Volume, Book 52, Number 260:

Narrated Ikrima:

Ali
burnt some people and this news reached Ibn ‘Abbas, who said, "Had I
been in his place I would not have burnt them, as the Prophet said,
‘Don’t punish (anybody) with Allah’s Punishment.’ No doubt, I would
have killed them, for the Prophet said, ‘If somebody (a Muslim)
discards his religion, kill him.’ "

terjemahan :
Ali membakar
beberapa orang dan berita ini terdengar oleh Ibn ‘Abbas, yang
berkata,”Jika aku berada di posisinya, aku tidak akan membakar mereka,
seperti yang dikatakan sang Nabi,’Jangan hukum (siapapun) dengan
Hukuman Allah.’ Tidak ragu lagi, aku sudah akan membunuh mereka, karena
Nabi berkata,’Jika seseorang (Muslim) meninggalkan agamanya, bunuh
dia.’”………………………………… tentang murtad :

54
Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad
dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah
mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah
lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap
orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut
kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah,
diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas
(pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.(QS. 5:54)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Maa-idah 54
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ
فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ
عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي
سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ
يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (54)
Dalam ayat itu
terkandung berita tantangan yang akan terjadi, yaitu akan murtadnya
nanti sebahagian orang mukmin. Mereka akan keluar dari Islam dengan
terang-terangan. Keluarnya mereka dari Islam tidaklah akan membahayakan
orang mukmin, tetapi sebaliknyalah yang akan terjadi, yaitu Allah akan
menggantinya dengan orang-orang yang lebih kuat imannya dan lebih baik
amal perbuatannya sebagai pengganti mereka yang murtad itu.
Menurut
riwayat Ibnu Jarir dari Qatadah, dia menceritakan bahwa setelah Allah
menurunkan ayat ini, diketahuilah bahwa akan terjadi beberapa kelompok
manusia akan murtad, yaitu keluar dari agama Islam. Peristiwa itu
kemudian benar-benar terjadi, ketika Nabi Muhammad saw. berpulang ke
rahmatullah, maka pada waktu itu murtadlah sebagian orang dari Islam,
terkecuali dari tiga tempat, yaitu penduduk Madinah, penduduk Mekah dan
penduduk Bahrain. Di antara tanda-tanda murtad mereka ialah bahwa
mereka tidak mau lagi mengeluarkan zakat. Mereka mengatakan, "Kami akan
tetap bersalat, tetapi kami tidak mau mengeluarkan zakat. Demi Allah,
tidak boleh dirampas harta kami." Maka khalifah Abu Bakar ketika itu
terpaksa mengambil tindakan keras. Orang-orang yang murtad itu
diperangi, sehingga di antara mereka ada yang mati, ada yang terbakar
dan ada pula yang ditangkap, sehingga akhirnya mereka kembali bersedia
membayar zakat.
Peristiwa terjadinya orang-orang murtad ini sudah
banyak sekali. Di dalam sejarah disebutkan bahwa pada masa Nabi
Muhammad saw. masih hidup telah terjadi tiga kali peristiwa orang-orang
murtad, yaitu:
1. Golongan Bani Mudhij yang dipelopori oleh
Zulkhimar, yaitu Al-Aswad Al-Ansy seorang tukang tenung. Dia mengaku
sebagai nabi di negeri Yaman, akhirnya dia dihancurkan Allah, dibunuh
oleh Fairuz Ad-Dailami.
2. Golongan Bani Hanifah, yaitu kaum
Musailamah Al-Kazzab. Musailamah mengaku dirinya sebagai nabi. Pernah
dia berkirim surat kepada Nabi Muhammad saw. mengajak beliau untuk
membagi dua kekuasaan di negeri Arab. Dia memerintah separoh negeri dan
Nabi Muhammad saw. memerintah yang separoh lagi. Nabi Muhammad saw.
membalas suratnya itu dengan mengatakan bahwa bumi ini adalah kepunyaan
Allah dan Allah akan mempusakakan bumi ini kepada siapa yang
dikehendaki di antara hamba-Nya dan bahwa kemenangan terakhir akan
berada pada orang yang bertakwa kepada-Nya. Akhirnya Musailamah
diperangi oleh Khalifah Abu Bakar dan ia mati dibunuh oleh Wahsyi yang
dulu pernah membunuh Hamzah, paman Nabi pada perang Uhud.
3.
Golongan Bani Asad, pemimpinnya bernama Tulaihah bin Khuwailid, dia
juga mengaku dirinya menjadi nabi, maka Aba Bakar memerangi dengan
memberitahukan Khalid bin Walid untuk membunuhnya. Dia mundur dan lari
ke negeri Syam dan akhirnya dia kembali menjadi seorang muslim yang
baik.
Sesudah Nabi Muhammad saw. meninggal, yaitu pada masa Khalifah
Abu Bakar, banyak benar terjadi golongan-golongan yang murtad terdiri
dari 7 golongan, yaitu:
1. Ghathafan
2. Bani Khuza`ah
3. Bani Salim
4. Bani Yarbu’
5. Sebagian Bani Tamim
6. Kindah
7. Bani Bakr
Orang-orang
yang menggantikan orang-orang murtad itu, selalu mengatakan kebenaran
dan membantu perjuangan Islam, ditandai oleh Allah dengan enam sifat
yang penting, yaitu:
1. Allah mencintai mereka karena keimanan dan keyakinan mereka dalam berjuang.
2. Mereka cinta kepada Allah karena perintah Allah lebih diutamakan dari urusan-urusan yang lain.
3. Mereka bersikap lemah-lembut terhadap orang mukmin.
4. Terhadap orang kafir mereka bersikap keras dan tegas.
5.
Berjihad fisabilillah, yaitu bersungguh-sungguh dalam menegakkan agama
Allah, mau berkorban dengan harta dan dirinya dan tidak takut berperang
menghadapi musuh agama.
6. Mereka tidak takut terhadap cacian dan
celaan, tidak takut kepada gertakan dan ancaman. Sebab mereka
senantiasa dalam beramal, berjuang, buka mencari pujian dan sanjungan
manusia, bukan juga mencari pangkat dan kedudukan dan bukan pula
mencari nama dan tuah. Yang mereka cari hanyalah keridaan Allah semata.
Sifat-sifat
yang tersebut itu adalah karunia Allah kepada hamba-Nya yang diberikan
kepada siapa yang dikehendaki. Dengan sifat-sifat itulah derajat
seseorang menjadi tinggi dan mulia di hadapan manusia, dan lebih-lebih
di hadapan Allah yang mempunyai karunia yang besar. Semuanya itu akan
dapat diperoleh dengan jalan mendekatkan diri kepada-Nya serta
memperbanyak ibadah dan bersyukur.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Maa-idah 54
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ
فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ
عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي
سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ
يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (54)
(Hai
orang-orang yang beriman! Siapa yang murtad) yartadda pakai idgam atau
tidak; artinya murtad atau berbalik (di antara kamu dari agamanya)
artinya berbalik kafir; ini merupakan pemberitahuan dari Allah swt.
tentang berita gaib yang akan terjadi yang telah terlebih dahulu
diketahui-Nya. Buktinya setelah Nabi Muhammad saw. wafat segolongan
umat keluar dari agama Islam (maka Allah akan mendatangkan) sebagai
ganti mereka (suatu kaum yang dicintai oleh Allah dan mereka pun
mencintai-Nya) sabda Nabi saw., "Mereka itu ialah kaum orang ini,"
sambil menunjuk kepada Abu Musa Al-Asyari; riwayat Hakim dalam sahihnya
(bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin dan bersikap keras)
atau tegas (terhadap orang-orang kafir. Mereka berjihad di jalan Allah
dan tidak takut akan celaan orang yang suka mencela) dalam hal itu
sebagaimana takutnya orang-orang munafik akan celaan orang-orang kafir.
(Demikian itu) yakni sifat-sifat yang disebutkan tadi (adalah karunia
Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Allah
Maha Luas) karunia-Nya (lagi Maha Mengetahui) akan yang patut
menerimanya. Ayat ini turun ketika Ibnu Salam mengadu kepada
Rasulullah, "Wahai Rasulullah! Kaum kami telah mengucilkan
kami!"…………………..di ayat ini tidak ada perintah untuk
membunuh orang murtad …………

Hadis Sahih Bukhari, Volume 1, Book 2, Number 24:
Narrated Ibn ‘Umar:
Allah’s
Apostle said: "I have been ordered (by Allah) to fight against the
people until they testify that none has the right to be worshipped but
Allah and that Muhammad is Allah’s Apostle, and offer the prayers
perfectly and give the obligatory charity, so if they perform a that,
then they save their lives an property from me except for Islamic laws
and then their reckoning (accounts) will be done by Allah."

Terjemahan :
Dikisahkan oleh Ibn ‘Umar:
Rasul
Allah berkata, “Aku telah diperintahkan (oleh Allah) untuk memerangi
orang2 sampai mereka mengaku bahwa tidak ada yang patut disembah selain
Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah, dan melakukan sembahyang dengan
sempurna dan membayar zakat, sehingga jika mereka melakukan hal itu,
maka selamatlah nyawa dan harta mereka dariku kecuali dari hukum2 Islam
dan amal mereka akan dihitung oleh
Allah.”……………………………………..

=============================================

…………Tidak
ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas
jalan yang benar daripada jalan yang salah. Karena itu barangsiapa yang
ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia
telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus.
Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(QS. 2:256)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 256
لَا
إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ
يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ
بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
(256)
Ada suatu riwayat tentang sebab turunnya ayat ini, seorang
lelaki bernama Abu Al-Husain dari keluarga Bani Salim Ibnu Auf
mempunyai dua orang anak lelaki yang telah memeluk agama Nasrani
sebelum Nabi Muhammad saw. diutus Tuhan sebagai nabi. Kemudian kedua
anak itu datang ke Madinah (setelah datangnya agama Islam), maka ayah
mereka selalu meminta agar mereka masuk agama Islam dan ia berkata
kepada mereka, "Saya tidak akan membiarkan kamu berdua, hingga kamu
masuk Islam." Mereka lalu mengadukan perkaranva itu kepada Rasulullah
saw. dan ayah mereka berkata, "Apakah sebagian dari tubuhku akan masuk
neraka?" Maka turunlah ayat ini, lalu ayah mereka membiarkan mereka itu
tetap dalam agama semula.
Jadi, tidak dibenarkan adanya paksaan.
Kewajiban kita hanyalah menyampaikan agama Allah kepada manusia dengan
cara yang baik dan penuh kebijaksanaan serta dengan nasihat-nasihat
yang wajar sehingga mereka masuk agama Islam dengan kesadaran dan
kemauan mereka sendiri.
Apabila kita sudah menyampaikan kepada
mereka dengan cara yang demikian tetapi mereka tidak juga mau beriman
itu bukanlah urusan kita melainkan urusan Allah swt. Kita tidak boleh
memaksa mereka. Dalam ayat yang lain Allah swt. telah berfirman yang
artinya, "Apakah Engkau ingin memaksa mereka hingga mereka itu menjadi
orang-orang yang beriman?"
Dengan datangnya agama Islam, maka jalan
yang benar sudah tampak dengan jelas dan dapat dibedakan dari jalan
yang sesat. Maka tidaklah boleh adanya pemaksaan untuk beriman karena
iman tersebut adalah keyakinan dalam hati sanubari dan tak seorang pun
dapat memaksa hati seorang untuk meyakini sesuatu apabila ia sendiri
tidak bersedia.
Ayat-ayat Alquran yang menerangkan kenabian Muhammad
saw. sudah cukup jelas. Maka terserahlah kepada setiap orang apakah ia
akan beriman atau kafir setelah kita menyampaikan ayat-ayat itu kepada
mereka. Inilah etika dakwah Islam. Adapun suara-suara yang mengatakan
bahwa agama Islam dikembangkan dengan pedang itu hanyalah omong kosong
dan fitnahan belaka. Umat Islam di Mekah sebelum berhijrah ke Madinah
hanya melakukan salat dengan cara sembunyi dan mereka tidak mau
melakukan secara demonstratif terhadap kaum kafir. Ayat ini turun
kira-kira pada tahun ketiga sesudah hijrah, yaitu setelah umat Islam
memiliki kekuatan yang nyata dan jumlah mereka telah bertambah banyak
namun mereka tidak diperbolehkan melakukan paksaan terhadap orang-orang
yang bukan muslim, baik paksaan secara halus apalagi dengan kekerasan.
Adapun
peperangan yang telah dilakukan umat Islam, baik di Jazirah Arab maupun
di negeri-negeri lain seperti di Mesir, Persia dan sebagainya, itu
hanyalah semata-mata suatu tindakan bela diri terhadap
serangan-serangan kaum kafir kepada mereka, dan untuk mengamankan
jalannya dakwah Islam. Sehingga orang-orang kafir itu dapat dihentikan
dari kezaliman, memfitnah dan mengganggu umat Islam karena menganut dan
melaksanakan agama mereka dan agar kaum kafir itu dapat menghargai
kemerdekaan pribadi dan hak-hak asasi manusia dalam menganut keyakinan.
Di
daerah-daerah yang telah dikuasai kaum muslimin, orang-orang yang belum
menganut agama Islam diberi hak dan kemerdekaan untuk memilih apakah
mereka akan memeluk agama Islam ataukah akan tetap dalam agama mereka.
Jika mereka memilih untuk tetap dalam agama semula, maka mereka
diharuskan membayar "jizyah", yaitu semacam pajak sebagai imbangan dari
perlindungan yang diberikan pemerintah Islam kepada mereka. Dan
keselamatan mereka di jamin sepenuhnya asal mereka tidak melakukan
tindakan-tindakan yang memusuhi Islam dan umatnya.
Ini juga
merupakan suatu bukti yang jelas bahwa umat Islam tidak melakukan
paksaan, bahkan tetap menghormati kemerdekaan beragama, walaupun
terhadap golongan minoritas yang berada di daerah-daerah kekuasaan
mereka. Sebaliknya dapat kita lihat dari bukti-bukti sejarah, baik pada
masa dahulu, maupun pada zaman modern sekarang ini, betapa malangnya
nasib umat Islam apabila mereka menjadi golongan minoritas pada suatu
negara.
Ayat ini selanjutnya menerangkan, bahwa siapa-siapa yang
sudah tidak lagi percaya kepada tagut, atau tidak lagi menyembah
patung, atau benda yang lain, melainkan beriman dan menyembah Allah
semata-mata, maka ia telah mendapatkan pegangan yang kokoh, laksana
tali yang kuat yang tak akan putus. Dan iman yang sebenarnya adalah
iman yang diyakini dalam hati, diucapkan dengan lidah dan diiringi
dengan perbuatan. Itulah sebabnya, maka pada akhir ayat, Allah
berfirman yang artinya, "Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
Artinya Allah senantiasa mendengar apa yang diucapkan dan Dia lalu
mengetahui apa yang diyakini dalam hati, dan apa yang diperbuat oleh
anggota badan. Dan Allah akan membalas amal seseorang sesuai dengan
iman, perkataan dan perbuatan mereka masing-masing.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Baqarah 256
لَا
إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ
يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ
بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
(256)
(Tidak ada paksaan dalam agama), maksudnya untuk memasukinya.
(Sesungguhnya telah nyata jalan yang benar dari jalan yang salah),
artinya telah jelas dengan adanya bukti-bukti dan keterangan-keterangan
yang kuat bahwa keimanan itu berarti kebenaran dan kekafiran itu adalah
kesesatan. Ayat ini turun mengenai seorang Ansar yang mempunyai
anak-anak yang hendak dipaksakan masuk Islam. (Maka barang siapa yang
ingkar kepada tagut), maksudnya setan atau berhala, dipakai untuk
tunggal dan jamak (dan dia beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia
telah berpegang kepada simpul tali yang teguh kuat) ikatan tali yang
kokoh (yang tidak akan putus-putus dan Allah Maha Mendengar) akan
segala ucapan (Maha Mengetahui) segala perbuatan.

kamu juga
mengatakan karena islam, maka perempuan bisa menjadi pemimpin, tapi
hadits dibawah ini mengatakan sebaliknya. berarti, perempuan bisa
menjadi pemimpin bukan karena akibat islam tapi karena system suatu
negara mengijinkan perempuan untuk menjadi
pemimpin………………..memang bisa tapi kemampuannya dibanding
dengan laki2 secara kodrat jelas lebih lemah dibandingkan dengan
laki2.. …….lihat penjelasan tambahan dibawah ……..

Sahih Bukhari Volume 5, Book 59, Number 709:
Narrated Abu Bakra:
During
the days (of the battle) of Al-Jamal, Allah benefited me with a word I
had heard from Allah’s Apostle after I had been about to join the
Companions of Al-Jamal (i.e. the camel) and fight along with them. When
Allah’s Apostle was informed that the Persians had crowned the daughter
of Khosrau as their ruler, he said, "Such people as ruled by a lady
will never be successful."

Terjemahan :
Diriwayatkan oleh Abu Bakra:
Selama
hari-hari peperangan di Al-Jamal, Allah memberikan anugrah melalui
sebuah kalimat yang aku dengar dari Nabi Allah setelah aku begabung
dengan pasukan di Al-Jamal (pasukan ber-Unta) dan berperang bersama
mereka. Ketika itu Nabi Allah diberitahu bahwa bangsa Persia telah
mengangkat putri dari Khosrau sebagai pemimpin, Nabi Allah
berkata,”Orang-orang yang dipimpin oleh wanita tidak akan pernah
berhasil.”…………………..wanita jelas secara kodrat lebih lemah
dari laki2. Kepala rumah tangga adalah laki2 Yang mencari nafkah adalah
laki. Wanita sudah kodratnya tiap bulan mendapat datang bulan / mens,
hamil, ngidam, melahirkan, menyusui anak, merawat dan mendidik anak
Jadi waktu dan tenaganya lebih banyak tercurah untuk hal2 seperti itu.
ini jelas kemampuannya dalam memimpin jika dibandingkan dengan laki 2
lebih lemah. Saya ingin tanya anad kenapa tuhan tidak pernah menurunkan
nabi / rasul sebagai pemimpin dari jenis kelamin wanita ? itu karena
wanita secara kodrat banyak emmiliki kelemahan dibanding laki…..ok
….sudah mengerti om ?

ceprotceprot wrote on Feb 7
Aku menemukan hadist ini,

http://www.usc.edu/dept/MSA/fundamentals/hadithsunnah/muslim/008.smt.h tml

Book 008, Number 3427:
Umm
Salama said to ‘A’isha (Allah be pleased with her): A young boy who is
at the threshold of puberty comes to you. I, however, do not like that
he should come to me, whereupon ‘A’isha (Allah be pleased with her)
said: Don’t you see in Allah’s Messenger (may peace be upon him) a
model for you? She also said: The wife of Abu Hudhaifa said: Messenger
of Allah, Salim comes to me and now he is a (grown-up) person, and
there is something that (rankles) in the mind of Abu Hudhaifa about
him, whereupon Allah’s Messenger (may peace be upon him) said: Suckle
him (so that he may become your foster-child), and thus he may be able
to come to you (freely).

Terjemahan:
Umm Salam berkata
pada Aisha: Seorang anak muda menjelang akil balik datang padamu. Namun
aku tidak suka dia datang padaku. Mendengar itu Aisha berkata: Tidakkah
kau mencontoh pada rasul Allah? Lalu dia berkata: Istri Abu Hudhaifa
bekata, "Rasul Allah, Salim datang padaku dan dia sekarang seorang
lelaki dewasa, dan ada sesuatu yang mengganggu pikiran Abu Hudhaifa
tentang dia." Mendengar itu rasul Allah berkata, "Susuilah dia (supaya
dia menjadi anak angkatmu) dan karena itu dia bisa bebas mengunjungimu.

dan lucunya Perintah menyusui tsb difatwakan, please check this link
http://news.bbc.co.uk/1/hi/world/middle_east/6681511.stm

luar biasa..!!! konyol

ceprotceprot wrote on Feb 6
kamu
mengatakan tidak ada ancaman bagi yang mau murtad dan tidak ada paksaan
dalam agama islam, lalu hadits ini memerintahkan apa..?

http://www.muslimaccess.com/sunnah/hadeeth/bukhari/052.html
Sahih Bukhari Volume, Book 52, Number 260:

Narrated Ikrima:

Ali
burnt some people and this news reached Ibn ‘Abbas, who said, "Had I
been in his place I would not have burnt them, as the Prophet said,
‘Don’t punish (anybody) with Allah’s Punishment.’ No doubt, I would
have killed them, for the Prophet said, ‘If somebody (a Muslim)
discards his religion, kill him.’ "

terjemahan :
Ali membakar
beberapa orang dan berita ini terdengar oleh Ibn ‘Abbas, yang
berkata,”Jika aku berada di posisinya, aku tidak akan membakar mereka,
seperti yang dikatakan sang Nabi,’Jangan hukum (siapapun) dengan
Hukuman Allah.’ Tidak ragu lagi, aku sudah akan membunuh mereka, karena
Nabi berkata,’Jika seseorang (Muslim) meninggalkan agamanya, bunuh
dia.’”

Hadis Sahih Bukhari, Volume 1, Book 2, Number 24:
Narrated Ibn ‘Umar:
Allah’s
Apostle said: "I have been ordered (by Allah) to fight against the
people until they testify that none has the right to be worshipped but
Allah and that Muhammad is Allah’s Apostle, and offer the prayers
perfectly and give the obligatory charity, so if they perform a that,
then they save their lives an property from me except for Islamic laws
and then their reckoning (accounts) will be done by Allah."

Terjemahan :
Dikisahkan oleh Ibn ‘Umar:
Rasul
Allah berkata, “Aku telah diperintahkan (oleh Allah) untuk memerangi
orang2 sampai mereka mengaku bahwa tidak ada yang patut disembah selain
Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah, dan melakukan sembahyang dengan
sempurna dan membayar zakat, sehingga jika mereka melakukan hal itu,
maka selamatlah nyawa dan harta mereka dariku kecuali dari hukum2 Islam
dan amal mereka akan dihitung oleh Allah.”

kamu juga
mengatakan karena islam, maka perempuan bisa menjadi pemimpin, tapi
hadits dibawah ini mengatakan sebaliknya. berarti, perempuan bisa
menjadi pemimpin bukan karena akibat islam tapi karena system suatu
negara mengijinkan perempuan untuk menjadi pemimpin.

Sahih Bukhari Volume 5, Book 59, Number 709:
Narrated Abu Bakra:
During
the days (of the battle) of Al-Jamal, Allah benefited me with a word I
had heard from Allah’s Apostle after I had been about to join the
Companions of Al-Jamal (i.e. the camel) and fight along with them. When
Allah’s Apostle was informed that the Persians had crowned the daughter
of Khosrau as their ruler, he said, "Such people as ruled by a lady
will never be successful."

Terjemahan :
Diriwayatkan oleh Abu Bakra:
Selama
hari-hari peperangan di Al-Jamal, Allah memberikan anugrah melalui
sebuah kalimat yang aku dengar dari Nabi Allah setelah aku begabung
dengan pasukan di Al-Jamal (pasukan ber-Unta) dan berperang bersama
mereka. Ketika itu Nabi Allah diberitahu bahwa bangsa Persia telah
mengangkat putri dari Khosrau sebagai pemimpin, Nabi Allah
berkata,”Orang-orang yang dipimpin oleh wanita tidak akan pernah
berhasil.”.

n4n4p4tri4 wrote on Feb 5
ma’assalam……… syukur alhamdulillah masi baek sllu dlm lindungan NYA.
makasih ja yah…
salam ukhuwah…..

agamaislam wrote on Feb 4
ceprotceprot
delete reply
ceprotceprot wrote on Feb 3
Kamu
mengatakan aku sesat, menurutku saat ini aku tidak
sesat,………….justru anda sesat karena anda tidak
beragama……siapa tuhan anda dan kitab suci apa yg jadi pegangan anda
? ……. justru pada waktu aku di islam aku merasa diriku sangat benci
terhadap orang lain yang non muslim padahal mereka tidak salah
apapun……..kenapa anda benci ? kita tidak perlu benci kepada mereka
selama mereka tidak menyerang / memerangi kita sebagai umat
islam……….anda salah kaprah…….tidak ada tuh ajaran islam yg
mengajarkan membenci mereka selama mereka bersikap damai dengan
kita……….anda yg salah …jangan salahkan islam……

terima kasih atas kisah2 mualaf yang kamu copy paste itu dan menambah referensiku juga
Sebagai perbandingan, aku juga punya kisah kisah murtadin atas orang orang dibawah ini,
Salman Rushdie,
Mark A Gabriel,
Anwan Shaik,
Ali Sina,
Nonie Darwish,
Walid Shoebat
Ayaan Hirsi Ali,
Hamran Ambrie,

mereka
semua orang terpelajar dan bila kamu belum tahu, kamu bisa cari mereka
di google……………..sudah saya gogle sebagain tidak
ketemu…..kebanyakan mereka murtad karena kesalah dalam menafsirkan
suatu ayat didalam al quraan…………..itulah tanda keawaman mereka
dalam memahami ayat2 al quraan tersebut………..
Aku sedang
mempelajari mengapa orang terpelajar seperti mereka meninggalkan islam,
tentunya ada sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani mereka dan
hal itu yang sekarang mengusik hati nurani ku juga………..itu hak
anda…….. Bila tidak ada ancaman di islam untuk orang yang murtad,
mungkin akan buanyak yang meninggalkan islam…………..siapa yg
ngancam…..mau murtad ? murtad aja……………tidak ada paksaan
dalam agama Islam…………… . Mungkin juga sudah banyak yang
meninggalkan islam tapi secara diam diam……………mau murtad
ribuan orang juga bukan masalah bagi saya,…… masing2 akan
mempertaggungjawabkan semua yg telah diperbuatnya di hadapan Tuhan Yang
Maha Esa kelak……..100 % nggak ada masyalah sama sekali bagi
saya………..Ok ?

mediabilhikmah wrote on Feb 3
Anda
tidak perlu emosi. Jutaan netter islam di belakang anda. Mereka juga
manusia, tetaplah berbuat baik. Anda perlu membaca kristologi dan
buku-buku tingkah laku sex para pastor, diantaranya dalam
www.pakdenono.com dan lain-lain, semoga membantu. Terimakasih.

mediabilhikmah wrote on Feb 3
Assalamu’alaikum.
Jalin Ukhuwah, Perkuat Persatuan, Rapatkan Barisan. Mari kita beri
pengertian orang-orang yang masih terbelenggu dalam kegelapan hati
dalam kekafiran. Dengan Hikmah. Ingatlah, bahwa Umar bin Khatab dahulu
adalah musuh islam, tetapi karena hidayah dari Allah, menjadi salah
satu Khulafaur Rasyidin. Semoga hidayah Allah datang pada orang-orang
yang masih terbutakan. Dan dapat mempelajari Islam secara benar dari
lubuk hati paling dalam. Amiin.

ceprotceprot wrote on Feb 3
Kamu
mengatakan aku sesat, menurutku saat ini aku tidak sesat, justru pada
waktu aku di islam aku merasa diriku sangat benci terhadap orang lain
yang non muslim padahal mereka tidak salah apapun

terima kasih atas kisah2 mualaf yang kamu copy paste itu dan menambah referensiku juga
Sebagai perbandingan, aku juga punya kisah kisah murtadin atas orang orang dibawah ini,
Salman Rushdie,
Mark A Gabriel,
Anwan Shaik,
Ali Sina,
Nonie Darwish,
Walid Shoebat
Ayaan Hirsi Ali,
Hamran Ambrie,

mereka semua orang terpelajar dan bila kamu belum tahu, kamu bisa cari mereka di google.
Aku
sedang mempelajari mengapa orang terpelajar seperti mereka meninggalkan
islam, tentunya ada sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani mereka
dan hal itu yang sekarang mengusik hati nurani ku juga. Bila tidak ada
ancaman di islam untuk orang yang murtad, mungkin akan buanyak yang
meninggalkan islam. Mungkin juga sudah banyak yang meninggalkan islam
tapi secara diam diam.

agamaislam wrote on Feb 3
KISAH - KISAH MUALAF

Jip Hengky Jana P, M.B.A. : Sulit Memahami Doktrin Trinitas
Thursday, 20 October 2005 01:22 mualafindonesia
   
Meski
dilahirkan sebagai keturunan Tionghoa yang secara turun-temurun
menganut agama Budha, tetapi saya tidak mendalami ajaran agama nenek
moyang kami itu. Saya justru lebih paham ajaran gereja. Hal ini bisa
dimaklumi, karena masyarakat keturunan Tionghoa sekarang lebih banyak
yang meninggalkan agama nenek moyangnya, dan lebih memilih agama
Kristen sebagai pegangan hidupnya. Alasannya, karena agama Kristen
dianggap lebih ringan pelaksanaan ibadahnya.
Faktor itu pula yang
menyebabkan saya lebih banyak bergaul dengan kawan-kawan yang beragama
Kristen, balk yang Katolik Roma, Protestan, Pantekosta, Advent, dan
sebagainya. Selain itu, faktor pendidikan formal juga sangat
mempengaruhi keimanan saya. Saya semakin jauh dari wihara dan klenteng
(rumah ibadah orang Tionghoa).

Pendidikan formal saya, sejak TK
sampai SMA, saya ialui di lembaga pendidikan Katolik. Sampai usia
remaja, meski saya tak pernah dibaptis, tetapi saya sudah merasa
sebagai umat Kristen (Katolik) daripada sebagai jemaat wihara (umat
Budha).

Saya dilahirkan pada tanggal 21 Juni 1969 di Semarang,
Jawa Tengah. Keluarga saya keturunan Tionghoa yang sukses sebagai
pengusaha foto dan percetakan. Seperti umumnya masyarakat keturunan
Tionghoa, kedua orang tua saya memeluk agama nenek moyang yang telah
dianut turun temurun, yakni agama Budha.

Tidak berbeda dengan
keluarga Tionghoa yang lain, dalam hal pendidikan agarna, keluarga saya
juga tidak pernah menanamkan keimanan (agama Budha) yang mendalam. lni
barangkali sekadar tradisi saja bahwa nenek moyang kami mewariskan
kebudayaannya itu kepada keturunannya. Dalam ajaran agama Budha
sepertinya tidak ada norma-norma khusus yang mengatur pelaksanaan
ibadah. Ya, seperti aliran kepercayaan saja. Sehingga, tidak sedikit
orang Tionghoa yang notabene pemeluk agama Budha, tetapi masih meyakini
ajaran lain sebagai agamanya, umumnya agama Kristen.

Sebagai
anak sulung dari tiga bersaudara, kedua orang tua kami mengharapkan
agar saya berhasil dalam hidup dan menjadi teladan bagi kedua adik
saya. Sebab itulah, ketika mengijak usia 5 tahun saya dimasukkan ke
Taman Kanak Kanak favorit di kota Semarang, yakni TK Kanisius
Kebondalem, selama dua tahun. SD dan SMP pun saya tempuh di lembaga
yang sama.

Aktivis Gereja

Stammat SMP saya pun
melanjutkan studi di SMA Katolik Kebondalem. Lembaga pendidikan ini
termasuk paling dibanjiri peminat. Jadi, merupakan gengsi tersendiri
bila diterima di sekolah itu. Saat belajar di SMA itulah saya
benar-benar menjadi umat Katolik. Bukan lagi sebagai pemeluk Budha.

Kegiatan-kegiatan
gereja, baik di sekolah maupun di lingkungan masyarakat selalu saya
ikuti dengan tekun. Saya tidak peduli, walaupun tidak pernah dibaptis.
Bahkan, di sekolah sava termasuk siswa yang aktif mengikuti kegiatan
keagamaan, baik di OSIS (seperti peringatan hari besar agama Kristen)
dan juga kegiatan misa di gereja atau kapel sekolah yang rutin diadakan
seminggu sekali.

Rupanya, Tuhan berkenan menolong saya dari
jalan yang sesat. Beberapa tahun yang lalu setelah saya tamat SMA, saga
sering merenung tentang ajaran trinitas yang menjadi landasan pokok
iman kristiani. Sava merasa sulit memahami ajaran itu. Teryata banyak
sekali kejanggalan yang saya temukan.

Mempelajari Islam

Tuhan
Yang Maha Agung membuka pintu hati saya. Di saat saya meragukan
kebenaran ajaran trinitas itu, saya seperti ditunjukkan untuk
mempelajari Islam sebagai perbandingan. Dan ternyata, masya Allah, luar
biasa. Dalam Al-Qur’an dan hadits telah diatur hukum bagi sekalian alam
yang benar adanya.

Tidak lama setelah mendalami kandungan
Al-Qur’an, saya secara rutin belajar agama (Islam) pada seorang guru
ngaji. Masih berstatus sebagai mahasiswa STIE-PPMTT (Pusat Pendidikan
Manajemen dan Teknik Terapan), saya mengucapkan ikrar dua kalimat
syahdat beserta seluruh keluarga.

Alhamdulillah, salah satu adik
saya, Jip Christianto Jana P, telah tamat dari Pondok Pesantren Modem
Gontor, jawa Timur, dan kini kuliah di Akademi Perindustrian Yogyakarta
Jurusan Teknik Mesin. Sedangkan adik saya yang bungsu, Jip Rudi Jana
P., kini rnasih belajar di Pondok Pesantren as-Salam Surakarta.

Sedangkan,
saya sendiri setelah menamatkan pendidikan manajemen dan meraih gelar
Master of Bussines Administration (M.B.A.), kini berwiraswasta di
bidang percetakan. Harapan saya, semoga keluarga kami senantiasa
diterangi petunjuk-Nya. Amin. (Kaswanto/Albaz - dari Buku "Saya memilih
Islam" Penyusun Abdul Baqir Zein, Penerbit Gema Insani Press website : http://www.gemainsani.co.id/)

Ireni (Ny. Han Hoo Lie): Calon Suster yang Membelot
Monday, 19 September 2005 11:48 mualafindonesia
   
SAYA
lahir dari keluarga Katolik yang taat, 45 tahun yang lalu di Surabaya,
Jawa Timur. Nama asli saya Han Hoo Lie, tapi biasa dipanggil Ireni.
Sejak kecil saya sudah mendalami agama. Ketika SD saya ikut privat
agama di biara, dan itu berlangsung hingga saya SMP kelas dua. Mungkin,
lantaran sering bergaul dengan para suster di biara itu, dalam diri
saya timbul keinginan untuk menjadi seorang suster (biarawati).

Dalam
pandangan saya, alangkah mulia dan sucinya seorang biarawati itu,
karena dia telah mengabdikan seluruh hidupnya kepada Tuhan. Dengan
kesederhanaan hati dan penuh kasih sayang mereka membimbing orang
-orang ke arah iman Yesus Kristus. Sungguh, saya ingin sekali seperti
mereka. Keluarga saya mendukung sepenuhnya cita-cita saya itu.

Maka,
untuk mewujudkan cita-cita itu, sejak kecil saya sudah aktif dalam
kegiatan gereja. Karena aktivitas saya itulah, sejak kelas satu SMA
saya sudah terpilih sebagai Ketua Presidium Yunior Ligio Maria.
Organisasi ini bergerak dalam bidang karya, kerasulan, dan doa. Begitu
tamat SMA, saya langsung masuk ke sekolah susteran (biarawati) di
Bandung.

Selama menempuh pendidikan di sekolah biarawati itu,
selain mengikuti kuhah di biara seperti umumnya para calon suster
maupun suster muda, saya bersama salah seorang teman diberi tugas
khusus untuk kuliah di Institut Filsafat dan Teologia Bandung. Saya
tidak tahu mengapa saya yang diberi tugas itu. Memang saya akui, bahwa
di antara teman-teman di biara itu sayalah yang paling kritis. Kalau
ada sesuatu yang nnenurut logika saya tidak nalar, selalu saya
tanyakan. Itulah sifat saya sejak kecil.

Salah satu yang pernah
saya tanyakan adalah konsep trinitas (Tuhan Bapak, Tuhan Anak, dan Roh
Kudus). Juga status Yesus sebagai Tuhan-kalau memang Yesus itu
Tuhan-mengapa tatkala disalib is memanggil-manggil, "Eloy… Eloy…,
lama sabakhtani?" (Allah… Allah…, mengapa Engkau tinggalkan aku?
(Markus 15 ayat 33)).

Dari jawaban jawaban yang diberikan,
semuanya tidak memuaskan hati saya. Jika saya ingin bertanya lagi,
mereka selalu memotong, "Jangan dipertanyakan lagi, yang penting kamu
imam dan yakini dalam hati. Itu sudah cukup." Akhirnya saya diam,
meskipun belum puas. Karena Institut Filsafat dan Teologia ada mata
kuliah studi-perbandingan agama, maka saya pun mempelajari agama-agama
yang ada, termasuk Islam. Sejak saat itulah saya mulai
membanding-bandingkan, misalnya antara Islam dan agama saya.

Tidak
terhitung jumlahnya buku-buku Islam yang saya baca. Cuma, semua buku
itu karangan orang-orang di luar Islam. Entah mengapa, ada larangan
buku-buku Islam yang ditulis orang Islam masuk ke perpustakaan kami.
Untungnya, sejak berangkat dari Surabaya dulu saya sudah membawa
AlQur’an dan terjemahannya dari rumah. Saya juga heran, kok dulu sempat
membawa AI-Qur’an. Mungkin sudah takdir Allah.

Mempelajari Al Qur’an

Terjemahan
Al-Qur’an itulah yang kemudian saga pelajari secara sembunyi-sembunyi
di biara. Entah mengapa, saya begitu tertarik dengan Al-Qur’an itu.
Mungkin karena besarnya keinginan saya untuk membandingkannya dengan
Injil. Belum banyak yang saya pelajari, tiba-tiba saya menemukan surat
al-Ikhlas. "Katakanlah (hai Muhammad) Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah
adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada
beranak, dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang
setara dengan Dia "

Secara tidak sadar, setelah membaca surat
al-Ikhlas itu hati saya mengakui, inilah kosep ketuhanan yang sempurna:
sederhana tapi gamblang.

Meskipun demikian, bukan berarti
kemudian saya bergegas masuk Islam. Pengakuan akan kesempurnaan konsep
ketuhanan Islam itu hanya mengendap dalam pikiran. Saya pun terus
mempelajari Al-Qur’an hingga ketemu surat Al-Hujurat ayat 13. "Hai
manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan
perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya
kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang-orang yang mulia di antara
kamu di sisi Allah adalah orang-orang yang bertakwa."

Apa yang
tertangkap dalam pikiran saya pada waktu itu? Ah, Al-Qur’an ini
mengada-ada. Mana mungkin orang seluruh dunia disuruh saling
berkenalan? Tetapi anehnya, pikirani saya justru terangsang dengan ayat
tersebut. Saya ingin tahu apa maksud Al-Qur’an mengatakan seperti itu.
Sava berdialog dengan diri sendiri untuk mencari jawabannya. Saya
renung-renungkan, bukankah avat itu menunjukan bahwa Islam itu
universal. berlaku untuk semua bangsa dan suku?

Ialu berbagai
pertanyaan timbul dalam benak saya, siapakah pengarang Al-Qur’an itu,
dan sudah berapa kali mengalami penyempurnaan? Pertanyaan itu timbul
karena kitab-kitab suci yang lain sudah mengalami penyempumaan demi
penyempurnaan dari masa ke masa. Lalu, mengapa kitab suci ini diberi
nama Al-Qur’an?

Betapa terkejutnya saga setelah tahu dari
membaca buku bahwa Al-Qur’an itu tidak pernah mengalami penyempurnaan.
Demikian pula namanya bukan hasil pemberian seseorang sebagaimana Injil
yang nama-namanya diambil dari penulisnya. Al-Qur’an temyata wahyu
langsung dari Allah, dan Allah pula yang memberi nama kitab itu
Al-Qur’an.

Saya mulai yakin akan kebenaran Islam. bagi saya
Islam bukan agama buatan manusia yang bernama Muhammad sebagai mana
ditanamkan kepada saya sejak kecil. Islam adalah agama ciptaan Allah.

Masuk Islam

Namun
sampai sejauh itu, saya masih belum mau berikrar untuk menjadi seorang
muslim. Masih ada perasaan gengsi dalam diri saya. Sebab, image yang
tumbuh di lingkungan saya adalah bahwa umat Islam itu bodoh, miskin,
kumuh, dan suka amuk. Anggapan seperti itu tergurat kuat dalam benak
saya.

Namun, agaknya Tuhan punya ketentuan lain. Dalam suatu
perjalanan ke Bandung saya mengalami musibah kecelakaan. Karena
kecelakaan itu, mau tidak mau saya mengambil cuti dari biara, pulang ke
Surabaya. Setelah sembuh saya sempat kuliah di Jakarta mengambil
jurusan sosial kemasvarakatan. Mungkin karena banyak bergaul dengan
mahasiswa-mahasiswa Islam, penilaian saya terhadap Islam menjadi lebih
objektif. Dan, sejak itulah saya sudah tidak berniat lagi untuk kembali
ke biara. Saya merasa biara bukan tempat yang cocok buat saya. Maka,
pada saat pulang ke Surabaya saya segera memutuskan tidak akan kembali
ke biara.

Secara kebetulan, saat itu sava bermimpi yang sama
beberapa kali. Dalam mimpi saya itu, seolah-olah teman-teman di biara
berbaris ke suatu arah, sedangkan saya sendiri berbaris ke arah yang
berlawanan. Mimpi seperti itu berlangsung sampai beberapa hari.
Ditambah lagi, di dalam mimpi itu ada suara yang seakan-akan membisikan
bahwa umur saya tinggal 40 hari lagi.

Pada malam berikutnya
suara itu membisikan umur saya tinggal 39 hari. Setiap hari selalu
berkurang satu hari. Begitu seterusnya. Saya bertanya-tanya, apakah ini
suatu kebetulan atau firasat tertentu? Orang tua saya bingung ketika
saya ceritakan mimpi saya itu. Berbagai jalan mereka tempuh untuk
mengusir mimpi "aneh" itu. sampai-sampai orang tua saya
menyelenggarakan slametan bubur sengkolo. Maksudnya untuk menolak bala.

Akan
tetapi, walaupun sudah dislametin, toh malamnya tetap saja datang hal
yang sama seperti kemarin. Demikian pula hari-hari berikutnya , sampai
waktu 40 hari itu habis. Akhirnya saya berpikir praktis saja, "Apalah
artinya sebuah mimpi. Toh, saya masih hidup meski ‘umur’ saya telah
berakhir menurut numipi itu."

Namun, satu hal yang tidak bisa
saya ingkari adalah suara hati saya sendiri. Suara hati itu selalu
membisikkan, "Kalau memang kamu mengakui kebenaran Islam, mengapa kamu
tidak berahi dan tidak mampu memeluk agama Islam? Apakah selamanya kamu
akan mendustai nuranimu sendiri? Apakah kamu akan terus berada di
persimpangan jalan?" Itulah bisikan-bisikan suara hati saya.

Lama-lama
saya tak kuat lagi membohongi nurani saya sendiri. Akhirnya, sehari
menjelang puasa Ramadhan, tepatnya 11 tahun yang lalu saya pun berikrar
menjadi seorang muslim di Masjid al-Falah, Surabaya. Kini, sampai mati
pun saya ingin tetap sebagai muslim, meski rintangan menghadang jalan
hidup saya. (Bambang S / Albaz - dari Buku "Saya memilih Islam"
Penyusun Abdul Baqir Zein, Penerbit Gema Insani Press website : http://www.gemainsani.co.id/)
Last Updated ( Monday, 14 January 2008 10:08 ) 

Stefanus R Sumangkir (Mantan Pendeta) : Penggeliat Paguyuban Mualaf Tegal
Monday, 15 August 2005 08:00 mualafindonesia
   
Sudah
sekitar tiga tahun terakhir, Stefanus R Sumangkir, bergerak membangun
kelompok yang menjadi ajang berkumpulnya para mualaf (orang yang baru
masuk Islam), di Tegal, Jawa Tengah. Kelompok ini disebut sebagai
Paguyuban Mualaf Kallama. Kini anggotanya sudah mencapai 19 orang.
Kelompok itu berusaha untuk mandiri dengan berupaya semampunya. Dana
untuk organisasi didapat dari iuran anggota dan sumbangan dermawan.
”Paguyuban ini untuk ajang komunikasi dan juga wahana mendalami
Islam,” ujar Sumangkir.

Jalan yang ditempuh Sumangkir untuk
bisa membangun komunitas mualaf ini cukup berliku. Mulanya, Sumangkir
yang kini berusia 56 tahun itu adalah seorang penginjil. Ajaran Kristen
memang telah melekat pada keluarga Sumangkir sejak dia masih kecil.
Pada 1986-1987, Sumangkir dikirim untuk menuntut ilmu di sekolah
teologi di Malang, Jawa Timur. Ilmu-ilmu yang diperlukan untuk jadi
penginjil pun diserapnya. Hingga 1988, Sumangkir dipercaya Gereja
Maranatha Slawi untuk membimbing jemaat.
Dia sempat dikirim ke Desa
Karanggedang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, untuk misi pengkristenan.
Di desa yang mayoritas penduduknya eks-tapol Pulau Buru itu, Sumangkir
rajin mendekati warga agar masuk Kristen. Dengan semangat tinggi,
Sumangkir bisa meluluhkan sebagian hati warga sehingga ada yang memeluk
Kristen. Di Karanggedang ini, Sumangkir mengaku pertama kali mendapat
hidayah dari Tuhan. ”Saat saya menemui seorang yang akan kami
Kristenkan, orang itu bertanya kepada saya tentang Tuhan yang katanya
satu tetapi mencipta dua hukum. Contohnya tentang babi, di mana Kristen
menghalalkan dan Islam mengharamkan. Atas pertanyaan itu saya
kebingungan,” ujarnya mengenang.
Sejak itu dia mencoba membuka-buka
Injil yang menjadi pedoman bagi agama Kristen. Ternyata Surat Imamat 11
ayat 7 menyebutkan babi haram karena memiliki dua kuku yang terbelah.
Namun para pendeta Kristen, saat mengajar di gereja-gereja tak
menyatakan babi haram bagi umat Kristen. Beberapa tahun berlalu.
Sumangkir mendapat tugas mengajar di Gereja Maranata dan GPPS Budimulya
di Slawi, Kabupaten Tegal. Di situ Sumangkir berceramah di hadapan
jemaat tentang babi yang diharamkan. Ternyata ceramah itu menjadi tidak
berkenan bagi majelis gereja yang langsung menskorsnya. Nama Stepanus
Sumangkir dihapus dari daftar penceramah tanpa alasan.
Saat itu
Sumangkir tidak langsung berganti agama, namun tetap saja pada
pendirian sebagai penginjil. Secara mandiri dia aktif mencari sasaran
di tengah masyarakat yang miskin. Kehidupan sebagai penginjil cukup
menopang ekonominya pada waktu itu. Dua anaknya, Euneke Alfa Lidia (16
tahun) dan Critoper Pitagoras (13 tahun) bisa sekolah dan hidup layak.
Di tengah kegalauan jiwanya tentang keyakinan dalam beragama, Sumangkir
mendapat hidayah yang kedua. Kali ini lewat tayangan televisi Indosiar
yang memutar film Ramadhan berjudul Jamaludin Al Afghani. Film tentang
tokoh Islam itu mengetuk hati keluarga Sumangkir untuk memeluk Islam.
Dari sinilah ghirah Islamnya terus tumbuh, sampai akhirnya dia
membangun Paguyuban Mualaf Kallama.
Mulanya, kelompok ini menggelar
pengajian rutin setiap malam Senin, bertempat di rumah Sumangkir di
Jalan Murbei No 16, Kelurahan Kraton, Kecamatan Tegal Barat, Kota
Tegal. Mereka biasanya memanggil ustadz untuk menambah ilmunya. Anggota
paguyuban mualaf yang dipimpin Sumangkir terkadang harus lapang dada
diperlakukan tidak adil. Perlakuan seperti ini, misalnya, pernah
dialami Gunawan yang bekerja di sebuah toko emas di Kota Tegal. Sejak
lama Gunawan menjadi penganut Katolik yang taat, namun akhirnya dia
memilih masuk Islam. Saat masih memeluk Katolik, lingkungan tempatnya
bekerja terbilang kondusif. Namun, begitu Gunawan ketahuan setiap Jumat
pamit ke masjid untuk shalat Jumat, pemilik toko menjadi kurang
berkenan. Akhirnya Gunawan dipecat.
Karena kebutuhan ekonomi,
akhirnya para mualaf yang semula aktif mengikuti kegiatan pengajian
menjadi berkurang. ”Ya saya maklum, mereka harus bisa menghidupi
keluarga. Sehingga, mereka memilih keluar kota mencari pekerjaan,”
tutur Sumangkir. Sumangkir sendiri menggantungkan hidupnya sebagai
penceramah dibantu istrinya, Siti Fatimah, juga mualaf, yang tiap hari
berjualan nasi gudeg. Karena faktor kesibukan itu, aktivitas Paguyuban
Mualaf Kallama tak lagi rutin. Namun, Sumangkir tetap ingin
menjalankannya. Kini sedang dirintis agar paguyuban itu bisa menjadi
ajang usaha bersama.
Beberapa anggota yang memiliki keahlian akan
dirangkulnya. Sumangkir yang piawai dalam membuat papan reklame dan
sablon, akan merintis usaha dalam bidang tersebut. Cuma, katanya, kini
belum punya modal. Untuk membangun usaha reklame memang diperlukan
peralatan seperti kompresor, dan peralatan sablon yang harganya cukup
mahal. Bersama anggotanya, dia akan terus berupaya agar ada penghasilan
yang bisa menghidupi keluarganya dan Paguyuban Mualaf Kallama. Sumber :
Harian Republika, http://www.republika.co.id

Situa Ojak Hutagaol (H. Abd. Razak H.) : Menemukan Kebenaran dalam Islam
Monday, 11 July 2005 08:31 mualafindonesia
   
Saya,
ketika itu, begitu bangga menjadi umat kristiani. Bahkan, saya sering
mengejek umat Islam dengan kata-kata kotor. Bagi saya waktu itu, Islam
tak lebih sebagai agamanya orang-orang miskin yang kotor dan
menjijikkan. Tapi, setelah saya mengenal Islam lebih jauh dan mulai
bersahabat dengan orang Islam, baru saya mengerti bahwa Islam adalah
agama yang suci.
ISLAM adalah agama hakiki yang dapat dikaji dan
didiskusikan. Islam juga tak berseberangan dengan alam rasional
sehingga kebenaran dapat ditemukan dalam Islam. Nama saya sekarang H.
Abdul Razak Hutagaol (43), tapi sebelum Islam saya dikenal dengan nama
Situa Oak Hutagaol. Saya seorang aktivis Gereja HKBP (Huria Kristen
Batak Protestan) Tanjung Priok, Jakarta Utara. Saya menjadi muslim pada
tanggal 16 September 1997 di Masjid Syuhada, Yogyakarta. Alhamdulillah,
sebulan kemudian saya menunaikan ibadah umrah. Bahkan, setahun kemudian
saya menunaikan ibadah haji. (Amien, Red.)

Keluarga kami sangat
taat beragama. Papi saya adalah seorang akhvis gereja sehingga saya dan
seluruh keluarga selalu mempelajari agama. Teringat ketika masih kecil,
papi sering menyuruh saya untuk datang ke gereja. Bahkan kalau tak mau,
ia sering memarahi saya.

Proses awal saya masuk Islam, melalui
pengkajian pendalaman terhadap Alkitab (Bibel) yang saya bandingkan
dengan kitab suci Al-Qur’an. Temyata Al-Qur’an lebih konsisten, baik
dalam redaksi maupun ajarannya.
Saya, ketika itu, begitu bangga
menjadi umat kristiani. Bahkan, saya sering mengejek umat Islam dengan
kata-kata kotor. Bagi saya waktu itu, Islam tak lebih sebagai agamanya
orang-orang miskin yang kotor dan menjijikkan. Tapi, setelah saya
mengenal Islam lebih jauh dan mulai bersahabat dengan orang Islam, baru
saya mengerti bahwa Islam adalah agama yang suci.
Di antara perintah
(ayat) Injil yang tidak dipatuhi umat Kristen adalah soal keharusan
memakal kerudung bagi kaum wanitanya, termasuk perintah tak boleh
memakan daging babi, seperti tertuang dalam Injil Matius 5:17 dan
Imamat 11: 7. Umat Kristen tak mempedulikan larangan ini. Lain halnya
dengan Islam yang selalu menaati perintah tersebut.

Lalu masalah
teologi, yakni konsep ketuhanan yang sangat membingungkan dan tak masuk
akal, yaitu mengenai masalah trinitas (Tuhan Bapa, Tuhan Anak, dan Roh
Kudus). Jadi, menurut saya, falsafah Kristen itu sudah tak dapat
dipercaya.

Saya juga memperhatikan munculnya aliran (sekte) yang
ada di dalam agama Kristen Misalnya, ada pendeta di Guyana, Amerika
Latin, yang memerintahkan jemaatnya untuk melakukan bunuh diri massal,
dengan tujuan ingin bertemu Tuhan Ini menurut saya tak masuk akal. Tapi
dalam Islam, seperti di pesantren-pesantren atau di majelis-majelis
taklim, tak pernah ada hal semacam itu.

Sebab itu, saya bertekad
untuk mendalami Islam lebih jauh. Dan, ternyata Islam memberikan
cakrawala berpikir lebih rasional. Sehingga Islam itu bisa dikaji dan
didiskusikan seperti mengenai masalah haram, makruh, halal, dan
lainnya. Islam itu juga tak mengenal dogma-dogma.

Saya juga
teringat pada awal masuk Islam, ada kejadian aneh yang saya alami –
mungkin tidak ada orang yang percaya. Ceritanya terjadi ketika saya
sedang mengalami kesulitan ekonomi. Ada suara aneh dan sangat kasar
menyuruh saya untuk membaca Al-Qur’an dan melakukan shalat. Perintah
ini jelas sekali terdengar sampai tiga kali berturut-turut.

Saya
waktu itu dalam keadaan sadar. Saya tak mengerti, apakah suara itu
suara jin atau apa. Tapi, saya berpikir keras. Setelah proses mengkaji
itu, mungkin ini perintah Allah kepada saya. Kejadian ini seringkali
muncul ketika saya sedang dalam keadaan susah.

Saya
mengibaratkan kejadian yang selalu mendadak ini sebagai ilham kepada
saya. Apa yang selama ini saya anggap gaib, ternyata dapat saya
rasakan. Hingga akhirnya saya memilih Islam sebagai pegangan hidup.

Sebulan
kemudian, saya menjalankan ibadah umrah yang dibiayai oleh Haji
Darmanto. Selesai umrah, saya banyak belajar mendalami Islam dengan
bimbingan Ustadz Drs. H. Syamsul Arifin Nababan, pimpinan Yayasan
Pendidikan Muallaf. Saya juga terus mendalami Islam di yayasan
pendidikan Islam serta pesantren-pesantren lainnya.

Cobaan Iman

Setelah
masuk Islam, banyak pula cobaan yang menimpa saya. Di antaranya waktu
kembali dari ibadah umrah, saya ditangkap polisi atas tuduhan perbuatan
yang tidak menyenangkan atas pengaduan orang tua saya. Dan ternyata,
penangkapan itu dipimpin oleh ipar saya sendiri. Tapi akhirnya
persoalan selesai dan semuanya telah saya maafkan.

Sedangkan
orang tua saya sekarang ini masih belum bisa memaafkan saya. la belum
juga mau menjumpai saya, walaupun saya sudah melakukan kompromi dengan
berbagai pihak untuk mengadakan pertemuan itu. Tapi, sampai saat ini
belum berhasil. Mudah-mudahan Allah bisa memberikan hidayah kepadanya.

Saya
juga mengalami cobaan dalam hal ekonomi. Dulu, saya seorang kontraktor
yang sukses dan hidup sangat kecukupan. Tapi, sekarang ini saya diuji
Allah, dengan dihilangkan sebagian dari harta yang saya miliki.
Sekarang saya hidup sederhana.

Saya cukup pusing dengan sikap
anak-anak saya yang tidak mau menerima kenyataan ini. Mereka selalu
bertanya, "Mengapa dulu sebelum ayah masuk Islam hidup kita
berkecukupan, bisa punya mobil mewah, bisa beli apa yang diinginkan.
Tapi sekarang, setelah ayah masuk Islam hidup kita menjadi susah?"

Pertanyaan-pertanyaan
inilah yang membuat saya sedih. Bagaimana saya harus menerangkan kepada
anak-anak saya itu? Saya hanya bisa meneteskan air mata. Hanya bisa
memohon kepada Allah dan selalu berzikir dan terus berusaha. Karena
anak-anak saya belum bisa menerima Islam, sedangkan istri saya sudah
dapat menerima dan sudah saya islamkan.

Saya terus berusaha
membuktikan kepada anak-anak kami bahwa sebenarnya Islam itu tidak
membuat orang jadi melarat. Allah juga membuktikannya kepada saya
melalui rezeki yang tak diduga-duga. Ini saya yakini sebagai anugerah
Allah kepada saya. (dari Buku "Saya memilih Islam" Penyusun Abdul Baqir
Zein, Penerbit Gema Insani Press website : http://www.gemainsani.co.id/).
Last Updated ( Monday, 14 January 2008 10:23 )

Abraham David Mandey : Pendeta yang mendapat Hidayah Allah
Friday, 24 June 2005 10:00 mualafindonesia
   
Barangkali
tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa perjalanan hidupnya merupakan
suatu kasus yang langka dan unik. Betapa tidak, Abraham David Mandey
yang selama 12 tahun mengabdi di gereja sebagai "Pelayan Firman Tuhan
", istilah lain untuk sebutan pendeta, telah memilih Islam sebagai
"jalan hidup" akhir dengan segala risiko dan konsekuensinya. Di samping
itu, ia yang juga pernah menjadi perwira TNI-AD dengan pangkat mayor,
harus mengikhlaskan diri melepas jabatan, dan memulai karir dari bawah
lagi sebagai kepala keamanan di sebuah perusahaan swasta di Jakarta.
Cerita
Beliau ini, - mohon maaf - tidak bermaksud untuk menjelek-jelekan
Institusi tertentu karena apa yang telah terjadi Beliau terima dengan
ikhlas dan tawakal, Beliau hanya ingin menceritakan proses bagaimana
Beliau mendapat hidayah dan tantangannya sebagai mualaf - red.
Saya
terlahir dengan nama Abraham David di Manado, 12 Februari 1942.
Sedangkan, Mandey adalah nama fam (keluarga) kami sebagai orang
Minahasa, Sulawesi Utara. Saya anak bungsu dan tiga bersaudara yang
seluruhnya laki-laki. Keluarga kami termasuk keluarga terpandang, baik
di lingkungan masyarakat maupun gereja. Maklum, ayah saya yang biasa
kami panggil papi, adalah seorang pejabat Direktorat Agraria yang
merangkap sebagai Bupati Sulawesi pada awal revolusi kemerdekaan
Republik Indonesia yang berkedudukan di Makasar. Sedangkan, ibu yang
biasa kami panggil mami, adalah seorang guru SMA di lingkungan sekolah
milik gereja Minahasa.

Sejak kecil saya kagum dengan
pahlawan-pahlawan Perang Salib seperti Richard Lion Heart yang
legendaris. Saya juga kagum kepada Jenderal Napoleon Bonaparte yang
gagah perwira. Semua cerita tentang kepahlawanan, begitu membekas dalam
batin saya sehingga saya sering berkhayal menjadi seorang tentara yang
bertempur dengan gagah berani di medan laga.

Singkatnya, saya
berangkat ke Jakarta dan mendaftar ke Mabes ABRI. Tanpa menemui banyak
kesulitan, saya dinyatakan lulus tes. Setelah itu, saya resmi mengikuti
pendidikan dan tinggal di asrama. Tidak banyak yang dapat saya
ceritakan dari pendidikan militer yang saya ikuti selama 2 tahun itu,
kecuali bahwa disiplin ABRI dengan doktrin "Sapta Marga"-nya telah
menempa jiwa saya sebagai perwira remaja yang tangguh, berdisiplin, dan
siap melaksanakan tugas negara yang dibebankan kepada saya.

Meskipun
dipersiapkan sebagai perwira pada bagian pembinaan mental, tetapi dalam
beberapa operasi tempur saya selalu dilibatkan. Pada saat-saat operasi
pembersihan G-30S/PKI di Jakarta, saya ikut bergabung dalam komando
yang dipimpin Kol. Sarwo Edhie Wibowo (almarhum).

Setelah
situasinegara pulih yang ditandai dengan lahirnya Orde Baru tahun 1966,
oleh kesatuan saya ditugaskan belajar ke STT (Sekolah Tinggi Teologi)
milik gereja Katolik yang terletak di Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat.
Di STI ini, selama 5 tahun (1966-1972) saya belajar, mendalami,
mengkaji, dan diskusi tentang berbagai hal yang diperlukan sebagai
seorang pendeta. Di samping belajar sejarah dan filsafat agama Kristen.
STT juga memberikan kajian tentang sejarah dan filsafat agama-agama di
dumia, termasuk studi tentang Islam.

Menjadi Pendeta.

Sambil
tetap aktif d TNI-AD, oleh Gereja Protestan Indonesia saya ditugaskan
menjadi Pendeta II di Gereja P***** (edited) di Jakarta Pusat,
bertetangga dengan Masjid Sunda Kelapa. Di gereja inilah, selama kurang
lebih 12 tahun (1972-1984) saya memimpin sekitar 8000 jemaat yang
hampir 80 persen adalah kaum intelektual atau masyarakat elit.

Di
Gereja P***** (edited) ini, saya tumpahkan seluruh pengabdian untuk
pelayanan firman Tuhan. Tugas saya sebagai Pendeta II, selama
memberikan khutbah, menyantuni jemaat yang perlu bantuan atau mendapat
musibah, juga menikahkan pasangan muda-mudi yang akan berumah tangga.

Kendati
sebagai pendeta, saya juga anggota ABRI yang harus selalu siap
ditugaskan di mana saja di wilayah Nusantara. Sebagai perwira ABRI saya
sering bertugas ke seluruh pelosok tanah air Bahkan, ke luar negeri
dalam rangka tugas belajar dari markas, seperti mengikuti kursus staf
Royal Netherland Armed Forces di Negeri Belanda. Kemudian, pada tahun
1969 saya ditugaskan untuk mengikuti Orientasi Pendidikan Negara-negara
Berkembang yang disponsoni oleh UNESCO di Paris, Prancis.

Dilema Rumah Tangga

Kesibukkan
saya sebagai anggota ABRI ditambah tugas tugas gereja, membuat saya
sibuk luar biasa. Sebagaipendeta, saya lebih banyak memberikan
perhatian kepada jemaat. Sementara,kepentingan pribadi dan keluarga
nyaris tergeser. Istri saya, yang putri mantan Duta Besar RI di salah
satu negara Eropa, sering mengeluh dan menuntut agar saya memberikan
perhatian yang lebih banyak buat rumah tangga.

Tetapi yang
namanya wanita, umumnya lebih banyak berbicara atas dasar perasaan.
Karena melihat kesibukan saya yang tidak juga berkurang, ia bahkan
meminta agar saya mengundurkan diri dan tugas-tugas gereja, dengan
alasan supaya lebih banyak waktu untuk keluarga. Tenth saja saya tidak
dapat menerima usulannya itu. Sebagai seorang "Pelayan Firman Tuhan"
saya telah bersumpah bahwa kepentingan umat di atas segalanya.

Problem
keluarga yang terjadi sekitar tahun 1980 ini kian memanas, sehingga bak
api dalam sekam. Kehidupan rumah tangga saya, tidak lagi harmonis.
Masalah-masalah yang kecil dan sepele dapat memicu pertengkaran. Tidak
ada lagi kedamaian di rumah. Saya sangat mengkhawatirkan Angelique,
putri saya satu-satunya. Saya khawatir perkembangan jiwanya akan
terganggu dengan masalah yang ditimbulkan kedua orang tuanya. Oleh
karenanya, saya bertekad harus merangkul anak saya itu agar ia mau
mengerti dengan posisi ayahnya sebagai pendeta yang bertugas melayani
umat. Syukur, ia mau mengerti. Hanya Angeliquelah satu-satunya orang di
rumah yang menyambut hangat setiap kepulangan saya.

Dalam
kesunyian malam saat bebas dan tugas-tugas gereja, saya sering
merenungkan kehidupan ramah tangga saya sendiri. Saya sering berpikir,
buat apa saya menjadi pendeta kalau tidak mampu memberikan kedamaian
dan kebahagiaan buat rumah tangganya sendiri. Saya sering memberikan
khutbah pada setiap kebaktian dan menekankan hendaknya setiap umat
Kristen mampu memberikan kasih kepada sesama umat manusia. Lalu,
bagaimana dengan saya?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu semakin
membuat batin saya resah. Saya mencoba untuk memperbaiki keadaan.
Tetapi, semuanya sudah terlambat. Istri saya bahkan terang terangan
tidak mendukung tugas-tugas saya sebagai pendeta. Saya benar-benar
dilecehkan. Saya sudah sampal pada kesimpulan bahwa antara kami berdua
sudah tidak sejalan lagi.

Lalu, untuk apa mempertahankan rumah
tangga yang sudah tidak saling sejalan? Ketika niat saya untuk
"melepas" istri, saya sampaikan kepada sahabat-sahabat dekat saya
sesama pendeta, mereka umumnya menyarankan agar saya bertindak lebih
bijak. Mereka mengingatkan saya, bagaimana mungkin seorang pendeta yang
sering menikahkan seseorang, tetapi ia sendiri justru menceraikan
istrinya? Bagaimana dengan citra pendeta di mata umat? Begitu mereka
mengingatkan.

Apa yang mereka katakan semuanya benar. Tetapi,
saya sudah tidak mampu lagi mempertahankan bahtera rumah tangga. Bagi
saya yang terpenting saat itu bukan lagi persoalan menjaga citra
pendeta. Tetapi, bagaimana agar batin saya dapat damai. Singkatnya,
dengan berat hati saya terpaksa menceraikan istri saya. Dan, Angelique,
putri saya satu-satunya memilih ikut bersama saya.

Mencari Kedamaian

Setelah
kejadian itu, saya menjadi lebih banyak melakukan introspeksi. Saya
menjadi lebih banyak membaca literatur tentang filsafat dan agama.
Termasuk kajian tentang filsafat Islam, menjadi bahan yang paling saya
sukai. Juga mengkaji pemikiran beberapa tokoh Islam yang banyak
dilansir media massa.

Salah satunya tentang komentar K.H. E.Z.
Muttaqin (almarhum) terhadap krisis perang saudara di Timur Tengah,
seperti diYerusalem dan Libanon. Waktu itu (tahun 1983), K.H.E.Z.
Muttaqin mempertanyakan dalam khutbah Idul Fitrinya, mengapa Timur
Tengah selalu menjadi ajang mesiu dan amarah, padahal di tempat itu
diturunkan para nabi yang membawa agama wahyu dengan pesan kedamaian?

Saya
begitu tersentuh dengan ungkapan puitis kiai dan Jawa Barat itu.
Sehingga, dalam salah satu khutbah saya di gereja, khutbah Idul Fitni
K.H. E.Z. Muttaqin itu saya sampaikan kepada para jemaat kebaktian.
Saya merasakan ada kekagetan di mata para jemaat. Saya maklum mereka
terkejut karena baru pertama kali mereka mendengar khutbah dari seorang
pendeta dengan menggunakan referensi seorang kiai Tetapi, bagi saya itu
penting, karena pesan perdamaian yang disampaikan beliau amat manusiawi
dan universal.

Sejak khutbah yang kontroversial itu, saya banyak
mendapat sorotan. Secara selentingan saya pemah mendengar "Pendeta
Mandey telah miring." Maksudnya, saya dinilai telah memihak kepada
salah satu pihak. Tetapi, saya tidak peduli karena yang saya sampaikan
adalah nilai-nilai kebenaran.

Kekaguman saya pada konsep
perdamaian Islam yank diangkat oleh KH. E.Z. Muttaqin, semakin menarik
saya lebih kuat untuk mendalami konsepsi-konsepsi Islam lainnya. Saya
ibarat membuka pintu, lalu masuk ke dalamnya, dan setelah masuk, saya
ingin masuk lagi ke pintu yang lebih dalam. Begitulah perumpamaannya.
Saya semakin "terseret" untuk mendalami, konsepsi Islam tentang
ketuhanan dan peribadahan

Saya begitu tertarik dengan konsepsi
ketuhanan Islam yang disebut "tauhid". Konsep itu begitu sederhana,
lugas, dan tuntas dalam menjelaskan eksistensi Tuhan yang oleh orang
Islam disebut Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sehingga, orang yang paling
awam sekalipun akan mampu mencemanya. Berbeda dengan konsepsi ketuhanan
Kristen yang disebut Trinitas. Konsepsi ini begitu rumit, sehingga
diperlukan argumentasi ilmiah untuk memahaminya.

Akan halnya
konsepsi peribadatan Islam yang disebut syariat, saya melihatnya begitu
teratur dan sistematis. Saya berpikir seandainya sistemper ibadatan
yang seperti ini benar benar diterapkan, maka dunia yang sedang kacau
ini akan mampu di selamatkan.

Pada tahun 1982 itulah saya
benar-benar mencoba mendekati Islam. Selama satu setengah tahun saya
melakukar konsultasi dengan K.H. Kosim Nurzeha yang juga aktif di
Bintal (Pembinaan Mental) TNI-AD. Saya memang tidak ingin gegabah dan
tergesa-gesa, karena di samping saya seorang pendeta, saya juga seorang
perwira Bintal Kristen dilingkungan TNI-AD. Saya sudah dapat menduga
apa yang akan terjadi seandainya saya masuk Islam.

Tetapi, suara
batin saya yang sedang mencari kebenaran dan kedamaian tidak dapat
diajak berlama-lama dalam kebimbangan. Batin saya mendesak kuat agar
saya segera meraih kebenaran yang sudah saya temukan itu.

Oh,
ya, di samping Pak Kosim Nurzeha, saya juga sering berkonsultasi dengan
kolega saya di TNI-AD. Yaitu, Dra. Nasikhah M., seorang perwira Kowad
(Korps.Wanita Angkatan Darat) yang bertugas pada BAIS (Badan Intelijen
dan Strategi) ABRI.

Ia seorang muslimah lulusan UGM (Universilas
Gajah Mada) Yogyakarta, jurusan filsafat. Kepadanya saya sering
berkonsultasi tentang masalah-masalah pribadi dan keluarga. Ia sering
memberi saya buku-buku bacaan tentang pembinaan pribadi dan keluarga
dalam Islam. Saya seperti menemukan pegangan dalam kegundahan sebagai
duda yang gagal dalam membina rumah tangganya.

Akhirnya, saya
semakin yakin akan hikmah dibalik drama rumah tangga saya. Saya yakin
bahwa dengari jalan itu, Tuhan ingin membimbing saya ke jalan yang
lurus dan benar. Saya bertekad, apa pun yang terjadi saya tidak akan
melepas kebenaran yang telah saya raih ini.

Akhimya, dengan
kepasrahan yang total kepada Tuhan, pada tanggal 4 Mei 1984 saya
mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat dengan bimbingan Bapak K.H.
Kosim Nurzeha dan saksi Drs. Farouq Nasution di Masjid Istiqial. Allahu
Akbar. Hari itu adalah hari yang amat bersejarah dalam hidup saya. Han
saat saya menemukan diri saya yang sejati.

Menghadapi Teror

Berita
tentang keislaman saya ternyata amat mengejutkan kalangan gereja,
termasuk di tempat kerja saya di TNI-AD. Wajar, karena saya adalah
Kepala Bintal (Pembinaan Mental)Kristen TNI-AD dan di gereja, saya
adalah pentolan.

Sejak itu saya mulai memasuki pengalaman baru,
yaitu menghadapi tenor dan berbagai pihak. Telepon yang bernada ancaman
terus berdening. Bahkan, ada sekelompok pemuda gereja di Tanjung Priok
yang bertekad menghabisi nyawa saya, karena dianggapnya telah murtad
dan mempermalukan gereja.

Akan halnya saya, di samping
menghadapi teror, juga menghadapi persoalan yang menyangkut tugas saya
di TNI AD. DGI (Dewan Gereja Indonesia), bahkan menginim surat ke
Bintal TNT-AD, meminta agar saya dipecat dan kedinasan dijajaran ABRl
dan agar saya mempertanggungjawabkan perbuatan saya itu di hadapan
majelis gereja.

Saya tidak penlu menjelaskan secara detail
bagaimana proses selanjutnya, karena itu menyangkut rahasia Mabes ABRI.
Yang jelas setelah itu, saya menerima surat ucapan tenima kasih atas
tugas-tugas saya kepada negara, sekaligus pembebastugasan dan jabatan
saya di jajaran TNT-AD dengan pangkat akhir Mayor.

Tidak ada
yang dapat saya ucapkan, kecuali tawakal dan ménerima dengan ikhlas
semua yang tenjadi pada diri saya. Saya yakin ini ujian iman.

Saya
yang terlahir dengan nama Abraham David Mandey, setelah muslim menjadi
Ahmad Dzulkiffi Mandey, mengalami ujian hidup yang cukup berat.
Alhamdulillah, berkat kegigihan saya, akhirnya saya diterima bekerja di
sebuab perusahaan swasta. Sedikit demi sedikit kanin saya terus
menanjak. Setelah itu, beberapa kali saya pindah kerja dan menempati
posisi yang cukup penting. Saya pennah menjadi Manajer Divisi Utama FT
Putera Dharma. Pernah menjadi Personel/General Affairs Manager Hotel
Horison, tahun 1986-1989, Dan, sejak tahun 1990 sampai sekarang saya
bekerja di sebuah bank terama di Jakarta sebagai Safety & Security
Coordinator.

Kini, keadaan saya sudah relatif baik, dan saya
sudah meraih semua kebahagiaan yang selama sekian tahun saya rindukan.
Saya sudah tidak lagi sendiri, sebab Dra. Nasikhah M, perwira Kowad
itu, kini menjadi pendamping saya yang setia, insya Allah selama hayat
masih di kandung badan. Saya menikahinya tahun 1986. Dan, dan perikahan
itu telah lahir seorarig gadis kedil yang manis dan lucu, namariya
Achnasya. Sementara, Angelique, putri saya dari istri pertama, sampai
hari ini tetap ikut bersama saya, meskipun ia masih tetap sebagai
penganut Protestan yang taat.

Kebahagiaan saya semakin bertambah
lengkap, tatkala saya mendapat kesempatan menunaikan ibadah haji ke
Tanah Suci bersama istri tercinta pada tahun 1989.
Last Updated ( Monday, 14 January 2008 10:20 )

G.M. Sudarta : Kembali kepada Keagungan Islam
Monday, 13 June 2005 21:00 mualafindonesia
   
Nama
saya Geradus Mayela Sudarta, biasa disingkat G.M. Sudarta. Saya lahir
pada hari Rabu Kliwon di Desa Kauman, Klaten, Jawa Tengah tepatnya pada
20 February 1948. Saya putra bungsu dari pasangan Hardjowidjoyo dan
Sumirah.
Keluarga besar saya, separo Katolik dan separo Islam. Ayah
saya Islam Kejawen atau kebatinan, sedangkan ibu saya muslimah. Sejak
kecil sebenarnya saya sudah bersyahadat, tapi dalam bahasa Jawa. Meski
kemudian ketika menjelang remaja saya dipermandikan (dibaptis). Ini
mungkin karena pengaruh adik-adik ayah (paman) yang beragama Katolik.
Saya sering ikut ke Gereja bersama mereka. Karena seringnya ke Gereja,
saya pernah berujar, "Mendengarkan lagu Gregorian itu sama indahnya
seperi mendengar Adzan.".
Walaupun saya sudah dibaptis dan sering
diajak ke Gereja, namun saya seperti tidak beragama Kristen Katolik
saja, saya juga merasa sudah begitu akrab dengan agama Islam. Ibu dan
saudara-saudara ibu, juga berasala dari keluarga muslim, jadi dapat
saya katakan saya sudah begitu akrab dengan Islam.
Ketika saya di
SMP saya bahkan pernah menjadi Ketua Rating PII (Pelajar Islam
Indonesia) di sekolah. Ketika SMA, saya terlbat dalam pendirian Teater
Akbar bersama Deddy Soetomo. Kebetulan, anggotanya kebanyakan dari PII.
Teater yang saya dirikan sering menjuarai Festival HSBI (Himpunan Seni
Budaya Islam).
Teater kami sering membawakan naskah-naskah karya
ARifin C. Noer, salah satunya adalah naskah yang berjudul Amniah.
Naskah ini sering kami pentaskan. Bahkan dalam Kongres PII, Teater
Akbar menjadi juara pada festival seninya.
Akibat kemenangan ini,
sebuah surat kabar terbitan Semarang menulis, tidak semua anggota
Teater Akbar orang muslim. Posisi saya dalam teater ini menjadi serba
salah. Padahal saya hanya penata panggung dan kadang-kadang figuran.
Pernyataan surat kabar ini pastilah ditujukan kepada saya.
Bagi
saya, ini bukan masalah, dalam hal ini saya beruntung dibela oleh
sastrawan O’Galelano. Menurutnya yang penting adalah estetika nya.
Muslim atau bukan, yang penting bagus.
Selain aktif di dunia teater,
saya juga bergaul dengan teman-teman muslim. Dari sanalah saya mulai
membaca buku tentang keagamaan. Selain itu, saya juga membaca buku-buku
Tan Malaka dan sejenisnya, serta buku yang lebih bersifat
eksistensialis. Saya selalu bertanya, sehingga saya makin berfikir
untuk mencari sebab dan akibat kehidupan.
Saya hidup untuk apa ?
apalagi anggota Pelukis Rakyat banyak mempengarushi saya, sehingga saya
bersimpati pada perjuangan mereka, karena ada sebagian anggota yang
ikut menjawab pertanyaan saya. Tapi, itu tidak begitu lama. Akhirnya
saya terus berfikir untuk mencari tahu. Saya pernah berfikir, Tuhan
adxa atau tidak ada, tidak menjadi soal.

Sering Ziarah
Untuk
menjawab itu, saya sering pergi kebeberapa makan Sunan (Wali). Saya
sering tidur di makam Syekh Maulana Yusuf di Banten, makam Sunan Kudus,
bahkan sampai ke Gresik. Namun, pertanyaan itu makin gencar dalam hati
saya, walaupun saya sadar tidak akan terjawab. Saya banyak mencari-cari
terutama hal-hal yang musykil.
Perjalanan ziarah itu bukanlah untuk
mencari apa-apa. Bahkan saya tidak tahu untuk apa. Pertanyaan itulah
yang menuntun saya mengunjungi atau menziarahi makam para sunan, bahkan
sampai tidur disana. Yang jelas saya mencari pertanyaan yang tidak
pernah terjawab tentang Tuhan.
Dari perjalanan mengunjungi makam
para wali itu, saya pernah mengalaim kejadian aneh. Di saat saya
mengunjungi makan Syekh Maulana Yusuf di Banten, saya di datangi
seorang Arab berbaju putih dan bersorban, dengan logat yang kaku ia
berbicara tentang nabi Isa AS. Orangnya pintar sekali.
Selanjutnya
orang itu menjabat tangan saya, anehnya bau wanginya selama satu minggu
tidak hilang, walaupun sering saya cuci. Dari situ saya mencari orang
itu sampai ke Kudus dan tempat lain. Saya mencari orang itu tapi tidak
ketemu.
Walaupun saya bukan seorang muslim, namun mengunjungi makam
para wali sangat berarti bagi saya. Selain mencari jawaban atas hakikat
hidup, sekaligus juga untuk mencari inspirasi dalam usaha kerja saya
sebagai sorang kartunis (Aktif dalam Harian Kompas http://www.kompas.co.id , Red).
Dari
perjalan ziarah inilah, saya menemukan kedamaian dan ketenangan. Banyak
hal yang saya temukan. Yang jelas saya kini mendapatkan ketenangan.
Walaupun saya masih dalam tahap mempelajari Islam, namun saya sudah
mendapatkan karunia itu. Oleh Tuhan saya dititipi sepasang anak kembar.
Dari
semua itu semakin menyadarkan saya, bahwa pegangan yang sederhana
tetapi mempunyai kekuatan yang luar biasa adalah agama. dan doa kita
itu pasti diterima dan dikabulkan Tuhan.
Agama, inilah jawaban yang
saya terima dari perjalanan saya mengunjungi makam para wali untuk
mencari hakikat hidup. Saya benar-benar disadarkan akan pentingnya
sebuah pegangan hidup; Agama - yang menjadi pegangan mengarungi lautan
kehidupan.

Masuk Islam
Dari apa yang telah dititipkan Tuhan
pada saya — sepasang anak kembar — saya kembali disadarkan oleh rasa
keberagamaan saya. Aryo Damar, anak saya yang laki-laki, sejak berusia
tiga bulan sampai sekarang, bila ada adzan Magrib di televisi, ia tidak
mau melepaskan diri dari depan kaca televisi. Kalaupun sedang menangis,
ia berhenti dahulu untuk mendengarkan adzan. Kejadian ini saya rekam
dan saya abadikan dalam kaset video. Kelakuan anak saya ini semakin
memperingatkan dan membuat saya yakin bahwa pegangan paling sederhana
dan mempunyai kekuatan adalah Agama.
Akhirnya, saya putuskan untuk
menerima apa yang terjadi pada diri saya. Saya mengikrarkan diri
menjadi seorang muslim, dengan kata lain menerima Islam. Perpindahan
saya menjadi seorang muslim ini disambut baik oleh teman-teman saya dan
mereka memberi beberapa buku agama, tafsir Al-Qur’an dan buku Fiqih
Sunnah karya SAayid Sabiq lengka 12 jilid. Bahkan yang aneh ada teman
saya yang memberikan AL-Qur’an jauh sebelum saya mengucapkan dua
kalimah syahadat. Mungkin ia sudah mendapat firasat.
Selain itu,
banyak pula teman-teman saya yang menyatakan penyesalannya atas
keputusan saya itu. Mereka menyesali perubahan yang terjadi pada diri
saya. Namun itu tidak membuat saya mundur. Saya tetap berkeyakinan
untuk menjadi seorang muslim.
Islam bagi saya adalah agama yang
memiliki toleransi paling tinggi. Dengan Islam saya menjadi lebih
mantap memastikan pegangan hidup. Kini saya banyak belajar dari istri
untuk mendalami agama terutama belajar Al-Qur’an. Selain kepada
teman-teman saya juga sering mendiskusikan dengan para tokoh agama .
Hal ini saya maksudkan untuk memantapkan keimanan saya. (Hamzah,
mualaf.com)
Last Updated ( Saturday, 19 January 2008 11:00 )

sumber : www.mualaf.com

agamaislam wrote on Feb 3
KISAH2 MUALAF

Rahmat Purnomo mantan pendeta : Ujung Pencarian memperoleh Rahmat Islam
Friday, 14 September 2007 11:04 mualafindonesia
   
Ia
adalah seorang laki-laki keturunan, sang ayah Holandia dan ibu
Indonesia dari Kota Ambon yang terletak di pulau kecil di ujung timur
kepulauan Indonesia. Kristen adalah agama yang diwariskan keluarganya
dari bapak dan kakeknya. Kakeknya adalah seorang yang punya kedudukan
tinggi pada agama kristen yang bermadzhab protestan, bapaknya juga
demikian, namun ia bermadzhab Pantikosta. Sedangkan ibunya sebagai
pengajar injil untuk kaum wanita, adapun dia sendiri juga punya
kedudukan dan sebagai ketua bidang dakwah di sebuah Gereja Bethel Injil
Sabino.
Tidak terbetik dalam hatiku walau sedikit pun untuk
menjadi seorang muslim, sebab sejak kecil aku mendapatkan pelajaran
dari orang tuaku yang selalu mengatakan padaku bahwa Muhammad adalah
seorang laki-laki badui, tidak punya ilmu, tak dapat membaca dan
menulis.

Bahkan lebih dari itu, aku telah membaca buku Profesor
Doktor Ricolady, seorang nasrani dari Prancis bahwa Muhammad itu
seorang dajjal yang tinggal di tempat kesembilan dari neraka.
Demikianlah kedustaan itu dibuat untuk menjatuhkan pribadi Rasul
shallallahu ‘alaihi wa sallam, sejak itulah tertanam pada diriku
pemikiran salah yang mendorongku untuk menolak Islam dan menjadikannya
sebagai agama.

Pada suatu hari pimpinan gereja mengutusku untuk
berdakwah selama tiga hari tiga malam di Kecamatan Dairi, letaknya
cukup jauh dari ibu kota Medan yang terletak di sebelah selatan pulau
Sumatra Indonesia. Setelah selesai, aku hendak menemui penanggung jawab
gereja di tempat itu. Tiba-tiba seorang laki-laki muncul di hadapanku,
lalu bertanya dengan pertanyaan aneh, “Engkau telah mengatakan bahwa
Isa Al-Masih adalah tuhan, mana dalilmu tentang ketuhanannya?” Aku
menjawab, “Baik ada dalil ataupun tidak, perkara ini tidak penting
bagimu, jika kamu mau beriman berimanlah, jika tidak kufurlah.”

Namun,
ketika aku pulang ke rumah, suara laki-laki itu mengganggu pikiranku
dan selalu terngiang-ngiang di telingaku, mendorongku untuk melihat
Kitab Injil mencari jawaban yang benar dari pertanyaannya. Telah
diketahui bahwa di sana ada empat kitab Injil yang berbeda-beda, salah
satunya MATHIUS, yang lainnya MARKUS, yang ketiga LUKAS, dan yang
keempat YOHANNES, semuanya buatan manusia. Ini aneh sekali, aku
bertanya-tanya pada diriku, “Apakah Al Qur’an dengan nuskhoh yang
berbeda-beda juga buatan manusia?” Aku mendapatkan jawaban yang tak
bisa lari darinya yakni dengan pasti, “Bukan!”

Aku mempelajari
keempat Injil tersebut, lalu apa yang kudapatkan? Injil MATHIUS
berbicara apa tentang Al-Masih Isa ‘alaihis salam? Kami membaca di
dalamnya sebagai berikut, “Sesungguhnya Isa Al-Masih bernasab kepada
Ibrohim dan kepada Daud…” (1-1), lalu kalau begitu siapa Isa? Bukankah
ia anak manusia? Ya, kalau begitu dia manusia. Injil LUKAS berkata,
“Dialah yang merajai atas rumah Ya’kub untuk selama-lamanya.
Kerajaannya tidak akan berakhir.” (1-33). Dan Injil MARKUS berkata,
“Inilah silsilah yang menasabkan Isa Al Masih anak Allah.” (1). Dan
yang terakhir injil YOHANNES berbicara apa tentang Isa Al Masih? Ia
berkata, “Pada awalnya ia adalah kalimat, dan kalimat itu di sisi
Allah, maka kalimat itu adalah Allah.” (1:1). Makna dari nash ini dia
pada awalnya adalah Al-Masih dan Al-Masih di sisi Allah, maka Al-Masih
adalah Allah.

Aku bertanya pada diriku, “Berarti di sana ada
perbedaan yang jelas pada empat kitab ini seputar dzat Isa ‘alaihis
salam, apakah ia manusia ataukah anak Allah ataukah Raja ataukah Allah?
Hal itu telah menyulitkanku dan aku belum menemukan jawabannya. Di sini
aku ingin bertanya kepada teman-temanku orang-orang kristen, “Apakah
didapatkan dalam Al-Qur’an pertentangan antara satu ayat dengan yang
lainnya?” Pasti tidak! Kenapa? Karena Al-Qur’an datang dari sisi Allah
subhanahu wa ta’ala, adapun Injil-injil ini hanyalah buatan manusia.
Kalian tahu dan tidak ragu kalau Isa ‘alaihis salam sepanjang hidupnya
berdakwah kepada Allah di sana-sini, kita patut bertanya: apa landasan
awal yang dida’wahkan oleh Isa ‘alaihis salam?

Ini Injil MARKUS
berkata, “Seseorang datang dari Al Katbah, ia mendengar mereka
berbincang-bincang, ketika terlihat bahwa ia adalah (Al-Masih) mereka
menerimanya dengan baik, menanyainya tentang ayat wasiat pertama? Ia
menjawab sambil berjalan: Sesungguhnya wasiat yang pertama ialah
‘Dengarkan wahai Bani Israil! Rabb Tuhan kita adalah Rabb yang Esa.’”
(12: 28-29). Inilah pengakuan yang jelas dari Isa ‘alaihis salam, jadi
kalau Isa telah mengaku bahwa Allah adalah Tuhan yang Esa/Satu, maka
siapakah Isa kalau begitu? Jika Isa adalah Allah juga, maka takkan
pernah ada keesaan bagi Allah. Bukankah begitu?

Kemudian, aku
lanjutkan pencarianku dan aku temukan pada Injil YOHANNES nash-nash
yang menunjukkan doa dan ketundukan Isa Al-Masih ‘alaihis salam kepada
Allah subhanahu wa ta’ala. Aku bertanya pada diriku: Jika sekiranya Isa
adalah Allah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, lalu apakah ia
membutuhkan kepada ketundukan dan doa? Tentu tidak! Oleh karena itu,
Isa bukan tuhan tetapi dia adalah makhluk seperti kita. Simaklah
bersamaku doa yang terdapat dalam injil YOHANNES, inilah nash doanya:
“Inilah kehidupan yang abadi agar mengetahui bahwa Engkaulah Tuhan yang
hakiki, dan berjalanlah Al-Masih yang Engkau telah mengutusnya, aku
pekerjamu di bumi, amal yang Engkau telah berikan padaku ialah amalan
yang aku telah menyempurnakannya.” (17-3-4). Ini do’a yang panjang,
yang akhirnya berkata, “Wahai Rabbul Baar, sesungguhnya alam tidak
mengenalMu, adapun aku mengenalMu dan mereka telah mengetahui bahwa
Engkau telah mengutusku dan Engkau telah mengenalkan mereka akan namaMu
dan aku akan mengenalkan mereka agar pada mereka ada kecintaan seperti
Engkau telah mencintaiku.” (17-25-26).

Doa ini menggambarkan
pengakuan Isa ‘alaihis salam bahwa Allah Dialah Yang Maha Esa dan Isa
adalah utusan Allah yang diutus pada kaum tertentu, bukan pada seluruh
manusia, siapakah kaumnya itu? Kita baca dalam Injil MATHIUS (15:24) di
mana ia berkata, “Aku tidak diutus, melainkan pada kaum di rumah
Isra’il yang sasar.” Kalau demikian, jika kita gabungkan
pengakuan-pengakuannya ini dengan yang lainnya, sangat mungkin untuk
kita katakan bahwa, “Allah adalah Tuhan Yang Esa dan Isa adalah utusan
Allah kepada Bani Isroil.” Kemudian kulanjutkan pencarianku, maka aku
teringat saat aku sholat aku selalu membaca kalimat berikut: (Allah
Bapak, Allah Anak, Allah Roh Qudus, tiga dalam satu). Aku berkata pada
diriku: Perkara yang sangat aneh! Kalau kita bertanya pada siswa kelas
satu sekolah dasar “1 + 1 + 1 = 3 ?” Pasti akan menjawab “ya”.
Kemudian, jika kita katakan padanya, “Akan tetapi 3 juga = 1?” Tentu
dia takkan menyepakati hal itu, sebab di sana terdapat pertentangan
yang jelas pada apa yang kami ucapkan, karena Isa ‘alaihis salam
berkata dalam Injil seperti yang kami lihat bahwa Allah Esa tidak ada
serikat baginya.

Telah terjadi pertentangan kuat antara aqidah
yang menancap di jiwaku sejak kecil, yakni: tiga dalam satu, dengan apa
yang diakui Isa Al-Masih sendiri dalam kitab-kitab injil yang ada di
tengah-tengah kita sekarang bahwa sesungguhnya Allah itu satu tidak ada
serikat baginya. Mana dari keduanya yang paling benar? Belum ada
usahaku untuk mengikrarkannya waktu itu, namun yang benar dikatakan
bahwa sesungguhnya Allah itu Esa/satu. Kemudian, aku cari lagi dari
kitab injil dari awal, barangkali aku temukan apa yang kuinginkan.
Sungguh telah kutemukan dalam pencarianku nash berikut ini: “Ingatlah
wali-wali sejak dulu, karena sesungguhnya Aku adalah Allah, sedang yang
lainnya bukan tuhan dan tak ada yang menyerupaiku.” (46: 9).

Sungguh
perkara yang menakjubkan saat aku berpegang teguh dengan Islam, aku
mendapatkan dalam surat Al-Ikhlash firman Allah Ta’ala, “Dengan nama
Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Katakanlah Dialah Allah
Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung padaNya segala
sesuatu. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan tidak ada
seorangpun yang setara dengan Dia.” Ya, selama kalam itu adalah kalam
Allah, maka tidak akan berbeda di manapun didapatkannya. Inilah
pelajaran pertama pada agamaku masihiyyah yang dulu, dengan demikian
“tiga dalam satu” tidak ada keberadaannya dalam jiwaku.

Adapun
pelajaran kedua dalam agama masihiyyah bahwa di sana ada yang disebut
dengan warisan dosa atau kesalahan awal, maksudnya ialah bahwa dosa
yang diperbuat Adam ‘alaihis salam ketika memakan buah yang diharamkan
dari pohon yang berada di surga, pasti seluruh anak manusia akan
mewarisi dosa ini. Sekalipun janin yang berada dalam rahim ibu akan
menanggung dosa ini dan akan lahir dalam keadaan berdosa. Apakah ini
benar atau salah? Aku cari tentang kebenaran hal tersebut. Aku merujuk
pada Perjanjian Lama, di tengah pencarianku, aku menemukan pada
hizqiyal sebagai berikut, “Seorang anak tidak menanggung dari dosa
seorang bapak. Seorang bapak tidak menanggung dari dosa seorang anak …”
(hizqiyal: 18: 20-21).

Barangkali yang cocok untuk kami sebutkan
di sini apa yang dikatakan Al-Qur’anul Karim pada masalah ini, “Dan
seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain …” Dan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Anak Adam
dilahirkan dalam keadaan fitroh, kedua orang tuanyalah yang akan
menjadikannya Yahudi atau menjadikannya Nashrani atau menjadikannya
Majusi.” Inilah dia kaidah dalam Islam dan menyepakatinya apa yang
ada/datang dalam injil, lalu bagaimana bisa dikatakan bahwa kesalahan
Adam akan berpindah dari satu generasi ke generasi lainnya, dan bahwa
manusia dilahirkan dalam keadaan berdosa?

Aku melanjutkan
pencarianku tentang beberapa hal yang berkaitan dengan keyakinan, pada
suatu hari kuletakkan Injil dan Al-Quran di depanku, kutujukan
pertanyaan pada Injil, “Apa yang engkau ketahui tentang Muhammad?”
Jawabannya: tidak ada, karena nama Muhammad tidak terdapat dalam Injil.
Kemudian kutujukan pertanyaan berikutnya pada Isa seperti Al-Quran
telah bercerita tentangnya, “Wahai Isa ibnu Maryam, apa yang engkau
ketahui tentang Muhammad?” Jawabannya: sungguh Al Quran telah
menyebutkan perkara yang tidak ada keraguan sedikit pun bahwa seorang
Rasul yang pasti akan datang setelahku namanya adalah Ahmad. Allah
berfirman atas lisan Isa ‘alaihis salam, “Dan ingatlah ketika Isa putra
Maryam berkata: Hai bani Isroil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah
kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku yaitu Taurot dan
memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang
sesudahku yang namanya Ahmad (Muhammad), maka tatkala Rasul itu datang
kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata:
Ini adalah sihir yang nyata.” (QS Ash Shaff: 6). Lihatlah! Mana yang
benar?!

Di sana ada satu Injil, yakni Injil BARNABAS, berbeda
dengan empat Injil yang telah kusebutkan sebelumnya, namun sayang para
pemuka-pemuka agamanya (Nashrani) mengharamkan pengikutnya untuk
mentelaahnya. Tahukah kenapa? Yang paling benar ialah karena inilah
satu-satunya Injil yang memuat kabar gembira tentang Muhammad, di
dalamnya terdapat beberapa tambahan dan penyimpangan yang sangat,
seperti halnya tedapat pula kenyataan yang sesuai dengan apa yang ada
dalam Al Quran Al Karim. Dalam Injil Barnabas (Ishaah: 163), “Waktu itu
para murid bertanya kepada Al Masih: Wahai guru! Siapa yang akan datang
sesudahmu? Al Masih menjawab dengan senang dan gembira: Muhammad utusan
Allah pasti akan datang sesudahku bagaikan awan putih akan menaungi
orang-orang yang beriman seluruhnya.”

Kemudian, kubaca lagi ayat
lainnya dari Injil Barnabas yakni ucapannya pada (Ishaah: 72), “Waktu
itu seorang murid bertanya kepada Al-Masih: Wahai guru! Saat Muhammad
datang apa tanda-tandanya hingga kami mengenalnya? Al-Masih menjawab:
Muhammad tidak akan datang pada masa kita, tetapi akan datang setelah
seratus tahun kemudian ketika Injil diubah (direkayasa) dan orang-orang
yang beriman kala itu jumlah mereka tidak sampai tiga puluh orang, maka
ketika itu Allah subhanahu wa ta’ala akan mengutus penutup para Nabi
dan Rasul-rasul, yaitu Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam.”

Telah disebutkan berulang-ulang yang demikian itu dalam
Injil Barnabas, aku telah menghitungnya dan kudapatkan sebanyak empat
puluh lima ayat menyebutkan tentang Muhammad. Aku sebutkan dua ayat di
atas di antaranya sebagai satu bukti.

Setelah ini semua, aku
berazzam untuk keluar dari gereja dan tidak akan pernah pergi lagi
padanya, saat ini tidak ada di hadapanku, kecuali Islam. (Lihat kitab
‘Uluwul Himmah, karya Muhammad Ahmad Ismail Al-Muqoddim).

Para
pembaca rahimakumullah demikianlah Islam yang dibawa oleh Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rahmat bagi semesta alam,
menuntut kita selaku para pemeluknya untuk bersyukur. Allah berfirman,
“Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu, dan
Dia tidak meridhoi kekafiran bagi hamba-Nya, dan jika kamu bersyukur
niscaya Dia meridhoi kesyukuranmu itu, dan seorang yang berdosa tidak
akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada tuhanmulah kembalimu lalu
Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan sesungguhnya Dia
Maha Mengetahui apa yang tersimpan di (dada)mu.” (QS Az Zumar: 7).

Di sini ada beberapa hal yang perlu untuk kita perhatikan, wallahul haadi ila sabilir rosyad.

Pertama:
manusia itu satu umat, memeluk agama yang satu. Allah berfirman,
“Manusia dahulunya hanyalah satu umat kemudian mereka berselisih, kalau
tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulu,
pastilah telah diberi keputusan di antara mereka tentang apa yang
mereka perselisihkan itu.” (QS Yunus: 19).

Kedua: Islam adalah
agama tauhid. Allah berfirman, “Allah menyatakan bahwasanya tidak ada
Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan.
Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang
demikian itu) tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang
Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Sesungguhnya agama (yang diridhoi) di
sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah
diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka karena
kedengkian (yang ada) di antara mereka, barangsiapa yang kafir terhadap
ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisabnya. Kemudian
jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam) maka katakanlah:
Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang
yang mengikutiku. Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi
Al Kitab dan kepada orang-orang yang ummi, ‘Apakah kamu (mau) masuk
Islam?’ Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat
petunjuk, dan jika mereka berpaling maka kewajiban kamu hanyalah
menyampaikan (ayat-ayat Allah) dan Allah Maha Melihat akan
hamba-hamba-Nya.” (QS Ali Imron: 18-20).

Ketiga: Aqidah tauhid
adalah fitrah manusia. Allah berfirman, “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu
mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah
mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): Bukankah
Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab: Betul (Engkau Tuhan kami), kami
menjadi saksi. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat
kamu tidak mengatakan: Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang
yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan). Atau agar kamu tidak
mengatakan: Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan
Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang
(datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami
karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu.” (QS Al A’raaf:
172-173).

Keempat: Petunjuk Allah mutlak harus diikuti. Allah
berfirman, “… Katakanlah sesungguhnya petunjuk (yang harus diikuti)
ialah petunjuk Allah, dan (janganlah kamu percaya) bahwa akan diberikan
kepada seseorang seperti apa yang diberikan kepadamu, dan (jangan pula
kamu percaya) bahwa mereka akan mengalahkan hujjahmu di sisi Tuhanmu.
Katakanlah sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Allah memberikan
karunianya kepada siapa yang dikehendakinya. Dan Allah maha luas
karunianya lagi maha mengetahui.” (QS Ali Imron: 73).

Kelima:
Isa ‘alaihis salam adalah Nabi dan Rasul Allah. Allah berfirman, “Wahai
Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah
kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al
Masih Isa putra Maryam itu adalah utusan Allah dan (yang diciptakan
dengan kalimat-Nya) yang disampaikan-Nya kepada Maryam dan dengan
(tiupan roh) dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan
rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan, ‘(Tuhan itu) tiga’.
Berhentilah (dari ucapan itu). Itu lebih baik bagimu. Sesungguhnya
Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak. Segala
yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya, cukuplah Allah sebagai
pemelihara.” (QS An Nisaa: 171).

Walhamdulillahi robbil alamin.
Ditulis oleh Al Ustadz Abu Hamzah Al Atsari. Diambil dari Buletin
Al-Wala’ wal-Bara’(swaramuslim.net)
Last Updated ( Monday, 14 January 2008 09:53 )

Yahya Yopie dan Keluarganya, Mantan Pendeta Yang Memeluk Islam
Thursday, 14 June 2007 13:35 mualafindonesia
   
Warga
di kota Tolitoli di penghujung bulan Ramadan 1427 Hijriah belum lama
ini, dihebohkan dengan salah seorang pendeta bersama seluruh
keluarganya memeluk Islam. Di mana-mana santer dibicarakan soal Pendeta
Yahya Yopie Waloni dan keluarganya masuk Islam. Bahkan media internet
pun sudah mengakses kabar ini. Bagaimana aktivitas eks pendeta itu
setelah memeluk Islam. Berikut kisahnya:
PAGI menjelang siang hari
itu, nuansa Idul Fitri 1427 Hijriah masih terasa di Tolitoli. Hari itu
baru memasuki hari ke-9 lebaran. Kendati terik panas matahari masih
mengitari Tolitoli dan sekitarnya, tetapi denyut aktivitas warga tetap
seperti biasa.

Begitupun di sekitar Jalan Bangau, Kelurahan
Tuweley, Kelurahan Baru, Kabupaten Tolitoli. Aktivitas sehari-hari
warga berjalan seperti biasa. Kecuali di salah satu rumah kost di jalan
itu, pintunya tampak masih tertutup rapat. Di rumah kost inilah, Yahya
Yopie Waloni (36), bersama istrinya Lusiana (33) dan tiga orang anaknya
tinggal sementara.

“Pak Yahya bersama istrinya baru saja
keluar. Sebaiknya bapak tunggu saja di sini, sebelum banyak orang.
Karena kalau pak Yahya ada di sini banyak sekali tamunya. Nanti bapak
sulit ketemu beliau,” jelas ibu Ani, tetangga depan rumah Yahya kepada
Radar Sulteng.

Yahya bersama istrinya memeluk Islam secara sah
pada hari Rabu, 11 Oktober 2006 pukul 12.00 Wita melalui tuntunan
Komarudin Sofa, Sekretaris Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (NU)
Tolitoli. Hari itulah Yahya dengan tulus mengucapkan dua kalimat
syahadat.

Setelah memeluk Islam, nama Yahya Yopie Waloni
diganti dengan Muhammad Yahya, dan istrinya Lusiana diganti dengan
Mutmainnah. Begitupun ketiga anaknya. Putri tertuanya Silvana (8 tahun)
diganti dengan nama Nur Hidayah, Sarah (7 tahun) menjadi Siti Sarah,
dan putra bungsunya Zakaria (4 tahun) tetap menggunakan nama itu.

Mohammad
Yahya sebelum memeluk Islam, pernah menjabat Ketua Sekolah Tinggi
Theologia Calvinis di Sorong tahun 2000-2004. Saat itu juga ia sebagai
pendeta dengan status sebagai pelayan umum dan terdaftar pada Badan
Pengelola Am Sinode GKI di tanah Papua, Wilayah VI Sorong-Kaimana. Ia
menetap di Sorong sejak tahun 1997. Tahun 2004 ia kemudian pindah ke
Balikpapan. Di sana ia menjadi dosen di Universitas Balikpapan (Uniba)
sampai tahun 2006. Yahya menginjakkan kaki di kota Cengkeh, Tolitoli,
tanggal 16 Agustus 2006.

Sambil menunggu kedatangan Yahya, ibu
Ani mempersilakan Radar Sulteng masuk ke rumahnya. Sebagai tetangga,
Ibu Ani tahu banyak aktivitas yang terjadi rumah kontrakan Yahya. “Pak
Yahya pindah di sini kira-kira baru tiga minggu lalu. Sejak pindah, di
sini rame terus. Orang-orang bergantian datang. Ada yang datang dengan
keluarganya. Malah ada yang rombongan dengan truk dan Kijang pickup.
Karena rame sekali terpaksa dibuat sabua (tenda, red) dan drop kursi
dari kantor Lurah Tuweley,” cerita ibu Ani.

Hari pertama Yahya
pindah di Jalan Bangau itu, orang-orang berdatangan sambil membawa
sumbangan. Ada menyumbang belanga, kompor, kasur, televisi, Alquran,
gorden dan kursi. Mereka bersimpati karena Yahya sekeluarga saat pindah
dari tempat tinggal pertamanya hanya pakaian di badan. Rumah yang
mereka tempati sebelumnya di Tanah Abang, Kelurahan Panasakan adalah
fasilitas yang diperoleh atas bantuan gereja. Sehingga barang yang
bukan miliknya ia tanggalkan semuanya.

Tidak lama menunggu di
rumah Ibu Ani, datang dua orang ibu-ibu yang berpakaian dinas pegawai
negeri sipil. Keduanya juga mampir di rumah Ibu Ani. Salah satu dari
mereka adalah Hj Nurdiana, pegawai di Balitbang Diklat, Pemkab
Tolitoli. Ibu berjilbab ini ternyata guru mengaji. Dia adalah guru
mengaji yang khusus membimbing istri Yahya.

“Saya baru tiga
kali pertemuan dengan ibu Yahya. Supaya ibu Yahya mudah memahami huruf
hijjaiyah, saya menggunakan metode albarqy. Alhamdulillah sekarang
sedikit sudah bisa,” kata Nurdiana.

Menurutnya, dia tidak
kesulitan mengajari ibu Yahya. Malah, katanya, ibu Yahya cepat sekali
memahami huruf-huruf hijaiyah yang diajarkan. Karena itu dia
memperkirakan kemungkinan dalam waktu tidak lama ibu Yahya sudah bisa
lancar mengaji.

Hanya sekitar 20 menit menunggu di rumah ibu
Ani, bunyi kendaraan sepeda motor butut milik Yahya terdengar memasuki
halaman rumah kontrakannya. Radar Sulteng diterima dengan senang hati,
lalu dipersilakan duduk di sofa. Sementara Yahya memilih duduk di
lantai alas karpet. Badannya disandarkan ke kursi sofa. “Kita lebih
senang duduk di bawah sini,” tuturnya dengan logat kental Manado.

Cara
duduk Yahya, tampak tidak tenang. Sesekali ia membuka kedua
selangkangnya. Ternyata karena baru beberapa hari selesai disunat.
“Setelah tiga hari saya masuk Islam, saya langsung minta disunat di
rumah ini,” cerita Yahya, sesekali disertai canda.

Penataan
interior rumah kost Yahya tampak apik. Di dinding ruang tamu tampak
terpampang kaligrafi ayat kursi yang dibingkai dengan warna keemasan.
Di sisi lain, kaligrafi Allah-Muhammad juga terpampang. Di meja ruang
tamu terdapat dua buah Alquran lengkap terjemahannya. Di tengah meja
itu, juga masih ada tiga toples kue lebaran. “Rumah ini saya kontrak
sementara. Saya sudah bayar Rp2,5 juta,” rinci Yahya.

Di
tengah asiknya bercerita, istri Yahya, Mutmainnah menyuguhkan beberapa
cangkir teh panas. “Silakan diminum air panasnya,” kata ibu tiga anak
ini yang saat itu mengenakan jilbab cokelat.

Tidak lama
kemudian, dia masuk di salah satu kamar dan mengajak guru mengajinya Hj
Nurdiana bersama rekannya. Dari balik kamar itulah terdengar suara
Mutmainnah yang sedang mengeja satu per satu huruf hijaiyah. Terdengar
memang masih kaku, tetapi berulang-ulang satu per satu huruf-huruf
Alquran itu dilafalkannya.

Lain halnya dengan suaminya, Yahya.
Pria kelahiran Manado ini mengaku sudah bisa melafalkan beberapa ayat
setelah beberapa kali diajarkan mengaji oleh Komarudin Sofa. Selain
Komarudin, selama ini ia juga mendapat bimbingan dari ketua Majelis
Ulama Indonesia (MUI) Tolitoli, Yusuf Yamani. “Hanya lima menit saya
diajarkan. Saya langsung paham. Surat Fatihah saya sudah hafal,” ujar
Yahya.

Selain belajar mengaji dan menerima tamu, aktivitas
Yahya juga kerap menghadiri undangan di beberapa masjid. Tidak hanya
dalam kota, tetapi sampai ke desa-desa di Kabupaten Tolitoli. “Saya
ditemani beberapa orang. Ada juga dari Departemen Agama,” katanya.

Yahya
bersama istrinya memeluk Islam secara sah pada hari Rabu, 11 Oktober
2006 pukul 12.00 Wita melalui tuntunan Komarudin Sofa, sekretaris
Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (NU) Tolitoli. “Hari itu saya sudah
mengucapkan dua kalimat syahadat yang dituntun Pak Komarudin,” cerita
Yahya. Apa yang melatari sampai Yahya dan keluarganya memeluk Islam.

PAK
Yahya, begitu sapaan akrabnya. Pria kelahiran Manado tahun 1970 ini
lahir dari kalangan terdidik dan disiplin. Ayahnya seorang pensiunan
tentara. Sekarang menjabat anggota DPRD di salah satu kabupaten baru di
Sulawesi Utara. Sebagai putra bungsu dari tujuh bersaudara, Yahya saat
bujang termasuk salah seorang generasi yang nakal. “Saya tidak perlu
cerita masa lalu saya. Yang pasti saya juga dulu pernah nakal,”
tukasnya.

Lantaran kenakalannya itulah mungkin, sehingga
beberapa bagian badannya terdapat bekas tato. Di lengannya terdapat
bekas luka setrika untuk menghilangkan tatonya. “Ini dulu bekas tato.
Tapi semua sudah saya setrika,” katanya sambil menunjuk bekas-bekas
tatonya itu.

Postur tubuhnya memang tampak mendukung. Tinggi
dan tegap. Meski ia pernah nakal, tetapi pendidikan formalnya sampai ke
tingkat doktor. Ia menyandang gelar doktor teologi jurusan filsafat.
Saat ditemui, Yahya memperlihatkan ijazah asli yang dikeluarkan
Institut Theologia Oikumene Imanuel Manado tertanggal 10 Januari 2004.
Sehingga titel yang didapatnya pun akhirnya lengkap menjadi Dr Yahya
Yopie Waloni, S.TH, M.TH.

Sebelum menyatakan dirinya masuk
Islam, beberapa hari sebelumnya Yahya mengaku sempat bertemu dengan
seorang penjual ikan, di rumah lamanya, kompleks Tanah Abang, Kelurahan
Panasakan, Tolitoli. Pertemuannya dengan si penjual ikan berlangsung
tiga kali berturut-turut. Dan anehnya lagi, jam pertemuannya dengan si
penjual ikan itu, tidak pernah meleset dari pukul 09.45 Wita.

“Kepada
saya si penjual ikan itu mengaku namanya Sappo (dalam bahasa Bugis
artinya sepupu). Dia juga panggil saya Sappo. Tapi dia baik sekali
dengan saya,” cerita Yahya.

Setiap kali ketemu dengan si
penjual ikan itu, Yahya mengaku berdialog panjang soal Islam. Tapi
Yahya mengaku aneh, karena si penjual ikan yang mengaku tidak lulus
Sekolah Dasar (SD) tetapi begitu mahir dalam menceritakan soal Islam.

Pertemuan
ketiga kalinya, lanjut Yahya, si penjual ikan itu sudah tampak lelah.
“Karena saya lihat sudah lelah, saya bilang, buka puasa saja. Tapi si
penjual ikan itu tetap ngotot tidak mau buka puasanya,” cerita Yahya,
yang ditemui di rumah kontrakannya.

Sampai saat ini Yahya
mengaku tidak pernah lagi bertemu dengan penjual ikan itu. Si penjual
ikan mengaku dari dusun Doyan, desa Sandana (salah satu desa di sebelah
utara kota Tolitoli). Meski sudah beberapa orang yang mencarinya hingga
ke Doyan, dengan ciri-ciri yang dijelaskan Yahya, tapi si penjual ikan
itu tetap tidak ditemukan.

Sejak pertemuannya dengan si
penjual ikan itulah katanya, konflik internal keluarga Yahya dengan
istrinya meruncing. Istrinya, Lusiana (sekarang Mutmainnah, red), tetap
ngotot untuk tidak memeluk Islam. Ia tetap bertahan pada agama yang
dianut sebelumnya. “Malah saya dianggap sudah gila,” katanya.

Tidak
lama setelah itu, kata Yahya, tepatnya 17 Ramadan 1427 Hijriah atau
tanggal 10 Oktober sekitar pukul 23.00 Wita. Ia antara sadar dengan
tidak mengaku mimpi bertemu dengan seseorang yang berpakaian serba
putih, duduk di atas kursi. Sementara Yahya di lantai dengan posisi
duduk bersila dan berhadap-hadapan dengan seseorang yang berpakaian
serba putih itu. “Saya dialog dengan bapak itu. Namanya, katanya
Lailatulkadar,” ujar Yahya mengisahkan.

Setelah dari itu,
Yahya kemudian berada di satu tempat yang dia sendiri tidak pernah
melihat tempat itu sebelumnya. Di tempat itulah, Yahya menengadah ke
atas dan melihat ada pintu buka-tutup. Tidak lama berselang, dua
perempuan masuk ke dalam. Perempuan yang pertama masuk, tanpa hambatan
apa-apa. Namun perempuan yang kedua, tersengat api panas.

“Setelah
saya sadar dari mimpi itu, seluruh badan saya, mulai dari ujung kaki
sampai kepala berkeringat. Saya seperti orang yang kena malaria. Saya
sudah minum obat, tapi tidak ada perubahan. Tetap saja begitu,” cerita
Yahya.

Sekitar dua jam dari peristiwa itu, di sebelah kamar,
dia mendengar suara tangisan. Orang itu menangis terus seperti layaknya
anak kecil. Yahya yang masih dalam kondisi panas-dingin, menghampiri
suara tangisan itu. Ternyata, yang menangis itu adalah istrinya,
Mutmainnah.

“Saya kaget. Kenapa istri saya tiba-tiba menangis.
Saya tanya kenapa menangis. Dia tidak menjawab, malah langsung memeluk
saya,” tutur Yahya.

Ternyata tangisan istri Yahya itu
mengandung arti yang luar biasa. Ia menangis karena mimpi yang
diceritakan suaminya kepadanya, sama dengan apa yang dimimpikan
Mutmainnah. “Tadinya saya sudah hampir cerai dengan istri, karena dia
tetap bertahan pada agama yang ia anut. Tapi karena mimpi itulah, malah
akhirnya istri saya yang mengajak,” tandasnya.

Masuknya Yahya
ke agama Islam, menimbulkan banyak interpretasi. Menurut Yahya, ada
yang menyebut dirinya orang gila. Ada juga yang meragukannya, dan
mungkin masih banyak interpretasi lain lagi tentang dirinya. “Tapi
cukup saja sampai pada interpretasi, jangan lagi melebar ke yang lain,”
pungkasnya.*** dari http://www.radarsulteng.com/berita/index.asp?Berita=Utama&id=40935
Last Updated ( Friday, 18 January 2008 07:52 )

Willibrordus Romanus Lasiman : Apa Agama Yesus?
Saturday, 22 July 2006 22:00 mualafindonesia
   
Ketika
beragama Katolik, Lasiman bernama baptis Willibrordus, ditambah nama
baptis penguatan (kader) Romanus. Jadilah ia dikenal sebagai
Willibrordus Romanus Lasiman. Lasiman atau akrab dipanggil Pak Willi.
Kegelisahan demi kegelisahan menyerang keyakinannya. Akhirnya ia pun
berkelana dari Katolik ke Kristen Baptis, lalu pindah ke Kebatinan
Pangestu (Ngestu Tunggil), mendalami kitab Sasongko Jati, Sabdo Kudus,
dan lainnya. Ia juga terjun ke perdukunan dan menguasai berbagai kitab
primbon dan ajian. Tujuannya satu, mencari dan menemukan kebenaran
hakiki.

Ketika bertugas sebagai misionaris di Garut, Allah
mempertemukannya dengan prof Dr Anwar Musaddad, berdiskusi tentang
agama. Diskusi inilah yang menuntunnya pada Islam. Allah memberikan
hidayah ketika ia berusia 25 tahun. Lalu, Willi pulang ke Yogya dan
berdiskusi dengan Drs Muhammad Daim dari UGM. Akhirnya, 15 April 1980,
Willi berikrar dua kalimat syahadat, masuk dalam dekapan Islam dengan
nama Wahid Rasyid Lasiman. Sejak itu, Willi tekun mengkaji Islam di
pesantren. Dari pesantren inilah, Ia menjadi ustadz yang rajin
berdakwah dari kampung k kampung di Sleman, Yogyakarta, hingga pelosok
kampung di kaki Gunung Merapi.

Untuk memenuhi nafkah
keluarganya, Willi mengajar di sebuah SMP Negeri di kota Gudeg.
Sedangkan ilmu Kristologi yang dimilikinya sejak jadi misionaris,
membuatnya menjadi rujukan jamaah untuk bertanya tentang perbandingan
Islam dan Kristen. Ustadz Wahid alias pak Willi, adalah mubaligh
tangguh yang mahir dalam Kristologi.

Untuk memuluskan dakwahnya,
Willi menyusun buku-buku dan VCD untuk kalangan sendiri, berisi kisah
nyata perjalanan rohaninya. Hal ini membuat agama lain cemburu pada
dakwahnya yang agresif. Tabloid Sabda, media milik Katolik di Jakarta,
pernah menyorot Willi di rubrik utama dengan judul cover "Gereja
katolik Kembali Difitnah Mantan Misionaris Willibrordus Romanus Lasiman
(Ustadz Drs Wachid Rasyid Lasiman)".

Yang dimaksud Sabda adalah
uraian Pak Willi dalam buku Yesus Beragama Islam. Dalam bukunya itu,
Willi menyatakan, Yesus sebenarnya bukan beragama Kristen atau katolik,
melainkan seorang Muslim. Pemred Tabloid Sabda, Peter, menulis artikel
berjudul "Kok berani-beraninya Ustadz Wachid Rasyid Lasiman
Meng-Islamkan Yesus".

Kemarahan Peter dalam tulisannya ini,
tampak nyata. Sang Pemred ini menggunakan kata-kata kasar dengan
menyebut Willi sebagai orang "ngawur, konyol, naif, melancarkan fitnah
dan lainnya. Sementara, di akhir tulisan, Peter mengimbau pembacanya,
"Bagi umat Kristian, menghadapi fenomena seperti ini sebaiknya dengan
kepala dingin saja. Tidak usah emosi karena tidak ada manfaatnya sama
sekali."

Sementara itu, dalam menghakimi pendapat Willi, peter
menulis, "Kalaupun diperbolehkan menyebutkan Yesus itu agamanya Apa?
Maka tentu lebih masuk akal mengatakan Yesus beragama Katolik atau
Kristen daripada mengatakan Yesus beragama Islam. Tapi, Yesus
sesungguhnya bukan pengikut atau penganut agama Kristen Katolik atau
Kristen Protestan, melainkan dialah Kristus sang juru selamat manusia
dan dunia. Itulah iman orang Kristen," (hlm 4).

Jadi, apa agama
Yesus? pertanyaan ini sering menjadi bahan diskusi yang hangat dan
menarik. Jika dijawab Yesus adalah Tuhan dan Juru Selamat manusia, maka
dia tak perlu agama dan tak beragama. Maka, pernyataan ini bisa
dipahami bahwa Yesus tak beragama, artinya Yesus itu ateis. Menurut
Yossy Rorimpadel, dari Sekolah Tinggi Teologi "Apostolos", Yesus itu
beragama Yahudi. Lalu, mengapa pengikutnya tak beragama Yahudi?

Jika
Yesus beragama Katolik, mana dalilnya? kapan Yesus memproklamirkan
dirinya beragama Katolik? Jika dinyatakan, Yesus beragama Kristen
Protestan, lebih tidak masuk akal lagi, Sebab, Protestan lahir pada
abad ke-16, saat bergulirnya pergerakan Reformasi gereja yang dimotori
oleh Martin Luther dan John Calvin.

Pendeta Yosias Leindert
Lengkong dalam buku Bila Mereka Mengatakan Yesus Bukan Tuhan
menyebutkan, istilah "Kristen" muncul di Antiokhia pada 41 Masehi. Dan,
yang mengucapkan kata "Kristen" atau "Kristianos" bukan murid Yesus
atau orang terpercaya, tapi justru orang-orang luar (hlm.77). Pendapat
ini cukup beralasan, karena dalam Alkitab, Yesus tak pernah
bersinggungan dengan kata "Kristen".

Kata ini, muncul pertama
kali di Antiokhia setelah Yesus tidak ada. (Lihat Kisah Para Rasul
11:26). Jelaslah, Yesus tak beragama Kristen, baik Katolik maupun
Protestan. Riwayat penyebutan "Kristen" tidak mempunyai asal-usul dan
persetujuan dari Yesus. Label dan penamaan Kristen diberikan pada
pengikut (agama) Yesus, setelah bertahun-tahun Yesus tidak ada.

Tudingan
Peter bahwa Willi "meng-Islamkan" Yesus pun tidak tepat. Karena, yang
menyatakan Nabi Isa beragama Islam itu bukan Pak Willi alias Ustadz
Wachid, melainkan Allah SWT sendiri. Dalam al-Qur’an disebutkan,
satu-satunya agama yang diridhai Allah hanyalah ISlam (QS Ali Imran:
19,85,102). Karenanya, semua Nabi beragama Islam dan pengikutnya
disebut muslim (QS Ali Imran:84). Islam telah diajarkan oleh paran Nabi
terdahulu (QS al-Hajj:78). karena Isa Almasih adalah Nabi Allah, maka
dia dan pengikutnya (Hawariyyun) pub beragama Islam (QS al-Maidah:111,
Ali Imran :52).

Semua Nabi beragama dan berakidah sama, yakni
Islam. Perbedaan mereka hanya pada syariatnya (QS al-Hajj:67-68).
Rasulullah saw bersabda: "Aku adalah orang yang paling dekat dengan Isa
putra Maryam di dunia dan akhirat. Dan semua Nabi itu bersaudara karena
seketurunan, ibunya berlainan sedang agamanya satu (ummahatuhum syattaa
wa dinuhum wahid)," (HR Bukhari dari Abu Hurairah ra).

Islam tak
mengklaim sebagai agama baru yang dibawa Nabi muhammad ke Jazirah
Arabia, melainkan sebagai pengungkapan kembali dalam bentuknya yang
terakhir dari agama Allah SWT yang sesungguhnya, sebagaimana ia telah
diturunkan pada Adam dan Nabi-nabi berikutnya.

Satu-satunya
kitab suci di dunia yang mengungkapkan agama Yesus, hanya al-Qur’an.
Al-Qur’an menyebutkan, Nabi Isa sebagai Muslim, sedangkan Bibel tidak
menyebutkan Yesus beragama Kristen atau Yahudi. Kok, berani-beraninya
Peter menuduh Willi ngawur. Lalu, mengatakan lebih masuk akal, jika
Yesus beragama katolik atau Kristen daripada Yesus beragama Islam.
(sabili/al-islahonline.com)
 

Dari Pesantren ke Pesnatren : PP AL HAWAARIYYUN, Terapkan Diklat Sistem Paket

PONDOK
pesantren selama ini identik dengan tempat pendidikan agama Islam dan
para santri mondok di lingkungan pesantren. Di Ponpes Al Hawaariyyun,
kelaziman tersebut ternyata tidak terjadi. “Kami menerapkan pendidikan
kilat sistem paket. Peserta dikelompokkan dalam satu paket dan
pelajaran diberikan dengan metode singkat,” kata ustadz Drs H
Willibrordus Romanus Lasiman, pengasuh PP Al Hawaariyyun.

Tujuan
utama dari pesantren ini adalah membentuk sikap dan wawasan dasar
tentang Islam, serta menanamkan ajaran agar santri tidak terpengaruh
untuk masuk ajaran agama lain. Misi tersebut sebenarnya sangat berat.
Rasanya tidak mungkin diberikan dalam waktu singkat. Namun, karena
ustadz Willi sebelum menganut Islam dan kemudian mendirikan pesantren
adalah penganut agama lain, sehingga dia mempunyai strategi penguatan
aqidah Islam yang praktis dan efektif.

“Cukup dengan pertemuan
intensif selama sepuluh jam, saya bisa meyakinkan dan menguatkan
kepercayaan santri akan kebenaran ajaran Islam. Tetapi, tidak sedikit
santri kurang puas hanya bertatap muka sepuluh jam. Sehingga, rata-rata
proses diklat berlangsung tiga hari,” tambah Willi yang setelah
menganut Islam bernama H Wakhid Rosyid Lasiman ini.

Selama
diklat, rombongan santri tinggal di komplek pesantren yang terletak di
dusun Cakran Wukirsari Cangkringan Sleman. Jumlah peserta per paket
sangat variatif. Dua santri pun dilayani. Tapi, rata-rata tiga puluh
orang. Tingkat usia dan pendidikan tidak menjadi soal. Kebanyakan,
santri diklat berasal dari luar daerah, seperti Magelang, Surabaya,
Bogor dan Jakarta.

Justru santri dari lingkungan sekitar
pesantren jumlahnya minim. Mungkin, mereka belum terbiasa dengan sistem
pendidikan kilat. Namun bukan berarti masyarakat sekitar tidak peduli
dengan keberadaan Al Hawaariyyun. “Setiap kami menyelenggarakan
kegiatan, masyarakat selalu berpartisipasi. Termasuk ketika membangun
gedung pesantren,” katanya lagi.

Beberapa santri Al Hawaariyyun
merupakan penganut Islam baru. Ini barangkali dilatarbelakangi
perjalanan sang ustadz yang sebelumnya non muslim.

Tidak ada
semacam standar biaya diklat. Santri diminta untuk menghitung, apa saja
yang menjadi kebutuhannya selama diklat. Misalnya kebutuhan konsumsi.
Mereka boleh memasak sendiri atau menyerahkan ke pengelola pesantren.
Lalu jika santri ada kelebihan dana, boleh berinfak untuk membantu
membayar rekening listrik. “Tidak ada ketentuan untuk honorarium
ustadz,” aku guru SMP 15 Yogya ini.

Biaya operasional pondok
termasuk pembangunan gedung, sebagian besar diambilkan dari hasil
penjualan buku karya Willi. Setelah masuk Islam, ia berhasil
menerbitkan empat buku. Juga, sebagian gaji Willi dan isterinya sebagai
pegawai negeri serta uang transpor yang diperoleh jika berceramah ke
luar kota, disumbangkan untuk mendanai operasionalisasi pesantren.

Pesantren
ini didirikan sekitar tahun 1987. Berarti tujuh tahun setelah Willi
mendalami Islam dan sempat nyantri ke beberapa kiai dan PP Jaga Satru,
Cirebon asuhan KH Ayib Muhammad. Selain menyelenggarakan diklat, Al
Hawwariyyun juga mengkoordinir penyaluran zakat dan hewan kurban di
wilayah Kaki Merapi. Juga, mengkoordinir kegiatan 15 Taman Pendidikan
Al Qur’an.

Metode pendidikannya dengan ceramah, diskusi dan
latihan memecahkan masalah melalui metode taktis dan praktis. Selama
pertemuan, dibiasakan metode dialogis.

Jumlah santri peserta
diklat telah mencapai angka ribuan orang. Selain menyelenggarakan
pendidikan di lingkungan pondok, pesantren ini juga sering menggelar
diklat di luar pondok. Bahkan ke luar kota, seperti Bogor dan Jakarta.
“Tidak sedikit pula sekelompok masyarakat mengundang kami datang ke
rumah salah satu peserta dan proses diklat dilangsungkan di sana,”
tambahnya.

Willi mengaku, sebelum menganut Islam, dia seorang
petualang agama. Pernah dibaptis, beberapa kali mengikuti aliran
kepercayaan serta nyantrik ke dukun untuk meguru ilmu kanuragan sudah
tidak terhitung. “Dari petualangan itu, saya hanya mendapat kehampaan.
Tidak ada ketenangan, bahkan yang ada hanya rasa cemas dan takut. Tapi,
setelah mendalami Islam, hidup ini jadi tenang dan indah!”
tuturnya.(Daryanto) http://www.minggupagi.com/article.php?sid=568 sumber http://www.swaramuslim.net .
Last Updated ( Friday, 18 January 2008 09:50 )

Liem Tjeng Lie : Mengembalikan Keranda ke Masjid
Tuesday, 20 June 2006 22:16 mualafindonesia
   
Saya
adalah seorang muallaf dan istri sayapun juga seorang muallaf, sebelum
kami mendapatkan Hidayah masuk ke dalam agama Islam. kami adalah
seorang aktivis gereja Katholik, saya dan istri adalah Ketua Mudika
(Muda-Mudi Katholik) di wilayah tempat tinggal kami. Kami dipertemukan
disaat kami mendapat tugas dalam pembuatan kandang Natal di Gereja.

Pergantian
agama saya dari Katholik menjadi Islam cukup melalui pertimbangan yang
cukup lama +/- 4 tahun dari tahun 1994-1998. Awal perkenalan saya
dengan Islam adalah ketika saya mengembalikan keranda Kakak ipar saya
ke Masjid dan setelah itu mengikut tahlilan untuk mendoakan almarhum
kakak ipar saya (nb: kakak ipar saya juga muallaf, satu-satunya anggota
keluarga istri saya yang masuk Islam karena pernikahannya dengan
seorang gadis Minang)

Ketika tahlilan hari terakhir, ustadz
yang memimpin doa saat itu menyampaikan sedikit wejangan dan mendoakan
agar suatu saat kelak ada keluarga dari almarhum yang akan mengikuti
jejak almarhum untuk menjadi muslim, untuk membantu mendoakan almarhum.
Kata-kata yang diucapkan oleh Pak ustadz, menggetarkan hati saya
seolah-olah kata-kata itu ditujukan ke saya, walaupun saat itu hadir
anggota keluarga lain yang non muslim.

Singkat cerita,
ketertarikan dan keinginan saya untuk mempelajari agama Islam semakin
hari semakin bertambah, dan saya sering kali bermimpi tentang Islam dan
menjadi muslim dalam mimpi. Betapa indahnya menjadi seorang muslim
walaupun hanya dalam mimpi.

Suatu hari saya utarakan keinginan
saya untuk masuk Islam dengan istri saya tapi istri saya malah bertanya
" kamu mau menikah lagi apa ? ", saya jelaskan bahwa keinginan saya
untuk masuk islam bukan karena ingin menikah lagi, tapi karena gejolak
hati yang terus mencari agama yang benar, karena saya merasakan agama
katholik yang saya yakini saat itu, sudah tidak dapat menentramkan jiwa
saya.

Karena istri percaya akan alasan yang saya berikan
akhirnya ia berkata " ok kalau mau masuk Islam nanti saja tunggu
anak-anak sudah besar jadi tunggu pensiun dan tinggal di kampung, kalau
dikucilkan keluarga sudah tidak masalah lagi ".

Saya tidak patah
semangat dan saya terus berdoa agar Allah SWT menggerakan hati istri
saya dan memberikan istri saya hidayah agar mau masuk kedalam agama
Islam, agama yang paling sempurna dan di ridhoi oleh Allah SWT,
Walaupun saya belum menjadi muslim (ketika itu), tapi setiap akhir dari
doa saya selalu mengucakan salah satu dari ayat Yaasin yang jika
dilafaskan berbunyi "Innama amaruhu idza araadha syaian ayakaulalahu
kun fa ya kun" jika Allah SWT berkehendak terjadi maka terjadilah,
tidak ada yang mustahil di hadapan Allah SWT. (mohon maaf jika salah
dalam penulisan lafas dan arti harafiah salah satu ayat Yaasin di atas )

Suatu
hari istri saya membaca majalah mingguan "Bintang", di salah satu
cerita dalam majalah itu ada sebuah kisah kembalinya artis Gito Rolies
ke dalam Islam setelah berpuasa Nabi daud. Istri saya lalu menyampaikan
kepada saya mengenai kisah ini, dan mengatakan : " Coba kamu puasa Nabi
Daud, kali-kali saja saya bisa terpanggil juga menjadi muslimah", lalu
saya tanya: "Puasa Nabi Daud seperti apa sih ?" istri lalu menerangkan
bahwa puasa Nabi Daud ialah puasa yang dilakukan secara berselang,
sehari puasa, sehari tidak, dan seterusnya.

Dan karena tekad
saya untuk masuk Islam harus bersama dengan istri (karena saya pernah
membaca kalau salah satu dari pasangan hidup kita tidak seiman, maka
bila berhubungan, hukumnya adalah zinah), maka akhirnya dengan tekad
yang bulat itu, saya lakukan puasa Nabi Daud selama 1 bulan penuh.

Alhamdulillah
1 bulan setelah saya lakukan Puasa Nabi Daud, hati istri saya pun
tergerak untuk mulai mempelajari Islam. Ada kejadian yang merubah
pikiran istri saya, setelah saya lakukan puasa Nabi Daud, yaitu, ketika
istri melakukan doa rosario di malam hari (pkl 02.00), sejenak
terlintas dalam pikirannya betapa teduhnya ia melakukan doa secara
Islam dengan menggunakan mukenah.Dan keesokan paginya istri saya
langsung menceritakan kejadian malam itu dan mengatakan kepada saya
untuk segera mencari tempat untuk belajar bagi warga keturunan Cina
yang ingin masuk Islam. Saya sudah memiliki data tempat-tempat warga
keturunan yang ingin masuk Islam.

Akhirnya saya dan istri
berkunjung ke Yayasan Haji Karim Oei di Jl Lautze Pasar Baru.
Alhamdulillah saya dipertemukan dengan Bp H. Syarif Tanudjaya (sekarang
Sekjen PITI dan pimpinan pengajian MUSTIKA).

Ada satu
statemen dari Bp Syarif yang semakin menggugah hati istri saya untuk
segera bersahadat, yaitu ketika istri saya mengatakan " saya mau masuk
islam tapi saya mau belajar dulu" dengan bijaksana Pak Syarif
mengatakan " Proses belajar di Islam itu tidak pernah akan habis,
bahkan kita berkewajiban untuk terus belajar hingga kita ke liang
lahat, kalau diwaktu anda belajar dan anda belum menjadi Islam,
alangkah sayangnya jika kita meninggal dalam keadaan belum memeluk
agama Islam" . Alhamdulillah, satu minggu setelah pertemuan itu (1
April 1998) akhirnya kamipun bersahadat di Masjid Lautze.

Betapa
besarnya Rahmat dan Hidayah yang diberikan Allah SWT kepada kami
sekeluarga, tak dapat kami membalas seluruh Rahmat Berkat dan Hidayah
yang telah Engkau limpahkan bagi kami sekeluarga. Saya dan istri ingin
sekali mengabdikan diri ini untuk kemaslahatan umat dan syiar tentang
agama Islam yang sangat Mulia dan indah ini dan memuat aturan yang
sangat lengkap bagi kehidupan manusia baik di dunia maupun kehidupan di
akhirat.

Kepindahan saya ke dalam agama Islam ini, bukan berarti
saya menghapus seluruh pemahaman agama saya yang lama (Katholik),
tetapi kepindahan ini merupakan kenaikan tingkat pemahaman dari agama
yang lalu, dan merupakan penyempurnaan, dan meluruskan ajaran Nabi Isa
yang telah di putar balikan oleh pengikutNya.

Semoga kisah
singkat saya ini dapat membuka mata hati bagi calon mualaf yang sedang
menunggu dan untuk menerima Hidayah Allah SWT, dan jika ada hal yang
masih ingin ditanyakan dan ingin tukar pikiran saya bersedia untuk
membantu dan bisa hubungi saya pada alamat e-mail ini, atau Hp
xxxx-xxx-xxxx atau ; 021-xxx-xxxxx Wassalammualaikum wr. wb., Moh
Haryanto Masin (Liem Tjeng Lie).

Seperti yang diutarakan Bpk Moh
Haryanto Masin di Milis mualafindonesia, jika anda berminat berdiskusi
dengan beliau dan rekan-rekan lainnya yg turut membantu calon mualaf
dan mualaf silahkan bergabung dalam milis
mualafindonesia@yahoogroups.comatau hubungi kami di Mualaf Center
Online untuk mendapatkan email dan nomor HP Bpk. Moh. Haryanto Masin. (
www.mualaf.com )
Last Updated ( Saturday, 19 January 2008 10:40 ) 

Okto Rahmat Tobing : Menemukan Istri sedang Shalat
Wednesday, 08 March 2006 01:40 mualafindonesia
   
Nama
saya Okto Rahmat Tobing, lahir di Tanjung Pinang, Riau, dari keluarga
Kristen Protestan. Ayah saya salah satu pengurus gereja di HKBP Tanjung
Pinang atau lebih dikenal dengan Situa HKBP Sebagai keluarga yang
fanatik terhadap agama, saya diharuskan aktif mengikuti kegiatan gereja.
Sebenamya,
lingkungan tempat kami tinggal, mayoritas beragama Islam. Tetapi
sepengetahuan saya, agama Islam yang mereka anut sebagian besar hanya
Islam abangan. Mereka banyak juga yang ikut Natalan, tidak shalat,
mabuk-mabukan, bahkan berjudi. Memang, toleransi beragamanya cukup
tinggi. Saya sendiri suka mengikuti kegiatan tarawih di bulan Ramadhan
bersama teman-teman. Menginjak remaja, saya mulai risih dengan semua
itu. Apalagi bila mendengar suara azan yang membisingkan telinga.

Hijrah Ke Jakarta
Tamat
SMA, saya hijrah ke Jakarta, melanjutkan studi ke perguruan tinggi.
Saya memutuskan kuliah di Universitas Kristen Indonesia (UKI) dan
tinggal bersama kakak yang juga seorang aktivis gereja. Saya suka
sekali kuliah di kampus tersebut, bahkan aktif mengikuti kegiatan
kampus. Salah satu kegiatannya adalah lomnba dayung yang diadakan
Universitas Islam Indonesia (UII) di Yogyakarta. Saya termasuk
kontingen yang mewakili kampus UKI, di kota gudeg itu, saya berkenalan
dengan gadis beragama Islam dan selanjutnya kami berpacaran.

Setelah
kami sama-sama lulus kuliah, saya dan si dia memutuskan tinggal dan
mengadu nasib di Jakarta. Niat itu kesampaian, Saya mendapatkan
pekerjaan di sebuah perusahaan swasta.

Setelah mantap secara
ekonomi, saya memberanikan diri datang ke rumah pacar saya itu dan
menjelaskan ke orang tuanya mengenai hubungan kami. Tetapi, apa yang
saya harapkan sirna setelah orang tuanya mengetahui saya beragama
Kristen. la menolak hubungan kami, kecuali bila saya bersedia masuk
Islam.

Sejak itu, kami selalu sembunyi-sembunyi menjalin
hubungan. Saya sebagai seorang Kristen yang fanatik, ketika itu berniat
mengkristenkan pacar saya itu. Berbagai upaya saya lakukan untuk
meyakinkan si dia. Ternyata tidak sia-sia. Pacar saya itu pun akhirnya
bersedia masuk Kristen.

Saya terus mengajaknya ke gereja untuk
mempelajari agama Kristen (Bibel) lebih jauh, dan selanjutnya ia
dibaptis di HKBP Bekasi. Setelah itu, karni melangsungkan pernikahan di
Gereja HKBP Rawamangun dengan pesta adat tanpa restu kedua orang tuanya.

Menemukan Istri Shalat

Setelah
enam bulan menikah, tanpa sengaja saya menemukan istri saya sedang
melaksanakan shalat. Saya waktu itu sangat marah. Tetapi kemarahan itu
saya pendam saja. Saya ingin sekali mengadukan masalah ini kepada kakak
saya. Tetapi biarlah saya selesaikan sendiri. Entah dari mana asalnya,
kakak saya akhirnya mengetahui masalah ini. Saya dipanggil (disidang)
untuk menjelaskan perihal istri saya yang melakukan shalat dan status
saya yang masih Kristen.

Sebagai seorang yang berpendidikan dan
demokratis, saya mengizinkan istri menjalankan shalat. Hingga suatu
ketika, saya diajak istri untuk menemui seseorang di kawasan Tebet.
Ternyata orang tersebut adalah seorang mualaf, bernama Dr. Bambang
Sukamto (baca kisah mualaf Dr Bambang Sukamto ini )

Di rumah itu
juga, saya bertemu dengan K.H. Abdullah Wasian, seorang kristolog dan
Bapak Abraham David Mendey, mantan pendeta. (baca kisah mualaf Bpk.
Abraham David Mendey ini di website ini, Saya sempat berargumentasi
dengannya. Di antaranya mengenai ayat-ayat Bibel (Alkitab) yang
janggal. Juga mengenai Nabi Muhammad yang sebenarnya ada di dalam
Alkitab, yaitu yang tertera dalam Perjanjian Lama 18:18 yang berbunyi,
"Secrang nabi akan dibangkitkan di antara saudara saudara mereka
seperti engkau ini, apakah engkau menaruh firmanku pada mulutnya ia
akan mengatakan kepada mereka segala yang kuperintahkan. "

Jadi,
di Perjanjian Lama itu ada disebutkan tentang Nabi Muhammad. Tetapi
ayat tersebut tak pernah diakui oleh orang-orang Kristen. Lalu, saya
juga diberi kaset video tentang perjuangan Nabi Muhammad SAW. Walaupun
dengan bahasa Arab, tetapi saya menyukainya.

Saya mulai
membandingkan penyebaran agama Kristen dengan Islam yang sangat
berbeda. Dalam film tersebut, sosok Nabi Muhammad tidak divisualkan
(digambarkan). Itu karena Nabi Muhammad adalah sosok yang suci dan
agung. Di film tersebut saya juga menyaksikan bagaimana perjuangan kaum
muslimin serta siksaan-siksaan yang mereka terima dalam mempertahankan
agama Allah.

Sejak itu, saya semakin tertarik mempelajari Islam
lebih jauh. Lalu, saya menernui K.H. Abdullah Wasian Ia menjelaskan
bahwa Yesus (Isa Almasih) itu penyebar Islam, dan sampai sekarang
beliau tidak mati serta tidak disalib. Karena, menurutnya, rasul itu
tidak ada yang mati sengsara. Saya mencoba merenungi perkataannya.

Saya
terus berdiskusi dengan kristolog ini hingga saya yakin betel bahwa
Islam adalah agama yang benar, dan selanjutnya saya menyatakan diri
masuk agama Islam. Maka pada tanggal 5 Juli 1994, saya mengucapkan
ikrar dua kalimat syahadat bersama istri yang pernah saya kristenkan
(murtadkan) di Masjid Al-Ittihad, Tebet, Jakarta Selatan, disaksikan
oleh jamaah shalat dhuha.

Selanjutnya, untuk memantapkan
keislaman, khususnya ibadah shalat, saya dibimbing langsung oleh istri
saya. Sedangkan masalah tauhid, saya dibimbing oleh seorang mualaf yang
sekarang menjadi dai dan Ketua Yayasan Pendidikan Mualaf, Drs. H.
Syamsul Arifin Nababan. Alhamdulillah, kini, saya dipercaya menjadi
pengurus Masjid At-Taubah di lingkungan tempat kami tinggal.
Last Updated ( Saturday, 19 January 2008 16:52 )

Dr. Antonius S Kumanireng : Apakah Yesus datang utk menebus dosa-dosa manusia ?
Friday, 03 March 2006 22:10 mualafindonesia
   
Nama
saya Antonius Sina Kumanireng, kerap disapa Anton Sina. Saya anak kedua
dari lima bersaudara yang lahir di tengah-tengah keluarga penganut
Kristen Katolik yang masih sangat ketat mengamalkan ajaran agama. Ayah
saya, Kumanireng, salah seorang pastor sekaligus anggota DPRD Tk. II
Kab. Ende, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Tempat kelahiran saya
mayoritas penduduknya beragama Kristen, termasuk seluruh keluarga saya.
Sejak
kecil, saya telah dipersiapkan menjadi calon pendeta yang diharapkan
menjadi penyebar agama di kampung halaman. Karena itu, saya pun sejak
kecil bekerja sebagai tukang pukul lonceng gereja. Meskipun ayah saya
terbilang penganut Kristen yang ketat, namun sejak kecil saya sering
memberontak terhadap keluarga dan para pastor.

Saya kerap
melemparkan pertanyaan kepada para pendeta, meskipun mereka sering
memberikan jawaban yang tidak memuaskan. Dan kekecewaan itu, saya terus
mencari kebenaran lewat gereja. Suatu ketika saya ikut kebaktian di
gereja. Tba-tiba hati saya yang gundah menjadi tenang. Tapi, ketika
keluar dari gereja hati saya kembali bimbang dan kacau. Bahkan,
menyebabkan saya bertengkar dengan saudara saya di rumah. Maklum,
keluarga saya termasuk keluarga yang kacau.

Saya sendiri tak
paham betul, apa sesungguhnya yang menyebabkan keluarga saya
berantakan. Padahal, tiap hari keluar-masuk gereja. Saya sendiri bahkan
terlibat minum-minuman keras. Hati saya terus bertambah kacau.
Akhirnya, saya mencari kebenaran di luar rumah.

Suatu ketika,
saya ditawari pastor untuk belajar ke Roma, Italia, atas beasiswa dari
Belanda. Saya menolak tawaran itu dengan alasan ingin belajar di negeri
sendiri. Saya terus mencari kebenaran karena keluarga saya telah
berantakan. Saya membuka Alkitab Injil, lalu saya temukan Matius
26:20-25 yang berbunyi, "Yesus datang untuk menebus dosa-dosa manusia. "

Saya
terus membaca dan mengkaji, kesimpulan saya bahwa Yesus sendiri tak mau
mati menebus dosa manusia. Sementara itu, saya terus mengkaji ayat-ayat
Injil yang selalu menimbulkan pertentangan antara ayat satu dan
lainnya. Berkat ketekunan mempelajari sejarah dan pergaulan saya dengan
teman teman muslim serta setiap akan memakan babi saya muntah, maka
saya bertambah yakin untuk tidak makan daging babi.

Masuk Islam

Semua
itu rupanya petunjuk langsung dan Allah agar saya segera kembali ke
agama yang sejati. Saya masuk Islam, dan kemudian saya ganti nama
menjadi Abdul Salam. Semua keluarga termasuk ayah tak setuju, bahkan
menjauhi saya.

Saya terus belajar tentang Islam. Saya pun
mempelajari tasawuf. Akhirya, cita-cita saya terwujud mempelajari
tasawuf setelah saya masuk Perguruan Isbatulyah yang mengajarkan kepada
saya soal syariat dan makrifat Islam. Orang yang paling berjasa
terhadap diri saya dalam mempelajari Islam adalah almarhum Usman
Effendi Nitiprajitna. Saya terus mempelajari ilmu kebatinan dari guru
saya itu.

Alhamdulillah, saya telah menjadi seorang muslim,
kendati saya disingkirkan dari seluruh keluarga. Alhasil, saya menanti
seluruh keluarga saya agar mau terbuka dan bertanya kepada saya mengapa
saya memilih masuk agama Islam. Namun, sampai kind, tak ada yang mau
menemui saya.

Saya siap menjelaskan semuanya. Saya bangga masuk
Islam karena Islam mengajarkan umatnya untuk tolong menolong. Meskipun
istri saya masih tetap beragama Kristen, namun saya tetap melaksanakan
shalat. Antara tahun 1970-1973, saya mendapat beasiswa untuk belajar ke
Universitas Yokohama Jepang. Alhamdulillah, ke yakinan saya justru
semakin kokoh setelah saya bergaul dengan orang-orang Jepang. Padahal,
dulunya, saya termasuk peminum berat alkohol. Tapi, sesudah menjadi
muslim, saya pun meninggalkan kebiasaan buruk itu.

Setelah
berhasil menyelesaikan studi di Jepang dengan gelar doktor kimia, saya
mendapat tawaran kerja dari ITB dan beberapa perusahaan besar di Tanah
Air. Namun, saya lebih senang memilih Universitas Hasanuddin Makassar,
karena PTN itulah yang pertama kali menawarkan aku mengajar.

Bersyukur

Oh
ya, saya mempunyai tiga orang anak. Namanya Yuliana, Elizabeth, dan
Isa. Saya memberikan kebebasan kepada anak-anak saya untuk memilih
agama yang mereka anggap paling benar. Anak saya yang bungsu berkata
kepada saya, ia tak akan masuk Islam apa pun yang terjadi. Setelah
melewati waktu cukup panjang dalam memberikan pemahaman yang benar
tentang Islam, akhirnya Yuliana dan Elizabeth mau mengikuti jejak saya,
masuk Islam.

Saya bangga dan bersyukur kepada Allah Walaupun
saya tak pernah memaksa anak-anak masuk Islam, tapi karena kesadaran
sendiri, mereka akhirnya masuk Islam. Si bungsu yang keras dan benci
terhadap agama Islam pun tiba-tiba berubah sikap dan mau masuk Islam.
Alangkah bahagianya had saya. Semua anak-anak saya telah memilih jalan
yang benar.

Semangat beragama dan kecintaan saya kepada Islam
bertambah dalam. Apalagi berkat bantuan Prof-Dr. H. Nasir Nessa yang
memberikan kesempatan kepada saya menunaikan ibadah haji. Berbagai
kemudahan saya dapatkan di Tanah Suci. Antara lain, saya dapat dengan
mudah mencium Hajar Aswad. Tak lupa, saya pun mendoakan seluruh
keluarga saya agar dibukakan pintu hatinya menerima kebenaran Islam.

Kecewa

Setelah
bertahun tahun melakukan pendalaman terhadap Islam, akhirnya-saya
menemukan kebenaran yang hakiki (sejati) itu di dalam Islam. Namun,
saya sempat kecewa setelah masuk Islam. Saya melihat umat Islam
menganut agamanya semata-mata karena faktor keturunan, sehingga wujud
pengamalannya masih minus. Islam semata-mata hanya simbol, tanpa
diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Saya benar-benar kecewa dan tak
menyangka kalau umat Islam ternyata masih banyak yang tidak memahami
ajaran agamanya secara benar.

Kekecewaan itu muncul, barangkali
lantaran saya yang mualaf ini terlalu berharap banyak dari umat Islam.
Ternyata, semua harapan itu sirna. Banyak umat Islam tak menghargai
agamanya. Padahal, saya sebelum masuk Islam bertahun-tahun mengembara,
berguru dari satu tempat ke tempat lain, demi membuktikan kebenaran
yang ada di dalam Islam. Mengapa umat Islam sendiri tak bangga terhadap
agamanya? Bukankah Islam agama suci? tapi akhirnya saya sadar bahwa itu
semua kembali kepada pribadi masing-masing, yang jelek hanya sebagian
kecil, masih banyak pribadi-pribadi ummat Islam yang patut dicontoh dan
jadi panutan karena pada dasarnya Islam adalah agama yang Suci dan
hakiki.

Akhirnya saya benar-benar bersyukur betapa nikmatnya
hidup dalam panji Islam yang penuh rahmat dan hidayah Allah SWT. Saya
pun bersyukur karena setiap menjelang Lebaran, saya bersama tiga orang
anak saya bersama-sama melakukan shalat Idul Fitri di Lapangan
Karebosi, Makassar. Padahal, sebelum mereka masuk Islam, saya terkadang
merasa sunyi, karena merayakan Hari Raya suci ini seorang diri.

Kini,
saya mengabdi di Universitas Hasanuddin Makassar sebagai dosen yang
tiap hari bergaul di tengah mahasiswa dan sesekali berdialog tentang
Islam. Saya bangga dapat mengabdi di sebuah almamater yang sangat
menghargai pendapat orang lain.

Oleh Bachtiar AK dan
Silahuddin B/Albaz dari Buku "Saya memilih Islam" Penyusun Abdul Baqir
Zein, Penerbit Gema Insani Press website : http://www.gemainsani.co.id/ oleh Mualaf Online Center (MCOL) http://www.mualaf.com

Last Updated ( Saturday, 19 January 2008 17:03 )

Bernard Nababan : Ragu pada isi Alkitab
Thursday, 02 February 2006 23:19 mualafindonesia
   
Pengantar
: Menjadi seorang pendeta adalah harapan kedua orang tuanya. Namun,
kehendak Allah SWT mengantarkan Bernard Nababan pada kebenaran Islam.
Bahkan, ia akhirnya menjadi juru dakwah dalam agama Islam.

Saya
lahir di Tebing Tinggi, Sumatra Utara, 10 November 1966. Saya anak ke-3
dari tujuh bersaudara. Kedua orang tua memberi saya nama Bernard
Nababan. Ayah saya adalah seorang pendeta Gereja HKBP (Huria Kristen
Batak Protestan) di Sumatra Utara. Sedangkan, ibu seorang pemandu
lagu-lagu rohani di gereja. Sejak kecil kami mendapat bimbingan dan
ajaran-ajaran kristiani. Orang tua saya sangat berharap salah seorang
dari kami harus menjadi seorang pendeta. Sayalah salah satu dari
harapan mereka.
Kemudian, saya disekolahkan di lingkungan yang
khusus mendidik para calon pendeta, seperti Sekolah Pendidikan Guru
Agama (PGA) Kristen. Lalu berlanjut pada Sekolah Tinggi Teologi (STT)
Nomensen, yaitu sekolah untuk calon pendeta di Medan. Di kampus STT ini
saya mendapat pendidikan penuh. Saya wajib mengikuti kegiatan seminari.
Kemudian, saya diangkat menjadi Evangelist atau penginjil selama tiga
tahun enam bulan pada Gereja HKBP Sebagai calon pendeta dan penginjil
pada Sekolah Tinggi Teologi, saya bersama beberapa teman wajib
mengadakan kegiatan di luar sekolah, seperti KKN (Kulah Kerja Nyata).

Tahun
1989 saya diutus bersama beberapa teman untuk berkunjung ke suatu
wilayah. Tujuan kegiatan ini, selain untuk memberi bantuan sosial
kepada masyarakat, khususnya masyarakat muslim, juga untuk menyebarkan
ajaran Injil. Dua prioritas inilah yang menjadi tujuan kami berkunjung
ke perkampungan muslim. Memang, sebagai penginjil kami diwajiban untuk
itu. Sebab, agama kami (Kristen) sangat menaruh perhatian dan
mengajarkan rasa kasih terhadap sesamanya.

Berdialog

Dalam
kegiatan ini saya sangat optimis. Namun, sebelum misi berjalan, saya
bersama teman-teman harus berhadapan dulu dengan para pemuka kampung.
Mereka menanyakan maksud kedatangan kami. Kami menjawab dengan terus
terang. Keterusterangan kami ini oleh mereka (tokoh masyarakat) dijawab
dengan ajakan berdialog. Kami diajak ke rumah tokoh masyarakat itu. Di
sana kami mulai berdialog seputar kegiatan tersebut. Tokoh masyarakat
itu mengakui, tujuan kegiatan kami tersebut sangat baik. Namun, ia
mengingatkan agar jangan dimanfaatkan untuk menyebarkan agama. Mereka
pada prinsipnya siap dibantu, tapi tidak untuk pindah agama.

Agama
Kristen, masih menurut tokoh masyarakat itu, hanya diutus untuk Bani
Israel (orang Israel) bukan untuk warga di sini, Kami hanya diam.
Akhirnya, tokoh masyarakat itu mulai membuka beberapa kitab suci agama
yang kami miliki, dari berbagai versi. Satu per satu kelemahan Alkitab
ia uraikan. la juga membahas buku Dialog Islam-Kristen antara K.H.
Baharudin Mudhari di Madura dengan seorang pendeta.

Dialog
antara kami dan tokoh masyarakat tersebut kemudian terhenti setelah
terdengar azan magrib. Kemudian, kami kembali ke asrama sebelum
kegiatan itu berlangsung sukses. Dialog dengan tokoh masyarakat
tersebut terus membekas dalam pikiran saya. Lalu, saya pun membaca buku
Dialog Islam Kristen tersebut sampai 12 kali ulang. Lama-kelamaan buku
itu menpengaruhi pikiran saya. Saya mulai jarang praktek mengajar
selama tiga hari berturut-turut. Akhirnya, saya ditegur oleh pendeta.
Pendeta itu rupanya tahu saya berdialog dengan seseorang yang mengerti
Alkitab. "Masa’ kamu kalah sama orang yang hanya tahu kelemahan
Alkitab. Padahal kamu telah belajar selama 3,5 tahun. Dan kamu juga
pernah mengikuti kuliah seminari," katanya dengan nada menantang dan
sinis.

Kabur dari Asrama

Sejak peristiwa itu, saya jadi
lebih banyak merenungkan kelemahan-kelemahan Alkitab. Benar juga apa
yang dikatakan tokoh masyarakat itu tentang kelemahan kitab suci umat
Kristen ini. Akhirnya saya putuskan untuk berhenti menjadi calon
pendeta. Saya harus meninggalkan asrama. Dan pada tengah malam, dengan
tekad yang bulat saya lari meninggalkan asrama. Saya tak tahu harus ke
mana. Jika pulang ke rumah, pasti saya disuruh balik ke asrama, dan
tentu akan diinterogasi panjang lebar.

Kemudian saya pergi naik
kendaraan, entah ke mana. Dalam pelarian itu saya berkenalan dengan
seorang muslim yang berasal dari Pulau Jawa. Saya terangkan kepergian
saya dan posisi saya yang dalam bahaya. Oleh orang itu, saya dibawa ke
kota Jember, Jawa Timur. Di sana saya tinggal selama satu tahun. Saya
dianggap seperti saudaranya sendiri. Saya bekerja membantu mereka.
Kerja apa saja. Dalam pelarian itu, saya sudah tidak lagi menjalankan
ajaran agama yang saya anut. Rasanya, saya kehilangan pegangan hidup.

Selama
tinggal di rumah orang muslim tersebut, saya merasa tenteram. Saya
sangat kagum padanya. Ia tidak pemah mengajak, apalagi membujuk saya
untuk memeluk agamanya. la sangat menghargai kebebasan beragama. Dari
sinilah saya mulai tertarik pada ajaran Islam. Saya mulai bertanya
tentang Islam kepadanya. Olehnya saya diajak untuk bertanya lebih jauh
kepada para ulama. Saya diajak ke rumah seorang pimpinan Pondok
Pesantren Rhoudhotul ‘Ulum, yaitu K.H. Khotib Umar.

Kepada
beliau saya utarakan keinginan untuk mengetahui lebih jauh tentang
ajaran Islam. Dan, saya jelaskan perihal agama dan kegiatan saya. Tak
lupa pula saya jelaskan tentang keraguan saya pada isi Alkitab yang
selama ini saya imam sebagai kitab suci, karena terdapat kontradiksi
pada ayat-ayatnya. Setelah saya jelaskan kelemahan Alkitab secara
panjang lebar, K.H. Khotib Umar tampak sangat terharu. Secara spontan
beliau merangkul saya sambil berkata, "Anda adalah orang yang
beruntung, karena Allah telah memberi pengetahuan pada Anda, sehingga
Anda tahu bahwa Alkitab itu banyak kelemahannya."

Setelah itu
beliau mengatakan, jika ingin mempelajari agama Islam secara utuh, itu
memakan waktu lama. Sebab, ajaran Islam itu sangat luas cakupannya.
Tapi yang terpenting, menurut beliau adalah dasar-dasar keimanan agama
Islam, yang terangkum dalam rukun iman.

Masuk Islam

Dari
uraian K.H. Khotib Umar tersebut saya melihat ada perbedaan yang sangat
jauh antara agama Islam dan Kristen yang saya anut. Dalam agama
Kristen, saya mengenal ada tiga Tuhan (dogma trinitas), yaitu Tuhan
Bapak, Tuhan Anak, dan Roh Kudus. Agama Kristen tidak mempercayai
kerasulan Muhammad SAW, Bahkan, mereka menuduhnya tukang kawin. Mereka
juga hanya percaya kepada tiga kitab suci, Taurat, Zabur, dan Injil.

Ajaran
Kristen tidak mempercayai adanya siksa kubur, karena mereka
berkeyakinan setiap orang Kristen pasti masuk surga. Yang terpenting
bagi mereka adalah tentang penyaliban Yesus, yang pada hakekatnya Yesus
disalib untuk menebus dosa manusia di dunia.

Penjelasan K.H.
Khotib Umar ini sangat menyentuh hati saya. Penjelasan itu terus saya
renungkan. Batin saya berkata, penjelasaan itu sangat cocok dengan hati
nurani saya. Lalu, kembali saya bandingkan dengan agama Kristen.
Ternyata agama Islam jauh lebih rasional (masuk di akal) daripada agama
Kristen yang selama ini saya anut. Oleh karena itu saya berminat untuk
memeluk agama Islam.

Keesokan harinya, saya pergi lagi ke rumah
KH. Khotib Umar untuk menyatakan niat masuk Islam. Beliau terkejut
dengan pernyataan saya yang sangat cepat. Beliau bertanya, "Apakah
sudah dipikirkan masak-masak?" "Sudah," suara saya meyakinkan dan
menyatakan diribahwa hati saya sudab mantap.

Lalu beliau
membimbing saya untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Sebelum ikrar
saya ucapkan, beliau memberikan penjelasan dan nasehat. Di antaranya,
"Sebenarnya saat ini Anda bukan masuk agama Islam, melainkan kembali
kepada Islam. Karena dahulu pun Anda dilahirkan dalam keadaan Islam.
Lingkunganmulah yang menyesatkan kamu. Jadi, pada hakikatnya Islam
adalah fitrah bagi setiap individu manusia. Artinya, keislaman manusia
itu adalah sunnatullah, ketentuan Allah. Dan, menjauhi Islam itu
merupakan tindakan irrasional. Kembali kepada Islam berarti kembali
kepada fitrahnya," ujar beliau panjang lebar. Saya amat terharu. Tanpa
terasa air mata meleleh dari kedua mata saya.

Sehari setelah
berikrar, saya pun dikhitan. Nama saya diganti menjadi Syamsul Arifin
Nababan. Saya kemudian mendalami ajaran Islam kepada K.H. Khotib Umar
dan menjadi santrinya. Setelah belajar beberapa tahun di pondok
pesantren, saya amat rindu pada keluarga. Saya diizinkan pulang.
Bahkan, beliau membekali uang Rp 10.000 untuk pulang ke Sumatra Utara.

Dengan
bekal itu saya akhirnya berhasil sampai ke rumah orang tua. Dalam
perjalanan, banyak kisah yang menarik yang menunjukkan kekuasaan Allah.
Sampai di rumah, ibu, kakak, dan semua adik saya tidak lagi mengenali
saya, karena saya mengenakan baju gamis dan bersorban. Lalu, saya
terangkan bahwa saya adalah Bernard Nababan yang dulu kabur dari rumah.
Saya jelaskan pula agama yang kini saya anut. Ibu saya amat kaget dan
shock. Kakak-kakak saya amat marah. Akhirnya saya diusir dari rumah.

Usiran
merekalah yang membuat saya tegar. Saya kemudian pergi ke beberapa kota
untuk berdakwah. Alhamdulillah, dakwah-dakwah saya mendapat sambutan
dari saudaraudara kaum muslimin. Akhirnya saya terdampar di kota
Jakarta. Aktivitas dakwah saya makin berkembang. Untuk mendalami
ajaran-ajaran agama, saya pun aktif belajar di Ma’had al-Ulum
al-Islamiyah wal abiyah atau UPIA Jakarta.
Last Updated ( Saturday, 19 January 2008 16:57 )

Gold Fret : Mendengar Bacaan Al-Qur’an
Thursday, 29 December 2005 07:20 mualafindonesia
   
AYAH
saya seorang pastor atau pendeta dalam agama Kristen Katolik. Beliau
mengajarkan Alkitab (Injil) pada saya sejak saya masih kecil dengan
harapan agar saya menjadi penerus cita-citanya di kemudian hari. Saya
belajar Alkitab pasal demi pasal dan ayat demi ayat dengan seksama.
Berkat bimbingannya, saya betul-betul memahami kandungan dan tafsiran
Alkitab. Sejak saya berumur empat belas tahun, saya diberi kepercayaan
berceramah di gereja pada setiap hari Minggu dan hari-hari keagamaan
Kristen lainnya.

Setelah saya banyak membaca Alkitab, banyak
saya dapatkan kejanggalan-kejanggalan di dalamnya. Dalam Alkitab,
antara pasal satu dan pasal lainnya banyak terjadi pertentangan, dan
banyak ajaran gereja yang bertentangan dengan isi Alkitab.
Misalnya,
Yohanes pasal 10 ayat 30, menerangkan bahwa Allah dan Yesus (Isa)
bersatu, yaitu, "Aku dan Bapa adalah satu." Sedangkan, pada Matius
pasal 27 ayat 46 menjelaskan bahwa Yesus dan Allah berpisah, yaitu,
"Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring, ‘Eli, Eli,
lama sabakhtani?"’ Artinya, "Tuhanku, Tuhanku, mengapa Engkau
meninggalkan aku?"

Dalam ajaran gereja, seorang bayi yang lahir
akan membawa dosa warisan dari Nabi Adam dan 1bu Hawa. Juga, bayi yang
mati sebelum dibaptis tidak akan masuk surga. Ajaran ini bertentangan
dengan Alkitab Yehezkiel pasal 18 ayat 20 dan Matius pasal 19 ayat 14
menerangkan bahwa manusia hanya menanggung dosanya sendiri, tidak
menanggung dosa orang lain. Bayi yang meninggal sebelum dibaptis akan
masuk surga, karena anak tidak akan turut menanggung kesalahan ayahnya
dan ayah tidak akan turut menanggung kesalahan anaknya. Orang yang
benar akan menerima berkat kebenarannya, dan orang yang fasik akan
menanggung akibat kefasikannya.

Sementara, pada Matius 19 ayat
14 Yesus berkata, "Biarlah anak-anak itu, jangan menghalang-halangi
mereka datang padaku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang
mempunyai Kerajaan Surga."

Dengan semua itu saya merasa
bimbang. Injil mana yang harus saya ikuti, sedangkan semuanya kitab
suci? Dan apakah ajaran gereja yang harus saya ikuti, sedangkan
ajarannya bertentangan dengan Alkitab ?

Saya ragu dengan
keautentikan Alkitab, karena kalau Injil yang ada sekarang ini asli,
tidak mungkin satu sama lain saling bertentangan. Saya juga ragu dengan
kebenaran ajaran gereja karena kalau ajaran gereja itu benar, tidak
mungkin bertentangan dengan kitab sucinya.

Karena mendapatkan
kejanggalan dalam Alkitab dan pertentangan ajaran gereja dengan kitab
sucinya, saya menjadi enggan membaca Injil dan buku buku agama
(Kristen), karena saya yakin tidak akan mendapat kebenaran dalam
Kristen.

Mendengar Bacaan Al-Qur’an

Pada suatu hari saya
berjalan di dekat masjid. Tiba-tiba saya gemetar dan tidak bisa
berjalan disebabkan mendengar suara dari dalam masjid. Setelah saya
pulang ke rumah, saya bertanya pada teman-teman tentang suara yang saya
dengar itu. Tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang tahu tentang
suara itu.

Setelah keesokan harinya saya bertanya pada teman
sekolah yang beragama Islam, dia menjelaskanbahwa "suara" yang saya
dengar di dalam masjid adalah suara orang membaca A1-Qur’an. Kemudian
saya bertanya, "Apa sih, Al-Qur’an itu?" Dia menjawab, "Al-Quran itu
kitab suci umat Islam." Kemudian saya meminta Al-Qur’an padanya. Tetapi
dia tidak memberikan dengan alasan saya tidak punya wudhu.

Setelah
saya pulang dari sekolah, saya langsung mencari orang yang beragama
Islam untuk meminjam A1-Qur’an. Akhirnya saya berjumpa dengan orang
Islam yang bernama Abdullah. Ia keturunan Arab. Lalu saya pinjam
Al-Qur’an padanya dan saya jelaskan padanya bahwa saya beragama Katolik
dan ingin mempelajari Al-Qur’an. Dengan senang hati ia meminjamkan saya
terjemahan Al-Qur’an dan riwayat hidup Nabi Muhammad saw..

Saya
baca Al-Qur’an ayat demi ayat dan surat demi surat. Saya pahami kalimat
demi kalimat dengan seksama. Akhirnya saya berkesimpulan, hanya
Al-Qur’anlah satu-satunya kitab suci yang asli dan hanya Islamlah
satu-satunya agama yang benar.

Al-Qur’an membahas persoalan
ketuhanan dengan tuntas, bahasanya mudah dipaharni, dan argumentasinya
rasional. Di samping itu, Al-Qur’an juga membahas tentang Nabi Isa
(Yesus) sejak sebelum dikandung, dalamn kandungan, waktu dilahirkan,
masa kanak-kanak dan remaja, mukjizatnya, dan kedudukannya sebagai
Rasul Allah, bukan anak Allah.

Sejak mendapatkan kebenaran
Islam, saya mempunyai keinginan yang kuat untuk memeluk agama Islam.
Singkat cerita, kemudian saya datang menjumpai Abdullah dan saga
jelaskan keinginan saga padanya.

la menyambut hasrat saya itu
dengan hati ikhlas, dan ia membimbing saya membaca dua kalimat
syahadat. Setelah menjadi seorang muslim, nama saya diganti menjadi
Dzulfikri. Kemudian saya belajar pada Abdullah tentang hal-hal yang
diwajibkan dan yang dilarang dalam Islam.

Setelah itu saya
mondok di sebuah pesantren. Di situ saya belajar agama selama satu
tahun. Kemudian saya pindah ke kota Malang, Jawa Timur. Di kota ini
saya terus menuntut ilmu agama sambil kuliah
Last Updated ( Thursday, 24 January 2008 01:42 ) 

WS Rendra : air zamzam pun rasanya seperti Minuman Chevas Regal
Wednesday, 30 November 2005 07:51 mualafindonesia
   
Memperingati 7 Dasawarsa WS Rendra: 7 November 1935

Pengantar
: Kamis malam, 8 November 1991, TIM (Taman Ismail Marzuki) kembali
berguncang. Tetapi, itu bukan karena ulah Rendra yang biasa membaca
puisi "panas" yang sarat dengan kritik sosial. Persoalannya justru
timbal karena pihak berwajib (Polda Metro Jaya) tidak mengizinkan sang
Penyair kondang ini rnembacakan dua buah puisinya yang berjudul Demi
Orang-orang Rangkas Bitung dan Doa Seorang Pemuda Rangkas Bitung di
Rotterdam.

Apa sebabnya sehingga dua judul puisi itu tidak boleh
dibacakan, memang belum jelas. Barangkali karena dua puisi tersebut
dikhawatirkap akan membuat keresahan di masyarakat. Tetapi, masyarakat
mana yang diresahkan oleh puisi Rendra tersebut? Wallahu a’lam.
Malam
itu, sedianya saya hendak membacakan delapan judul puisi. Namun, pihak
yang berwajib hanya mengizinkan enam judul puisi. Karena larangan
terhadap dua puisi tersebut, meskipun izin pertunjukkan diberikan, saya
menolak berpentas. Waktu itu saya katakan, lebih baik tidak membacakan
puisi sama sekali. Inilah sikap perlawanan saya.

Melalui dua
puisi itu, saya hanya ingin bertanya, apakah rakyat Indonesia sudah
mendapatkan hak hukum. Ini ‘kan pertanyaan wajar, toh? Tidak menyalahi
hukum akal sehat. Juga tidak menyalahi undang-undang. Kalau rakyat
tidak mempunyai hak hukum untuk menghadapi adipati-adipati yang baru,
apa itu namanya bangsa merdeka? Kalau bangsa Anda tidak mempunvai hak
hukum, apakah dapat disebut sebagai bangsa yang merdeka?

Dengan
pelarangan ini, sekarang yang terlintas di pikiran saya adalah betulkah
kenyataan yang mengatakan bahwa negara kita memang sudah merdeka,
tetapi bangsa Indonesia belum merdeka? Nurani kita belum merdeka atau
dimerdekakan.

Hijrah Keyakinan

Saya memang telah memilih
jalan hidup saya sebagai seniman. Sejak muda, saya telah
malang-melintang di dunia teater. Bahkan, kemudian sava dikenal-sebagai
"dedengkot" Bengkel Teater sewaktu masih tinggal di Yogyakarta. Melalui
Bengkel Teater inilah saya telah mendapatkan segalanya: popularitas,
istri, dan juga materi. Bahkan tidak tanggung-tanggung, dalam
kemiskinan sebagai seniman pada waktu itu, saya dapat memboyong seorang
putri Keraton Prabuningratan, BRA Sitoresmi Prabuningrat, yang kemudian
menjadi istri saya yang kedua.

Tetapi justru, melalui perkawinan
dengan putri keraton inilah, akhirnya saya menyatakan diri sebagai
seorang muslim. Sebelumnya saya beragama Katolik. Meskipun dalam
rentang waktu yang cukup panjang-setelah memperoleh 4 orang
anak–perkawinan saya kandas. Tetapi, keyakinan saya sebagai seorang
muslim tetap terjaga.

Bahkan, setelah perkawinan dengan istri
yang ketiga, Ken Zuraida, saya semakin rajin beribadah dan mendekatkan
diri kepada Allah SWT. Dan bukan suatu kebetulan, jika saya kemudian
bergabung bersama Setiawan Djodi dan Iwan Falls dalam grup Swami dan
Kantata Takwa.

Bagi saya, puisi bukan hanya sekadar ungkapan
perasaan seorang seniman. Tetapi lebih dari itu, puisi merupakan sikap
perlawanan saya kepada setiap bentuk kezaliman dan ketidakadilan. Dan,
itulah manifestasi dari amar ma’ruf nahi munkar seperti yang selalu
diperintahkan Allah di dalam Al-Qur’an.

Sebagai penyair, saya
berusaha konsisten dengan sikap saya. Bagi saga, menjadi penyair pada
hakikatnya menjadi cermin hati nurani dan kemanusiaan. Penyair itu
bukan buku yang dapat dibakar atau dilarang, bukan juga benteng yang
bisa dihancur leburkan. Ia adalah hati nurani yang tidak dapat
disamaratakan dengan tanah. Mereka memang dapat dikalahkan, tetapi
tidak dapat disamaratakan dengan tanah begitu saja.

Pergi Haji

Meskipun
sudah menjadi orang Islam, tetapi saya masih suka meminum minuman
keras. Seenaknya saja saya katakan bahwa tidak ada masalah dengan hal
itu. Waktu itu, saga selalu katakan, kalau saya membaca
bismillahirrahmanirrahim, maka minuman keras menjadi air.

Ketika
naik haji, apa saja yang saya tenggak terasa seperti minuman keras
merek Chevas Regal. Minum di sini, minum di sana, rasanya seperti
minuman keras. Bahkan, air zamzam pun rasanya seperti Chevas Regal,
sampai saya bersendawa, seperti orang yang selesai meminum minuman
keras.

Lirih, saya memohon. "Aduh, ya Allah, saya ini sudah
memohon ampun. Ampun, ampun, ampun, ya Allah." Saya betul-betul merasa
takut, kecut, malu, dan juga marah, sehingga saya ingin berteriak,
"Bagaimana, sih? Apa maksud-Mu? Jangan permalukan saya, dong!" Saya
baru merasakan air lagi dalam penerbangan dari Jedah ke Amsterdam.
Alhamdulillah! Saya betul-betul bersyukur. Setelah ini, saya tidak akan
meminum minuman keras lagi. oleh Mualaf Online Center http://www.mualaf.com

Tujuh Dasawarsa Sang Burung Merak

Jakarta
- Senin (28/11) semua kursi di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail
Marzuki, Jakarta, penuh terisi. Meski panggung hanya didominasi satu
warna, hitam, gairah pengunjung tetap terasa. Ya, malam itu merupakan
malam penghormatan bagi sang pemilik usia, sastrawan besar Indonesia,
Willibrordus Surendra Broto Rendra atau Rendra, yang telah menginjak
usia ke-70.

Tujuh puluh tahun memang bukanlah sebuah rentang
usia yang pendek. Apalagi bila sang pemilik usia adalah orang besar
seperti Rendra yang mengisi hidupnya untuk mewarnai kehidupan banyak
orang.

Tak ada kue ulang tahun mewah, apalagi pesta yang
ingar-bingar malam itu. Namun, orang-orang yang pernah disentuh
hidupnya oleh pemimpin Bengkel Teater ini berusaha merangkai acara
istimewa bagi budayawan kelahiran 7 November 1935 yang kerap dijuluki
si Burung Merak tersebut.

Tak pelak, pembacaan karya-karya
monumental sang maestro menjadi sebuah hidangan nikmat bagi para
pengagum, sahabat, dan keluarga dekatnya. Karya-karya yang dipilih
merupakan cermin pemikiran kritis serta pergolakan panjang batin Rendra
selama 50 tahun lebih perjalanan kesastraannya.

Dipandu oleh
aktor kawakan yang juga jebolan Bengkel teater, Adi Kurdi, acara dibuka
dengan pembacaan puisi Nyanyian Orang Urakan yang dibawakan oleh Ketua
Umum Dewan Kesenian Jakarta, Ratna Sarumpaet.

Kemudian sebuah
cerita pendek Gaya Herjan karya Rendra ditampilkan oleh aktor dan
penyair Jose Risal Manua. Dengan gayanya yang khas, Jose mampu
menampilkan kepekaan Rendra terhadap kehidupan manusia sehari-hari
seperti yang ia tunjukkan pada cerpen tersebut.

Sementara itu,
kegelisahan Rendra pada kehidupan politik rezim Orde Baru yang ia
tuangkan dalam Panembahan Roso ditampilkan secara apik oleh Butet
Kertaradjasa. Ia membawakan monolog dari sekelumit bagian karya
tersebut. Monolog yang ia bawakan tak berdiri sendiri, tapi bersanding
dengan pembacaan dramatic reading oleh Amak Baldjun, Syu’bah Asa,
Chaerul Umam, dan Jose Rizal Manua, para alumni Bengkel teater.

Esai
bertajuk Keseimbangan yang dibawakan Adi Kurdi dan sebuah cerpen yang
dibuat pada 1956 berjudul Ia Punya Leher yang Indah dibacakan oleh
pemimpin Teater Koma, N. Riantiarno, pun mengakhiri keseluruhan acara
malam itu. Namun, interpretasi baru Putu Wijaya pada cerpen lama
Rendra, Wascha Ah Wascha, menjadi puncak acara malam itu. Gelak tawa
pengunjung tak henti-hentinya mewarnai pembacaan Putu yang nyleneh.
Selamat ulang tahun, Mas Willi. (Koran tempo / Sita)

Rendra
dimata N. Riantiarno (Pendiri Teater Koma) : Rendra, Dia memang pernah
dikalahkan oleh kekuasaan yang otoriter, tapi, kemudian, ternyata
dialah sang pemenang.

Pertama kali saya bertemu langsung dengan
W.S. Rendra pada April 1968. Dia baru pulang dari Amerika Serikat dan
membawa oleh-oleh yang bagi aktivis teater Indonesia boleh dibilang
asing. Geger tentu saja. Goenawan Mohamad menyebutnya teater minikata.
Itulah latihan-latihan dasar teater yang memang minim kata, nyaris
hanya terdiri atas gerak dan bunyi.

Waktu itu saya mahasiswa
Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) dan anggota Teater Populer.
Teguh Karya, guru kami, ikut pentas teater minikata. Belakangan, Rendra
mengakui, Teguh Karya adalah dramawan yang berhasil mempengaruhinya
sehingga dia semakin bergiat dalam dunia teater.

Baca Puisi di
UnibrawPentas teater minikata digelar di Jakarta pada April 1968.
Nomor-nomor yang disajikan, Bip Bop, Piip, Di Manakah Kau Saudaraku,
Rambate-Rate-Rata, dan Vignet Katakana, sangat memukau. Rendra menjadi
bintang yang menawan. Begitu juga Putu Wijaya, Chaerul Umam, Amak
Baldjun, dan Syubah Asa.

Beberapa hari kemudian, Rendra berkenan
mengunjungi Teater Populer. Grup kami sering dicap sebagai teater
borjuis, mungkin karena kami berlatih di Hotel Indonesia. Padahal kami
sama miskin dengan seniman-seniman teater lain. Makan siang terpaksa
bantingan. Dan jatah kami hanya sebuah bacang ketan isi daging sapi.
Minumnya air putih, langsung dari keran wastafel hotel.

Dalam
pertemuan pada 1968 itu, Rendra mengajak kami melatih gerak kalbu atau
gerak indah. Intinya, dengan mengambil tema tertentu, tubuh bergerak
karena dorongan jiwa. Gerak bisa distimulasi oleh suara musik atau bisa
juga oleh suara jiwa kita sendiri. Sama sekali tak ada pola gerak.
Seluruh gerak terjadi secara spontan. Tapi konsentrasi harus penuh dan
hati jujur. Itulah metode latihan tubuh dan jiwa yang ternyata sangat
efektif bagi aktor.

Setelah pementasan Bip Bop, Rendra pulang ke
Yogyakarta dan berkiprah bersama Bengkel Teater. Tapi teaternya
kemudian dicap oleh penguasa, yang mulai cemas, sebagai kegiatan
berbobot politik dan membahayakan stabilitas nasional.

Sebelum
ke Amerika Serikat, pada 1963, Rendra berhasil mementaskan karya Eugene
Ionesco, The Chair, yang dia sadur menjadi Kereta Kencana. Dia juga
menggelar Odiphus karya Sophocles. Yang menarik, setelah Bip Bop,
Rendra kembali mementaskan teater yang bersumber dari naskah. Dia
menggelar Isteri Yahudi, Informan, dan Mencari Keadilan, terjemahan
karya Bertolt Brecht. Dan dia menggelar sandiwara yang sarat teks pula,
antara lain pentas ulang Oidipus, Hamlet karya Shakespeare dan Menunggu
Godot karya Samuel Becket.

Bentuk pementasan Bengkel Teater baru
mengalami perubahan yang signifikan ketika Kasidah Barzanzi, Macbeth,
Dunia Azwar, dan Lysistrata digelar. Warna lokal jadi bungkus utama
pergelarannya. Dan kekentalan "warna lokal" semakin memancarkan daya
tariknya ketika Rendra mementaskan karya-karya sendiri: Mastodon dan
Burung Kondor, Perjuangan Suku Naga, Sekda, Panembahan Reso, dan
Selamatan Anak Cucu Sulaiman. Ketika Hamlet dan Kasidah Barzanzi
dipentaskan ulang, bentuknya pun mengalami perubahan yang lebih kental
dengan warna lokal, meski siratan isi lakon tetap sama.

Dalam
Perjuangan Suku Naga, Sekda, dan Panembahan Reso, bentuk teater rakyat,
ketoprak, dikemas sebagai stilisasi yang sangat berhasil. Segera saja
Rendra menjadi ikon. Living-legend dan trendsetter yang berhasil
memberi daya hidup bagi dunia teater (dan puisi). Lewat kiprah Rendra,
teater menjadi lebih prestisius, "berharga", dan milik masyarakat luas.
Teater (dan puisi) juga mulai diperhatikan kaum politikus, malah
dianggap memiliki potensi yang bisa mempengaruhi timbulnya pemikiran
baru dalam kebijakan politik bernegara. Ini perkembangan yang menarik
dan penting. Dan kepada Rendra, saya berguru.

Dalam penulisan,
saya berguru kepada Asrul Sani, Arifin C. Noer, dan Goenawan Mohamad.
Guru teater saya adalah Teguh Karya dan Rendra. Memang saya belajar
langsung kepada Teguh Karya, yang mengajari cara mempertahankan daya
kreatif dalam kehidupan yang semakin kompetitif. Saya memetik dasar
pelajaran manajemen kehidupan kreatif dari dia. Tapi cara bagaimana
membangkitkan daya hidup serta mempertahankan stamina dalam gejolak
arus zaman serta menyiasati kemusykilan politik kebudayaan dalam
pemerintahan yang otoriter, secara tak langsung, saya banyak menyerap
dari Rendra.

Pelarangan pentas Teater Koma Suksesi dan Opera
Kecoa, juga pelarangan pentas puisi Rendra, mendorong para seniman
pergi ke DPR RI untuk memprotes pada 1991. Dalam hearing di ruang
sidang pleno DPR RI, para seniman bergiliran bicara. Dan Rendra membaca
puisi dengan sangat-sangat bagus. Indah. Memukau. Itulah pembacaan
puisi terbagus yang pernah saya saksikan.

Rendra kini 70 tahun
(lahir di Solo, 7 November 1935). Berbagai tindakan bermakna dan
inspiratif telah dia lakukan. Dia pernah dipaksa hidup dalam
kemiskinan, terlunta, tanpa uang, seakan tidak memiliki masa depan
pula. Tapi daya hidupnya tak pernah padam. Dia memang pernah dikalahkan
oleh kekuasaan yang otoriter, tapi, kemudian, ternyata dialah sang
pemenang.

Rendra, seniman besar. Milik Indonesia. Permata mulia.
Pikiran-pikirannya tajam. Dia selalu mengungkap apa yang dirasa, tanpa
jengah, tanpa rasa takut. Dengan sikap seperti itu pula dia dicekal dan
dipenjara. Tapi dia tak pernah jera. Rendra adalah empu yang mumpuni.
Hingga kini dia terus memberi kontribusi atas berbagai pikiran yang
bernas. Kita seharusnya bersyukur memiliki dia. (Koran Tempo).

Data WS Rendra
Nama : WILLIBRORDUS SURENDRA BROTO RENDRA
Lahir : Solo, Jawa Tengah, 7 November 1935
Agama : Islam
Pendidikan :
-SMA St. Josef, Solo
-Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada
-American Academy of Dramatic Arts, New York, AS (1967)

Karir :
-Pendiri/Pemimpin
dan sekaligus sebagai sutradara, penulis skenario dan pemain Bengkel
Teater, Yogya (1967 — sekarang) Sebagai penulis puisi dan drama, ia
menghasilkan antara lain: -Sekda
-Perjuangan Suku Naga (drama)
-Ballada orang-orang tercinta (1957)
-Blues untuk Bonnie (1970)
-Potret Pembangunan dalam Puisi (1980) (kumpulan puisi)
-Pamphleten van een Dichter, Holland, 1979
-State of Emergency, Australia (1980) Naskah-naskah pentasnya: Bip-bop
-Oedipus Rex
-Khasidah Barzanji
-Perang Troya tidak akan Meletus

Kegiatan Lain :
-Pemain Film. Memperoleh Hadiah Puisi dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (1957)
-Anugerah Seni dari Departemen P dan K (1969)
-Hadiah Seni dari Akademi Jakarta (1975)

Alamat Rumah :
Jalan Mangga, Perumnas Depok I, Bogor
Last Updated ( Monday, 14 January 2008 11:00 )

SUMBER : www.mualaf.com

agamaislam wrote on Feb 3
Kamis, 2007 September 06
Buku Pendeta Menghujat Islam

Malang
merupakan kota yang dingin lagi sejuk. Keberadaannya terbukti sejak
sebelum kemerdekaan menjadi tempat peristirahatan oleh para Belanda.
Jawa Timur, khususnya Malang, merupakan daerah yang berpenduduk
mayoritas Islam, dan bisa juga di katakan bahwa Malang merupakan daerah
basis Islam yang kuat.

Agama Islam dibawa masuk ke Malang dengan
damai, tanpa ada peperangan. Toleransi antar umat beragama pun terlihat
dengan anggun. Umat Islam di Malangpun sangat toleran terhadap umat
beragama lainnya. Tetapi siapa sangka, di baim toleransi itulah para
missionaris maupun zending memeperdaya umat Islam. Jika dahulu para
Missionaris diberikan fasilitas berupa gedung serta gulden (uang
belanda) serta yang tidak kalah terkenalnya dengan bantuan sembako,
sekarang para Missionaris menggunakan trik-trik memutilasi ayat-ayat Al
Quran untuk menghujat Islam.

Trik-trik diatara cara mereka
adalah menrbitkan sejumlah buku serta brosur-brosur yang berisikan nada
bahwa Agama Kristenlah agama yang paling benar serta di jamin masuk
surga. Sebuah brosur yang berjudul "Akhir Agama Palsu Sudah Dekat" yang
diterbitkan oleh Kristen Saksi Yehovah di daerah Kedung Kandang serta
Jl. Ki Ageng Gribig ini adalah contoh konkrit dari penyebaran agama
Kristen. Padahal menurut Peraturan Bersama serta SKB 2 Menteri hal
semacam ini tidak dibenarkan. Tidak deengan brosur, mereka juga
berusaha menjadikan "Islam" murid Yesus dengan cara membuat Kaligrafi
Arab. Kaligrafi yang di buka dengan kalimat "Aba Ana" ini ternyata
diterbitkan oleh Kanisah Ortodoks Syria pimpinan Bambang Noorsena.

Tidak
dengan itu, mereka ternyata membuat buku-buku yang menghujat agama
Islam. Buku buku ini umumnya merupakan cetakan lama yang diperindah
dengan membuat sampulnya menjadi indah kembali. Dengan kata lain mereka
membuat barang yang sudah usang dan kadaluarsa menjadi barang bagus
lagi.

Umumnya buku-buku ini merupakan buku dari group Nehemia,
pimpinan Suradi Ben Abraham, Ev. Jansen Litik serta para kroco-kroconya
Amos Purnama Winangun. Buku-buku ini selain sesat, juga menyesatkan. Di
dalam buku "Riwayat dan Pusaka Peninggalan Nabi Muhammad" karangan Amos
Purnama Winangun, dikatakan bahwa sebenarnya Khadijah beragama Kristen,
Muhammad itu dikatakan sebagai pemegang ajaran Injil dan Yesus.
Bayangkan, sejak kapan Muhammad menjadi pemegang ajaran Injil yang ada
sekarang?.Lain Amos, Lain pula Abd. Yadi, dengan menggunakan nama Abd.;
maka umat islam awam akan terkecoh dengan trik srigala berbulu domba
Abd. Yadi ini. Di Dalam bukunya "Memahami Allah Tritunggal" dia
memberikan statement bahwa Al Quran mengakui ketuhanan Yesus serta
Trinitas.

Buku-buku ini dijual bebas di toko-toko buku Kristen
di Malang, dari penelusuran kami, buku-buku ini umunya di jual dengan
ahrga yang relatif murah antara Rp 6.500-12.500. Buku-buku ini juga
menajdi pegangan para penginjil untuk mengkristenkan umat Islam.

Berikut ini nama-nama buku yang beredar menghujat Islam di Jawa Timur :

1. Riwayat Singkat dan Pusaka Peninggalan nabi Muhamad SAW (A. Poernama Winangun)

2. Ayat-ayat Al Quran yang Menyelamatkan (A. Poernama Winangun)

3. Isa Alaihisalam dalam Pandangan Islam (A. Poernama Winangun)

4. Al Masih: Ringkasan Kisah Nyata Nabi Isa (Dadang Sasmita)

5. Jawaban Dibalik Jeruji Besi-Penginjilan Pribadi (Abd. Al Masih)

6. Seorang Gadis Kristen Yang Mempertahankan Iman Kristianinya-Penginjilan pribadi (Ev. Jansen Litik)

7. Kedatangan Yesus (Pdt. Markus Agung)

8. Memahami dan Mengenal Allah Tritunggal (Abd. Yadi)

9 Kebenaran Tersembunyi dalam Al Quran (Anonymous)

Sepintas
judul-judul diatas islami, tapi siapa sangkan judul-judul tersebut
merupakan srigala berbulu domba, cerdik seperti ular, tulus seperti
merpati. (Tim Fakta Malang)

Diposting oleh Blog Tim Fakta di 20:54

sumber : http://timfakta.blogspot.com/2007/09/malang-merupakan-kota-yang-dingin-lagi.html

agamaislam wrote on Feb 3
Awas Qasidah Nasrani (1)
tanggal : 10/10/2006

al-islahonline.com
: Biasanya, syair qasidah berisi tentang dakwah dan peringatan bagi
umat Islam. Meski bukan warisan Nabi, qasidah yang digemari kebanyakan
umat Islam Indonesiag ini identik dengan budaya Islam. Tapi, para
penggemar qasidah, harus waspada. Pasalnya, sentuhan seni ala qasidah
bisa dijadikan alat pemurtadan oleh para penginjil.

Salah
satunya dilakukan oleh seorang penginjil asal lamongan, Jawa Timur. Ia
merilis album qasidah Nasrani yang berisi enam lagu berbahasa Arab, dua
lainnya berbahasa Indonesia dan Ibrani. Keenam lagu berbahasa Arab itu
berjudul "Isa Almasih Qudrotulloh, Allahu Akbar, Laukanallohu Aba’akum,
Isa Kalimatullah, Ahlan Wasahlan Bismirobbina, Nahmaduka Ya Allah".

Pada
sampul kaset yang berdurasi 40 menit, terdapat hiasan kaligrafi khat
Arab yang melingkari kata Ta’alau ilayya. Masyarakat awam bisa terkecoh
dan menganggap sebagai kaligrafi al-Qur’an. Padahal, kaligrafi ini
berbunyi :"Ta’alauu Ilayya ya jamili’al mu’tabiina watstsaqiilii
al-ahmaali qa ana urihukum.". Kalimat ini adalah terjemahan bahasa Arab
Injil Matius 11:28-30, "Marilah kepadaku, semua yang letih lesu dan
berbeban berat, aku akan memberi kelegaan kepadamu."

Dalam
pengantarnya, sang vokalias yang mengaku sebagai mantan ustadz dari
Lamongan itu menulis, "Syukron Alhamdulillah puji syukur kami panjatkan
kepada Tuhan Yesus karena begitu besar kasih karunia-Nya sehingga album
ini bisa terselesaikan dengan baik tanpa halangan suatu apapun. Kami
sangat berharap, dengan album bahasa Arab ini, bisa menjadi berkat
untuk semua kalangan dan dapat dimengerti serta diterima oleh semua
masyarakat. Selain daripada itu, dengan lagu bahasa Arab ini semoga
bisa mengubah paradigma masyarakat akan kekristenan secara benar."

Jelas
sudah, lagu Kristen berirama padang pasir ini bertujuan menjajakan
ajaran Kristen dan doktrin Ketuhanan Yesus pada semua orang. Langkah
ini salah besar, karena bertentangan dengan ajaran Yesus.

Pertama,
Yesus tek pernah memerintahkan para muridnya untuk memanjatkan puji
syukur padanya. Injil Lukas mengisahkan, seorang pengemis tuna netra di
Yerikho yang disembuhkan Yesus dengan izin Allah hingga bisa melihat,
bergembira dengan bersyukur pada Allah, bukan pada Yesus (Injil Lukas
18:35-43). Seluruh rakyat yang menyaksikannya pun turut memuji-muji
Allah, bukan Yesus. Ketika memasuki kota Yerusalem dengan mengendarai
keledai, Yesus diiringi murid-muridnya dengan gembira seraya memuji
Allah, bukan Yesus (Lukas 19:35-37).

Para Nabi dalam Perjanjian
Lama juga tak ada yang memanjatkan puji-pujian pada Yesus. Mereka hanya
memuji dan bersyukur pada Allah. Nabi Daud mengajarkan untuk memuji
Allah (I Samuel 25:32, Mazmur 41:14, mazmur 113:1, Mazmur 150:1).
Selain itu, memanjatkan puji syukur pada Yesus nertentangan dengan
Alkitab. "Terpujilah nama Allah dari selama-lamanya sampai
selama-lamanya, sebab dari pada Dialah hikmat dan kekuatan" (Daniel
2:20)

Kedua, Yesus mewanti - wanti pada murid untuk menyebarkan
ajarannya hanya pada domba-domba yang yhilang dari umat Israel.
Mewartakan ajaran Yesus pada bangsa lain adalah sebuah penyimpangan di
mata Yesus (Injil Matius 10:5-6)

Pada side A di mulai dengan
lagu "Isa Almasih Qudrotulloh". Liriknya antara lain berbunyi, "Isa
Almasih Qudrotulloh. Lianna fiihi a’laanallohu. Ana huwa thooriiqu
walhaqqu walhabaatuhu. Laa baaji’uu ahadun ilal aba illa bib". Dalam
album ini, kalimat tersebut diartikan : "Isa Almasih kekuatan Allah, di
dalam dia nyata kebenaran-Nya. Akulah jalan, kebenaran dan hidup, tak
seorangpun yang datang kepada Bapa kecuali lewat aku."

Penginjil
menganggap, umat islam akan tertipu dengan hal - hal yang berbau Arab.
Mereka berharap, umat Islam bisa digiring pada doktrin Kristen melalui
"budaya Islam" sendiri. Padahal, umat Islam tak sebodoh itu. Umat Islam
justru akan tertawa, mencibir lantunan sang penginjil ini. Apalagi,
syair yang didendangkan menyalahi kaidah bahasa Arab.

Kata
"al-qudrotu" dan "al-hayatu" yang seharusnya ditulis dengan huruf ta’
marbuthph (tertutup) justru ditulis dnegan huruf ta’ maftuhah
(terbuka). Kata "almasiihu" ditulis tanpa memakain huruf "ya". Kata
"ath-thoriiqu" yang seharusnya "ma’rifah" (definite) ditulis "nakirah"
(indefinite). Kata "al-hayaatu" yang sudah jelas ma’rifat, dijadikan
mudhof (disandarkan) pada dhomir (kata ganti) "hu" (dia). Ini
membuktikan, pengakuan sang penginjil sebagai mantan ustadz layak
diragukan kebenarannya.

Syair "Lianna fiigi a’laanallohu" yang
diterjemahkan menjadi "di dalam dia nyata kebenaran-Nya", sama sekali
tak jelas juntrungannya. Kata "a’laan" berasal dari "a’lana-yu’linu"
yang berarti "mengumumkan". Kata "i’laan" berarti "pengumuman". Oleh
bahasa Indonesia diserap menjadi "iklan". Maka "lianna fiihi
a’laanallohu" tak bisa diterjemahkan dengan tepat karena akan menyalahi
kaidah bahasa Arab. Dalam injil berbahasa Arab, syair ini terdapat
dalam tulisan Paulus yang memusuhi Yesus. "Lianna fiihi mu’lanun
birrullohi" (sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah). (Kitab Roma
1:17).

Syair yang paling fatal kerusakannya adalah "Ana huwa
thoriiqu wal-haqqu wal-habaatuhu. Laa baaji’uu ahadun ilal aba illaa
bib". Jika kalimat ini ditanyakan pada orang Arab, mereka tidak ada
yang paham. Kalimat ini diambil dari Injil Yohanes 14:6 yang sangat
populer di gereja. Dalam ayat ini, teks Arab yang benar adalah "ana
huwa ath-thoriiqu wal-haqqu wal-hayaatu. Laisa ahadun ya’tii ilal aabi
illaa bii".

Jika para penginjil tak mau disebut "Ente Bahlul", sebaiknya qasidah ini ditarik dari peredaran. (bersambung/sabili)

sumber : http://al-islahonline.com/bca.php?idartikel=132

Awas Qasidah Nasrani (2)
tanggal : 10/11/2006

al-islahonline.com
: Lirik dan syair qasidah Kristen karya penginjil asal Lamongan, Jawa
Timur yang menyebut dirinya Yosua, memang kental bahasa arabnya.
Tujuannya jelas, agar umat Islam bisa disusupi ajaran Kristen, Tapi,
umat Islam bukan kaum terbelakang yang mudah diperdaya.

Meski
dialihbahasakan ke seribu bahasa, jika isinya tentang trinitas dan
yesus kristus, umat sudah paham. Apalagi jika bahasa Arab yang
digunakan salah susunan tata bahasanya, sang penginjil akan tertipu
oleh dirinya sendiri.

Misalnya syair lagu Isa Kalimatulloh.
"Fii-bad’i kana al-kalimah. Wa kana al-kalimatu kana ‘indillaahi. Huwa
fii-bad’i kana ‘indillaahi. Bihi ma kana kullu syai’in wa bighoirihi
makana syai’in mimma kana". Sang penginjil, seharusnya menulis
"indalloohi" bukan "indillaahi", Kata "al-kalimatu" tidak memakai huruf
alif. Kata "wal-kalimatu" ditulis "wa kana al-kalimatu". Padahal, syair
ini mengutip Injil Yohanes 1:1-3.

Lagu berjudul "Nahmaduka Ya
Allah", lirik dan syairnya mirip dengan qasidah umat Islam. Secara
umum, syairnya tak bermasalah secara akidah Islam. Berikut kutipannya :
"Nahmaduka ya Allah, nahmaduka ya Allah, Ana nad’u la asmika, ana nad’u
la asmika. Allahy ma’rufun lil-mustaqim sholihun lianqiyail qulub".

Terjemahannya,
"Kami syukur ya Allah. Aku serukan nama-Mu. Allah itu sungguh baik bagi
yang bersih hatinya". Tapi, secara kaidah bahasa Arab, banyak
kesalahannya. Misalnya, kata "ma’ruuf", "syukur" dan "al-quluub"
ditulis tanpa huruf "wawu mati". Persoalannya, syair ini menjadi alat
propaganda Yahudi dengan menyisipkan kalimat "Allahu ‘adhimun fi
Isra’il" ( Allah itu terkenal di Israel).

Pesan rasialis lain,
misalnya pernyataan tidak ada Allah kecuali di Israel. "Sekaang aku
tahu, bahwa diseluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel. Karena
itu, terimalah kiranya suatu pemberian dari hambamu ini" (II Raja-raja
5:15).

Demikian juga dengan lagu berjudul Allahu Akbar. Lirik
dan nadanya serupa dengan qasidah umat Islam. Syairnya juga cukup
bagus. Berikut kutipannya, "Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar,
pujilah asma Allah. La ilaha illallah, Tinggikan nama Tuhan. Allahu
Akbar fil jannah, tiada yang seperti Dia. Allahu Akbar fiddunya, Allahu
Akbar fil-jannah, Allahu ya Allah, pujilah asma Allah".

Tapi,
yang serupa belum tentu sama. Karena, dalam syair Allahu Akbar ini
diselipkan kalimat "Ya Robbi Al-Masih". Kalimat inilah yang melanggar
akidah Islam. Dalam Islam, Allah SWT memiliki sifat Maha Besar
(al-kabir). "Sesungguhnya Allah, Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha
Besar." (QS al-Hajj:62, baca juga ar-Ra’d:9 dan al-Mukmin:12).

Karena
tak ada sesuatupun yang serupa dengan Allah (QS asy-Syura:11,
al-Ikhlas:4), satu-satunya yang layak dan berhak disebut Allahu Akbar
(Allah Maha Besar) hanya Allah SWT. Menyebut makhluk ciptaan Allah
sebagai Allahu Akbar adalah pelanggaran akidah, disebut musyrik
(mempersekutukan Allah).

Keesaan Tuhan dalam Islam juga diakui
teolog kristen. Pendeta Dr. Harun Hadiwijono mengakui dalam bukunya
Inilah Sahadatku. "Bagi agama Islam dosa yang tidak dapat diampuni
adalah syirik, yaitu mempersekutukan Allah. Dalam al-Qur;an surah 4:48
disebutkan, Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, sekalipun Tuhan
berkenan mengampuni dosa selain daripada dosa syikrik itu. Agama Islam
memang menekankan sekali keesaan Allah," (hlm 195).

Jadi, syair
qasidah yang menyebut Isa Almasih sebagai Allahu Akbar, adalah dosa
besar yang memusyrikan Allah. Karena Nabi Isa menolak penuhanan
terhadap dirinya (QS al-Maaidah:116-118).

Kemusyrikan itu
bermula dari doktrin Trinitas (tritunggal) yang diyakini umat Nasrani.
Brosur yang dikeluarkan Sekolah Tinggi Teolog Joseph KAM menyebutkan,
Allah Tritunggal terdiri dari tiga pribadi, yaitu Allah Bapak, Allah
Anak (Yesus) dan Allah Roh Kudus.

"Allah memiliki tiga pribadi
yang setara, sehakikat, sekehendak, satu zat, tidak bercampur, tidak
berpisah dan tidak berasal mula. Allah bukan hanya Bapak saja, tapi
juga Yesus dan Roh Kudus. Bapak bukan Allah dalam keseluruhannya, tapi
juga Yesus dan Roh Kudus. Yesus Kristus adalah seratus persen Allah dan
seratus persen manusia, namun Allah bukan hanya Yesus Kristus saja,
tetapi juga Bapak dan Roh Kudus."

Doktrin diatas adalah slogan
yang tidak bisa dibuktikan secara ilmiah, karena tak sesuai dengan
fakta yang ada. Bibel sendiri menunjukkan bahwa Yang Maha Besar hanya
Tuhan, "Sebab Tuhan Maha Besar sangat terpuji, Ia lebih dahsyat
daripada segala Allah," (Mazmur 96:4).

"Tuhan itu Maha Besar dan
Tuhan kita itu melebihi segala Allah," (Mazmur 135:5). Sifat Tuhan
kekal tak berubah selamanya (Maleakhi 3:6) dan tidak ada yang
menyamai-Nya karena tak ada ilah sebelum dan sesudah Dia (Yesaya
43:10). Bibel juga menantang manusia yang ebrbuat musyrik pada-Nya,
dalam firman-Nya, "Jadi dengan siapa hendak kamu samakan Allah dan apa
yang dapat kamu anggap serupa dengan Dia?" (Yesaya 40:18).

Faktanya,
tak ada yang berani menjawab tantangan ini, termasuk Yesus Kristus yang
diklaim sebagai "Allahu Akbar" oleh para penginjil. Padahal, Yesus
sendiri tak berani menyebut dirinya Allahu Akbar. "Bapaku, yang
memberikan mereka kepadaku, lebih besar daripada siapapun, dan seorang
pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa," (Yohanes 10:29).

Kini,
setelah dua puluh abad sepeninggal Yesus dari dunia, muncul penginjil
yang lancang memberi gelar "Allahu Akbar" pada Yesus. Gelar ini jelas
salah alamat. Selain salah secara teologis, syair qasidah yang
diciptakannya juga salah secara bahasa. (FAKTA/sabili)

sumber : http://al-islahonline.com/bca.php?idartikel=142

agamaislam wrote on Feb 3
Dibalik Krisis Darfur

Katagori : Laporan
Oleh : Redaksi 15 Nov, 07 - 4:35 pm

imageSituasi
di Darfur belakangan ini menarik perhatian banyak pihak. Bagi sebuah
negara di Afrika, perhatian ini tentu saja bukan hal biasa. Apalagi
Goerge W Bush dan Tony Blair berkali-kali memberikan komentar tentang
negeri ini. Hal itu sudah cukup untuk mengundang kecurigaan, ada apa di
Darfur dan apa kepentingan Barat di sana?

Di media massa Barat
secara sederhana sering diungkap yang terjadi di Sudan adalah
pembantaian milisi Arab Janjaweed terhadap ‘black african’ (penduduk
asli Sudan). Rezim AS sering menyebut di Sudan terjadi pembantaian
massal (genocide). Kata-kata propaganda yang patut ditertawakan
mengingat AS sendiri berlaku kejam AS di Irak dan Afganistan. Memang
benar, ada konflik di sana. Menurut banyak Badan Bantuan yang ada di
sana, diperkirakan ratusan ribu orang terbunuh. Selain itu 2,5 juta
melarikan diri sebagai pengungsi.

Namun, banyak fakta yang tidak diungkap oleh media massa Barat dan masyarakat internasional apa yang sebenarnya terjadi disana.

Penting
untuk diketahui, rezim Sudan, Janjaweed (milisi Arab), dan pemberontak
di Darfur, semuanya adalah Muslim. Janjaweed berasal dari Baggra
(Baqqarah dalam bahasa Arab). Pemberontak sebagian besar suku Badui
dari Fur, Zaghawa dan Massaleit. Dalam kasus Darfur ini, memanfaatkan
isu etnis Arab-Afrika memang cukup mengherankan, mengingat di Darfur
mayoritas beragama Islam dan tidak bisa dibedakan lagi mana Arab dan
mana Afrika. “Di Darfur tidak bisa dibedakan mana yang Arab dan mana
yang Afrika,” papar Deputi Menlu Sudan (Kompas, 5/8/2004).

Konflik
dimulai tahun 2003, ketika pemberontak menyerang target-target
pemerintahan Sudan, dengan alasan Khourtoum telah mengabaikan wilayah
mereka. Ada dua kelompok utama pemberontak di sana, the Sudan
Liberation Army (SLA) dan the Justice and Equality Movement (JEM).
Konflik juga meluas ke Chad yang masing-masing sedang menghadapi perang
saudara. Sudan menuduh pemerintah Chad membantu pemberontak di Sudan.
Sebaliknya, Chad juga menuduh Sudan telah membantu pemberontak di
negaranya.

Berbeda dengan perang sipil di Sudan antara kelompok
Islam di Utara dan minoritas Kristen di Selatan, dalam konflik di
Darfur semuanya adalah Muslim. Menyebut konflik ini seolah-olah antara
Arab dan Afrika adalah tidak akurat. Semua penduduk di Darfur adalah
Afrika berkulit hitam, penduduk asli dan Muslim. Sudan merupakan negara
dengan jumlah penduduk sekitar 40 juta, 70% di antaranya adalah Muslim;
dengan lebih 80 etnik dan suka yang berbeda; dengan bahasa yang
berbeda, termasuk bahasa Arab. Penduduk Darfur sendiri sekitar 8 juta
jiwa dengan luas daerah yang sama dengan Prancis.

Warisan Kolonial
Mempelajari
sejarah Sudan bisa memberikan pemahaman mendasar tentang krisis Darfur
dan seluruh persoalan terkini di Sudan. Kemerdekaan negara itu sendiri
diberikan oleh Inggris pada 1956. Sebelumnya, yang menguasai Sudan
adalah Mesir pada 1899. Saat itu Mesir sendiri berada di bawah imperium
Inggris. Inggris secara langsung menduduki Darfur pada 1916.
Ketidakadilan pemberian bantuan terhadap daerah-daerah pedalaman telah
membuat munculnya kesenjangan kesejahteraan rakyat Sudan secara
keseluruhan.

Penjajah Inggris lalu membuat sejumlah kebijakan
yang menjamin keberlangsungan penjajahan mereka. Sudan kemudian dibagi
atas utara dan selatan. Sudan utara dikembangkan dan diisolasi dari
Sudan wilayah selatan. Mereka melarang penduduk wilayah utara untuk
masuk ke selatan. Di Selatan mereka mencegah penyebaran Islam dan
tradisi Islam dan memperkenalkan misionaris Kristen. Inggris pun
membangun kesadaran identitas penduduk Sudan wilayah selatan, bahwa
mereka adalah penduduk asli Afrika (yang berbeda dengan Utara). Tidak
hanya itu, Inggris pun membangun pola pemerintahan tradisional di bawah
pimpinan para syaikh di Utara dan pemimpin suku di Selatan yang
memberikan andil terhadap lemahnya sistem pemerintahan Sudan dikemudian
hari.

Mirip dengan konflik yang lain, masalah kemiskinan menjadi
faktor yang menonjol dalam konflik sekarang ini. Setelah kemerdekaan,
Sudan harus menghadapi perang sipil yang pertama tahun 1970, namun bisa
diatasi oleh pemerintah. Tahun 1983 perang kembali pecah yang berakhir
tahun 2003. AS diduga membantu pemberontak Kristen di sana. Tidak
begitu lama, konflik pecah kembali. Campur tangan asing memberikan
andil yang cukup besar dalam krisis Sudan. Distabilitas ini biasanya
terjadi di daerah yang alamnya kaya dan strategis.

Bisa
dimengerti mengapa negara-negara besar ingin menguasai Darfur,
mengingat kekayaannya. Minyak dari Darfur telah memberikan pendapatan
sebesar 4 miliar dolar AS kepada pemerintah Sudan, lebih dari setengah
pendapatan total negara itu. Pemerintah Sudan juga sudah membuka
hubungan erat dengan Cina. Sudan mensuplai hampir 10 persen impor
minyak Cina. Sementara itu, AS memiliki kepentingan minyak di Chad,
tetangga Sudan. Kakayaan minyak Darfur tentu saja menjadi pendorong
besar bagi negara-negara haus minyak untuk menguasai daerah itu.

Tuduhan
pelanggaran HAM terhadap Sudan selama ini sepertinya sengaja dilakukan
untuk menutupi persaingan Cina dan Amerika merebut minyak Sudan. Harian
The Guardian mengungkap, persoalan minyaklah yang menyebabkan AS dan
Inggris sangat keras terhadap Sudan. Negara-negara Barat mengetahui
kekayaan minyak yang ada di Barat dan Selatan Sudan. Di wilayah Barat
Sudan ditemukan uranium selain gas dan emas. Motif minyak ini pernah
diungkap deputi Menteri Luar Negeri Sudan Muhammad Najib El-Khoir,
“Memang, AS-lah yang menemukan sumber minyak itu dulunya. Namun, kami
kemudian mengarahkan kerjasama di bidang perminyakan dan pertambangan
kepada negara-negara Asia antara lain Cina dan Malaysia. Karena itu,
wajar saja kalau AS kemudian berang kepada kami.” (Kompas, 5/8/2004).

Tuduhan
HAM ini pun semakin kehilangan legitamasi moralnya, mengingat
pelanggaran HAM berat yang justru dilakukan oleh AS sekarang. Alasan
HAM pun semakin lemah, mengingat sikap berbeda AS terhadap pemberontak
di Sudan Selatan (SPLA). Seperti yang pernah dilaporkan Harian
Economist (maret 1998), pada masa kepemimpinan John Garang, SPLA banyak
melakukan pembantai terhadap rakyat sipil, pembunuhan dan pemerkosaan.
Terhadap SPLA pemerintah AS cenderung diam, bahkan menurut beberapa
pihak, AS justru mempersenjatai SPLA. The Sunday Times (17/11/1996)
juga pernah mengungkap, pemerintah Clinton meluncurkan kampanye untuk
membuat ketidakstabilan pemerintah Sudan. Lebih dari 20 miliar dolar
peralatan militer dikirim ke Eritrea, Etiopia, Uganda, termasuk ke
pemberontak SPLA.

Seperti biasa, PBB pun digunakan oleh
negara-negara kolonialis demi kepentingan penjajahan Barat. Rencana
pengiriman 20 ribu pasukan PBB untuk menggantikan 7000 pasukan African
Union harus dibaca dalam konteks memuluskan kepentingan AS dan
sekutunya di Sudan. Intervensi asing adalah langkah pertama untuk
menghilangkan pengaruh pemerintah Sudan di Darfur. Kasus Sudan ini
kembali membuktikan, bahwa PBB tidak lain merupakan alat kolonial
negara-negara Imperialis.

Butuh Solusi Islam
Mulusnya
intervensi asing ini tidak bisa dilepaskan dari sikap pemerintah
sekular di negeri Islam, termasuk Sudan. Alih-alih menjaga diri dari
intervensi asing, penguasa di negeri-negeri Islam justru memberikan
andil besar dengan tunduknya mereka kepada pihak asing. Penguasa negeri
Islam ini juga telah menciptakan kondisi awal (pretext) bagi Barat
untuk melakukan intervensi asing. Sikap represif terhadap rakyat dan
kegagalan mensejahterakan rakyat sering dijadikan oleh pihak asing
sebagai bentuk pelanggaran HAM. Ketidakadilan ini juga membuat tuntutan
untuk memisahkan diri atau memberontak semakin membesar.

Ketiadaan
Khilafah Islam lagi-lagi menjadi pangkal utama semua ini. Potensi
pemberontakan atau pemisahkan diri akan kecil di bawah sistem Khilafah
yang akan memperhatikan rakyatnya. Demikian juga non-Muslim, akan
diperlakukan secara adil. Mereka berkedudukan sama dengan Muslim yang
menjadi warga negara Daulah Khilafah Islam. Negara wajib menjamin
kebutuhan pokok (sandang, pangan, dan papan) mereka; termasuk menjamin
pendidikan, kesehatan dan keamanan gratis. Yang lebih penting lagi,
negara Khilafah tidak akan memberikan peluang bagi asing walaupun
sedikit untuk melakukan intervensi. [Farid Wadjdi/HTI]

sumber : http://swaramuslim.com/fakta/more.php?id=A1788_0_16_0_M

agamaislam wrote on Feb 3
Babak Baru Pemurtadan
Oleh : Fakta 24 Apr, 04 - 4:15 am
sumber : http://swaramuslim.com/fakta/more.php?id=A1788_0_16_0_M

imageUsaha
memurtadkan umat kian hari kian canggih. Mulai dari menjanjikan
pekerjaan, beasiswa, pemalsuan al Qur’an sampai dengan cara
terselubung, mendirikan sekolah tinggi teologi.

Tak banyak yang
mengerti aktivitas utama Yayasan Dian Kaki Mas (YDKM) yang belakangan
ini sempat mengusik ketenangan masyarakat Bekasi Selatan. Warga sekitar
hanya tahu YDKM adalah yayasan sosial. Ditambah lagi, kegiatan yayasan,
selama ini memang terkesan tertutup. Mungkin sebab itu, kenapa selama
ini masyarakat tidak menaruh curiga terhadap aktivitas yang dilakoni
yayasan yang berlokasi di Kompleks Galaksi, Jl. Palem Raya F 844 itu.

Tiba-tiba,
masyarakat dibuat heboh. Setelah menggrebek YDKM, aparat dan masyarakat
menemukan sebuah gereja dan sejumlah pendatang di dalam yayasan yang
pagarnya selalu ditutup seng setinggi dua meter itu.

Heryanto,
salah seorang pendatang yang berhasil melarikan diri dari jebakan
yayasan itu menuturkan, YDKM dijadikan ajang pemurtadan kaum Muslimin.
Wajar saja kalau kemudian masyarakat geram karena merasa telah ditipu
pihak YDKM, setelah mendengar laporan Heryanto.

Heryanto
mengaku, kasus ini berawal saat ia bertemu Edi Sapto di Manado. Edi
yang belakangan diketahui ternyata seorang pendeta, menawari Heryanto
pekerjaan dan beasiswa untuk melanjutkan kuliah di Jakarta.

Terbayang
akan masa depan yang lebih cerah, Heryanto yang sehari-hari mengajar
ngaji anak-anak di masjid dekat rumahnya di Kelurahan Karombasan, Kodya
Manado itu, tak kuasa menolak tawaran Edi. Singkat ceritra, ia pun
diajak Edi Sapto ke Jakarta. Setiba di Jakarta, ia langsung
"dijebloskan" ke lokasi penampungan di Kompleks Galaksi, Jl. Palem Raya
F 844, Bekasi Selatan.

Saat pertama kali menginjakkan kaki di
sana, perasaan was-was menyelimuti Heryanto. Sebuah pertanyaan melintas
di kepalanya, kenapa ada sebuah gereja serta beberapa lokal ternak babi
dan anjing di sini? Saat dia datang, di dalamnya sudah ada sekitar 50
orang warga pendatang yang berasal dari berbagai daerah seperti
Gorontalo, Ambon dan Flores.

Kecurigaan Heryanto makin
menjadi-jadi, apalagi saat mendengar Edi Sapto mewajibkan para
pendatang menghadiri kebaktian setiap hari. Merasa tak biasa, Heryanto
tak pernah mau mengindahkan perintah Edi. Namun, Edi mengancam memberi
sanksi bagi yang menolak. "Kalau saya tak ikut kebaktian sekali saja,
saya tak dikasih makan seminggu," ujar Heryanto. Segala gerak-gerik
para pendatang, selalu diawasi Edi. Bahkan, untuk menjalankan shalat
lima waktu saja, Heryanto sampai harus sembunyi-sembunyi.

Edi
Sapto tampaknya tak habis akal. Berbagai cara ditempuh untuk meluluhkan
hati Heryanto. Pertama, Edi meminta pendatang lainnya membujuk Heryanto
agar mau menerima Yesus sebagai tuhan. "Mereka bilang, sudahlah terima
saja Yesus. Kamu akan diberi berkat. Kenapa menolak," kata Heryanto.
Cara ini ternyata tak membuat hati Heryanto luluh. Jebakan berikutnya,
Edi mendatangkan seorang wanita Manado untuk menggoda hati Heryanto.
Cara ini pun, Heryanto lolos.

Usaha Edi, tak berhenti sampai di
situ. Selang beberapa waktu kemudian, Heryanto diangkat Edi sebagai
ketua kelas saat belajar teologi. Karena Heryanto mengetahui akal busuk
Edi, ia menolak diangkat sebagai ketua kelas. Sampailah pada suatu
kebaktian, saat seorang pendeta menjelek-jelekkan Islam, Heryanto
melemparnya dengan kursi. Kontan, akibat ulah nekat Heryanto itu, Edi
memarahi Heryanto.

Siksaan demi siksaan menimpa Heryanto. Saat
berita soal pemurtadan Edi Sapto ini keluar di Tabloid Jum’at, Heryanto
dipanggil dan disidang. Ia ditelanjangi, disiksa diambil pakaiannya dan
dikunci di dalam kamar. Bahkan, selama beberapa hari, Edi tak
memberinya makan dan minum.

Setelah itu, Edi membuat KTP palsu
dengan mencantumkan agama Kristen di KTP Heryanto. "Saya tak mau
mengakui agama Kristen," kata Heryanto. Merasa dilecehkan, Edi meneror
Heryanto dan menakut-nakutinya dengan menyatakan bahwa ia adalah mantan
preman dan pembunuh.

Yang paling menyakitkan, dalam setiap acara
kebaktian yang digelar dari hotel ke hotel, Edi dengan bangganya
memperkenalkan Heryanto kepada jemaat gereja sebagai seorang guru ngaji
yang telah kembali masuk Kristen. Sampai suatu ketika, Heryanto
berhasil melarikan diri dan bertemu dengan Ustadz Masri. Selanjutnya,
Ust. Masri melaporkan kejadian ini ke Front Bersama Umat Islam (FBUI)
di Bekasi. Sampai pada akhirnya, FBUI, aparat pemerintah dibantu warga
sekitar mendatangi dan menggrebek YDKM.

Belum lagi selesai heboh
pemurtadan di Bekasi Selatan, muncul heboh lainnya. Masih di daerah
Bekasi, sejumlah pihak melaporkan ada kegiatan kristenisasi di Kampus
Diakonia Modern (KDM), Ujung Aspal, Pondok Gede. KDM menampung
anak-anak jalanan dari seluruh Indonesia. Setelah ditampung anak-anak
jalanan ini diajak ke gereja, diajari agama Kristen kemudian
dimurtadkan.

Menurut pengakuan Warno (nama samaran), warga yang
tinggal tak jauh dari lokasi KDM, anak-anak jalanan itu tidak langsung
dikristenkan. Mereka terlebih dulu didekati dengan penuh kekeluargaan
agar tak merasa takut dan malu. Kemudian mereka disekolahkan di SD,
SMP, SMA bahkan ada yang kuliah. Tapi, setiap ada kegiatan gereja dan
kebaktian, mereka selalu diikutsertakan. KDM mewajibkan setiap anak
jalanan mengikuti program kebaktian. Kalau ada yang tidak mau ikut,
akan dikenakan sanksi. Selain itu, anak-anak terlantar ini diajak
bertamasya ke gereja-gereja seperti gereja di Kampung Sawah. Di sana
mereka diwajibkan mengikuti kebaktian kemudian diberi beras, mie
instan, baju dan keperluan pokok lainnya.

Suatu ketika, Warno
pernah menanyai salah seorang dari anak jalanan itu. Anak itu mengaku
berasal dari Subang yang dipungut KDM dari proyek Senin. Saat Warno
menanyai agamanya, ia menjawab Islam. Namun, saat Warno mengulanginya,
anak itu terdiam. "Tapi saya lihat dia sudah pakai kalung salib," kata
Warno.

Sasaran pemurtadan, tak hanya anak-anak jalanan, aktivis
KDM juga menggarap warga sekitarnya. Mereka mendatangi rumah penduduk
satu per satu. Secara halus, warga didekati dan diberikan ceramah agama
serta penjelasan tentang agama Kristen. Kemudian, mereka mengajak warga
pindah agama. Sebagai penunjang misinya, mereka membagikan berbagai
buku Kristen seperti Injil dan buku yang menceritakan keagungan Yesus.

Tak
cukup di situ. Kepada masyarakat tak mampu, KDM menawarkan jasa
membantu problem penduduk seperti biaya sekolah, sewa rumah, dan
bantuan materi lainnya. Bahkan, jika ada ibu-ibu yang akan melahirkan,
mereka sregep mendatangi dan menawari pemeriksaan kehamilan, biaya obat
sampai biaya persalinan secara gratis. Ujung-ujungnya, mereka mengajak
warga masuk agama Kristen.

Meski faktanya sudah jelas, namun
adanya misi pemurtadan dibantah pihak yayasan. "Tidak ada misi
kristenisasi di sini. Kita tak pernah mengajarkan agama Kristen di
sini," ujar Kristo salah seorang pengurus Yayasan KDM.

Kristo
boleh saja membantah, namun, Ibu Aminah (nama samaran) berkata
sebaliknya. Menurut Ibu yang giat mengkonter kegiatan kristenisasi KDM
itu, kegiatan pemurtadan makin hari makin gencar. Ia mencontohkan, saat
perayaan misa Isa al Masih lalu, DKM mendatangi warga sambil ceramah
agama dan memberi sembako secara gratis. "Setelah itu ibu-ibu yang
diberi sembako diminta untuk masuk agama Kristen," tutur Aminah. Yang
jelas, hingga saat ini, KDM masih aktif menjalankan kegiatan
kristenisasinya.

Ancaman pemurtadan ternyata tak hanya dialami
penduduk sekitar KDM. Nasib serupa dialami warga sekitar Kampung
Bandan, Jakarta Utara. Menurut keterangan sejumlah warga, akidah umat
Islam terancam oleh misi kristenisasi yang dijalankan Yayasan Bina
Mandiri (YBM). Kepala TK Al Jihad, Blok E, Kampung Bandan, Pak Cipto
menuturkan para aktivis YBM kerap mendatangi warga dengan menawarkan
beasiswa bagi anak-anak mereka.

Menurut pengakuan Pak Cipto,
sedikitnya enam puluh anak-anak berhasil ditarik ke yayasan tersebut.
Tapi setelah ada TK Al Jihad, sambung Pak Cipto yang juga pimpinan
sekolah itu, sebagian dari anak-anak itu berhasil ditarik kembali. Pak
Cipto menambahkan, selain pelajaran umum, di yayasan itu, anak-anak
diajarkan juga doa-doa Kristen seperti doa bapak, anak dan roh kudus.
Bahkan, menurut pengakuan Abdul Syukur AS, Ketua Masjid Attaubah, Blok
E, Kampung Bandan, diantara anak itu ada yang sudah dibaptis. "Orang
tua mereka, rata-rata tak mau ngaku," katanya.

Tak hanya kepada
anak-anak, aktivis yayasan itu juga mendatangi warga face to face.
Mereka memberikan warga barang-barang kebutuhan seperti TV, radio,
tempat tidur dan lainnya. Mereka giat menceramahi warga dengan
mengatakan semua agama sama. "Saat ditanya, beberapa warga yang anaknya
sekolah di yayasan itu, rata-rata sungkan berterus terang karena sudah
berhutang budi," kata Abdul Syukur. Bahkan, untuk menjamin agar setiap
misi yang dilakukan tak terganggu, pihak yayasan konon menggandeng
sejumlah preman sekitar untuk menjadi backing yayasan. "Imbalannya
selain sejumlah uang, para preman direkomendasi untuk berobat di sebuah
klinik dan pembayarannya ditanggung Yayasan Bina Mandiri," kata sumber
SABILI.

Namun, adanya misi kristenisasi tersebut buru-buru
dibantah Ketua YBM, Ir. Darwin BML Napitupulu. Darwin menyatakan
yayasan tidak pernah melakukan kegiatan kristenisasi. "Kita pure
bergerak di bidang sosial" ujar Darwin yang mengaku aktivis salah satu
gereja di Jakarta.

Menurut Cipto, usaha kristenisasi kian gencar
setelah ada dukungan global. Bahkan, lanjutnya, tak jarang orang-orang
bule terjun langsung menjumpai masyarakat Kampung Bandan guna
menjalankan misi kristenisasi. "Tapi, hal itu luput dari pantauan kami
karena tak ada satu pun laporan yang masuk ketika kejadian. Setelah
kejadian, baru ada yang ngomong, ada bantuan berupa alat elektronik TV,
radio, CD dan lainnya" tutur Cipto.

Adanya misi global ini
sebenarnya sudah tak aneh lagi. Lembaga-lembaga Kristen lokal dengan
misi global jumlahnya tak sedikit. Mereka gencar menjalankan misi
kristenisasi global seperti Yayasan Doulos (Doulos World Mission
Indonesia). Yayasan kristenisasi dunia yang didirikan di tengah-tengah
komunitas muslim Betawi, tepatnya di Cipayung Jakarta Selatan ini,
bercita-cita mengkristenkan 125 suku terasing yang ada di seluruh
Indonesia.

Agar cita-citanya pemurtadan suku-suku terasing itu
sukses, Yayasan Doulos merancang berbagai proyek pemurtadan yang
disesuaikan dengan kondisi agama dan kebudayaan suku terasing tersebut
seperti; Proyek Yeriko 2000 di Jawa Barat, Proyek Karapan 2000 di
Madura dan Jawa Timur, Proyek Andalas 2000 di Sumatera Barat, Proyek
Mandau 2000 di Kalimantan , Proyek Bajau Bungku 2000 di Sulawesi
Tenggara, Proyek Cenderawasih 2000 di Irian Jaya dan Proyek Sriwijaya
2000 di Riau.

Selain bercita-cita mengkristenkan 125 suku
terasing di seluruh Indonesia, Doulos World Mission Indonesia,
mendirikan juga pos-pos Pengabaran Injil (PI), gereja-gereja dan
sekolah-sekolah tinggi teologi. Ditambah lagi, menyebarkan Injil atau
Alkitab dalam bahasa daerah.

Dengan alasan misi kristenisasi
global itu pula, tidak heran jika banyak trik dan strategi dilakukan
kaum misionaris untuk mengaburkan dan menyesatkan kaum muslimin,
terutama umat Islam di Indonesia. Beredarnya al Qur’an palsu yang
sempat menghebohkan Jawa Timur, disinyalir sejumlah pihak bagian dari
strategi global tersebut.

Sejumlah pihak menyatakan penyebaran
al Qur’an palsu itu bertujuan untuk meragukan keyakinan umat Islam atas
kebenaran al Qur’an. Lihat saja, berbagai surat dalam al Qur’an palsu
itu dibuat mirip seperti al Qur’an sebenarnya seperti nama surah an
Nur, al Fatihah dan lainnya, tapi isinya berbeda. Bismillah pada setiap
surat al Qur’an diganti dengan Bismil Abi, Wal Inbi Waruuhil Qudus
(dengan nama bapak, anak dan ruh kudus). Bahkan, disisipkan empat surat
palsu yang tak dikenal dalam al Qur’an sebenarnya seperti Surat at
Tajassud, Surat al Wasaya, Surat al Iman dan Surat Muslimun.

Kalau
dikaji lebih jauh, bagi orang yang mengerti, al Qur’an palsu ini,
isinya tak ada yang bermanfaat bahkan mengandung banyak kesesatan.
Maka, tidak heran jika banyak pihak yang mengecam keberadaan al Qur’an
palsu ini. Din Syamsuddin, Sekum MUI, menyatakan hal ini bagian dari
skenario menyesatkan akidah umat Islam."Aparat keamanan harus segera
menyelidikinya," tegasnya.

Menyesatkan umat adalah target
mereka. Berbagai cara ditempuh agar target itu tercapai. Salah satunya
adalah dengan mendirikan sebanyak-banyaknya sekolah-sekolah tinggi
teologi seperti Sekolah Tinggi Teologi Apostolos (STT Apostolos).
Menurut sejumlah pihak, ada upaya kristenisasi terselubung di setiap
sekolah tinggi teologi, terutama STT Apostolos. Melalui proses belajar
mengajar di STT Apostolos, mereka mau mencari berbagai kelemahan agama
terutama Islam. Mereka berharap setelah keluar dari STT Apostolos, para
mahasiswa mampu menjadi seorang pemimpin gereja masa depan yang mampu
berdialog dengan dunia Islam.

Lihat saja muatan pelajaran di STT
apostolos. Selain mengkonsentrasikan pada studi islamologi dengan
muatan sebanyak 36 SKS, mata pelajaran yang diberikan di STT Apostolos
juga cukup fundamental. Beberapa di antaranya seperti, mata kuliah
bahasa Arab, Pengantar Studi Islam, Studi al Hadits, Studi al Qur’an,
Kristologi, mistisme dalam al Qur’an, dialog antara Qur’an dan Bibel,
studi Islam dan orientalisme, filsafat Islam dan banyak lagi.
Selanjutnya, tujuan, STT Apostolos makin lancar manakala mereka
berhasil mengundang berbagai dosen agama Islam seperti dosen-dosen IAIN
di seluruh Indonesia untuk mengajar di STT Apostolos.

Hanya saja
dalam setiap brosur-brosur yang disebarkan, pihak STT Apostolos tidak
mengakui adanya kegiatan kristenisasi terselubung itu. Bahkan, STT
Apostolos mengklaim sebagai sekolah tinggi yang mengembangkan
kemajemukan dan komunikasi antar agama yang disebut "Dialog
Paralelisme".

Melihat fakta-fakta di atas, umat Islam semestinya
membekali diri dengan pemahaman agama yang benar dan mendalam.
Setidaknya hal ini dibenarkan Sekjen Forum Antisipasi Kegiatan
Pemurtadan (FAKTA), Abu Deedat Syihabuddin. "Pemahaman umat terhadap
Islam harus benar, tinggi dan mendalam," katanya.

Masih kata Abu
Deedat, setiap muslim harus peduli keselamatan saudara seakidahnya
dengan mengajarkan agama kepada mereka. "Mereka wajib diajarkan Islam,"
tuturnya. Sebab, jika tidak, musuh-musuh akan dengan mudah
menghancurkan umat Islam.

Sumber Sabili, Rivai Hutapea

Baca juga :
STT APOSTOLOS Yusus Roni : Murid-murid sekolah memakai jilbab
http://swaramuslim.net/FAKTA/comments.php?id=P533_0_1_0_C

BAHAYA APOSTOLOS : SEKOLAH TINGGI TEOLOGI PEMURTADAN UMAT
http://swaramuslim.net/FAKTA/comments.php?id=P532_0_1_0_C

Cari Berita mengenai Yusuf Rony di http://www.besorah.net/

agamaislam wrote on Feb 3
Keith Ellison
Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.
Langsung ke: navigasi, cari
Keith Maurice Ellison
Keith Maurice Ellison
Jabatan: Senator
Partai politik: Democratic-Farmer-Labor Party
Masa jabatan: 4 Januari 2007–sekarang
Didahului oleh: Martin Olav Sabo
Diikuti oleh: masih menjabat
Lahir: 4 Agustus 1963
Detroit, Michigan
Suami/Istri: Kim Ellison

Keith
Maurice Ellison (lahir 4 Agustus 1963) adalah seorang pengacara dan
politikus Amerika Serikat. Ellison menjadi Muslim pertama dan
satu-satunya[1][2] yang terpilih menjadi anggota kongres AS, dimana Ia
menang dalam sidang kongres Minnesota ke lima (yang mencakup seluruh
Minneapolis) pada tahun 2006. Dia juga orang Afro Amerika pertama yang
terpilih dari Minnesota. [3] Ellison juga aktif dalam sebuah tim
advokat nasional bagi Muslim di AS.[4][5][6][7]
Daftar isi
[sembunyikan]

    * 1 Kehidupan
    * 2 Karir politik
    * 3 Catatan dan referensi
    * 4 Pranala luar

[sunting] Kehidupan
Ellison diluar gedung Capitol Amerika pada Juni 2007.
Ellison diluar gedung Capitol Amerika pada Juni 2007.

Keluarga
Ellison telah menetap di AS sejak tahun 1742.[8] Keith Maurice Ellison
adalah anak ke tiga dari lima bersaudara, dilahirkan sebagai penganut
Katolik Roma[9] di Detroit, Michigan, dari pasangan Leonard dan Clida
Ellison, seorang psikiater dan pekerja sosial.[2][10] Ellison dan
ketiga saudaranya menjadi seorang pengacara, sedangkan yang satunya
adalah seorang dokter. Salah satu saudara laki-lakinya adalah seorang
pastur di Detroit.[10] Ia lulus dari University of Detroit Jesuit High
School and Academy pada 1981 dimana Ia tadinya aktif dalam olahraga dan
senat siswa.[10][11] Pada usia 19 tahun, selagi kuliah di Wayne State
University di Detroit, Ellison pindah agama dari Katolik menjadi Islam
Sunni.[12][13][14] Setelah lulus pada tahun 1987, Ia kemudian menikah
dengan kekasihnya ketika di SMU[9] dan pindah ke Minneapolis untuk
melanjutkan studi di University of Minnesota Law School. Selagi kuliah,
Ellison menulis beberapa artikel dukungan bagi Louis Farrakhan dari
Nation of Islam, yang menyebabkan kontroversi semasa kampanye didalam
pemilihan 2006. Pada tahun 1990 Ia lulus dengan gelar Doktor dalam
bidang hukum.[15][16]

Ellison dan istrinya, Kim, seorang guru
matematika,[17] mempunyai empat orang anak yang lahir antara tahun 1989
dan 1997.[18] Mereka adalah Amirah, Jeremiah, Elijah, dan Isaiah.[17]

Setelah
lulus dari fakultas hukum, Ellison bekerja di perusahaan Lindquits
& Vennum selama tiga tahun, dimana ia adalah seorang spesialis
litigator bagi hak-hak warga negara, ketenagakerjaan dan perlindungan
hukum.[15][18] Ellison kemudian menjadi direktur eksekutif di sebuah
LSM kemanusiaan di Minneapolis, yang memberikan perlindungan hukum bagi
orang miskin.[18]

sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Keith_Ellison

agamaislam wrote on Feb 3
Mereka Takut Terhadap Penyebaran Islam yang Pesat

Agustus 10, 2007

Islam
merupakan agama yang paling cepat tersebar di Eropa. Hal itu merupakan
bentuk kekalahan telak peradaban Barat dan mereka sangat ketakutan akan
hal itu. Karena itu, kemudian munculah pelecehan-pelecehan dan
penghinaan terhadap Islam untuk menjauhkan orang-orang Barat dari Islam
atau bahkan hanya berfikir untuk mengenal Islam.
Barangkali pembuat
karikatur yang melecehkan Rasulullah saw tidak mempunyai maksud untuk
membatasi penyebaran Islam di Barat. Namun orang-orang yang setuju
dengan karikatur pelecehan ini, menolak dengan tegas untuk meminta maaf
atas karikatur ini dan bahkan mengeksploitasi dan menyebarkanya dengan
sangat efektif bahkan sampai menyebar dengan cepat di media baik
elektronik ataupun cetak bahkan masuk ke ruang politik mengobarkan isu
perang melawan kaum muslimin. Mereka sangat memahami realitas
penyebaran Islam di Eropa yang digambarkan sebagai benua Kristen.

Salah
satu contoh pengaruh langsung dengan adanya karikatur di Denmark adalah
contoh yang dimuat dua Koran Arab Saudi “Ukadz” dan “al-Wathan” pada
pertengahan Februari 2006. Ternyata karikatur tersebut telah mendorong
missionaries Kristen Denmark yang bernama “Kristisen” (28 tahun) untuk
mengkaji buku-buku sirah Nabi untuk bahan aktifitas missionarisnya
tentang agama Kristen dengan mengungkap hakikat sesungguhnya yang
menurut mereka adalah sejarah kelam. Namun dia terkejut dengan sejarah
Nabi dan akhirnya yakin bahwa beliau adalah pembawa kebenaran lantas
diapun beriman dan menyatakan keIslamannya di kantor Rabithah Alam
Islami di Kopenhagen.

Kisah di atas tadi, membuat Kristy Yosty,
pemimpin redaksi harian Denmark Jyllads-Posten yang mengangkat
karikatur pelecehan dalam medianya kemudian memberikan pernyataan
kepada semua media di Denmark. Dia mengingatkan kaum muslimin bisa
mendapatkan hak-haknya secara efektif sebagai reaksi dari munculnya
karikatur yang dimuat oleh media yang ia pimpin. Dia menegaskan dengan
jujur kecemasannya tentang kondisi ini dan meminta agar ada
undang-undang yang membatasi kebebasan berpendapat.

Dia juga
mengkhawatirkan kaum muslimin mendapatkan lebih banyak hak mereka.
Secara tegas dia mengatakan, “Agama telah menyebar di masyarakat kita
secara meluas dan itu disebabkan oleh kedatangan agama kuat kepada
masyarakat kita, yaitu agama Islam. Dan ini merupakan perkembangan yang
berbahaya.”

Barang kali sisi positif dari krisis ini,
sebagaimana yang terjadi pasca peristiwa 11 September, bahwa kartun
pelecehan ini telah membuka pintu bagi inisiatif-inisiatif baru untuk
menjelaskan Islam kepada tokoh-tokoh dan lembaga-lembaga Islam di Eropa
dan Amerika. Seperti revitalisasi lembaga Islam di Amerika, Council on
American-Islamic Relations (CAIR), yang mengkampanyekan pengenalan Nabi
Muhammad SAW. Untuk mengetahui pengalaman lembaga ini dalam teknik
membangun hubungan masyarakat Muslim Amerika bisa dilihat dalam situs
mereka, yaitu di (www.cair.com/muhammad).

Sementara di Ukraina
kita bisa melihat pengalaman lain yang dilakukan oleh “Ikatan
Organisasi-organisasi Sosial di Ukraina” (al-raid), ini adalah lembaga
paling menonjol di Ukraina yang juga melakukan kampanye penyuluhan
(pengenalan) tentang Nabi Muhammad saw, melalui pembagian kaset-kaset,
buku-buku, kepingan-kepingan CD serta penyelenggaraan program-program
dialog, diskusi, seminar dan kunjungan. Al-Raid memiliki situs khusus
dengan bahasa Rusia tentang Islam yaitu (www.Islamuna.net).
Kampanye
di Amerika dan Ukraina sudah mulai dilakukan setelah adanya banyak
kontak yang dilakukan banyak non muslim yang ingin tahu tentang sikap
kaum muslimin terhadap krisis karikatur pelecehan Nabi.

Sementara
itu di Jedah ada inisiatif lain yang dideklarasikan penerbit dan
percetakan “Darul Bayyinah” dengan membagikan ribuan buku-buku dai
kondang dari Afrika Selatan, mendiang Ahmad Dedat. Buku pertama
dibagikan di Denmark dan Norwegia, di mana krisis pelecehan Nabi
terjadi, yaitu buku “al-Qur’an adalah Mu’jizat Abadi Muhammad”. Setelah
itu Darul Bayyinah akan menterjemahkan buku tersebut dan membagikan dua
buku lain karya Syaikh Ahmad Dedat.

Semua inisiatif ini
berangkat dari kesadaran para tokoh Islam bahwa pelecehan terhadap
agama kita jangan hanya diakhiri dengan permintaan maaf. Namun kita
harus bergerak memperkenalkan dan memaparkan kepada mereka tentang
hakikat agama yang lurus ini. Itulah yang dilakukan oleh sebagian
kalangan, setelah pelecehan yang dilakukan oleh Paus Benedict XVI
terhadap Islam dan Rasulnya, salah satunya Rabithah Alam Islamy di
Riyadh memutuskan untuk mengadakan aksi pengenalan Nabi Muhammad SAW
sebagai nabi pembawa rahmat, hal ini bisa kita lihat dalam situsnya:
www.mercyprophet.com

sumber : http://tarbiyahislam.wordpress.com/2007/08/10/takut-terhadap-penyebaran-islam-yang-pesat/

agamaislam wrote on Feb 1
Kamis, 2007 September 06
Al Quran Dituduh Menyadur Bible

Kehebatan
al-Qur’an yang penuh dengan mukjizat, disambut dengan kedengkian oleh
pihak Nasrani. Mereka berusaha menyerang otentisitas al-Qur’an dengan
berbagai metode. etelahgagal, mereka frustasi dan terus-menerus
melakukan kritikan untuk menanamkan keraguan terhadap umat Islam. Salah
satu kritikannya adalah menuding al-Quran sebagai kitab saduran.

Adalah
Mohamad Guntur Romli, aktivis JIL yang getol menjajakan liberalisasi
agama berkedok Islam. Dalam artikelnya belum lama ini, Guntur
mencak-mencak menuding al-Qur’an sebagai kitab saduran yang menyunting
(mengedit) keyakinan dan kitab-kitab sebelumnya.

"Kisah Isa
(Yesus) dalam al-Qur’an yang menegaskan, Isa hanyalah seorang Rasul,
bukan anak Tuhan, dan tidak ada penyaliban terhadapnya adalah "saduran"
dari keyakinan sebuah sekte Kristen," tulisnya.

Guntur
menegaskan pula, "Al-Qur’an tetap memiliki banyak sumber dan ‘proses
kreatif’ yang bertahan serta berlapis-lapis. Al-Qur’an adalah
’suntingan’ dari ‘kitab-kitab’ sebelumnya, yang disesuaikan dengan
kepentingan penyuntingnya," (koran Tempo, 4 Mei 2007).

Tuduhan
ini sebenarnya sudah basi, dan sama sekali tidak ada yang baru. Para
orientalis dan misionaris Kristen sudahterlalu sering melontarkan
tuduhan ini. Misalnya, FJL Menezes (1911) dalam karyanya The Life anda
Religion of Mohammad:The Prophet of Arabia menuduh : "Tidak ada suatu
apapun dari al-Qur’an itu, selain ciptaan dan rekaan Muhammad dan para
sahabatnya."

Dalam jajaran pengritik al-Qur’an, tercatat
nama-nama orientalis terkemuka, antara lain : G. Sale dalam buku
Preliminary Discourse (1899) yang menyebutkan bahwa Muhammad adalah
penulis asli al-Qur’an. Di belakang hari, kritikan serupa dikemukakan
oleh Sir William Muir dan Wollaston (1905), Lammens (1926), Champion
dan Short (1959), Glubb (1970), Robinson (1977), dan seterusnya.

Di
Indonesia, tuduhan yang sama dilontarkan oleh evangelis Jansen Litik,
Suradi ben Abraham, Pendeta Muhamad Nurdin, dan lain-lain. Jauh
sebelumnya, Louis Hoyack dalam buku De Onbekende Koran menuduh
al-Qur’an telah menjiplak Bibel : "De Koran staat vol van verhalen,
ontleend aan het Oude en Nieuwe Testament, en ook aan andere bronnen,
maar waar de profeet het noodig oordelde, een weinig geretoucheed"
(hlm.74). (Al-qur’an berisi dongengan-dongengan yang dicuplik dari
Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, juga dari sumber-sumber lain,
tetapi di mana dianggap perlu oleh sang nabi maka diadakan penyuntingan
disana-sini).

Bila ditelaah secara kritis, kritik Guntur
terhadap al-Qur’an itu sungguh tidak bermutu, karena tidak disertai
data-data yang akurat dan faktual. Dalam ulasannya mengenai proses
turunnya al-Qur’an, Guntur menganalisa bahwa krtika berbicara tentang
pewahyuan al-Qur’an, Allah memakai dhamir nahnu (kata ganti plural
"kami"). Menurutnya, kata "awhayna(kami wahyukan) dipakai dalam
al-Qur’an lebih dari 30 kali, sedangkan kata "awhaytu" (aku wahyukan)
hanya dipakai 8 kali. Bertolak dari data "awhayna" ini, Guntur
menyatakan, proses turunnya al-Qur’an melibatkan kerja kolektif antara
Tuhan dan manusia.

Dari penjelasan ini, terlihat jelas betapa
Guntur adalah orang yang miskin data. Menurut penelitian Tim FAKTA
dengan fasilitas program al-Qur’an digital, kata "awhaytu" dalam
al-Qur’an hanya ada satu kata, yaitu dalam surah al-maidah:111, Itu pun
bukan tentang pewahyuan al-Qur’an, melainkan ilham kepada para pengikut
setia Nabi Isa (Hawariyun).

Selain itu, pemakaian kata ganti
Nahnu (Kami) bukan berarti bilangan Allah itu jamak (plural), dan tidak
berarti bahwa proses turunnya al-Qur’an itu melibatkan kerja sama
antara Tuhan dan manusia. Dalam bahasa Arab, pemakaian kata ganti jamak
untuk kata orang pertama tunggal (mutakallim mufrad) berarti
penghormatan dan pengagungan (lit-ta’zhim).

Tidak benar tudingan
Guntur bahwa pewahyuan al-Qur’an itu hasil kerja sama antara Tuhan dan
manusia dengan menyadur dan menyunting kitab-kitab sebelumnya. Tudingan
ini terbantah oleh ayat al-Qur’an serah al-Baqarah:41. Dalam ayat ini
Allah memakai kata ganti tunggal "anzaltu" (Aku turunkan) ketika
berbicara tentang turunnya al-Qur’an. Pada ayat tersebut Allah
berfirman : "Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan
(al-Qur’an)…".

Ketika melontarkan tudingan al-Qur’an menyadur
kitab sebelumnya (baca:Bibel), lagi-lagi Guntur memamerkan
kemiskinannya dalam hal data. Sebagai seorang peneliti, seharusnya
Guntur membktikan tuduhannya atas berbagai pertanyaan berikut :
Pertama, jika al-Qur’an adalah kitab suci yang menyadur Bibel, maka
ayat Bibel mana saja yang disadur, dan ayat al-Qur’an mana yang
dianggapnya menyadur itu. Kedua, Berdasarkan sejarah yang diyakini
Guntur, kapan Nabi Muhammad membaca dan meneliti Bibel ketika
menyadurnya dalam al-Qur’an? Ketiga, menurut al-Qur’an, Muhammad adalah
nabi yang ummiy (buta aksara). Tudingan bahwa beliau menyadur
kitab-kitab sebelumnya, berarti menuding bahwa beliau bisa membaca.
Siapa nama guru Nabi Muhammad yang mengajarkan baca-tulis?

Dalam
artikelnyam Guntur hanya bisa menuding tanpa membuktikan fakta dan data
yang akurat. Karenanya, tudingan ini boleh disebut sebagai asbun.

Secara
singkat, semua tuduhan itu kandas dengan sendirinya oleh firman Allah
dalam surah al-’Ankabut:48-49 yang menyatakan Muhammad adalah nabi yang
ummiy. Kenyataan bahwa al-Qur’an sepanjang sejarah dunia tidak pernah
berubah setitikpun, membuktikan bahwa al-Qur’an adalah Kalamullah
(firman Allah) yang redaksinya sama sekali tidak melibatkan campur
tangan manusia. Sebab jika al-Qur’an adalah hasil karya manusia,
pastilah dikemudian hari akan mengalami editing (perubahan), karena
hasil karya manusia memiliki banyak keterbatasan.

Jelaslah bahwa
al-Qur’an bukan kitab saduran. Lantas siap ayang sebenarnya menyadur?
Bisa jadi kelompok liberal yang menyadur fitnah-fitnah dari kaum
orientalis dan misionaris.

Diposting oleh Blog Tim Fakta di 23:00
sumber : http://timfakta.blogspot.com/2007/09/al-quran-dituduh-menyadur-bible.html

agamaislam wrote on Feb 1
[TAFSIR] : AL-ISRAA’ surah ke 17 Ayat 1

1
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam
dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi
sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda
(kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui.(QS. 17:1)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Israa’ 1
سُبْحَانَ
الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى
الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ
آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ (1)
Allah SWT
menyatakan ke Maha Sucian Asma Nya dengan firman Nya "Subhana", agar
manusia mengakui kesucian-Nya dari sifat-sifat yang tidak layak dan
meyakini sifat-sifat ke Agungan Nya yang tiada taranya dan sebagai
pernyataan pula tentang sifat-sifat yang kebesaran Nya telah
memperjalankan hamba-Nya pada waktu malam, dengan perjalanan yang
sangat cepat.
Allah SWT memulai firman Nya dengan "Subhana" dalam
ayat ini, dan di Beberapa ayat yang lain sebagai pertanda bahwa ayat
itu mengandung peristiwa luar biasa yang hanya dapat terlaksana karena
iradat dan kekuasaan Nya.
Dari kata-kata Isra’ dapat dipahami bahwa
Isra’ Nabi Muhammad saw itu terjadi di waktu malam hari, karena memang
demikian kata "asra" dalam bahasa Arab. Sedang disebutkan "Lailan",
yang berarti di malam hari," adalah untuk menguatkan pengertian bahwa
peristiwa Isra’ itu memang benar-benar terjadi di malam hari. Allah SWT
mengisra’ kan hamba Nya di waktu malam hari, karena waktu itulah yang
paling utama bagi para hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah, dan
waktu yang sebaik-baiknya untuk beribadat kepada-Nya.
Dimaksud
dengan "hamba Nya" di dalam ayat ini ialah Nabi Muhammad saw yang telah
terpilih sebagai Nabi yang terakhir dan telah mendapat perintah untuk
melakukan perjalanan malam, yang semata-mata karena perintah Allah.
Di
dalam ayat ini tidak diterangkan waktunya secara pasti, baik waktu
keberangkatannya maupun saat tibanya Nabi Muhammad saw kembali ke
tempat tinggalnya di Mekah. Hanya saja yang diterangkan bahwa Isra’
Nabi Muhammad saw dimulai dari Masjidilharam, yaitu Mesjid yang
terkenal karena di dalamnya ada Baitullah yang terletak di kota Mekah
menuju Masjidilaksa yang berada di Baitulmakdis. Masjidilaksa itu
terkenal pula dengan Haikal Sulaiman. Disebut demikian karena Nabi
Sulaimanlah yang membinanya. Mesjid itu disebut Masjidilaksa yang
berarti "jauh", karena jauhnya dari kota Mekah.
Selanjutnya Allah
SWT, menjelaskan bahwa Masjidilaksa itu dan daerah daerah sekitarnya
diberi berkat oleh Allah, karena tempat di sekitarnya itu adalah tempat
turunnya wahyu kepada Nabi-nabi dan disuburkan tanahnya, sehingga
menjadi daerah yang makmur. Di samping itu juga karena mesjid itu
termasuk di antara mesjid-mesjid yang paling besar pada waktu itu yang
menjadi tempat peribadatan para Nabi dan tempat tinggal mereka.
Sesudah
itu Allah menyebutkan alasan mengapa Nabi Muhammad saw dibawa berjalan
pada malam hari, yaitu Allah SWT dapat memperlihatkan kepadanya
tanda-tanda kebesaran-Nya, yaitu tanda-tanda yang dapat disaksikan oleh
Muhammad saw dalam perjalanannya itu, berupa pengalaman-pengalaman yang
berharga yang dialaminya dalam perjalanan dari Masjidilharam ke
Masjidilaksa itu, ketabahan hati dalam menghadapi berbagai macam
cobaan, dan betapa luasnya jagat raya serta alangkah Agungnya Maha
Pencipta Nya. Pengalaman-pengalaman baru yang dapat disaksikan oleh
Nabi Muhammad itu sangat berguna untuk menguatkan hati beliau dalam
melakukan tugasnya, dan menambah ketabahan beliau menghadapi berbagai
macam rintangan dari kaumnya, juga persiapan yang sangat penting dalam
meyakini wahyu Allah, baik yang telah diterima maupun yang akan
diterimanya.
Di akhir ayat ini Allah SWT menjelaskan bahwa Dia Maha
Mendengar terhadap bisikan batin para hamba-Nya dan Maha Melihat akan
semua perbuatan mereka. Tak ada suatupun detak jantung, ataupun gerakan
badan dari seluruh yang ada di antara langit dan bumi ini yang terlepas
dari pengamatan Nya.
Ayat ini menyebutkan terjadinya peristiwa
Isra’, yaitu perjalanan Nabi Muhammad saw dari Masjidilharam ke
Masjidilaksa di waktu malam, sedang peristiwa Mikraj, yaitu naiknya
Nabi Muhammad dari Masjidilaksa ke Sidratul Muntaha (Mustawa) tidak
diisyaratkan oleh ayat ini tetapi diisyaratkan oleh bagian pertama
surah An Najm.
Hampir seluruh ahli tafsir berpendapat bahwa
peristiwa Isra’ itu terjadi setelah Nabi Muhammad diutus menjadi Rasul.
Peristiwanya satu tahun sebelum hijrah. Demikian menurut Imam Az Zuhri
Ibnu Saad dan lain-lainnya. Imam Nawawipun memastikan yang demikian.
Bahkan menurut Ibnu Hasan bahwa peristiwa Isra’ itu terjadi bulan Rajab
tahun yang kedua belas dari diangkatnya Muhammad menjadi Nabi.
Adapun hadis-hadis yang menjelaskan terjadinya Isra’ itu sebagai berikut:
Pertama :

ليلة
أسري برسول الله صلى الله عليه وسلم من مسجد الكعبة أنه جاءه ثلاثة نفر
قبل أن يوحى إليه وهو نائم في المسجد الحرام فقال أولهم: أيهم هو؟ فقال
أوسطهم : هو خيرهم فقال أخرهم : خذوا خيرهم، فكانت تلك الليلة فلم يرهم
حتى أتوه ليلة أخرى فيما يرى قلبه وتنام عينه ولا ينام قلبه وكذلك
الأنبياء تنام أعينهم ولا تنام قلبهم -فلم يكلموه حتى احتملوه فوضعوه عند
بئر زمزم فتولاه منهم جبريل فشق جبريل ما بين نحره إلى لبته حتى فرغ من
صدره وجوفه فغسله من ماء زمزم بيده حتى أنقى جوفه ثم أتى بطشت من ذهب فيه
نور من ذهب محشو إيمانا وحطمة فحشابه صدره ولغاديده يعني عروق حلقه
Artinya:
Pada
malam dijalankannya Rasulullah saw dari Masjidilharam datanglah
kepadanya tiga orang pada saat sebelum turunnya wahyu, sedangkan Rasul
pada waktu itu sedang tidur di Masjidilharam. Kemudian berkatalah orang
yang pertama: "Siapakah dia ini ? Kemudian orang kedua menjawab: "Dia
adalah orang yang terbaik di antara mereka (kaumnya). Setelah itu
berkatalah orang ketiga : "Ambillah orang yang terbaik itu. Pada malam
itu Nabi tidak mengetahui siapa mereka itu, sehingga mereka datang
kepada Nabi di malam yang lain dalam keadaan matanya tidur sedangkan
hatinya tidak tidur. Demikianlah para Nabi, meskipun mata mereka
terpejam, namun hati mereka tidaklah tidur. Sesudah itu rombongan tadi
tidaklah berbicara sedikitpun kepada Nabi sehingga saatnya mereka
membawa Nabi dan meletakkannya di sekitar sumur Zam-zam. Kemudian
Jibrilah di antara mereka yang menguasai diri Nabi, lalu Jibril
membelah bagian tubuh, antara leher sampai ke hatinya, sehingga
kosonglah dadanya. Sesudah itu Jibril mencuci hati Nabi dengan air
Zamzam dengan menggunakan tangannya, sehingga bersihlah hati beliau.
Kemudian Jibril membawa talam yang terdapat di dalamnya bejana dari
emas yang berisi iman dan hikmah. Kemudian dituangkanlah isi bejana itu
memenuhi dada beliau dan urat-urat tenggorokannya". (H.R. Bukhari dan
Anas)
Kedua: Hadis riwayat Bukhari dari Sa’sa’ah:

إذا أتاني أت فقد فاستخرج قلبي، ثم أتيت بطشت من ذهب مملوءة إيمانا، فغسل قلبي ثم حشي (أعيد)
Artinya:
Bahwa
Nabi saw bersabda : "Datang kepadaku seseorang (Jibril). Kemudian ia
mengeluarkan hatiku. Setelah itu dibawalah kepadaku piala yang terbuat
dari emas yang penuh dengan iman, lalu ia mencuci hatiku. Setelah itu
menuangkan isi piala itu kepadaku. Kemudian hatiku dikembalikannya
seperti sediakala." (H.R. Bukhari dari Sa’sa’ah).
Ketiga: Hadis riwayat Ahmad dari Anas bin Malik:

إن
رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: أتيت بالبراق وهو دابة أبيض فوق الحمار
ودون البغال يضع حافره عند منتهى طرفه فركبته فسار بي حتى أتيت بيت المقدس
فربطت الدابة بالحلقة التي يربط فيها الأنبياء ثم دخلت فصليت فيه ركعتين
ثم خرجت فأتاني جبريل بإناء من خمر وإناء من لبن فاخترت اللبن فقال جبريل
أصبت الفطرة
Artinya:
"Bahwa Rasulullah saw bersabda :
"Didatangkan kepadaku Buraq, yaitu binatang putih lebih besar dari
keledai yang lebih kecil dari bagal. Ia melangkahkan kakinya sejauh
pandangan mata. Kemudian saya mengendarainya, lalu ia membawaku
sehingga sampai di Baitulmakdis. Kemudian saya mengikatnya pada tempat
para nabi mengikatkan kendaraannya. Kemudian saya salat dua rakaat di
dalamnya, lalu saya keluar. Kemudian Jibril membawa kepadaku sebuah
piala yang berisi minuman keras (khamar) dan sebuah lagi berisi susu;
lalu saya pilih yang berisi susu, lantas Jibril berkata : "Engkau telah
memilih fitrah sebagai pilihan yang benar". (H.R. Ahmad dari Anas bin
Malik).
Dari keterangan hadis-hadis tersebut, dapatlah disimpulkan
bahwa Nabi Muhammad saw dijalankan di waktu malam hari dari
Masjidilharam ke Masjidilaksa atas izin Allah di bawah bimbingan
malaikat Jibril!. Sebelum Nabi Muhammad saw diperjalankan malam hari
itu, hatinya diisi iman dan hikmah, agar beliau tahan menghadapi segala
macam cobaan dan tabah dalam melaksanakan perintah-perintah-Nya.
Perjalanan itu dilakukan dengan Buraq yang mempunyai kecepatan luar
biasa sehingga Isra’ dan Mikraj hanya memerlukan waktu kurang dari satu
malam, dari sesudah waktu `Isyak sampai sebelum subuh.
Adapun mengenai riwayat terjadinya Mikraj akan dijelaskan pada tafsir permulaan An Najm.
Di
dalam ayat yang sedang ditafsirkan ini tidak dijelaskan secara
terperinci; apakah Nabi saw Isra’ dengan ruh dan jasadnya, ataukah
rohnya saja. Itulah sebabnya para mufassirin berbeda-beda pendapat
mengenai hal tersebut. Sebagian besar mufassirin berpendapat bahwa
Isra’ itu dilakukan dengan ruh dan jasad beliau dalam keadaan sadar,
bukan dalam keadaan tidur. Mereka itu mengajukan beberapa alasan untuk
menguatkan pendapatnya di antaranya ialah:
a. Kata (سُبْحَانَ)
menunjukkan adanya peristiwa yang hebat, seumpama Nabi itu di-Isra’kan
dalam keadaan tidur, tidaklah sepatutnya diungkapkan dengan menggunakan
ayat yang didahului dengan tasbih.
b. Andai kata Isra’ itu dilakukan
dalam keadaan tidur, tentulah orang Quraisy tidak dengan serta merta
mendustakannya. Juga banyaknya orang muslim yang murtad kembali,
lantaran adanya berita itu, menunjukkan peristiwa Isra’ bukanlah
peristiwa yang biasa. Lagi pula kata-kata Umu Hani’ yang melarang Nabi
menceritakannya kepada siapapun agar mereka tidak mendustakannya. Juga
menguatkan bahwa Isra’ itu dilakukan Nabi dengan ruh dan jasadnya. Dan
peristiwa yang menyebabkan Abu Bakar diberi gelaran "As-Siddiq" karena
dia membenarkan Nabi Isra’ dengan ruh dan jasadnya, sedangkan
orang-orang lain berat menerimanya.
c. Bahwa firman Allah (بِعَبْدِهِ) menunjukkan suatu kesatuan bulat antara ruh dan jasad.
d.
Perkataan Ibnu Abbas bahwa : Orang-orang Arab kerap kali pula
menggunakan kata "ru’ya" dalam arti penglihatan mata, maka kata "ru’ya"
yang tersebut dalam firman Allah:

وَمَا جَعَلْنَا الرُّؤْيَا الَّتِي أَرَيْنَاكَ إِلَّا فِتْنَةً لِلنَّاسِ
Artinya:
Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan Kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia. (Q.S. Al Isra’: 60)
e.
Yang diperlihatkan kepada Nabi pada waktu Isra’ dan Mikrajnya adalah
berarti penglihatan mata yang mungkin terjadi karena kecepatan yang
serupa telah dibuktikan oleh manusia dengan teknologi modem.
Segolongan
mufassirin yang lain berpendapat bahwa Isra’ dilakukan Nabi dengan
rohnya saja. Mereka ini menguatkan pendapatnya dengan alasan-alasan.
a. Bahwa Muawiyah bin Abu Sofyan apabila ditanya tentang Isra’ Nabi Muhammad saw beliau menjawab :

كان رؤيا من الله صادقة…
Artinya:
Isra’ Nabi itu adalah mimpi yang benar yang datangnya dari Allah.
b. Bahwa keluarga Abu Bakar r.a. berkata :
ما فقد جسد رسول الله صلى الله عليه وسلم ولكن أسري بروحه
Artinya:
Aisyah pernah berkata : "Jasad Rasulullah saw (pada saat berisra’) tidaklah lenyap, akan tetapi rohnyalah yang diisra’kan".
c.
Bahwa Al Hasan berkata pada saat menafsirkan firman Allah "Bahwa yang
dimaksud dengan ru’ya" dipakai khusus untuk orang tidur.
Al Maragi
di dalam tafsirnya mengemukakan beberapa kecaman terhadap alasan yang
dikemukakan oleh orang-orang yang berpendidikan bahwa Nabi melakukan
Isra’ dengan rohnya saja, sbb:
1. Pendapat Muawiyah itu ada
kelemahannya, yaitu pada waktu itu Muawiyah belum lagi masuk Islam,
akan tetapi dia masih di dalam keadaan musyrik. Sebab itu, riwayatnya
tidak boleh di terima.
2. Riwayat `Aisyah mendapat kecaman-kecaman
dari para Muhaddisin karena pada saat itu `Aisyah masih kecil masih
belum menjadi istri Rasulullah saw.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Israa’ 1
سُبْحَانَ
الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى
الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ
آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ (1)
(Maha Suci) artinya
memahasucikan (Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya) yaitu Nabi
Muhammad saw. (pada suatu malam) lafal lailan dinashabkan karena
menjadi zharaf. Arti lafal al-isra ialah melakukan perjalanan di malam
hari; disebutkan untuk memberikan pengertian bahwa perjalanan yang
dilakukan itu dalam waktu yang sedikit; oleh karenanya diungkapkan
dalam bentuk nakirah untuk mengisyaratkan kepada pengertian itu (dari
Masjidilharam ke Masjidilaksa) yakni Baitulmakdis; dinamakan
Masjidilaksa mengingat tempatnya yang jauh dari Masjidilharam (yang
telah Kami berkahi sekelilingnya) dengan banyaknya buah-buahan dan
sungai-sungai (agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda
Kami) yaitu sebagian daripada keajaiban-keajaiban kekuasaan Kami.
(Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui) artinya
yang mengetahui semua perkataan dan pekerjaan Nabi saw. Maka Dia
melimpahkan nikmat-Nya kepadanya dengan memperjalankannya di suatu
malam; di dalam perjalanan itu antara lain ia sempat berkumpul dengan
para nabi; naik ke langit; melihat keajaiban-keajaiban alam malakut dan
bermunajat langsung dengan Allah swt. Sehubungan dengan peristiwa ini
Nabi saw. menceritakannya melalui sabdanya, "Aku diberi buraq; adalah
seekor hewan yang berbulu putih; tingginya lebih dari keledai akan
tetapi lebih pendek daripada bagal; bila ia terbang kaki depannya dapat
mencapai batas pandangan matanva. Lalu aku menaikinya dan ia membawaku
hingga sampai di Baitulmakdis. Kemudian aku tambatkan ia pada tempat
penambatan yang biasa dipakai oleh para nabi. Selanjutnya aku memasuki
Masjidilaksa dan melakukan salat dua rakaat di dalamnya. Setelah itu
aku keluar dari Masjidilaksa datanglah kepadaku malaikat Jibril seraya
membawa dua buah cawan; yang satu berisikan khamar sedangkan yang lain
berisikan susu. Aku memilih cawan yang berisikan susu, lalu malaikat
Jibril berkata, ‘Engkau telah memilih fitrah (yakni agama Islam).’ Nabi
saw. melanjutkan kisahnya, kemudian malaikat Jibril membawaku naik ke
langit dunia (langit pertama), lalu malaikat Jibril mengetuk pintu
langit; ditanyakan lagi kepadanya, ‘Siapakah kamu?’ Malaikat Jibril
menjawab, ‘Jibril.’ Ditanyakan lagi kepadanya, ‘Siapakah yang bersamamu
itu?’ Malaikat Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ Ditanyakan lagi kepadanya,
‘Apakah dia telah diutus untuk menemui-Nya?’ Malaikat Jibril menjawab,
‘Dia telah diutus untuk menemui-Nya.’ Kemudian pintu langit pertama
dibukakan bagi kami; tiba-tiba di situ aku bertemu dengan Nabi Adam.
Nabi Adam menyambut kedatanganku, dan ia mendoakan kebaikan untukku.
Kemudian malaikat Jibril membawaku naik ke langit yang kedua, malaikat
Jibril mengetuk pintu langit yang kedua. Lalu ditanyakan kepadanya,
‘Siapakah kamu?’ Malaikat Jibril menjawab, ‘Jibril.’ Ditanyakan lagi
kepadanya, ‘Siapakah orang yang bersamamu itu?’ Malaikat Jibril
menjawab, ‘Muhammad.’ Ditanyakan lagi kepadanya, ‘Apakah dia telah
diutus untuk menghadap kepada-Nya?’ Malaikat Jibril menjawab, ‘Dia
telah diutus untuk menemui-Nya.’ Maka pintu langit yang kedua dibukakan
bagi kami; tiba-tiba aku bertemu dengan dua orang anak bibiku, yaitu
Nabi Yahya dan Nabi Isa. Lalu keduanya menyambut kedatanganku, dan
keduanya mendoakan kebaikan buatku. Kemudian malaikat Jibril membawaku
naik ke langit yang ketiga, maka malaikat Jibril mengetuk pintu langit
yang ketiga, lalu ditanyakan kepadanya, ‘Siapakah kamu?’ Malaikat
Jibril menjawab, ‘Jibril.’ Ditanyakan lagi kepadanya, ‘Siapakah orang
yang bersamamu itu?’ Malaikat Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ Ditanyakan
lagi kepadanya, ‘Apakah dia telah diutus untuk menemui-Nya?’ Malaikat
Jibril menjawab, ‘Dia telah diutus untuk menemui-Nya.’ Maka
dibukakanlah pintu langit ketiga bagi kami, tiba-tiba aku bertemu
dengan Nabi Yusuf; dan ternyata ia telah dianugerahi separuh daripada
semua keelokan. Nabi Yusuf menyambut kedatanganku, lalu ia mendoakan
kebaikan bagiku. Kemudian malaikat Jibril membawaku naik ke langit yang
keempat, maka malaikat Jibril mengetuk pintu langit. Lalu ditanyakan
kepadanya, ‘Siapakah kamu?’ Malaikat Jibril menjawab. ‘Jibril.’
Ditanyakan lagi kepadanya, ‘Siapakah orang yang bersamamu itu?’
Malaikat Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ Ditanyakan lagi kepadanya,
‘Apakah dia telah diutus untuk menemui-Nya?’ Malaikat Jibril menjawab,
‘Dia telah diutus untuk menemui-Nya.’ Maka pintu langit yang keempat
dibukakan bagi kami; tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Idris, ia
menyambut kedatanganku dan mendoakan kebaikan bagiku. Kemudian malaikat
Jibril membawaku ke langit yang kelima, lalu malaikat Jibril mengetuk
pintu langit yang kelima, maka ditanyakan kepadanya, ‘Siapakah kamu?’
Malaikat Jibril menjawab, ‘Jibril.’ Dan ditanyakan lagi kepadanya,
‘Siapakah orang yang bersamamu itu?’ Malaikat Jibril menjawab,
‘Muhammad.’ Ditanyakan lagi kepadanya, ‘Apakah dia telah diutus untuk
menemui-Nya?’ Malaikat Jibril menjawab, ‘Dia telah diutus untuk
menemui-Nya.’ Lalu dibukakanlah pintu langit yang kelima bagi kami;
tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Harun, ia menyambut kedatanganku dan
mendoakan kebaikan bagiku. Selanjutnya malaikat Jibril membawaku naik
ke langit yang keenam, lalu ia mengetuk pintunva, ditanyakan kepadanya,
‘Siapakah kamu?’ Malaikat Jibril menjawab, ‘Jibril.’ Ditanyakan lagi
kepadanya, ‘Siapakah orang yang bersamamu itu?’ Malaikat Jibril
menjawab, ‘Muhammad.’ Ditanyakan lagi kepadanya, ‘Apakah dia telah
diutus untuk menemui-Nya?’ Malaikat Jibril menjawab, ‘Dia telah diutus
untuk menemui-Nya.’ Maka dibukakanlah pintu langit yang keenam buat
kami, tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Musa, lalu Nabi Musa menyambut
kedatanganku, dan ia mendoakan kebaikan bagiku. Kemudian malaikat
Jibril membawaku naik ke langit yang ketujuh, lalu ia mengetuk
pintunya. Ditanyakan kepadanya, ‘Siapakah kamu?’ Malaikat Jibril
menjawab, ‘Jibril.’ Ditanyakan lagi kepadanya, ‘Siapakah orang yang
bersamamu itu?’ Malaikat Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ Ditanyakan lagi
kepadanya, ‘Apakah dia telah diutus untuk menemui-Nya?’ Malaikat Jibril
menjawab, ‘Dia telah diutus untuk menemui-Nya.’ Maka dibukakanlah pintu
langit yang ketujuh bagi kami; tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi
Ibrahim. Kedapatan ia bersandar pada Baitulmakmur. Ternyata
Baitulmakmur itu setiap harinya dimasuki oleh tujuh puluh ribu
malaikat, yang selanjutnya mereka tidak kembali lagi padanya. Kemudian
malaikat Jibril membawaku naik ke Sidratul Muntaha, kedapatan
daun-daunnya bagaikan telinga-telinga gajah dan buah-buahan bagaikan
tempayan-tempayan yang besar. Ketika semuanya tertutup oleh nur Allah,
semuanya menjadi berubah. Maka kala itu tidak ada seorang makhluk Allah
pun yang dapat menggambarkan keindahannya. Rasulullah saw. melanjutkan
kisahnya, maka Allah mewahyukan kepadaku secara langsung, dan Dia telah
(mewajibkan) kepadaku lima puluh kali salat untuk setiap hari. Setelah
itu lalu aku turun hingga sampai ke tempat Nabi Musa (langit yang
keenam). Maka Nabi Musa bertanya kepadaku, ‘Apakah yang diwajibkan oleh
Rabbmu atas umatmu?’ Aku menjawab, ‘Lima puluh kali salat untuk setiap
harinya.’ Nabi Musa berkata, ‘Kembalilah kepada Rabbmu, lalu mintalah
keringanan dari-Nya karena sesungguhnya umatmu niscava tidak akan kuat
melaksanakannya; aku telah mencoba Bani Israel dan telah menguji
mereka.’ Rasulullah saw. melanjutkan kisahnya, maka aku kembali kepada
Rabbku, lalu aku memohon, ‘Wahai Rabbku, ringankanlah buat umatku.’
Maka Allah meringankan lima waktu kepadaku. Lalu aku kembali menemui
Nabi Musa. Dan Nabi Musa bertanya, ‘Apakah yang telah kamu lakukan?’
Aku menjawab, ‘Allah telah meringankan lima waktu kepadaku.’ Maka Nabi
Musa bertanya, ‘Sesungguhnya umatmu niscaya tidak akan kuat melakukan
hal tersebut, maka kembalilah lagi kepada Rabbmu dan mintalah
keringanan buat umatmu kepada-Nya.’ Rasulullah melanjutkan kisahnya,
maka aku masih tetap mondar-mandir antara Rabbku dan Nabi Musa, dan Dia
meringankan kepadaku lima waktu demi lima waktu. Hingga akhirnya Allah
berfirman, ‘Hai Muhammad, salat lima waktu itu untuk tiap sehari
semalam; pada setiap salat berpahala sepuluh salat, maka itulah lima
puluh kali salat. Dan barang siapa yang berniat untuk melakukan
kebaikan, kemudian ternyata ia tidak melakukannya dituliskan untuknya
pahala satu kebaikan. Dan jika ternyata ia melakukannya, dituliskan
baginva pahala sepuluh kali kebaikan. Dan barang siapa yang berniat
melakukan keburukan, lalu ia tidak mengerjakannya maka tidak dituliskan
dosanya. Dan jika ia mengerjakannya maka dituliskan baginva dosa satu
keburukan.’ Setelah itu aku turun hingga sampai ke tempat Nabi Musa,
lalu aku ceritakan hal itu kepadanya. Maka ia berkata, ‘Kembalilah
kepada Rabbmu, lalu mintalah kepada-Nya keringanan buat umatmu, karena
sesungguhnya umatmu tidak akan kuat melaksanakannya.’ Maka aku
menjawab, ‘Aku telah mondar-mandir kepada Rabbku hingga aku malu
terhadap-Nya.’" (Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam
Muslim; dan lafal hadis ini berdasarkan Imam Muslim). Imam Hakim di
dalam kitab Mustadrak meriwayatkan sebuah hadis melalui Ibnu Abbas r.a.
yang menceritakan, bahwa Rasulullah saw. telah bersabda, "Aku melihat
Rabbku Azza Wajalla."

agamaislam wrote on Feb 1
[TAFSIR] : AL-’ALAQ Surah ke 96

1 Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,(QS. 96:1)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al ‘Alaq 1
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1)
Dalam
hadis sahih riwayat Bukhari dinyatakan bahkan Nabi SAW. datang ke gua
Hira’ suatu gua yang terletak di atas sebuah bukit di pinggir kota
Mekah untuk berkhalwat beberapa malam. Kemudian sekembali beliau pulang
mengambil bekal dari rumah istri beliau, Khadijah, datanglah jibril
kepada beliau dan menyuruhnya membaca.
Nabi menjawab: "Aku tidak
bisa membaca" Jibril merangkulnya sehingga Nabi merasa sesak nafas.
Jibril melepaskannya; sambil berkata: "Bacalah". Nabi menjawab: "Aku
tidak bisa membaca". Lalu. dirangkulnya lagi dan dilepaskannya sambil
berkata: "Bacalah". Nabi menjawab: "Aku tidak bisa membaca" sehingga
Nabi merasa payah, maka Jibril membacakan ayat 1 sampai ayat 5 surah Al
`Alaq yang artinya:
"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.
Dia telah menciptakan manusia dari (sesuatu) yang melekat. Bacalah!.
dan Tuhanmu Yang Paling Pemurah.
Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam.
Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Lalu
Nabi SAW. dengan gemetar dan ketakutan pulang menemui istri beliau dan
mengatakan: "Selimutilah aku! Selimutilah aku!". Nabi terus diselimuti
sehingga hilanglah kegelisahannya. Lalu beliau menceritakan kepada
Khadijah apa yang terjadi dan beliau menambahkan: "Aku sangat khawatir
apa yang akan terjadi atas diriku" Khadijah berkata: "Tak usah
khawatir; malah seharusnya engkau gembira; demi Allah, sekali-kali
Tuhan tidak akan menyusahkanmu. Engkau menghubungkan silaturrahmi,
berbicara benar. membantu orang-orang yang tidak mampu, menghormati
tamu dan meringankan kesulitan-kesulitan penderita".
Kemudian
Khadijah membawa Nabi SAW. menemui Waraqah bin Naufal (anak paman
Khadijah). Waraqah bin Naufal adalah seorang beragama Nasrani. Ia
banyak menulis buku yang berbahasa Arab dan bahasa Ibrani yang berasal
dari Injil. Ia adalah seorang tua lagi buta.
Khadijah berkata
kepadanya: "Wahai anak pamanku, dengarlah cerita dari anak saudaramu
ini!". Lalu Waraqah bertanya: "Apakah yang ingin engkau ketahui wahai
anak saudaraku?". Lalu Nabi SAW. menceritakan kepadanya apa yang telah
terjadi di gua Hira’. Kemudian Waraqah berkata: "Itu adalah Jibril yang
pernah datang menemui Isa A.S.; sekiranya saya ini seorang pemuda yang
tangkas dan kiranya saya masih hidup ketika kaummu mengusirmu", maka
Nabi bertanya: "Apakah mereka akan mengusir aku?". Jawab Waraqah: "Ya!
hanya sedikit yang mengemban apa yang engkau bawa ini dan banyak yang
memusuhinya, maka jika aku masih kuat hidup di waktu itu pasti aku akan
membantumu sekuat-kuatnya". Tidak lama sesudah itu Waraqahpun meninggal
dunia. (HR. Imam Bukhari dan Muslim)
Berdasarkan hadis tersebut
jelaslah bahwa lima ayat pertama surah Al `Alaq ini adalah ayat-ayat
Alquran yang pertama kali diturunkan sebagai rahmat dan panggilan Allah
yang pertama kali yang dihadapkan kepada Nabi SAW.
Adapun ayat-ayat
lainnya diturunkan sesudah tersiarnya berita kerasulan Nabi SAW. dan
sesudah Nabi mulai mengajak orang-rang beriman kepadanya. Ajakan Nabi
ini pada mulanya disambut oleh sebahagian kecil orang-orang Quraisy,
sedang kebanyakan mereka mengejek-ejek orang yang telah beriman dan
berusaha agar jangan beriman kepada agama yang di bawa Muhammad dari
Tuhannya.
Allah menyuruh Nabi agar membaca sedang beliau tidak
pandai membaca dan menulis, maka dengan kekuasaan Allah ini beliau
dapat mengikuti ucapan Jibril. Dan Allah akan menurunkan kepadanya
suatu Kitab yang akan menjadi petunjuk bagi manusia.
Maksudnya,
bahwa Allah yang menjadikan dan menciptakan seluruh makhluk Nya dari
tidak ada kepada ada, sanggup menjadikan Nabi-Nya pandai membaca tanpa
belajar.

2 Dia telah Menciptakan manusia dari segumpal darah.(QS. 96:2)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al ‘Alaq 2
خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2)
Dalam
ayat ini Allah mengungkapkan cara bagaimana ia menjadikan manusia,
yaitu manusia sebagai makhluk yang mulia dijadikan Allah dari sesuatu
yang melekat dan diberinya kesanggupan untuk menguasai segala sesuatu
yang ada di bumi ini serta menundukkannya untuk keperluan hidupnya
dengan ilmu yang diberikan Allah kepadanya. Dan Dia berkuasa pula
menjadikan insan kamil di antara manusia, seperti Nabi SAW. yang pandai
membaca walaupun tanpa belajar.

3 Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah,(QS. 96:3)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al ‘Alaq 3
اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3)
Dalam
ayat ini Allah SWT memerintahkan kembali Nabi-Nya untuk membaca, karena
bacaan tidak dapat melekat pada diri seseorang kecuali dengan
mengulang-ngulangi dan membiasakannya, maka seakan-akan perintah
mengulangi bacaan itu berarti mengulang-ulangi bacaan yang dibaca
dengan demikian isi bacaan itu menjadi satu dengan jiwa Nabi SAW.
sesuai dengan maksud firman Allah dalam ayat yang lain:

سنقرئك فلا تنسى

Artinya:
Kami akan membacakan (Alquran) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa. (Q.S. Al ‘Alaq: 6)
Nabi
SAW. dapat membaca adalah dengan kemurahan Allah. Dia mengabulkan
permintaan orang-orang yang meminta kepada-Nya, maka dengan limpahan
karunia-Nya dijadikan Nabi-Nya pandai membaca. Dengan demikian
hilanglah keuzuran Nabi SAW. yang beliau kemukakan kepada Jibril ketika
menyuruh beliau membaca: "Saya tidak pandai membaca, karena saya
seorang buta huruf yang tak pandai membaca dan menulis".

4 Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam.(QS. 96:4)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al ‘Alaq 4
الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4)
Kemudian
dengan ayat ini Allah menerangkan bahwa Dia menyediakan kalam sebagai
alat untuk menulis, sehingga tulisan itu menjadi penghubung antar
manusia walaupun mereka berjauhan tempat. sebagaimana mereka
berhubungan dengan perantaraan lisan. Kalam sebagai benda padat yang
tidak dapat bergerak dijadikan alat informasi dan komunikasi, maka
apakah sulitnya bagi Allah menjadi Nabi-Nya sebagai manusia pilihan-Nya
bisa membaca, berorientasi dan dapat pula mengajar.
Allah menyatakan
bahwa Dia menjadikan manusia dari ‘Alaq lalu diajarinya berkomunikasi
dengan perantaraan kalam. Pernyataan ini menyatakan bahwa manusia
diciptakan dari sesuatu bahan hina dengan melalui proses, sampai kepada
kesempurnaan sebagai manusia sehingga dapat mengetahui segala rahasia
sesuatu, maka seakan-akan dikatakan kepada mereka, "Perhatikanlah hai
manusia bahwa engkau telah berubah dari tingkat yang paling rendah
hingga tingkat yang paling mulia, hal mana tidak mungkin terjadi
kecuali dengan kehendak Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Bijaksana
menciptakan segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al ‘Alaq 4
الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4)
(Yang mengajar) manusia menulis (dengan qalam) orang pertama yang menulis dengan memakai qalam atau pena ialah Nabi Idris a.s.

5 Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.(QS. 96:5)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al ‘Alaq 5
عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)
Kemudian
dalam ayat ini Allah menambahkan keterangan tentang limpahan
karunia-Nya yang tidak terhingga kepada manusia, bahwa Allah yang
menjadikan Nabi-Nya yang tidak terhingga kepada manusia, bahwa Allah
yang menjadikan Nabi-Nya pandai membaca. Dialah Tuhan yang mengajar
manusia bermacam-macam ilmu pengetahuan yang bermanfaat baginya yang
menyebabkan dia lebih utama dari pada binatang-binatang, sedangkan
manusia pada permulaan hidupnya tidak mengetahui apa-apa. Oleh sebab
itu apakah menjadi suatu keanehan bahwa Dia mengajar Nabi-Nya pandai
membaca dan mengetahui bermacam-macam ilmu pengetahuan serta Nabi SAW.
sanggup menerimanya.
Dengan ayat-ayat ini terbuktilah tentang
tingginya nilai membaca, menulis dan berilmu pengetahuan. Andaikata
tidak karena kalam niscaya banyak ilmu pengetahuan yang tidak
terpelihara dengan baik. banyak penelitian yang tidak tercatat dan
banyak ajaran agama hilang pengetahuan orang dahulu kala tidak dapat
dikenal oleh orang-orang sekarang baik ilmu, seni dan ciptaan-ciptaan
mereka.
Demikian pula tanpa pena tidak dapat diketahui sejarah
orang-orang yang berbuat baik atau yang berbuat jahat dan tidak ada
pula ilmu pengetahuan yang menjadi pelita bagi orang-orang yang datang
sesudah mereka. Lagi pula ayat ini sebagai bukti bahwa manusia yang
dijadikan dari benda mati yang tidak berbentuk dan tidak berupa dapat
dijadikan Allah menjadi manusia yang sangat berguna dengan mengajarinya
pandai menulis, berbicara dan mengetahui semua macam ilmu yang tidak
pernah diketahuinya.

6 Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas,(QS. 96:6)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al ‘Alaq 6 - 7
كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَى (6) أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَى (7)
Dalam
ayat-ayat ini Allah mengungkapkan keanehan sikap manusia pada umumnya.
Manusia bila ia berkuasa dan mempunyai harta, sikapnya berubah dari
yang seharusnya. Ia menjadi takabur, segan menghambakan dirinya kepada
Allah dan menganggap dirinya yang paling baik. Padahal dia dan orang
lain itu adalah anggota satu keluarga yang harus bantu membantu dan
tolong-menolong dalam kesenangan dan kesengsaraan serta mengingini
kebaikan bagi anggota keluarga lainnya sebagaimana ia mencintai
kebaikan untuk dirinya.
Nabi SAW. bersabda:

المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضا.
Artinya:
"Orang mukmin sesama mukmin lainnya seolah-olah suatu bangunan yang saling kokoh mengokohkan". (H.R. Bukhari)
Telah
diriwayatkan pula bahwa Sayidina Ali menasihati anaknya Hasan. Ia
berkata: "Inginkanlah kebaikan bagi orang lain sebagaimana engkau
menginginkannya untuk dirimu dan jangan menginginkan bagi orang lain
apa yang tidak engkau inginkan untuk dirimu".
Pada umumnya manusia
itu bila merasa kuat dan mempunyai kekayaan dia berbuat melampaui
batas, berlainan dengan orang yang bertakwa, kekayaannya akan menjadi
sumber kebaikan dengan tujuan membantu mereka untuk mencapai
kebahagiaan dunia dan akhirat, karena mereka akan menggunakannya
menurut keridaan Allah yang kegunaannya bermanfaat untuk agama dan
dunia mereka.

7 karena dia melihat dirinya serba cukup.(QS. 96:7)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al ‘Alaq 6 - 7
كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَى (6) أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَى (7)
Dalam
ayat-ayat ini Allah mengungkapkan keanehan sikap manusia pada umumnya.
Manusia bila ia berkuasa dan mempunyai harta, sikapnya berubah dari
yang seharusnya. Ia menjadi takabur, segan menghambakan dirinya kepada
Allah dan menganggap dirinya yang paling baik. Padahal dia dan orang
lain itu adalah anggota satu keluarga yang harus bantu membantu dan
tolong-menolong dalam kesenangan dan kesengsaraan serta mengingini
kebaikan bagi anggota keluarga lainnya sebagaimana ia mencintai
kebaikan untuk dirinya.
Nabi SAW. bersabda:

المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضا.
Artinya:
"Orang mukmin sesama mukmin lainnya seolah-olah suatu bangunan yang saling kokoh mengokohkan". (H.R. Bukhari)
Telah
diriwayatkan pula bahwa Sayidina Ali menasihati anaknya Hasan. Ia
berkata: "Inginkanlah kebaikan bagi orang lain sebagaimana engkau
menginginkannya untuk dirimu dan jangan menginginkan bagi orang lain
apa yang tidak engkau inginkan untuk dirimu".
Pada umumnya manusia
itu bila merasa kuat dan mempunyai kekayaan dia berbuat melampaui
batas, berlainan dengan orang yang bertakwa, kekayaannya akan menjadi
sumber kebaikan dengan tujuan membantu mereka untuk mencapai
kebahagiaan dunia dan akhirat, karena mereka akan menggunakannya
menurut keridaan Allah yang kegunaannya bermanfaat untuk agama dan
dunia mereka.

8 Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah kembali (mu).(QS. 96:8)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al ‘Alaq 8
إِنَّ إِلَى رَبِّكَ الرُّجْعَى (8)
Kemudian
pada ayat ini Allah memperingatkan bahwa tempat kembali segala urusan
adalah kepada Allah. Dialah yang memiliki segala urusan manusia dan
segala apa yang dimiliki oleh manusia itu. Perbuatan tipu daya dan
kehinaan baik kecil maupun besar yang pernah dilahirkannya akan
dipertanggungjawabkannya di akhirat kelak.
Dalam ayat lain yang serupa maksudnya Allah berfirman:

ولا تحسبن الله غافلا عما يعمل الظالمون إنما يؤخرهم ليوم تشخص فيه الأبصار مهطعين مقنعي رءوسهم لا يرتد إليهم طرف وأفئدتهم هواء
Artinya:
Dan
janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari
apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah
memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata
(mereka) terbelalak. Mereka datang tergesa-gesa memenuhi panggilan
dengan mengangkat kepalanya, sedang mata mereka tidak berkedip-kedip
dan hati mereka kosong.

9 Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang,(QS. 96:9)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al ‘Alaq 9 - 10
أَرَأَيْتَ الَّذِي يَنْهَى (9) عَبْدًا إِذَا صَلَّى (10)
Pada
ayat-ayat ini Allah menyatakan ancaman dan kebencian-Nya yang
diungkapkan dalam bentuk perintah, supaya memperhatikan keanehan sikap
orang bodoh ini; kesombongan, ketakaburan dan kecongkakannya yang
sangat hebat sehingga ia berani melarang hamba-hamba Allah mengerjakan
salat. Padahal ia bukan pencipta, bukan pula pemberi rezeki. Bagaimana
ia berani melakukan yang demikian itu, sedangkan dia sendiri harus
tunduk kepada Allah Yang Maha Kuasa.
Telah diriwayatkan bahwa
Sayidina Ali Karamallahu wajhah pernah melihat orang-orang salat
sebelum salat Id di Suatu lapangan; lalu beliau berkata, "Saya tidak
pernah melihat Nabi SAW. mengerjakannya". Mereka bertanya: "Apakah
engkau melarang mengerjakannya?" Ali menjawab: "Saya khawatir kalau
saya melarang tentu saya termasuk orang-orang yang dimaksud oleh Allah
dalam firman-Nya, "Bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang melarang
hamba Allah apabila ia mengerjakan salat".

10 seorang hamba ketika dia mengerjakan shalat,(QS. 96:10)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al ‘Alaq 9 - 10
أَرَأَيْتَ الَّذِي يَنْهَى (9) عَبْدًا إِذَا صَلَّى (10)
Pada
ayat-ayat ini Allah menyatakan ancaman dan kebencian-Nya yang
diungkapkan dalam bentuk perintah, supaya memperhatikan keanehan sikap
orang bodoh ini; kesombongan, ketakaburan dan kecongkakannya yang
sangat hebat sehingga ia berani melarang hamba-hamba Allah mengerjakan
salat. Padahal ia bukan pencipta, bukan pula pemberi rezeki. Bagaimana
ia berani melakukan yang demikian itu, sedangkan dia sendiri harus
tunduk kepada Allah Yang Maha Kuasa.
Telah diriwayatkan bahwa
Sayidina Ali Karamallahu wajhah pernah melihat orang-orang salat
sebelum salat Id di Suatu lapangan; lalu beliau berkata, "Saya tidak
pernah melihat Nabi SAW. mengerjakannya". Mereka bertanya: "Apakah
engkau melarang mengerjakannya?" Ali menjawab: "Saya khawatir kalau
saya melarang tentu saya termasuk orang-orang yang dimaksud oleh Allah
dalam firman-Nya, "Bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang melarang
hamba Allah apabila ia mengerjakan salat".

11 bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu berada di atas kebenaran,(QS. 96:11)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al ‘Alaq 11 - 12
أَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ عَلَى الْهُدَى (11) أَوْ أَمَرَ بِالتَّقْوَى (12)
Dalam
ayat-ayat ini Allah menambah keterangan-Nya terhadap orang durhaka ini
dalam bentuk pertanyaan, yaitu perhatikanlah, "Kiranya orang berbudi
pekerti baik, menyeru kepada kebaikan dan memanggil kepada takwa,
bukankah yang demikian itu lebih baik daripada kafir kepada Allah serta
melarang orang menaati-Nya? Karena dengan kekafirannya itu akan
kehilangan kedudukan yang paling mulia dan jatuh ke lubuk yang paling
hina".
Maksudnya, bukankah lebih baik baginya mendapat petunjuk
serta dapat pula menyuruh orang lain ke jalan yang benar. Dan ini
adalah sikap Nabi SAW. karena usaha beliau ada kalanya membentuk diri
sendiri dengan beribadat, seperti mendirikan salat mengerjakan puasa
dan lain-lain. Dan ada kalanya pula berusaha memperbaiki keadaan orang
lain dengan memanggil mereka kepada jalan yang benar dan kepada takwa.

12 atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah)?(QS. 96:12)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al ‘Alaq 11 - 12
أَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ عَلَى الْهُدَى (11) أَوْ أَمَرَ بِالتَّقْوَى (12)
Dalam
ayat-ayat ini Allah menambah keterangan-Nya terhadap orang durhaka ini
dalam bentuk pertanyaan, yaitu perhatikanlah, "Kiranya orang berbudi
pekerti baik, menyeru kepada kebaikan dan memanggil kepada takwa,
bukankah yang demikian itu lebih baik daripada kafir kepada Allah serta
melarang orang menaati-Nya? Karena dengan kekafirannya itu akan
kehilangan kedudukan yang paling mulia dan jatuh ke lubuk yang paling
hina".
Maksudnya, bukankah lebih baik baginya mendapat petunjuk
serta dapat pula menyuruh orang lain ke jalan yang benar. Dan ini
adalah sikap Nabi SAW. karena usaha beliau ada kalanya membentuk diri
sendiri dengan beribadat, seperti mendirikan salat mengerjakan puasa
dan lain-lain. Dan ada kalanya pula berusaha memperbaiki keadaan orang
lain dengan memanggil mereka kepada jalan yang benar dan kepada takwa.

13 Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling?(QS. 96:13)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al ‘Alaq 13 - 14
أَرَأَيْتَ إِنْ كَذَّبَ وَتَوَلَّى (13) أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَى (14)
Allah
menambahkan keterangan dalam bentuk pertanyaan yaitu: "Perhatikanlah
pula keadaan si kafir ini. Jika ia mendustakan dalil-dalil ketauhidan
Allah, tanda-tanda kekuasaan-Nya, dan tidak mau juga mempedulikan
panggilan Rasul serta membujuk orang agar tidak mendengar panggilan.
Apakah ia tidak khawatir akan ditimpa bahaya atau akan turun atasnya
azab Allah yang tak dapat dipikulnya? Apakah tidak dipikirkannya bahwa
Allah pencipta alam semesta ini memperhatikan tindakan-tindakannya? Dia
tidak akan membiarkannya, malah semua kejahatannya akan mendapat
balasan.

14 Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya?(QS. 96:14)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Maaf, Belum tersedia …atau lihat pada ayat sebelumnya…

15 Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya,(QS. 96:15)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al ‘Alaq 15 - 16
كَلَّا لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ لَنَسْفَعًا بِالنَّاصِيَةِ (15) نَاصِيَةٍ كَاذِبَةٍ خَاطِئَةٍ (16)
Allah
memperkeras ancaman-Nya dalam bentuk sumpah. Sesungguhnya jika si kafir
itu tidak henti-hentinya berdusta, melakukan kebodohan dan melarang
orang-orang mengerjakan salat niscaya akan kami tarik ubun-ubunnya
dengan keras dan melemparkannya ke dalam neraka.

16 (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka.(QS. 96:16)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Maaf, Belum tersedia …atau lihat pada ayat sebelumnya…

17 Maka biarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya),(QS. 96:17)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al ‘Alaq 17 - 18
فَلْيَدْعُ نَادِيَهُ (17) سَنَدْعُ الزَّبَانِيَةَ (18)
Allah
memperolok-olokkan si kafir itu, Kami suruh mereka memanggil
pembantu-pembantunya dari kalangan kaumnya yang mencintainya untuk
melindunginya dari azab yang akan menimpanya. Jika si kafir berani
melakukan yang demikian itu, yaitu menantang Allah dan menghadapkan
dirinya kepada kemarahan-Nya, niscaya Allah akan memanggil pula
tentara-tentara-Nya yang gagah perkasa yang tidak ada seorangpun
sanggup menghadapinya. Bala tentara Allah itu akan membinasakan si
kafir itu bersama pembantu-pembantunya dan akan melemparkannya ke dalam
neraka.
Bala tentara Allah adalah malaikat-malaikat yang diutus
untuk menyiksa hamba-hamba-Nya yang sesat. Mereka diberi nama dengan
Zabaniyah karena mereka menghalau orang-orang kafir ke dalam neraka.
Telah
diriwayatkan tentang Abu Jahal bahwa ia pada suatu waktu marah dan
berkata kepada Nabi SAW., "Hai Muhammad! Dengan siapa engkau
menakut-nakuti saya? Sesungguhnya pembantu-pembantuku banyak sekali
memenuhi semenanjung ini" Ia berkata pula. "Jika aku melihat Muhammad
melakukan salat di Kakbah aku akan menginjak lehernya". Ketika
ucapannya ini sampai ke telinga Nabi SAW. beliau berkata, "Bila ia
melakukan yang demikian itu pasti malaikat akan mengambilnya.

18 kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniyah,(QS. 96:18)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Maaf, Belum tersedia …atau lihat pada ayat sebelumnya…

19 sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan).(QS. 96:19)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al ‘Alaq 19
كَلَّا لَا تُطِعْهُ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ (19)
Kemudian
dalam ayat ini Allah menguatkan lagi ancaman-Nya kepada orang kafir
yang menentang dan takabur itu dengan menegaskan bahwa mereka tidak
akan sanggup menghadapi kekuatan Allah; oleh karena orang-orang kafir
bersama pembantunya tidak akan sanggup berhadapan dengan kekuatan
Allah, maka Ia melarang Nabi-Nya mematuhi si kafir itu, sebagaimana
dalam ayat lain yang bersamaan artinya Allah berfirman:

فلا تطع المكذبين
Artinya:
Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah).
Sebaliknya
beribadat dan bersujud untuk mendekatkan diri kepada Allah dan
meninggalkan ibadat itu berarti menjauhkan diri dari Allah-dan keadaan
seseorang yang paling dekat kepada Allah adalah ketika ia sedang s

agamaislam wrote on Feb 1
DR. H. Sanihu Munir, SKM, MPH : “Yesus Bukan Milik Orang Kristen Saja”
Oleh : Fakta 28 Feb, 04 - 5:16 am
sumber : http://swaramuslim.com/fakta/more.php?id=A1559_0_16_0_M

imageBoleh
jadi Anda tidak kenal dengan Tokoh ini. DR. Sanihu Munir, di Bitung
(Sulawesi Utara) namanya sontak menjadi incaran. Sanihu tidak menyangka
kesediaannya menjadi Pembicara Dialog Lintas Agama di Bitung, 28
Januari 2004 silam, berbuntut ancaman dan teror. Tidak
tanggung-tanggung, dirinya dikaitkan dengan Amrozi, Jamaah Islamiyah
dan perakit bom asal Malaysia, DR. Azahari. Atas semua kejadian ini
semangatnya tidak menurun untuk memperjuangkan Islam. Justru
keyakinannya dengan al-Qur’an semakin meninggi. Walan tardho ankal
yahudu walan nashara hatta tattabi’a millatahum.

Bagaimana
persisnya peristiwa itu terjadi? Ikuti perbincangan Eman Mulyatman dan
Heri D. Kurniawan dengan Dewan Pakar Kristologi FAKTA ini. Berikut
petikannya:

Apa posisi Anda dalam dialog itu? [/color][/b]
Saya
dihubungi Rio (Effendy Turipno), ada pendeta berniat mengajak
berdialog. Saya katakan, kita tak bisa dialog kalau tak ada topik yang
jelas. Setelah Rio mendiskusikan kepada pendeta tersebut, akhirnya
disepakati bahwa pendeta itu memilih tema: Jalan Keselamatan dalam
Islam dan Kristen. Lalu, dibentuklah panitia. Panitia diketuai oleh
seorang pendeta dan sekretarisnya Rio.

Masing-masing pada posisi dan tujuan sama?
Ya.
Kita ingin umat Islam menyampaikan konsep keselamatan dalam Islam
sehingga didengar oleh Kristen dan memahaminya. Langsung dari
sumbernya. Sebaliknya, tentang Kristen. Kalau sudah makan dan dialog
bersama, tak mungkin sakit hati.

Jadi, panitianya dari Islam dan Kristen?
Panitia
dari Majelis Peduli Ummat Islam Kota Bitung, tapi dari Kristen oleh
pendetanya sendiri. Surat-surat yang dikeluarkan ditandantangani oleh
Rio dan Pendeta. Betul-betul ini acara bersama. Untuk pelaksanaan
diserahkan Muslim. Penanggung jawabnya Rio dan Pendeta Cherry.

Anda diajak Rio?
Sebelumnya
kenal saat Pelatihan Mubaligh. Saya dari Surabaya naik kapal 20 Januari
2004 jam 11 malam. Saya dijemput tujuh panitia, termasuk ketua dan
sekretarisnya. Jadi, kalau sekarang Rio yang babak belur, ini suatu hal
yang aneh. Sebab, sebenarnya ini kepanitiaan yang melibatkan banyak
orang, termasuk ketuanya (Pendeta) harus bertanggung jawab. Rio jadi
kambing hitam. Setelah tiba di sana saya dipertemukan dengan panitia,
juga pendeta, guna mendiskusikan bagaimana bentuk dialog ini. Setelah
sepakat malah timbul persoalan. Ada kelompok yang menamakan dirinya
Warung Kopi (Warkop). Mereka tak setuju dengan segmen Tanya Jawab acara
itu dan minta dibatalkan. Kata mereka, bisa memicu emosi, baik umat
Islam maupun Kristen. Akhirnya panitia mengakomodir permintaan Warung
Kopi.

Warung Kopi itu berapa orang?
Itu biasa datang empat
atau lima orang, kami menyambut baik, sebab itu tindakan antisipasi,
preventif. Sesudah begitu, tuntutannya meningkat. Warkop meminta
pemaparan pun tidak usah. Malam itu, jam 11 malam, saya dan pendeta
dipanggil. Pendeta Cherry ngotot bicara dengan menjelaskan, ini
sebenarnya bermanfaat untuk membina kerukunan. Warkop tetap keberatan.
Malam itu kami bertemu dengan pendeta, mempertimbangkan keberatan ini.

Sesudah berembug, kami menyepakati tidak ada dialog. Karena sudah keluar uang, sudah beli makanan segala, kita makan-makan saja.

Jadi batal dialog?
Iya,
tapi tiba-tiba Kapolsek meminta makalah saya yang akan didialogkan.
Saya tak sempat membuat makalah, ada bahan masih dalam bahasa Inggris.
Bahannya saya ambil dari internet, yaitu tentang Jalan Keselamatan
dalam Islam. Karena diminta polisi, saya tunjukkan bahannya. Setelah
saya bawa ke Polsek, kok tiba-tiba saya diperiksa oleh polisi dari jam
16.51 sampai 22.00. Saya jadi saksi dalam kasus Menyebarkan Keselamatan
dalam Islam. Saya kaget, Masya Allah! Kok kenapa ada pemeriksaan kasus
seperti ini. Polisi ini mikirnya seperti apa? Masya saya diperiksa
dengan kasus seperti itu. Kenapa Pdt Cherry tidak ditangkap, juga
terkait dengan topik yang akan diangkat, Keselamatan dalam Kristen? Apa
dalam Islam itu salah, lalu dalam Kristen itu benar?

Jadi kehadiran Anda mencemaskan mereka?
Sebenarnya
yang menjadi kecemasan, terus terang, adalah tulisan-tulisan di buku
saya. Di situ dijelaskan tentang kebenaran Islam, bagaimana Kristen
telah keluar dari ajaran Tauhid atau ajaran Isa dan mereka
mempertahankan kesesatan itu. Kelompok Kristen sekuat tenaga ingin
memojokkan saya. Yang digunakan tangan-tangan wartawan. Apa keuntungan
wartawan dengan memanipulasi saya sebagai teroris? Tak ada. Tetapi, ada
kelompok lain yang akan diuntungkan.

Dampak media di sana bagaimana itu?
Sekarang
ini, sebelum berkembang, mereka melihat biodata saya. Tertulis di
antaranya saya menulis “Islam Meluruskan Kristen”, “Yesus Berdosa”,
“Yesus Bukan Tuhan”. Ini menurut umat Kristen sangat memojokkan
keimanan mereka. Tapi, tunggu dulu. Kita harus sadar, bahwa Yesus atau
Isa bukan hak milik orang Kristen, tapi juga hak orang Islam dan Yahudi
untuk membicarakannya.

Apakah sudah ada bukti orang yang terpengaruh oleh buku-buku itu?
Orang
masuk Islam, itu urusan kemudian. Hanya buku itu dianggap sangat
bahaya, terhadap keimanan mereka yang sudah terlanjur dipertahankan.
Mereka katakan, Yesus tak berdosa, saya katakan Yesus berdosa. Saya
mengatakan itu sebagai hak saya sebagai orang Islam, tak bisa diganggu
gugat. Kalau Kristen menyatakan bahwa Yesus itu tuhan itu hak dia.

Mungkin karena di sana mereka merasa kuat?
Buku
ini di tangan umat Islam, lalu mencuat setelah Koran mengekspos. Buku
itu tak akan dialamatkan kepada orang-orang Kristen. Saya tak akan
melakukan perbuatan serendah itu. Ini buku untuk melindungi keimanan
orang Islam, diterbitkan sebagai reaksi brosur-brosur dari Universitas
Satya Wacana Salatiga, Jawa Tengah. Itu dikirimkan kepada seorang
peneliti senior LIPI di Bandung yang mengajaknya agar meninggalkan Nabi
Muhammad, dan menerima Yesus sebagai juru selamat karena tak berdosa.

Tujuan penerbitan Anda sebutkan juga?
Saya jelaskan juga, di buku itu. Karena, umat Islam diserang habis-habisan dengan brosur-brosur Kristen.

Sebagai counter gitu?
Ya.
Saya tak pernah bercita-cita menyakiti hati orang Kristen. Mereka harus
saya cintai karena sasaran dakwah saya, saya selamatkan mereka, sebab
mereka di jalur sesat. Untuk membuktikan bahwa apa yang saya katakan
salah, di sini saya siapkan hadiah lima juta.

Sejak kapan jadi Kristolog?
Sudah 13 tahun saya jadi Instruktur Kristologi di Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Filipina.

Pernah ada kejadian seperti di Bitung saat di Filipina?
Tidak
pernah. Malah yang mensponsori kegiatan seperti itu gubernur dan
walikota. Bahkan pernah diadakan di sebuah stadion yang dihadiri umat
Kristen dan Islam. Kita ajukan konsep Islam, mereka konsep Kristen.
Lalu, ada yang mau bersyahadat, itu urusan pribadi.

Ada suasana lebih demokratis di sana?
Ya beragama itu harus pakai akal, bukan dengkul.

Tapi tema-tema dialog seperti itu dianggap membahayakan?
Sebenarnya,
kalau melihat kronologis, tak ada apa apa-apanya. Cuma, ada kelompok
yang kurang senang dengan dialog. Di sini durinya. Lalu, merembet pada
orang yang memancing di air keruh. Penyakit besar di Indonesia, sudah
terpola, bahwa yang berhak bicara soal Yesus itu orang Kristen.
Karenanya, umat Islam bicara soal Yesus dianggap SARA. Ini salah besar.
Ketika umat Kristen bilang Yesus Tuhan, bukan SARA. Konsep Islam, Yesus
bukan Tuhan. Itu harus dihormati.

Tapi kan Anda tahu di Bitung mayoritas Kristen?
Sekarang
di Padang, 98% Islam, satu persen lebih Kristen. Apakah ketika Pendeta
mengatakan Yesus Tuhan, apakah orang Islam di sana akan menggebuki
ramai-ramai, kan tidak! Umat Islam paham, orang Kristen bicara Yesus
itu hak dia. Orang Kristen saja yang tak tahan, ketika orang Islam
bilang Yesus bukan Tuhan. Itu hak dia. Kalau bisa saling memahami, kita
aman.

Dominasi Kristen di Bitung sepengetahuan Anda?
Kalau dalam politik jelas. Kalau ada pernyataan yang bertentangan dengan keimanan mereka, seakan tabu, tak boleh.

Tanggapan umat Islam di Bitung dan sekitarnya?
Saya
lihat MUI (Sulawesi Utara) malah memojokkan. Saya malah dikatakan di
media oleh MUI sebagai preman agama. Saya tak mengerti itu.

Berarti Anda diserang dari sana-sini?
Ya. Termasuk orang Islam sendiri.

Anda ke Jakarta dalam rangka apa?
Dalam
proses untuk memberikan hak jawab. Saya harus memberikan hak jawab
untuk dimuat di media-media yang terbit di sana (Bitung, Menado). Kalau
tidak dimuat, akan saya tuntut lewat Dewan Pers. Selanjutnya bisa ke
pengadilan.

Kenapa tidak diperkarakan langsung ke pengadilan?
Jangankan mau masuk perkara, kita keluar rumah sudah bergemerincingan segala macam.

Jadi sudah ada ancaman?
Rumah dikelilingi orang bawa golok, rumah dilempar. Itu kan sudah tak benar.

Itu di Bitung?
Ya,
saya kan diundang. Sedangkan tinggal saya di Kendari, Sulawesi
Tenggara. Memang aneh sekali. Pendeta yang jadi panitia ini yang
harusnya digebuk habis-habisan, kok saya yang jadi kambing hitam. Malah
diantar ke polisi.

Anda disebut media sana kenal abu Sayyaf, karena pernah di Filipina…
Itu jebakan wartawan. Itu yang saya akan tuntut.

Ada preseden kasus sebelumnya?
Saya tidak pernah dengar.

Ekspresi kemarahan orang Bitung sudah laten?
Tidak. Itu terjadi gara-gara berita. Kalau tidak ada berita, tidak akan terjadi apa-apa.

Proses hukum selanjutnya?
Yang
penting hak jawab saya dimuat di Koran mereka dahulu. Saya optimis,
karena ada unsur jebakan. Andaikata MUI tahu persoalan, bisa menyadari,
bahwa komentarnya salah. Saya itu diundang di manapun untuk
mengklarifikasi soal Islam, selalu siap.

Kondisinya di sana parah seperti di media-media itu?
Tidak separah itu, Koran yang membuat. Kalau bicara siapa provokator, kan jelas siapa orangnya.

Anda tidak memperkarakan langsung ke Bitung?
Memperkarakan
itu berarti saya harus ke Bitung lagi. Itu tidak kondusif. Jika bisa
diperkarakan di Jakarta, hari ini (Senin 16/2) saya perkarakan. Tapi di
sana tinggal 1 hari saja, bisa diintimidasi. (Sabili 17)

agamaislam wrote on Feb 1
===========
ISA AL MASIH
===========

Dan karena kekafiran mereka (terhadap Isa), dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina),(QS. 4:156)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa’ 156
وَبِكُفْرِهِمْ